Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 20
Fatih sengaja memasang cctv tersembunyi di kamarnya. Sebab beberapa hari ini terus saja ia melihat sosok bayangan di balkon saat dirinya berkerja tengah malam.
Takut orang itu mempunyai rencana. Sebelum berangkat keluar kota ia terlebih dahulu memasamg cctv untuk memperketat keselamatannya istrinya.
Pagi harinya, Fatih mengecek rekaman cctvnya dan mendapatkan kejutan di dalamnya. Ia pun menyuruh abinya untuk segera pulang hari ini.
Sedangkan di sisi lain, Inara masih berdiam diri di ranjang sambil menatap lurus ke depan.
Paginya umi Tifa sempat ke kamar menantunya berniat untuk membangunkan, sebab sudah siang hari wanita itu tak kunjung keluar.
Pas mengecek Inara sedang dalam ketakutan. Bahkan, melihat Fatir masih berada di posisi sebelumnya, saat Inara memukul kepalanya.
Semalam seakan Inara kehabisan tenaga untuk kabur dari sana. Sekedar berdiri kakinya aja terlihat begitu kaku dan tak sanggup untik berdiri.
Umi Tifa pun menelfon pihak rumah sakit membawa putranya ke rumah sakit. Tak lupa ia juga menyuruh seorang dokter memeriksa keadaan menantunya.
Dan doktet mengatakan, Inara masih shock dan mungkin akan menjadi trauam atau phobianya seumur hidup. Dan sebaiknya wanita itu sering di ajak bicara ataupun di hibur.
Di situlah umi Tifa menyesal sebab tak menemani menantunya tidur. Dan baru mengatahuinya sekarang.
"Inara, nak. Kamu makan dulu, iya?" tanya umi Tifa memegang tangan menantunya.
Sedangkan sang empuh bukannya membalas ucapan mertuanya, malahan meneteskan air mata seraya menatap lurus ke depan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Terlihat Fatih datang dengan ngos-ngosan dan keadaan seadanya. Begitu paniknya, bahkan pakaiannya pun tak sempat dia ganti.
"Sayang." Fatih berlari dan memeluk Inara.
Seketika pun Inara menangis hesteris dalam pelukan Fatih. Memukul dada Fatih berulang kali, dan Fatih tak melarangnya.
Setelah memastikan Inara mulai diam. Fatih meminta piring berisi makanan di tangan uminya. Dari tadi pagi Inara tak ingin menyentuh makanan, apalagi melihatnya.
"Makan dulu, iya?" tanya Fatih membujuk seraya mengusap rambut istrinya yang lurus. "Mas suapin istri, mas."
Umi Tifa berdiri dan pergi dari sana untuk memberi ruang untuk mereka.
"Mas," ucap Inara menatap Fatih dan menghentikan pergerakan lelaki itu yang ingin memasukan sesendok nasi serta lauk ke dalam mulutnya. "Mas, a-ku. Hiks-hiks..." Inara kembali menangis dan memeluk Fatih.
"Aku di sentuh, mas. Aku hampir di lecehkan, hiks hiks. Mas sakit mas," teriak Inara.
Fatih menatap langit-langit kamar. Hatinya seakan di cubit keras, sakit dan perih. Mendengar pengakuan istrinya. Yang membuatnya sakit ternyata yang ingin melecehkan istrinya adiknya sendiri.
"Aku takut, mas." Inara memeluk erat tubuh Fatih, erat sangat erat.
Fatih pun menyimpan piring yang dia pegang ke atas nakas setelah itu menaikan istrinya dipangkuannya.
"Maafin mas, iya. Mas enggak ada buat nolongin kamu."
Inara masih terisak dalam pelukan Fatih. Fatih pun seperti menenangkan seorang bocil yang sehabis jatuh di ayunan.
"Fatir terluka, mas. Aku mem-ukulnya. Maafkan aku... Hiks-hiks."
"Mas, mas enggak hukum aku kan? Aku kan pukul dia karena mau lecehin aku. Jangan cerein Nara iya." Kini Fatih membuat terkekeh oleh istrinya yang umurnya beda empat tahun lebih muda darinya.
"Enggak, sayang. Mana mungkin mas mau marah sama habibati aku? Malahan, mas bangga soalnya kamu masih bisa nyelematin diri kamu," jelas Fatih melap air mata Inara. "Udah, iya jangan nangis lagi. Cantiknya hilang secuil loh kalau nangis."
Inara melap air matanya sendiri lalu mengangguk. Masih ada isakan kecil. Namun, sudah tak seperti tadi.
Fatih pun kembali membujuk istrinya untuk makan, setelah itu istirahat. Dan untuk kali ini untungnya wanita itu akhirnya menurut.
"Pintar banget sih, istrinya mas?" Fatih mengecup bibir Inara singkat, walaupun pucat dan sedikit panas. Namun, bagi Fatih masih manis dan candu. "Yaudah kamu tidur." Fatih menaikan selimut sebatas dada istrinya.
"Mau peluk," rengek Inara membuat Fatih terkekeh dan ikut masuk ke dalam selimut, dan memeluknya.
"Maafin, mas iya sayang. Mas udah ada firasat ada dalam bahaya, tapi mas malah nekat untuk meninggalkanmu. Andai saja mas menolak, atau mas membawamu pergi. Fatir tidak mungkin membuatmu shock dan menjadikan masalah ini menjadi memorimu," batin Fatih seraya membelai rambut Inara.
Berulang kali Fatih mengecup tangan Inara yang juga tengah mengenggam jemarinya.
"Makasih, karena kamu masih memilih mas. Kamu rela melukai seseorang demi menyelamatkan dirimu. Makasih, sayang. Padahal kita menikah bukan dasar cinta, tapi kamu menjaga begitu perasaanku, kamu wanita hebat. Maafin aku kalau keluargaku seperti ini, kali ini aku akan lebih menjaga mu lagi."