Berawal dari hubungan sebagai tetangga hingga pada akhirnya takdir merubahnya menjadi sebuah hubungan yang terjalin dalam ikatan rumah tangga.
Daffin Malik Narendra tidak pernah menyangka jika dirinya akan berjodoh dengan putri dari tetangganya. Tentu saja hal ini terjadi lantaran sang mama yang begitu terobsesi untuk menjadikan putri dari tetangganya itu sebagai menantunya.
Begitu juga dengan Kanaya. Dirinya sama sekali tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Daffin yang tak lain anak laki-laki dari tetangganya. Apalagi dimata Kanaya, Daffin adalah pria dingin dan menyebalkan.
"Bukannya dapat jodoh cowok yang cool, ini malah dapatnya kanebo kering." Kanaya Putri
"Buat apa cobak kuliah jauh-jauh sampai keluar negeri kalau ujung-ujungnya nikah sama tetangga. Mana cabe-cabean lagi." Daffin Malik Narendra.
Akankah keduanya mampu menjalani hari-hari mereka sebagai sepasang suami istri?
Yuk ikuti terus jalan ceritanya dan jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
Makan malam kali ini terasa sedikit berbeda bagi Daffin. Entah kenapa dirinya saat ini merasa seperti seorang yang tengah diasingkan.
Jika biasanya suasana meja makan dikeluarganya terasa begitu ramai karena mamanya yang selalu saja bisa menghadirkan candaan-candaan hangat. Bahkan sering juga candaan mamanya ini berhasil membuatnya merasa kesal, namun entah kenapa malam ini mamanya terlihat hanya diam saja.
Hanya sekali melempar senyum padanya. Itupun saat dirinya dan mamanya tak sengaja saling beradu pandang. Bahkan senyumnya terkesan begitu dipaksakan.
"Mamah masih pusing?" Tak kuat jika harus didiamkan oleh wanita yang begitu dicintainya, Daffin pun memilih membuka obrolan terlebih dulu.
Namun dari pertanyaannya itu, sang mama hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya saja. Dan tentu saja hal ini membuat Daffin bingung. Harus bertanya lagi dia takut akan mendapat respon yang sama. Tapi jika diam, sungguh hatinya merasa sesak saat melihat sang ibu yang biasanya selalu cerewet kini malah terlihat hanya diam saja.
"Pah, mama sudah selesai. Mama tinggal dulu kekamar." Jika biasanya bu Lina adalah orang terakhir yang meninggalkan meja makan, Kini justru bu Lina memilih meninggalkan meja makan lebih dulu. Bahkan beliau tidak menunggu suaminya hingga selesai makan.
Daffin terlihat menatap kepergian mamanya dengan sendu. Karena lagi-lagi tidak biasanya mamanya bersikap seperti ini.
Ekspresi Daffin ini cukup menyita perhatian pak Malik yang memang sejak tadi terus mengamati putranya.
Ada rasa tidak tega saat melihat putranya seperti orang yang sedang diasingkan oleh mamanya. Namun sejauh ini beliau belum bisa berbuat apa-apa. Terlebih sejak tadi sore istrinya ini hanya diam saja. Istrinya hanya berbicara saat mengajaknya untuk makan malam. Selebihnya istrinya ini hanya memilih diam. Bahkan setiap dirinya bertanya hanya ditanggapi dengan anggukan dan gelengan kepala saja.
"Ayo makannya dilanjutin. Dari tadi papa perhatikan kamu lebih banyak diamnya dari pada makannya." Pak Malik kali ini yang sengaja memecahkan keheningan sepeninggal istrinya.
"Pah, mama kenapa? Apa mama masih marah sama Daffin?" Daffin langsung bertanya pada intinya. Pertanyaan yang memang sejak tadi sudah sangat mengganjal dihatinya namun tak berani dia tanyakan langsung pada mamanya.
"Mamamu hanya pusing. Sepertinya tekanan darahnya naik. Tapi sekarang sudah mulai membaik meski mamamu menolak waktu papa berniat memanggilkannya dokter." Jelas pak Malik yang tak ingin melihat putranya ini merasa bersalah atas apa yang terjadi pada istrinya.
"Tapi mama gak biasanya kayak gini. Malam ini sikap mama ke Daffin begitu dingin. Apa itu masih ada hubungannya dengan masalah tadi sore?" Tak mau percaya begitu saja dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh papanya, Daffin masih mencoba mencari jawaban yang bisa melegakan hatinya.
"Entahlah, tapi sejak kembali kekamar tadi mamamu tidak mengatakan apapun pada papa. Dia hanya mengatakan jika kepalanya pusing dan butuh istirahat."
"Pah, Daffin mau tanya satu hal sama papa." Daffin terlihat memindahkan piring yang ada didepannya. Kemudian dirinya mengambil tissue untuk membersihkan bibirnya dari bekas makanan yang baru saja dimakannya sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Apa alasan yang membuat mama begitu ingin menjadikan Naya sebagai menantunya? Tolong beri satu alasan yang bisa membuat Daffin yakin jika Naya memang perempuan yang pantas untuk Daffin nikahi."
Huft......
Pak Malik terlihat menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan dari putranya ini.
"Kamu adalah putra mama dan papa satu-satunya. Sejauh ini kami selalu berusaha menuruti semua keinginanmu. Apalagi mama mu, dia selalu memprioritaskan dirimu dalam segala hal. Sekarang pertanyaan papa, tidakkah sekali saja kamu mau untuk menuruti keinginan mamamu?".
Bukannya mendapat jawaban dari pertanyaannya, Daffin justru mendapat pertanyaan balik dari papanya. Dan Daffin cukup faham betul maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh papanya ini.
Daffin memilih diam, karena dia sendiri masih ragu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan sang papa.
"Apakah kamu sudah ada calon yang pas? Jika memang ada bawa dia kesini. Kenalkan pada papa dan mama. Kami tak akan mempermasalahkan jika seandainya gadis itu berasal dari keluarga biasa. Bagi papa asal dia baik dan tulus sama kamu." Ucapan papanya ini sama persis dengan apa yang diutarakan mamanya tadi sore. Hanya saja disini pak Malik tidak menyinggung soal Naya.
Beberapa menit Daffin masih terdiam dalam keraguannya. Mau menjawab sekarang rasanya belum ada titik kepastian dalam hatinya.
Bagaimana tidak, sejauh ini Daffin sama sekali tidak ada kedekatan dengan wanita manapun. Bahkan Daffin sama sekali tak menggunakan kesempatan waktu lima belas hari yang diberikan sang mama untuk mencari perempuan yang mungkin bisa saja dia kenalkan padanya.
"Papa tidak memintamu untuk menjawab sekarang. Kamu bisa pikirkan ini matang-matang. Karena bagaimanapun juga dalam hal ini kamulah yang nantinya akan menjalani. Itu sebabnya sejauh ini papa selalu menolak saat mamamu ingin membicarakan niatnya yang ingin menjadikan Naya sebagai menantunya pada pak Erwin dan bu Dania. Papa takut hatimu berat menerimanya. Dan papa juga tidak ingin hanya karena kamu merasa iba pada mamamu, kamu melakukan hal yang memaksakan dirimu. Papa tetap akan membantu untuk menjelaskan pada mamamu jika memang nanti hatimu tetap merasa berat untuk menuruti keinginannya."
Setelah menjelaskan panjang lebar, pak Malik beranjak dari tempat duduknya dan hendak menyusul istrinya.
"Papa istirahat dulu. Sekali lagi kamu pikirkan matang-matang. Jangan gegabah mengambil keputusan." Ucap pak Malik sembari menepuk pundak putranya itu.
Sepeninggal papanya, Daffin masih terlihat duduk termenung ditempatnya. Dia masih larut dengan pikirannya sendiri.
Sungguh Daffin merasa ini adalah masalah terbesar dalam hidupnya. Karena selama ini tak pernah sekalipun Daffin melihat mamanya bersikap seperti ini kepadanya.
Dengan langkah lesu Daffin menuju kamarnya. Seperti biasa dirinya memilih duduk dibalkon kamarnya.
Disana pandangannya terus tertuju pada sebuah ruang yang ada dibangunan sebelah rumahnya.
Astaga....jarak ini, bahkan jika aku sekali saja berteriak memanggilnya sudah pasti dia bisa mendengarnya.
Daffin terdengar seperti sedang berguman sendiri. Dan entah apa maksud dari ucapannya, hanya Daffin yang memahaminya.
Hingga tengah malam, Daffin belum terlihat ingin beranjak dari tempatnya. Suasana malam yang begitu tenang nyatanya tak mampu membuat matanya mengantuk. Padahal tubuhnya terasa begitu lelah akibat seharian bekerja.
Malam ini batin dan pikirannya benar-benar tak membiarkan fisiknya beristirahat dengan tenang. Karena nyatanya meski saat ini dirinya sudah merebahkan tubuhnya pada ranjang king size yang ada dikamarnya sembari memaksa memejamkan kedua kelopak matanya, namun tetap saja jiwanya tidak merespon untuk bisa terlelap.
Gue gak bisa jika seperti ini terus. Besok gue harus bicara sama mama. Karena jika tidak akal sehat gue yang jadi taruhannya.
Lagi-lagi Daffin hanya bisa berguman sendiri. Hingga tanpa terasa Daffin terlelap dengan sendirinya setelah hatinya memantapkan diri untuk berbicara dan mengatakan keputusannya pada sang mama besok pagi.
nah bonusnya Bunga aj ya, Fin..
😂🤣
bang..
bangKruutt
😆🤣
gaskeunnnnn
itu barusan
satria???
aqu pun jd nyesal nih dukung naya
udah jd istri pun blm bisa berubah..
kena lagiiii
ampyuun uunn Bund
author dan naya joinan stres nih????
mmg benar..
ingin kebahagiaan mu..
smg langgeng ya, Nay....
sing sabar....
singkat jelas padat dan SiGap!
😃🤣🤣
gawat darurat nih...
.
awas aj loe gk.nikahin naya ya, fin..
gue kaburrrrrrrrrr
sok. Jaim
ujung ujungnya narik tangan juga..
😃🤣
Biarin JuTek tp ttp Tegas!!
tapi juteknya cukup ma Raisa
aj ya, No Naya!!!
😁🤣🤣
berat nih, Nay...
ada saingan CLBK
cinta lama berjuang kembali...
wkwkwk 🤣