"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Yisla mengerjap beberapa kali, menatap Bibi Petrisa yang terkapar pulas di atas tumpukan wol, lalu beralih menatap Julian dengan pandangan horor bercampur takjub.
"Jul... kamu beneran monster, ya?" bisik Yisla super pelan. "Itu tadi gerakan apa? Cepat banget!"
"Sstt! Nanti saja kagumnya. Anggap saja ini teknik rahasia klan pemburu bayangan," dusta Julian asal ceplos.
"Ayo, mana mangkuk sama rajutanmu?! Udah ketemu belum?"
Yisla langsung tersadar. Ia buru-buru mengendap-endap mendekati sebuah peti kayu di sudut gudang. Begitu tutup peti dibuka, binar matanya langsung menyala.
"Ketemu!" seru Yisla tanpa suara. Di dalam peti itu, tergeletak mangkuk kayu peninggalan ibunya, rajutan wol yang setengah jadi, bahkan ada beberapa potong sosis babi asap milik rumah mereka yang ikut dicuri si bibi tua ini.
"Dasar penjarah serakah," umpat Julian yang ikut melongok. Dengan cekatan, ia menyambar mangkuk dan rajutan itu, lalu menyerahkannya ke pelukan Yisla. Lalu bagaimana dengan sosis asapnya? Tentu saja dimasukkan Julian ke dalam saku mantel wol gombrangnya. Anggap saja sebagai denda administrasi.
"Ayo, Jul, kita keluar sekarang!" ajak Yisla panik, sembari memeluk barang-barangnya dengan erat.
"Tunggu sebentar." Julian menahan lengan Yisla. Matanya melirik ke arah meja di dekat pintu penghubung antara rumah utama. Di sana, sebuah stoples kaca berisi koin-koin perak berkilau di bawah temaram lampu minyak.
Otak licik Astra langsung berputar dengan cepat. Tiga koin perunggu kemarin nggak bakal cukup buat beli pakaian baru buat Yisla. Tapi kalau aku ambil beberapa koin dari sini... ah, maling di rumah maling itu namanya redistribusi aset!
Julian melangkah cepat, membuka tutup stoples, lalu meraup segenggam koin perak sekitar lima belas koin—dan memasukkannya ke kantong celananya sampai berbunyi krincing-krincing.
"Julian! Kamu malah ikut mencuri?!" bisik Yisla melotot ngeri.
"Bukan mencuri, Yisla. Ini namanya ganti rugi atas kerusakan rumah kita yang diacak-acak orang tua tadi," kilih Julian dengan wajah tanpa dosa, ia sambil menuntun Yisla kembali menuju pintu samping gudang tempat mereka membobol masuk tadi.
Mereka berdua menyelinap keluar dengan sangat hati-hati, lalu merapatkan kembali pintu kayu itu. Angin badai salju langsung kembali menerpa wajah mereka begitu menapakkan kaki di halaman luar, namun kali ini atmosfernya terasa sangat berbeda.
Julian menggandeng kembali tangan Yisla, menarik gadis itu berlari menembus badai salju menjauhi rumah Bibi Petrisa. Di balik syalnya, Yisla tidak bisa menahan senyum lebarnya. Misi nekat yang awalnya terasa mustahil dan menakutkan, ternyata sukses besar berkat aksi Julian yang di luar nalar.
Wush...
"Kerja bagus, Author-ku sayang~" bisik Anima yang berjalan di samping Julian, memberikan kerlingan nakal.
"Aset bertambah, female lead makin kagum!"
Animus hanya melirik sekilas sambil terus mencatat alur cerita yang masih terus berjalan, ia mendengus pelan tanpa protes. Tampaknya si maskulin itu harus mengakui taktik licik Astra cukup efisien untuk fisik Julian yang kerempeng itu.
Julian tidak menghiraukan kedua entitas itu. Ia hanya mempererat genggamannya pada tangan Yisla, mereka berdua berlari pulang membelah badai dengan perasaan puas yang membuncah. Bab ini, resmi ia menangkan.
...***...
Langkah kaki mereka berdebum di atas salju, meninggalkan jejak yang langsung tersapu oleh angin badai.
"Jul, pelan-pelan! Napasku rasanya mau habis!" seru Yisla terengah-engah, ia tertawa kecil dan menyemburkan uap putih dari mulutnya.
Begitu siluet rumah mereka membayang, Julian memperlambat langkahnya. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Yisla, lalu menepuk kantong mantelnya yang berbunyi logam.
Krincing... krincing...
Lima belas koin perak. Mantap banget! Nasib jadi Author yang terjun langsung ternyata lumayan untung, batin Astra dengan seringai puas.
Mereka menyelinap masuk ke dalam kehangatan rumah, buru-buru langsung mengunci pintu rapat-rapat. Yisla mengembuskan napas lega yang teramat panjang, ia meletakkan mangkuk kayu dan rajutan wolnya di atas meja dengan aman. Tatapannya kini beralih ke arah Julian yang sibuk mengeluarkan sosis babi asap dari sakunya.
"Kamu beneran nekat ya, Julian," ujar Yisla, melipat kedua tangan di dada sambil menggeleng heran.
"Kalau Kak Vito tahu kita habis membobol rumah Bibi Petrisa, kamu pasti bakal diinterogasi habis-habisan."
"Makanya, ini rahasia kita berdua, jangan sampai Kak Vito tahu, Yisla." sahut Julian, sambil mengedipkan sebelah matanya sok keren.
Ia meletakkan sosis asap di dekat tungku, lalu mengeluarkan tumpukan koin perak hasil 'jarahan' tadi ke atas meja kayu.
Tring! Tring!
"Dengan lima belas koin perak ini, ditambah tiga koin perunggu kemarin..." Julian menatap Yisla, suaranya seketika melunak penuh ketulusan.
"Aku bisa belikan kamu pakaian baru yang paling hangat dan bagus di pasar besok. Jadi nggak usah nunggu lama-lama."
Yisla tertegun. Ia melangkah mendekat, menatap koin-koin itu yang berada di atas meja, lalu beralih ke wajah Julian. Rona merah muda seketika menjalar di kedua pipinya.
"Julian... jadi kamu mengambil risiko sebesar ini... cuma demi memenuhi janjimu yang tadi?" bisik Yisla parau, matanya mendadak berkaca-kaca haru.
Julian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mendadak salah tingkah sendiri melihat reaksi emosional dari sang female lead.
"Y-ya... begitulah. Lagipula, Author mana yang tega melihat karakter kesayangannya menangis gara-gara barangnya dijarah?" gumam Julian super pelan di kalimat terakhirnya.
"Hah? Kamu bicara apa?"
"Nggak! Maksudku, pria sejati tidak pernah ingkar janji!" ralat Julian buru-buru menyengir lebar.
Wush...
Suhu ruangan mendadak bergeser turun sesaat. Di sudut ruangan, Duo Hemisphere bersaudara itu lagi-lagi kembali menampakkan diri.
"Skor romansa meningkat secara drastis, pacing cerita masih terkontrol," catat Animus datar, ia menulis di gulungan kerasnya.
"Kau berhasil menyelesaikan konflik mikro di bab ini tanpa merusak pondasi genre survival utama."
"Ih, manis banget sih Author-ku ini~" timpal Anima sambil berjalan memutari Julian dengan gemas.
"Rute ini jauh lebih baik daripada rute aksi tembak-tembakan yang tadi. Besok di pasar, buat dia makin jatuh cinta sama kamu ya!"
Julian memberikan dehaman pelan sebagai kode keras agar kedua entitas itu segera enyah. Begitu kedua entitas itu memudar, Julian kembali menatap Yisla yang kini sudah tersenyum manis ke arahnya.
Bab pembalasan dendam resmi selesai dengan kemenangan mutlak di pihak protagonis. Kini, tinggal memikirkan bagaimana cara mereka menghadapi Vito yang bisa pulang kapan saja.