Rissa diceraikan oleh Arvin, suaminya demi menikahi selingkuhannya yang merupakan anak atasannya. Bukannya mendapatkan simpati karena telah diselingkuhi, Rissa semakin terpuruk karena orang-orang justru lebih mendukung Arvin dengan istri barunya. Mereka bahkan tega membully Rissa di tengah keterpurukannya.
Bagaimana Rissa membalas orang-orang yang telah menyakiti hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Hampir Bangkrut
"Bukan hanya rugi, tetapi lebih buruk lagi perusahaan kita bisa bangkrut," gumam Rissa.
Tak patah arang, Rissa berusaha menghubungi perusahaan itu satu persatu, menghubungi langsung CEO nya. Tetapi hasilnya nihil. Tidak ada satupun yang mau melakukan kerjasama dengan perusahaan Rissa. Meskipun mereka tidak memberikan alasan yang jelas, Rissa tahu keengganan mereka untuk bekerja sama dengan perusahaannya adalah karena pengaruh Wiratama.
Segala cara sudah Rissa lakukan tetapi perusahaan-perusahaan itu tetap menolaknya. Kalau ini dibiarkan, perusahaan Rissa bisa bangkrut dalam hitungan hari.
"Win, kalau ada yang mencari aku tolong katakan aku sedang ada urusan di luar. Suruh kembali besok," titah Rissa, beranjak meninggalkan kantornya. Rissa merasakan penat di kepalanya dan membutuhkan waktu untuk berpikir jernih.
"Oke," balas Wina singkat tanpa banyak bertanya. Dia tahu atasannya itu sedang banyak pikiran.
Rissa mengendarai mobilnya meninggalkan perusahaan. Dia ingin menyendiri untuk memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan tetapi dia tidak punya tujuan harus kemana. Akhirnya Rissa berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Rissa melamun. Dia seperti menemui jalan buntu atas masalahnya. Dia merasa bersalah kepada ibunya yang telah mempercayakan perusahaan ini kepadanya. Tetapi bukan itu saja yang dia pikirkan. Rissa juga memikirkan ratusan karyawannya. Dia tidak tega jika harus memberhentikan seluruh karyawannya. Berapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan kalau dia sampai menutup perusahaannya. Dan ini semua hanya karena satu orang. Rissa sangat merasa bersalah karenanya.
Rissa putus asa. Tidak pernah terpikir sebelumnya jika balas dendam akan sesulit ini. Di dalam drama-drama balas dendam yang pernah dia lihat, biasanya tokoh utama menghilang beberapa saat setelah lama hidup menderita. Kemudian kembali dengan menjadi sosok yang lebih kuat dan lebih baik. Lalu dengan mudah dia membalaskan dendamnya tanpa ada halangan apapun. Tetapi pada kenyataanya tidak semudah itu.
Rissa meraih handphone dari dalam tasnya.
"Halo, ibu."
"Halo, bagaimana kabarmu nak? Ibu sudah dengar beritanya."
"Ibu sudah tahu?"
"Ada yang memberitahu ibu."
"Maafkan aku ibu, aku telah mengecewakan ibu dan membuat ibu merugi," ucap Rissa menahan air matanya.
"Sssstt ... Jangan bicara seperti itu. Lagipula ini bukan salahmu. Ini sengaja mereka lakukan untuk menyingkirkan kamu."
"Lalu aku harus bagaimana ibu? Aku tidak tega jika harus memberhentikan seluruh pegawaiku."
"Mau bagaimana lagi jika memang harus seperti itu. Kamu bisa ke luar negeri mengurus perusahaan ibu yang lain. Kamu akan baik-baik saja di luar negeri karena tidak akan akan yang berusaha menjatuhkanmu."
"Dan membuat perusahaan ibu hancur lagi? Ibu sudah terlalu baik kepadaku."
"Kehilangan satu perusahaan tidak ada artinya bagi ibu. Atau ibu akan membantu keuangan perusahaanmu."
"Maaf, bukannya tidak menghargai niat ibu, tetapi bantuan uang sebanyak apapun tidak akan membantu jika tidak ada proyek yang kami kerjakan."
"Ibu yang harus meminta maaf kepadamu. Seandainya ibu memiliki banyak koneksi tentu kamu tidak akan mengalami kesulitan ini."
Setelah beberapa saat bercerita kepada ibunya, Rissa pun menutup teleponnya. Dia termenung sesaat kemudian air matanya meleleh. Dia memikirkan kata-kata ibunya untuk tinggal di luar negeri. Mungkin benar, jika dia tinggal di kuar negerinya seperti ibunya hidupnya akan tenang.
Tetapi Rissa tidak terima karena dia belum sempat membalas dendamnya kepada seluruh keluarga Wiratama. Rissa tidak bisa membiarkan mereka hidup bahagia sementara dirinya kembali berakhir dalam keterpurukan. Rissa tidak ingin kalah untuk yang kedua kalinya.
Lalu Rissa teringat kata-kata ibunya soal koneksi. Tiba-tiba Rissa mendapatkan sebuah ide. Rissa menghapus air matanya lalu bergegas pergi dari sana. Dia mengendarai mobilnya menuju sebuah hotel.
Tak lama kemudian Rissa sampai di salah satu hotel milik Daniel. Berbekal nekat, Rissa bertanya kepada resepsionis.
"Permisi, apa Tuan Daniel ada?"
"Maaf, anda siapa?"
"Saya Rissa Gunawan, dari perusahaan Gunawan. Bisa saya bertemu dengan Tuan Daniel?"
"Sudah membuat janji sebelumnya?"
Rissa menggeleng.
"Maaf, harus buat janji terlebih dahulu."
"Tidak bisakah anda sampaikan padanya kalau saya ingin bertemu? Ini penting sekali."
"Maaf sekali lagi, tetapi tidak bisa."
"Ya sudah, Terima kasih." Rissa hendak pergi. "Tetapi dia ada di sini kan? Maksudnya tidak sedang di luar kota ataupun di luar negeri?"
Resepsionis itu mengangguk. Rissa pun memutar tubuhnya. Kali ini Rissa menyesal kenapa tidak menyimpan nomor Daniel. Kemana juga laki-laki itu? Biasanya dia muncul begitu saja tanpa aba-aba, giliran sekarang Rissa sangat membutuhkan tidak terlihat batang hidungnya.
Rissa tidak ingin berputus asa. Rissa menunggu di lobby berharap tiba-tiba dia muncul seperti biasanya. Rissa terus mengawasi pintu masuk dan juga meja resepsionis secara bergantian siapa tahu Daniel datang. Rissa melihat jam tangannya. Sudah hampir satu jam dia menunggu di sana.
Perasaan Rissa mulai ragu. Haruskah dia terus menunggu? Apakah nanti Daniel mau membantunya? Tetapi demi balas dendam dan ratusan karyawannya Rissa tetapkan hatinya untuk terus menunggu kedatangan Daniel.
"Kamu mencariku Lily?"
Rissa tersenyum. Dia tidak pernah sebahagia ini bertemu Daniel. Ingin sekali Rissa berlari memeluknya lalu mengatakan jika dia butuh bantuan dan butuh seseorang untuk dijadikan tempat bersandar. Tetapi Rissa sadar dirinya hanya mainan bagi Daniel.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu. Apa kamu ada waktu?"
"Wow, kamu terlihat serius Lily. Apa ini soal bisnis?"
"Anggap saja begitu."
"Baiklah, kita bicara di ruang kerjaku. Aku tidak suka membicarakan masalah bisnis di tempat umum."
Rissa mengangguk lalu mengikuti Daniel. Mereka berdua berjalan menuju lift. Beberapa saat kemudian lift berhenti di lantai sepuluh, dimana kantor Daniel berada.
"Masuklah Lily." Daniel membukakan pintu lalu mempersilahkan Rissa masuk.
"Ini bukan kantor Dan, ini suite room," ucap Rissa begitu dia masuk ke dalam ruangan.
"Tetapi ini kantorku selama aku di sini Baby. Kamu tahu aku jarang menetap di satu tempat. Biasanya aku berpindah dari hotel satu ke hotel lainnya," terang Daniel santai.
"Lagipula aku jarang menemui tamu kalau tamu itu tidak penting sekali. Biasanya aku serahkan pada asistenku atau manajer hotel. Silahkan duduk."
Kembali Rissa dibuat keGeEran atas kata-kata Daniel. Apakah ini berarti dia penting bagi Daniel karena laki-laki itu langsung mengajaknya ke kantor sekaligus kamarnya.
"Jadi, ada perlu apa kamu mencariku Lily?" tanya Daniel setelah mereka berdua sama-sama duduk.
"Aku membutuhkan bantuanmu Dan," ucap Rissa tanpa basa basi. "Yang kamu katakan waktu itu benar-benar terjadi. Wiratama berhasil mempengaruhi hampir semua perusahaan agar tidak melakukan kerja sama dengan perusahaanku. Aku ... Aku hampir bangkrut."
"Kamu membutuhkan uang?"
"Tidak, bukan itu. Ibuku bisa memberiku berapapun jika aku memintanya," ucap Rissa serius.
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan?" balas Daniel tak kalah serius.
semangat 👍
first blood
tripple kill
langssun maniac dan savace
🙀🙀🙀
dulu ngmg nya sangat sakit hsti
dan karin anjing betina