Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Rumah yang Tak Pernah Sepi dan Rahasia di Balik Pintu
Mobil mewah Erlan melaju pelan meninggalkan gerbang rumah orang tuaku. Aku menatap ke luar jendela, melihat pemandangan jalanan Jakarta yang mulai ramai berubah menjadi perumahan elit yang semakin sepi dan mewah. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu kata pun yang terucap di antara kami. Erlan duduk di sudut kursi belakang, matanya menatap layar ponselnya dengan fokus, wajahnya setenang air danau.
Aku membiarkan rambut hitamku yang panjang terurai jatuh lembut di bahu dan punggungku. Di kehidupan dulu, aku selalu membiarkannya terurai karena Rian sangat menyukainya—dia sering bilang rambutku adalah hal yang paling indah yang ia miliki. Kini, aku membiarkannya terurai bukan demi dia, tapi sebagai bagian dari diriku yang dulu terlalu lemah, yang kini harus berubah menjadi kuat. Rambut ini adalah saksi bisu dari dua kehidupan yang berbeda, satu yang berakhir tragis, dan satu lagi yang baru saja dimulai. Aku menyisirnya pelan dengan jari, berjanji dalam hati kali ini tidak akan ada lagi air mata yang membasahinya karena kebodohan sendiri.
Setelah perjalanan sekitar empat puluh menit, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi berwarna hitam. Gerbang itu terbuka otomatis, memperlihatkan jalan setapak yang dilapisi batu alam diapit oleh pepohonan rindang. Rumah itu bukan sekadar rumah, melainkan sebuah bangunan bergaya modern minimalis yang megah namun terasa dingin, dengan dinding kaca yang memantulkan langit siang.
"Ini kediaman utama Tuan Erlan," ucap sopir itu sopan sambil membukakan pintu untukku. "Silakan masuk, Nona Dian. Pelayan sudah menunggu di dalam."
Aku melangkah masuk. Lantai marmer putih bersih memantulkan bayanganku, rambutku yang terlihat berkilau di bawah cahaya lampu gantung. Ruangan tengah yang luas itu nyaris tanpa perabotan berlebih, hanya ada satu set sofa kulit berwarna abu-abu gelap dan meja kaca besar. Suasana di sini persis seperti pemiliknya: rapi, teratur, dan tidak menyisakan ruang untuk kehangatan yang tak terduga.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi menyambutku dengan senyum ramah. "Selamat datang, Nyonya Dian. Saya Bu Ratih, kepala pelayan di sini. Jika ada yang Anda butuhkan, silakan panggil saya saja."
"Terima kasih, Bu Ratih," jawabku pelan sambil tersenyum tipis.
"Tunjukkan kamarnya," suara berat Erlan terdengar dari belakangku. Dia sudah berdiri di ambang pintu, matanya sempat berhenti sejenak menatap rambutku yang terurai sebelum beralih ke wajahku, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. "Jangan izinkan siapa pun masuk ke sayap timur rumah ini. Dan ingat aturan yang tertulis di kontrak: jangan pernah bertanya tentang urusan saya, dan jangan pernah membawa orang asing ke sini."
Dia pergi begitu saja tanpa menunggu jawabanku.
Bu Ratih menuntunku ke lantai atas. Kamar yang disiapkan untukku sangat luas, dengan tempat tidur besar berkelambu putih, lemari pakaian besar, dan balkon yang menghadap ke taman belakang. Di atas meja rias sudah tersusun rapi pakaian-pakaian baru—semuanya berukuran pas dengan tubuhku, bahkan ada sisir dan perawatan rambut yang persis seperti yang biasa kugunakan.
"Semua ini dikirim dua hari yang lalu, Nyonya," bisik Bu Ratih seolah membaca pikiranku. "Tuan Erlan memastikan semuanya sesuai selera Anda, bahkan jenis sampo dan sisir yang Anda pakai."
Aku mengernyit tak percaya. Dua hari lalu? Padahal saat itu aku bahkan belum menyetujui pernikahan ini. Bagaimana mungkin dia sudah tahu ukuran tubuhku, selera pakaianku, bahkan hal sekecil apa yang cocok untuk rambutku?
"Apakah Tuan Erlan memang begitu teliti sampai ke hal sepele seperti ini?" tanyaku hati-hati.
Bu Ratih tersenyum tipis, ada rahasia tersembunyi di matanya. "Tuan Erlan selalu tahu apa yang harus dia ketahui, Nyonya. Dan Anda adalah satu-satunya orang yang diizinkan tinggal di rumah ini selain saya dan penjaga. Belum pernah ada wanita yang melangkah masuk ke sini sebelumnya."
Setelah Bu Ratih pergi, aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap sekeliling. Rumah ini begitu besar, tapi rasanya seperti penjara mewah. Aku berdiri dan berjalan perlahan menyusuri lorong lantai dua, ujung rambutku menyapu lantai setiap kali aku berbalik arah. Ada satu pintu yang tertutup rapat di ujung lorong—pintu menuju sayap timur yang dilarang Erlan.
Rasa penasaran menggerayangi hatiku semakin kuat. Kenapa dia melarangku mendekat ke sana? Apa yang disembunyikan di balik pintu kayu gelap itu?
Sore itu, aku memutuskan menjelajahi taman belakang untuk menghilangkan kegelisahan. Taman itu luas dan tertata rapi, ada kolam kecil dengan bunga teratai yang baru mekar. Angin berhembus lembut menerbangkan helaian rambutku ke wajah, aku menyelipkannya ke belakang telinga sambil duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga tua. Tiba-tiba suara mobil terdengar dari arah gerbang.
Bukan mobil Erlan. Itu mobil Rian.
Jantungku berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena muak. Bagaimana dia bisa tahu keberadaanku di sini?
Rian berlari menghampiriku dengan wajah panik yang dibuat-buat, matanya menatap rambutku yang terurai dengan tatapan yang kini terasa menjijikkan bagiku. "Dian! Kamu di mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana! Katanya kamu menikah dengan orang asing? Kamu gila ya? Kita sudah berjanji akan bersama selamanya, kamu bilang rambut ini cuma boleh aku yang menyentuhnya!"
Dia mencoba meraih tanganku dan berniat menyentuh rambutku, tapi aku segera berdiri dan mundur selangkah dengan cepat. Tatapanku yang dulu penuh cinta kini berubah sedingin es, tajam dan tanpa belas kasihan.
"Berjanji?" tanyaku pelan namun tegas. "Janji mana yang kamu maksud, Rian? Janji saat kamu memeluk Sari di depan mobil yang remuk, atau janji saat kamu bilang aku sudah tidak berguna lagi dan rambut ini cuma hiasan yang tak berharga?"
Wajah Rian pucat seketika. Matanya melotot kaget, tubuhnya gemetar tak percaya. "Kamu... kamu tahu itu dari mana? Siapa yang bilang padamu?"
"Tak penting aku tahu dari mana," potongku tegas. "Yang penting, sekarang pergilah. Aku bukan lagi Dian yang mau kamu tipu sesuka hati, bukan lagi gadis bodoh yang membiarkanmu memegang rambut atau hatinya sesukamu. Jangan pernah berani mendekat ke tempat ini lagi, atau kamu akan menyesal seumur hidup."
Rian menggeram marah, wajahnya berubah menjadi seram dan kejam. "Jangan sombong! Kamu pikir pria kaya itu benar-benar mencintaimu? Dia hanya kasihan padamu! Kamu akan kembali merangkak di depanku, lihat saja nanti! Rambut cantik itu tak akan menolongmu!"
Dia berbalik dan pergi dengan mobilnya yang melaju kencang meninggalkan jejak debu. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih kencang. Tiba-tiba aku merasakan ada orang lain di belakangku. Aku berbalik dan melihat Erlan berdiri di sana, bersandar pada tiang beranda, menatapku lekat-lekat—matanya kali ini tidak sedingin biasanya, ada kilatan kagum yang cepat ia sembunyikan.
"Kamu tidak takut padanya?" tanyanya pelan, suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.
"Aku lebih takut hidup dalam kebohongan daripada menghadapi orang sepertinya," jawabku jujur. "Dan terima kasih. Kalau kamu tidak melarang orang asing masuk, mungkin dia sudah berani masuk ke dalam rumah dan menggangguku lebih jauh lagi."
Erlan diam sejenak, melangkah mendekat perlahan hingga jarak kami hanya beberapa langkah. "Dia tidak akan pernah berani masuk ke sini. Selama kamu memakai nama belakangku, tidak ada satu orang pun yang berani menyakitimu, apalagi menyentuhmu tanpa izin. Ingat itu."
Malam harinya saat jam makan malam tiba, suasana di ruang makan hening sepi. Kami duduk berhadapan di meja panjang yang hanya diterangi cahaya lembut lilin. Setelah beberapa saat keheningan, Erlan meletakkan garpunya perlahan dan menatap lurus ke arahku.
"Mengenai apa yang kamu katakan pada Rian tadi," ucapnya tiba-tiba memecah keheningan. "Kamu teringat sesuatu yang seharusnya belum kamu ketahui?"
Aku membeku sejenak, lalu menelan ludah. Apakah dia benar-benar tahu aku kembali dari masa depan?
Aku mengangkat wajah berusaha tetap tenang, menyelipkan kembali helaian rambut yang jatuh ke depan wajahku. "Aku hanya... baru sadar siapa orang yang benar-benar tulus padaku. Dan siapa yang hanya memanfaatkanku, termasuk hal-hal yang kucintai."
Erlan menatapku lama sekali, seolah sedang meneliti setiap inci wajahku dan mencari kebenaran di balik mataku. Akhirnya dia mengangguk pelan. "Bagus. Kalau begitu jangan pernah biarkan orang lain menginjakmu lagi. Dan satu hal lain..." Dia menunduk sedikit, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Pintu di ujung lorong itu... jangan pernah dibuka. Bukan karena aku menyembunyikan hal buruk darimu, tapi karena di sana ada hal yang berhubungan denganmu, yang belum siap kamu ketahui. Belum saatnya."
Malam itu saat aku hendak tidur, aku mendengar suara langkah kaki Erlan di lorong. Dia berhenti tepat di depan pintu kamarku. Aku menahan napas, menunggu apa yang akan dia lakukan. Tapi dia hanya berdiri diam cukup lama, seolah memastikan aku aman, sebelum perlahan pergi menjauh.
Aku menatap langit-langit kamar, pikiranku berkecamuk tak tenang. Dia tahu sesuatu. Dia pasti tahu banyak hal tentang masa laluku, bahkan tentang kematianku di kehidupan dulu. Dan entah mengapa, rasa takutku perlahan berubah menjadi rasa aman yang aneh. Seolah di balik sikap dinginnya, dia adalah satu-satunya orang yang akan menjagaku kali ini—bahkan menjaga rambut dan harga diriku agar tidak diinjak-injak lagi.
Di sisi lain rumah, di balik pintu sayap timur yang dilarang itu, Erlan berdiri sendirian menatap sebuah kotak kayu tua di atas meja. Di dalamnya ada foto kecil Dian saat masih duduk di bangku sekolah dasar, dengan rambut panjang yang sama persis seperti sekarang—foto yang dia simpan rapat selama sepuluh tahun terakhir.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," bisiknya pelan pada kesepian ruangan itu, matanya berbinar sayu. "Sekalipun aku harus menyembunyikan semua rahasia ini darimu sampai waktunya tiba."