Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Mulai Dikenal
Hujan telah reda ketika Aluna tiba di rumah. Langit malam masih diselimuti awan, menyisakan udara yang lebih sejuk daripada biasanya. Cahaya lampu taman memantul di atas rumput yang masih basah, menciptakan pemandangan yang menenangkan setelah perjalanan panjang.
Begitu melangkah masuk, aroma teh hangat memenuhi ruang utama.
Bibi Mira yang sejak tadi mondar-mandir di ruang keluarga segera menghampiri.
"Akhirnya Nona pulang."
Aluna tersenyum bersalah.
"Maaf membuat Bibi khawatir."
"Sudah kubilang jangan keluar saat cuaca seperti ini."
"Aku baik-baik saja."
Bibi Mira mengamati wajah Aluna beberapa saat, memastikan tidak ada luka ataupun tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.
"Untunglah."
Wanita itu kemudian mengambil kantong hadiah dari tangan Aluna.
"Aku akan menyimpannya dulu."
Aluna mengangguk sebelum menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Entah mengapa, pikirannya terus kembali pada pria yang ditemuinya di tengah hujan.
Niel.
Nama itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Sikapnya tenang. Cara bicaranya singkat. Tatapannya dingin, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kesombongan.
Ia seperti seseorang yang terbiasa memikul banyak hal seorang diri.
"Sedang memikirkan sesuatu?"
Suara Bibi Mira membuyarkan lamunannya.
"Hm?"
"Sejak pulang, Nona terlihat melamun."
Aluna tersenyum kecil.
"Tadi aku melihat kecelakaan."
Bibi Mira langsung menghentikan langkahnya.
"Kecelakaan?"
"Ada sebuah mobil menabrak pembatas jalan."
"Astaga... Kau tidak terluka, bukan?"
Aluna menggeleng.
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya membantu pria yang berada di dalam mobil itu."
Bibi Mira menghela napas lega.
"Syukurlah."
"Orangnya aneh."
"Bagaimana maksudmu?"
"Dia terluka, tetapi menolak dibawa ke rumah sakit."
Bibi Mira mengernyit.
"Mungkin ada alasan."
"Mungkin."
Aluna tidak melanjutkan cerita.
Entah mengapa, ia memilih menyimpan bagian tentang kedatangan belasan pria berpakaian hitam.
Bahkan ia sendiri belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
__________________________________________
Di tempat lain.
Sebuah bangunan megah berdiri jauh dari keramaian kota.
Gerbang besi setinggi hampir empat meter terbuka perlahan ketika iring-iringan kendaraan hitam memasuki halaman.
Puluhan pria telah berjajar rapi di kedua sisi jalan.
Mereka menundukkan kepala saat mobil yang ditumpangi Niel berhenti tepat di depan pintu utama.
Pintu belakang terbuka.
Niel keluar tanpa tergesa.
"Selamat malam, Tuan."
Sapaan itu terdengar serempak.
Ia hanya mengangguk tipis sebelum melangkah masuk.
Di dalam bangunan, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun telah menunggu dengan kotak peralatan medis di atas meja.
"Silakan duduk."
Niel melepaskan jasnya.
Lengan kemeja putih yang dikenakannya robek di bagian siku. Luka yang sebelumnya tampak ringan ternyata cukup dalam.
Pria itu membersihkan luka tersebut dengan hati-hati.
"Beruntung pelurunya hanya menggores."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tuan selalu mengatakan hal yang sama setiap kali terluka."
Niel tidak menjawab.
Pikirannya justru kembali pada gadis yang ditemuinya beberapa jam lalu.
Aluna.
Nama yang sederhana.
Namun entah mengapa sulit diabaikan.
"Siapa pemilik sapu tangan ini?"
Suara pria itu kembali terdengar.
Di tangannya kini terdapat sapu tangan putih yang telah dicuci dari noda darah.
Pada salah satu sudutnya terdapat sulaman kecil berbentuk bunga lavender.
Niel memperhatikannya beberapa saat.
"Seorang gadis."
"Orang yang menolong Tuan?"
Niel mengangguk pelan.
Pria itu tersenyum tipis.
"Jarang sekali ada orang asing yang berani mendekati mobil Tuan setelah kecelakaan."
"Mungkin dia tidak tahu siapa aku."
"Itu justru lebih menarik."
Niel tidak menanggapi.
Ia mengambil sapu tangan tersebut lalu melipatnya dengan rapi.
"Besok."
"Ya, Tuan?"
"Cari tahu alamatnya."
Pria itu tampak terkejut.
"Apakah ada masalah?"
"Tidak."
"Lalu mengapa?"
Niel terdiam sejenak.
"Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang bukan milikku."
___________________________________________
Keesokan paginya.
Aluna sedang membantu Celine menghias sebuah ruang baca kecil di sekolah tempat sahabatnya mengajar.
"Kau tidak perlu datang sepagi ini."
"Aku sudah berjanji akan membantu."
Celine tersenyum.
"Kalau begitu, tolong susun buku-buku itu."
Aluna mengangguk.
Suasana sekolah masih tenang karena kegiatan belajar belum dimulai.
Beberapa guru terlihat sibuk menyiapkan kelas masing-masing.
Saat Aluna sedang menata buku di rak paling atas, ponselnya bergetar.
Nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar.
Ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Selamat pagi."
Suara laki-laki terdengar tenang.
Aluna merasa pernah mendengarnya.
"Maaf, dengan siapa saya berbicara?"
"Hari ini cuacanya cerah."
Aluna mengernyit.
"Apa?"
"Jadi seharusnya sapu tanganmu bisa kukembalikan."
Aluna membeku.
Ia langsung mengenali suara itu.
"Niel?"
"Ya."
Aluna menatap layar ponselnya dengan bingung.
"Tunggu... bagaimana Anda bisa mendapatkan nomor saya?"
Hening.
Lalu suara Niel terdengar kembali.
"Itu pertanyaan yang wajar."
"Tentu saja."
"Aku akan menjelaskannya saat kita bertemu."
Sebelum Aluna sempat mengatakan apa pun...
Sambungan telepon terputus.
Aluna masih memandangi layar ponselnya.
Perasaannya dipenuhi tanda tanya.
Ia tidak pernah memberikan nomor teleponnya.
Ia juga tidak memberitahukan tempat yang biasa ia datangi.
Lalu...
Bagaimana pria itu menemukannya hanya dalam semalam?
Di sisi lain kota, Niel berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memandangi langit yang mulai cerah.
Di atas mejanya tergeletak sebuah berkas tipis.
Pada halaman pertama tertulis satu nama.
Aluna Pradipta.
Namun tepat di bawah nama itu, terdapat sebuah catatan yang membuat tatapan Niel berubah.
"Data masa kecil tidak ditemukan."
— Bersambung —