Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : PESAN DARI MASA LALU
Udara di dalam ruangan berubah.
Sejuk yang tadinya menenangkan kini semakin terasa berat. Menyelimuti seluruh penjuru. Turun dari langit-langit yang tertutup debu.
Suasana jadi hening. Bahkan terlalu hening.
Detak jantung sendiri pun kini terdengar jelas.
Cahaya api berubah. Tidak lagi kuning. Kini terlihat lebih terang dan lembut keperakan tidak menyilaukan mata.
Bayu dan Karta belum sempat menarik napas. Detak jantung mereka masih berdebar kencang.
Lalu suara itu datang.
Tidak berwujud. Hanya suara lirih penuh kebijakan.
“Aku Karsa Djojodilogo, mantan Panglima Kerajaan Galuh,” ucap suara itu tenang dan wibawanya.
“Senjata yang kalian pegang memiliki kekuatan tiada tanding tetapi bukan untuk disombongkan.”
Bayu dan Karta mematung.
Rasa lemas dan pusing yang tadi menyerang seolah hilang seketika. Digantikan rasa hormat yang dalam.
Tanpa sadar mereka menunduk. Seolah di hadapan mereka berdiri sosok yang derajatnya jauh lebih tinggi.
Suara itu berhenti.
Seolah memberi waktu agar kata-katanya meresap ke tulang.
Suara itu terdengar lagi dengan nada yang berbeda lebih tegas dan tajam.
“Busur SANGHYANG RASA kini menjadi bagian dari hati mu, Bayu Suta.”
Bayu mengangkat wajahnya sedikit.
“Ia tidak akan membidik sesuai arah matamu. Melainkan sesuai arah rasamu. Panah itu akan mencari sasaran seperti kata hatimu.”
Hening....
“Namun ingat. Ia hanya melumpuhkan tidak untuk membunuh. Jika niatmu berubah dan ingin menghabisi nyawa orang tak yang tak berdosa, tali busur itu akan menjadi kaku dan tidak akan bisa ditarik.”
Suara itu bergeser. Kini menghadap Karta yang masih berdiri kaku dengan mata terbelalak seqkan tidak percaya apa telah ia dengar.
“Dan pisau SANGHYANG WAJA sekarang menjadi mata dan telingamu, Karta.”
Karta spontan memegang gagang pisau yang tadi ia letakkan.
“Bilahnya akan terasa tajam luar biasa ketika dipakai untuk memotong atau melindungi yang lemah.”
“Tapi jika diarahkan kepada orang yang tidak bersalah. Atau dipakai untuk membalas sakit hati... Kekuatannya akan hilang seketika.”
Udara semakin terasa berat menekan dada. Seolah memaksa mereka meresapi setiap kata.
“Jika kalian memakai kedua benda ini untuk memuaskan rasa dendam. Atau bertindak sewenang-wenang seperti mereka yang membakar kampungmu...”
“...maka keduanya akan berubah menjadi batu.”
Kata-kata itu begitu keras menghantam.
“Semua ilmu yang mengalir ke tubuh kalian akan hilang. Dan kalian akan kembali menjadi dua orang biasa. Bahkan lebih lemah dari sebelumnya.”
Kalimat terakhir begitu menggema di kepala dan sanubari mereka.
“Jagalah hati kalian seperti menjaga senjata senjata di tangan. Karena hati yang gelap akan memakan kekuatan yang dimiliki. Bukan melindunginya. Ingat pesan ini sampai akhir perjalanan.”
Sunyi.
Bayu ingin bertanya. Ke mana harus pergi? Siapa yang harus dihadapi? Kapan waktu yang tepat?
Karta ingin bertanya. Bagaimana cara mengendalikannya? Berapa lama efeknya?
Tapi mulut mereka terkunci.
Perlahan suara itu menghilang.
Sinar keperakan yang menyelimuti ruangan meredup. Kembali menjadi cahaya biasa dari balik pintu.
Udara sejuk yang menenangkan kini berganti dengan kesunyian. Kabut halus di udara menghilang seolah tidak pernah ada.
Begitu kehadiran itu pergi, tubuh Bayu langsung ambruk.
Rasa tenang yang menahan tenaganya lepas seketika.
Semua rasa sakit kini berlipat ganda.
Bahu kanannya semakin terasa terbakar. Seperti ada api di dalam daging dan tulang.
Kepalanya serasa berputar di ikuti dengingan keras menghantam telinganya.
Ia terhuyung mundur.
Darah segar merembes lagi dari balik kain pembalut di bahunya. Menetes ke lantai meninggalkan noda noda merah di lantai goa.
“Kang Bayu! Kang Bayu!” teriak Karta panik. Ia melompat maju menahan tubuh Bayu agar tidak jatuh terbentur tapi tenaganya terlalu lemah.
Bayu terhuyung ke samping, lututnya menekuk lalu tubuhnya jatuh tergeletak di atas lantai batu yang berdebu.
Matanya terpejam rapat, napasnya terengah dan wajahnya pucat seperti kertas. Dalam sekejap ia pingsan karena tenaganya terkuras saat menerima pesan.
Karta berlutut di sampingnya, tangannya gemetar memegang bahu Bayu seolah takut menekan luka. Ia menoleh ke sekeliling dan ruangan kembali sunyi.
Kotak kayu masih terbuka di atas meja batu, busur dan pisau terbaring diam seolah tidak pernah mengeluarkan kekuatan apa pun.
Dadanya bercampur aduk antara takut, hormat dan bingung. Kekuatan baru saja diberikan tapi bersamaan dengan itu datang pula rantai yang mengikat. Arah sudah ditunjukkan tapi peringatan tentang musuh terbesar juga ikut terdengar, yaitu diri sendiri.
Karta mengusap keringat dingin di dahinya lalu menarik kain pembalut yang terlepas dan memeriksa luka di bahu Bayu. Darah masih menetes tidak secepat tadi. Ia membalutnya kembali lebih rapat dan menekan dengan kain tambahan agar darah berhenti.
Setelah selesai ia duduk bersandar ke dinding di samping tubuh Bayu yang terbaring. Tangannya memeluk lutut dan matanya tidak lepas dari api di pintu goa dan menjaganya agar tetap menyala.
Di luar suara air menetes masih berirama seolah tidak peduli apa yang terjadi di balik pintu batu. Di luar malam mulai turun membungkus Bukit Cijambe dengan gelap dan kesunyian.
Karta tidak tahu berapa lama Bayu akan pingsan, tidak tahu apa yang akan mereka hadapi setelah ini dan tidak tahu apakah mereka sanggup menjalani perjalanan ditunjukkan oleh suara tanpa wujud. Tapi satu hal telah tertanam kuat di kepalanya, bahwa kekuatan itu ada tapi harus dijaga dan jalan itu terbuka tapi harus dipilih dengan hati bersih.
Mulai saat ini hidup mereka tidak akan pernah sama lagi terikat oleh janji amanah dan takdir yang sudah menunggu ratusan tahun untuk di tepati.
Ia menatap wajah Bayu yang pucat lalu berbisik pelan, “Ulah nyerah Kang, urang kudu maju teuneung ludeung tandang makalangan.”
Api kecil berkedip menerangi dua sosok anak manusia di dalam gua. Di tangan mereka ada senjata, di dada mereka ada beban dan di depan mereka ada jalan yang belum selesai.