Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku
Pukul 12.30 Arum dan Mischa keluar dari kelas. Mereka tadi sudah janjian, mau nyobain makan mie ayam di tepi jalan dekat gerbang kampus mereka. Ternyata Mischa dan Arum sama-sama dari keluarga miskin, jadi makan di pinggir jalan bukan masalah buatnya.
"Hei i... Tungguin aku dong!" teriak cowok jadi-jadian yang sejak kemarin nempel terus dengan mereka berdua. Cowok itu namanya Ragil.
Arum dan Mischa menghentikan langkahnya, mereka menatap geli Ragil yang berjalan dengan gemulai nya ke arah mereka. Bak peragawati di catwalk.
"Astaghfirullah. .... Amit-amit jabang bayi. Semoga keturunanku gak kek kamu Gil!" Ujar Mischa tersenyum ngejek kepada Ragil.
Puukk..
"Iihh.. Jangan gitulah!" ujar Ragil kemayu setelah menepuk pelan bahunya Mischa.
"Loe mau temanan sama kita emangnya?" tanya Arum melirik Ragil.
Ragil mengangguk lemah dan centil.
"Siap-siaplah kamu ku ruqiah. Aku gak suka manusia yang tidak jelas alamnya." Celoteh Arum tegas.
"Iihh... Jangan gitu dong." Sahut Ragil dengan kemayu nya. Ia kibaskan rambutnya yang cepak, dan menyisipkan angin ke daun telinganya.
"Awas tu leher mu patah, asyik kibaskan rambut. Padahal rambutmu pendek!" timpal Arum lagi merasa geli dengan tingkahnya Ragil.
"Eemmm... Aku cantik kan?" ujar Ragil dengan percaya dirinya. Arum dan Mischa dibuat eneg dengan sikapnya Ragil.
"Sudahlah Rum, dia sepertinya sudah stadium akut. Gak akan sadar akan kodratnya. Yang penting, dia nanti gak mau ganti jenis kelamin." Ujar Mischa menarik Arum, agar mereka melanjutkan langkah nya.
Arum terdiam, ia tatap lamat-lamat Ragil yang nampak sedih, karena ia dinasehati itu. Kemudian Ia buang pandangan, mereka pun kembali melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di warung mie ayam. Mereka pun memesan makanan. Kini mereka duduk di kursi plastik yang di depannya ada meja plastik juga. Disekitar mereka sangat ramai sekarang. Karena banyak kendaraan yang lalu lalang. Dan juga padatnya penjual di tepi jalan.
"Rum, gimana kasusmu dengan senior kita kak Cindy. Tadi dia datang ke kelas cariin kamu!" ujar Mischa, disela-sela menyantap mie ayam yang mereka pesan.
"Iihh... Besok kita gak usah makan di sini deh. Gak steril tahu." Protes Ragil, ia terus saja mengepakkan kipas di tangannya.
"Eemmm... Sepertinya kamu salah pilih tan deh Gil. Kami ini orang miskin. Ya, seperti ini biasa buat Kami!" Sahut Mischa menatap jengah Ragil. Mischa juga kurang sreg berteman dengan Ragil.
"Apaan sih, aku itu bisa menilai orang. Aku ihat kalian tulus. Makanya aku mau berteman dengan kalian." Ujar Ragil tersenyum tipis. Jemarinya yang gemulai mulai mengaduk mie ayam dengan sendok di mangkuk nya.
Ngung...
Ngung..
Ngung
Ponsel nya Arum bergetar di dalam tasnya. Ia pun merogoh tas ransel yang ada di atas meja makan mereka.
"Astaga...!"
Arum pun tersadar, jika siang ini. Ia harus membelikan makan siang nya Dimas. Setelah ia di telpon oleh Dimas. Tapi, ia tidak mengangkatnya.
"Rum, gimana kasusmu dengan Cindy.?" Tanya Mischa lagi penasaran tentang kasusnya Cindy dengannya.
"Gak tahu Mischa. Aku belum pernah bertemu degannya sejak Kemarin!" Jawab Arum dengan tidak fokus. Ia kepikiran Dimas.
"Bang, bungkus satu porsi mie ayam ya. Bungkusnya yang steril bang." Teriak Arum kepada pemilik warung mie ayam.
"Iya dek." Sahut si abang penjual mie ayam.
"Mau sama siapa itu Rum?" tanya Mischa kepo.
"Eemmm.. Ada deh, hampir saja Arum keceplosan mau mengatakan mie ayam itu untuk Dimas.
" Ini dek!"
"Berapa bang?" tanya Arum tergesa-gesa. Ia merogoh dompet nya dari tas ranselnya.
"Semua?"
"Iya bang "
"46 ribu dek!" ujar Si penjual mie ayam.
"Ini bang!" Arum memberikan uang pecahan 50 ribu kepada si abang tukang mie ayam. "Aku duluan ya!"
Arum langsung berlari, masuk ke pekarangan kampus.
"Kembaliannya Dek!" teriak si tukang mie ayam.
Tapi, Arum tidak mendengarnya lagi, karena ia sudah jauh dar jangkauan.
"Banyak juga ya uang si Arum. Kita ditraktir!" ujar Mischa, memperhatikan Arum yang berlari menuju kampus.
Arum berlari kecil menuju ruang kerjanya Dimas. Di tangannya ia tenteng kresek putih berisikan ayam yang dimika dengan higienis. Ia yakin, Dimas pasti suka akan mie ayam yang ia bawa. Dimas gak boleh protes, karena Dimas gak titip pesan, apa makan siangnya
Ponselnya Arum terus saja bergetar di dalam tas nya. Ia yakin yang menelpon adalah Dimas. Awalnya ia diamkan. Tapi, karena penasaran ia pun merogoh ponselnya dari tas ranselnya. Disaat ia sudah hampir tiba di ruang kerjanya Dimas.
"Iihh.. Ini bocah gak sabaran banget sih." Umpat Arum kesal. "Loh, bukan Dimas. Pak Subroto!" Arum pun bersiap siap untuk mengangkat telepon suaminya. Tapi, ia mengurungkan niatnya. Karena ia mendengar suara isak tangis dari dalam ruang kerjanya Dimas. Isak tangis seorang wanita
"Oohh... Gara-gara wanita murahan itu, kamu mutusin pertunangan kita sayang..!"
Deg
Arum sangat terkejut mendengar ucapan wanita yang ia kenal suaranya itu. Itu suaranya Cindy.
Oouuww. .. Tu kan benar, Cindy itu ceweknya Dimas.
Gumam Arum dengan penasarannya. Ia tempelkan kupingnya di daun pintu ruangan itu.
"Berani kamu cium dia di depanku..!" teriak Cindy histeris.
Ngap..
Arum memegang bibirnya. Apa ia yang sedang dibahas.
"Lebih baik kamu keluar. Kalau kamu menyimpulkan seperti itu silahkan! ayo, keluar!"
"Eehh...!" Arum yang serius menguping tidak sadar, jika Pinta dibuka oleh Dimas. Sehingga ia kini terjerembab masuk ke dalam kantor itu. "Ma, maaf ya, mengganggu!" Arum membalik badan hendak kabur dari tempat itu.
"Tunggu!" Cindy yang kesal, menarik kuat kerah bajunya Arum dari belakang.