Menikah bersama pria yang kita cintai merupakan impian bagi banyak orang. Namun apa jadinya jika pernikahan tersebut tidak seperti yang kita impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soto Buatan Dinar
Dinar menghidangkan soto untuk menu makan malam dengan penuh semangat. Ia sudah tidak sabar suaminya mencicipi soto buatannya. Berharap suaminya akan suka.
Baru saja ia hendak beranjak menuju kamar guna memanggil suaminya untuk segera makan soto nya yang masih panas, Kala sudah lebih dulu datang ke meja makan.
"Wanginya enak," puji pria itu di sambut senyum hangat oleh Dinar.
"Duduk, mas!" Dinar menarik salah satu kursi makan untuk di duduki oleh Kala.
"Aku biasa makan soto yang kuahnya bening, tapi enak yang kuahnya kuning seperti yang ini," ujar Kala seraya menunjuk kuah soto buatan istrinya.
"Iya, aku juga lebih suka yang kuahnya kuning, mas," jawab Dinar.
Dinar segera mengambilkan semangkuk soto untuk suaminya. Yang terdapat bihun, toge, kol, dengan toping kacang kedelai, ayam, tidak lupa kerupuk.
"Jangan terlalu banyak kerupuk, aku kurang begitu suka," pinta Kala.
"Iya, mas," sahut Dinar menurut.
Setelah jadi, Dinar langsung memberikan pada suaminya.
"Hati-hati masih panas, mas." Dinar memberi peringatan pada suaminya.
Kala mulai mencicipi soto buatan istrinya, ia mulai menyeruput sedikit kuah soto yang baru saja ia tiupi perlahan. Dinar sudah tidak sabar menunggu pendapat dari suaminya mengenai soto buatannya.
"Bagaimana rasanya, mas? Kurang apa?"
Kala terlihat diam seraya merasakan rasa dari kuah sotonya.
"Ini sedikit beda dengan kuah soto yang biasanya aku beli," jawab Kala kemudian.
"Gak seenak yang biasa kamu beli ya, mas?"
Dinar seketika merasa jika ekspektasi nya terlalu tinggi demi mengharap secuil pujian dari suaminya.
"Kata siapa? Justru ini lebih enak dari soto yang biasa aku beli."
Jawaban Kala seketika menciptakan binar bahagia di mata Dinar. Wanita itu mengulum senyum merasa senang dalam hati.
"Karena aku buatnya dengan cinta, mas," ujar Dinar sedikit malu-malu.
Kala menatap wajah wanita itu, seketika sudut bibir nya terangkat membentuk sebuah senyum tipis mendengar kalimat Dinar barusan.
Keduanya mulai menyantap soto. Dinar lebih suka di tambah dengan sambal cabe ijo yang sudah ia buat sendiri, karena rasanya lebih mantap. Di tambah lagi dengan jeruk limau yang menambah cita rasa kuah sotonya.
"Aku boleh tanya sesuatu padamu?" ujar Kala membelah keheningan yang tercipta di antara mereka sebelumnya.
Dinar mendongakan kepalanya menatap wajah suaminya yang duduk di hadapannya.
"Iya, mas. Kamu mau tanya apa?" jawab Dinar begitu antusias.
"Apa alasanmu mendonorkan satu ginjalmu untuk mama?"
Tiba-tiba saja Dinar tersedak, dengan cepat Kala memberikan segelas air putih yang sebelumnya sudah di tuang ke dalam gelas.
"Pelan-pelan," kata Kala.
Dinar meminum air minum nya dan meletakan kembali gelasnya ke tempat semula. Ia tatap wajah suaminya yang tampak serius dan sedikit heran kenapa Kala ingin tahu soal itu.
Kala tampak menunggu jawaban dari Dinar. Ia sangat penasaran dengan jawaban wanita itu, lantaran donor ginjal memiliki resiko yang besar, dan resiko terbesarnya adalah kehilangan nyawa sendiri.
Dinar kelihatan bingung, ia berusaha menyusun alasan yang logis agar mudah di terima tanpa ada rasa curiga.
"Aku .." Dinar mulai menyusun kata apa yang harus dia ucapkan dengan penuh kehati-hatian.
Saat ia dalam kebingungan memberi alasan pada suaminya, pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, yang ternyata itu merupakan ponselnya.
"Aku tadi tidak sengaja membaca chat yang di kirimkan oleh ibumu," ujar Kala kemudian.
Dengan cepat Dinar menyambar ponselnya dari tangan sang suami. Kedua bola matanya membulat sempurna dan segera mengecek isi chat yang dari ibu sambungnya.
Usai membaca isi chat tersebut, iris mata Dinar semakin melebar. Ia tatap wajah suaminya dengan wajah tegang. Pantas saja Kala tiba-tiba membahas soal donor ginjal, rupanya pria itu usai membaca isi chat dari ibu sambungnya soal uang.
"Mas .. Aku bisa jelasin sama kamu, mas."
Dinar mulai kelihatan ketakutan, ia khawatir jika suaminya salah paham tentang itu. Apalagi ia dengar jika Gyna mau berhubungan dengan suaminya karena masalah uang. Ia takut jika Kala akan berpikir yang tidak-tidak.
_Bersambung_