NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Langkahku melangkah masuk ke halaman rumah dengan rasa yang beda banget dari biasanya. Di tangan kanan, ada bungkusan kain berwarna merah tua yang dibungkus kertas kado polos tapi rapi banget, hasil tangan Bibi Meera tadi.

Di hati, ada rasa hangat yang meluap-luap, rasa yang bikin aku pengen senyum terus-menerus kayak orang yang lagi dapet kebahagiaan terbesar di dunia. Sepatu hak tinggiku mengetuk pelan lantai teras, bunyinya berirama, seolah ikut membawa pulang semua keindahan dan pelajaran yang aku dapet hari ini.

Begitu masuk ke ruang tengah, Ibu lagi duduk di sofa sambil melipat baju, sedangkan Bapak ada di meja makan, sepertinya baru aja selesai minum kopi sore. Begitu denger suara langkahku, mereka berdua barengan nengok, dan lagi-lagi tatapan mereka sama heran, penasaran, tapi juga senang lihat mukaku yang bersinar banget.

"Wah, anak Ibu pulang lagi dengan senyumnya yang nggak mau hilang itu ya?" sapa Ibu duluan sambil naruh baju lipatannya, matanya langsung tertuju ke bungkusan di tanganku.

"bawa apa tuh, Ra? Kelihatan berat dan berharga banget bungkusnya. Dapet kado di jalan apa gimana?"

Aku salim ke tangan mereka berdua, terus duduk di sebelah Ibu sambil memeluk bungkusan itu erat ke dada. Rasanya pengen banget cerita semuanya, cerita soal toko yang indah, soal aroma rempah yang khas, soal Bibi Meera yang ramah dan cekatan, cerita soal kain indah itu, dan cerita soal Arjun yang begitu baik dan penuh makna.

Tapi sekali lagi... rasanya cerita ini masih terlalu pribadi, rasanya momen-momen indah ini masih terlalu baru buat aku bagi sepenuhnya. Aku cuma mau simpan rasa bahagia ini dulu, nikmatin sendiri, biar rasanya makin dalem dan makin melekat di hati.

"Ini... cuma hadiah kok, Bu. Dari seseorang," jawabku sambil senyum-senyum, tangannya mengelus bungkusan itu pelan.

Bapak yang dari tadi diam mengamati, kini menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku lekat-lekat.

"Hadiah? Dari siapa, Ra? Mahal banget kayaknya itu barang, lihat aja dari caramu pegangnya, seolah itu barang paling berharga di dunia. Emangnya kamu ulang tahun? Kan belum waktunya."

Aku menggeleng pelan.

"Bukan ulang tahun kok, Pak. Cuma... tanda terima kasih aja katanya. Katanya aku udah pernah bantu, padahal aku rasa aku nggak ngelakuin apa-apa sih. Tapi dia ngotot ngasih, ya udah aku terima aja deh. Emang kelihatan mahal ya, Pak? Iya sih, barangnya emang bagus banget, buatan tangan, penuh seni gitu deh."

Ibu makin penasaran banget, tangannya udah terulur mau ambil bungkusan itu.

"Boleh dibuka nggak nih? Ibu pengen tau isinya apa sih yang bikin anak Ibu senyum-senyum terus kayak kesurupan gini. Ayo dong dibuka bareng-bareng."

Aku ketawa kecil, akhirnya mengangguk setuju. "Boleh dong, Bu. Emang bagus banget kok, Ibu sama Bapak pasti bakal kagum lihatnya. Tapi ingat ya... jangan kaget, jangan nanya-nanya banyak dulu ya dari mana dapetnya. Nanti pas waktunya pas, aku ceritain semuanya panjang lebar. Sekarang nikmatin aja keindahannya ya."

Ibu sama Bapak sama-sama saling pandang, terus nyengir.

"Dasar rahasia banget sih kamu sekarang ya. Yaudah deh, kita buka aja dulu, nanti kalau kami makin kepo ya itu urusan kamu juga," kata Bapak sambil ikut mendekat penasaran.

Perlahan aku lepas ikatan talinya, membuka kertas pembungkus itu pelan-pelan. Begitu kain merah marun dengan sulaman benang emas itu terbentang dan terpampang jelas di ruang tengah, mata Ibu sampai terbelalak, mulutnya terbuka sedikit kaget.

Bapak pun ikut maju selangkah, matanya menatap kain itu lekat-lekat, takjub banget melihat kerumitan sulamannya dan kilau bahannya yang mewah.

"Wah...indah banget ini, Ra..." bisik Ibu pelan, tangannya gemetar pelan mau menyentuh tapi ragu, takut merusak.

"Ini kain apa ini? Halus banget, dingin di kulit, dan sulamannya... masyaallah, rapi banget, rumit banget. Ini baju apa ini bentuknya panjang banget gini?"

"Ini namanya Sari, Bu. Baju adat khas India," jelasku pelan sambil memegang ujung kain itu, rasa kagum yang sama masih terasa sampai sekarang.

"Kelihatannya cuma kain panjang biasa aja, tapi cara pakainya itu seni banget. Harus dilipat, dililit, disusun, biar jadi baju yang anggun banget. Katanya sih, kain ini bahannya sutra asli, dan sulamannya dikerjain tangan satu-satu. Makanya kelihatan seindah ini."

Bapak mengangguk-angguk pelan, matanya masih meneliti setiap detail motif bunga melati yang berulang di sepanjang kain itu.

"India ya... Pantas aja ada nuansa bedanya, ada keindahan yang beda dari baju biasa yang kita lihat sehari-hari. Mahal banget pasti ini, Ra. Bukan barang sembarangan nih. Kamu bilang tadi dapet ini sebagai hadiah? Orang yang ngasih ini ke kamu... dia harusnya orang yang sangat menghargai kamu, dan orang yang punya hati yang sangat indah buat bisa kasih barang seberharga ini."

Aku diam mendengar kata-kata Bapak, hati rasanya bergetar setuju banget. Bapak bener banget. Arjun nggak cuma kasih kain, dia kasih rasa hormat, rasa percaya, dan rasa persahabatan yang berharga banget.

"Iya, Pak... emang dia orang yang baik banget. Dan dia bilang, warna merah ini artinya kebahagiaan dan kehormatan. Motif melati ini... katanya simbol kesederhanaan dan kebaikan, persis kayak apa yang dia lihat di aku," jawabku pelan, tanpa sadar senyumku melebar lagi.

Ibu menatapku lekat-lekat, ada sorot tanya di matanya tapi dia nggak nanya asal-usulnya. Dia cuma mengelus pipiku lembut, lalu kembali menatap kain indah itu.

"Indah banget, Ra. Bukan cuma kainnya, tapi ceritanya. Denger kamu jelasin makna warnanya, makna gambarnya... Ibu jadi ngerti kenapa kamu senyum-senyum terus dari tadi. Ini bukan sekadar kain, ini kan ya... ini isinya perhatian, isinya pemikiran dalem, isinya rasa hormat. Siapa pun orang yang ngasih ini ke kamu... Ibu berterima kasih banget sama dia. Dia udah ngajarin kamu hal baru, dia udah bawa keindahan baru ke hidup kamu."

"Dan satu lagi, Ra..." tambah Bapak sambil duduk kembali di kursinya, nada bicaranya lembut dan bijak.

"Lihat cara kamu ngomongin barang ini, cara kamu menghargai ceritanya... Bapak lihat kamu berubah. Kamu jadi lebih ngerti arti sebuah pemberian, kamu jadi lebih peka sama makna di balik sesuatu. Dulu kamu cuma lihat barangnya, sekarang kamu lihat apa yang ada di balik barang itu. Itu pelajaran yang jauh lebih mahal harganya daripada kain sutra termahal sekalipun."

Aku mengangguk mantap, hati rasanya penuh banget. Bapak selalu bisa lihat lebih dalem dari apa yang kelihatan di mata biasa.

"Iya, Pak... aku sadar banget itu. Aku jadi tau, bahwa sesuatu jadi berharga bukan karena bahannya apa, tapi karena siapa yang ngasih, karena apa maknanya, dan karena gimana rasanya pas kita nerima itu."

Aku melipat kembali kain indah itu pelan-pelan, menatapnya dengan penuh kasih sayang sebelum masukkan kembali ke dalam bungkusnya.

"Nanti kalau ada acara istimewa, aku bakal pakai ini, Bu, Pak. Dan pas aku pakai itu nanti, aku bakal ingat terus... ingat buat tetap jadi orang yang berharga, tetap jadi orang yang menghargai kebaikan, dan tetap bersyukur karena dikasih kesempatan kenal orang-orang baik di dunia ini."

Ibu tersenyum lega, lalu bangkit berdiri mau masuk dapur.

"Yaudah deh, simpan baik-baik ya. Taruh di lemari paling atas aja biar aman dan nggak kusut. Ibu sama Bapak seneng banget lihat kamu dapet hal seindah ini, dapet pelajaran sedalem ini. Yang penting kamu bahagia, kamu tenang, dan kamu tetap jadi anak yang baik kayak gini."

Malam itu, setelah semua selesai, aku masuk ke kamar dan menaruh bungkusan itu di lemari paling atas, persis di sebelah kain pemberian kakek Arjun kemarin. Dua benda sederhana tapi berisi seribu makna, seribu cerita, dan seribu rasa terima kasih.

Aku duduk di pinggir kasur, menatap dua bungkusan itu dengan hati yang damai. Orang tuaku benar... barang-barang ini memang indah, tapi yang jauh lebih indah lagi adalah pertemuan yang membawaku sampai ke sini. Pertemuan dengan Arjun, dengan kakeknya, dengan budaya baru, dan dengan sisi diriku sendiri yang ternyata masih bisa merasa indah dan berharga lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!