Sekuel Gadis Satu Malam
Briana, gadis cantik yang terlahir dari rahim seorang wanita malam. Ia kehilangan ingatan karena pelecehan yang di lakukan oleh ayah tirinya di masa lalu.
Beberapa tahun kemudian ia di pertemukan dengan seorang pengusaha yang merupakan sosok ayah kandungnya, lalu menikah dengan laki-laki pilihan sang ayah yang tidak lain adalah kakak tirinya.
Briana berharap kehidupannya akan membaik. Namun, yang tidak ia ketahui, nasib malang kembali menimpanya saat setelah kematian sang ayah.
Bagaimana kksah perjuangan Briana ?
yuk mampir 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Pernikahan Dion
Acara pernikahan Dion dan Clara terlihat begitu meriah, sama seperti pernikahan Dion dengan nya dulu. Briana mengelilingi ruangan megah itu dengan pandangannya. Melihat orang-orang yang terlihat ikut larut dalam kebahagiaan pasangan pengantin. Namun, tidak bagi Briana. Ini terlihat begitu memuakkan baginya, terlebih saat manik indahnya menatap ke arah wanita paruh baya yang terlihat begitu bahagia dengan pernikahan putranya.
Ada banyak hal yang menjijkan di dunia ini, salah satunya adalah mencari kebahagiaan dengan cara menyakiti orang lain.
Tidak ingin di curigai karena terlalu lama menatap wajah ibu tiri sekaligus ibu mertuanya, Briana kembali memalingkan wajah dengan cepat. Tangannya masih terkepal dengan begitu erat karena menahan kemarahannya pada tiga orang yang sedang larut dalam kebahagiaan di ujung sana.
Orang-orang hina itu berlaku seperti tidak terjadi apapun. Menganggap Briana memang tidak pednah ada dalam kehidupan mereka.
"Maafkan aku." Gama menggenggam tangan Briana yang terkepal di atas paha gadis itu. "Jika aku tidak pergi, kamu tidak akan pernah merasa tersakiti karena orang-orang itu." Sambungnya lagi. Ternyata Gama sudah memperhatikan Briana sejak tadi, saat gadis iru terus saja memperhatikan tiga orang pemilik acara yang sedang berbahagia malam ini.
Briana menggeleng, lalu menunduk dalam. Sebenci apapun dia, sebanyak apapun dendam yang tumbuh di dalam hatinya untuk tiga orang yang ada di ujung sana, jauh di lubuk hati terdalamnya masih menyimpan rasa kemanusiaan yang terkadang membuatnya bimbang. Lagi pula Gama tidak ada hubungannya dengan kejahatan yang di lakukan oleh orang-orang itu.
"Jika aku tetap di sini, pasti mereka tidak akan pernah menyakiti mu." Ucap Gama lagi dengan begitu pelan. "Mau ke suatu tempat ?" Tanya Gama kemudian.
Briana mengangkat wajahnya yang tertunduk dalam, lalu menatap wajah hangat itu dengan lekat.
"Apa kamu akan pergi lagi ?" Tanyan Briana.
Gama tersenyum hangat, lalu menggeleng dengan tegas. Sumpah demi apapun, ia tidak akan pernah beranjak seinci pun dari sisi Briana. Dia tidak akan lagi mempercayai siapapun untuk menjaga Briana, termasuk keluarganya sendiri.
"Aku sendiri yang akan memastikan kamu baik-baik saja sampai nanti, sampai batas waktu yang sidah di tentukan oleh Tuhan datang." Jawab Gama dengan yakin. "Ayo kita keluar dari gedung bodoh ini." Ajaknya lagi dengan wajah serius, dan langsung membuat Briana tertawa lucu.
"Ada apa ?" Tanya Gama lagi saat melihat Briana hanya tertawa lucu sembari menatap wajahnya.
"Gedung ini tidak bodoh, tapi orang-orang yang ada di sana. Ah, mereka bukan lagi manusia." Jawab Briana sambil beranjak dari tempat duduknya, kemudian di ikuti Gama. Keduanya lantas melangkah keluar dari gedung megah itu menuju parkiran mobil.
Mobil mulai melaju pelan, meninggalkan pelataran hotel yang masib di penuhi oleh mobil-mobil mewah milik para tamu undangan.
"Ana.." Panggil Gama setelah mobilnya mulai melaju di jalanan.
Briana menoleh tanpa suara, lalu menatap wajah Gama yang terlihat begitu berkonsentrasi dengan kemudi.
"Ada apa ?" Tanya Briana karena Gama masih belum melanjutkan kalimatnya.
"Siapa Leon ?" Tanya Gama. "Apa kalian saling mengenal di masa lalu ? Aku tahu Leon juga berasal dari Bali." Sambungnya.
"Kak Leon sama baiknya seperti dirimu, Gama. Dia selalu melindungiku dulu." Briana menarik nafasnya dalam-dalam. Bayangan kelam di masa lalu kembali melintas, membuat kepalanya berdenyut sakit."
"Maafkan aku." Ucap Gama. Ia tahu apa yang kini sedang di rasakan Briana. Tidak ada yang indah dari masa lalu gadisnya ini, untuk itu ia memilih untuk berhenti dan tidak lagi membahas tentang apapun yang terjadi di masa lalu.
yg sama diandera bener fania