Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 : Perasaan Arga
Keesokan paginya...
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar. Winarsih perlahan membuka matanya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
Ia baru teringat bahwa dirinya bukan lagi berada di rumah mertuanya.
Perlahan, ia duduk di tepi ranjang. Matanya kembali memerah saat mengingat semua yang terjadi semalam.
"Mas Benni..." gumamnya lirih.
Ia menghela napas panjang, lalu beranjak mengambil air wudu. Setelah menunaikan salat Subuh, Winarsih menengadahkan kedua tangannya.
"Ya Allah... jika memang ini ujian-Mu, tolong kuatkan hamba. Hamba tidak tahu harus berbuat apa lagi." Air matanya kembali menetes saat mengakhiri doa.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
"Winarsih, sudah bangun, Nak?" suara Bu Ratna terdengar lembut dari luar.
"Iya, Bu."
Winarsih segera membuka pintu.
Bu Ratna tersenyum ramah sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring nasi goreng.
"Ini, sarapan dulu."
Winarsih langsung menggeleng. "Bu, tidak usah. Saya malu sudah merepotkan Ibu."
Bu Ratna tersenyum lalu menyodorkan nampan itu. "Tidak usah sungkan. Dari semalam kamu pasti belum makan."
"Tapi...."
"Kalau kamu sakit, nanti siapa yang bekerja?"
Mendengar ucapan itu, Winarsih akhirnya menerima nampan tersebut.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Iya. Habis makan nanti kalau mau berangkat kerja, bilang sama Ibu."
"Baik."
Bu Ratna pun kembali ke rumahnya.
Sekitar satu jam kemudian, Winarsih sudah mengenakan pakaian kerjanya. Meski matanya masih sembap, ia tetap berusaha tersenyum.
Saat keluar dari kamar, Bu Ratna sedang menyapu halaman. "Mau berangkat kerja, Nak?"
"Iya, Bu."
"Bagus. Jangan menyerah hanya karena cobaan."
Winarsih mengangguk pelan. "Saya akan berusaha kuat."
Bu Ratna tersenyum bangga. "Nanti kalau pulang kerja, langsung pulang ke sini saja. Anggap rumah ini rumahmu sendiri selama kamu tinggal di sini."
Mata Winarsih kembali berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu."
Baru saja ia berangkat, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah Bu Ratna.
Brumm...
Mobil Dokter Arga berhenti tepat di depan rumah.
Arga turun sambil membawa tas kerjanya. "Selamat pagi, Bu Ratna."
"Pagi, Dok."
Barulah Arga melihat Winarsih yang sudah siap berangkat bekerja. "Pagi, Mbak Winarsih."
"Pagi, Dok."
Arga memperhatikan wajah Winarsih yang masih terlihat pucat. "Bagaimana? Bisa tidur semalam?"
Winarsih mengangguk pelan. "Alhamdulillah... bisa."
"Syukurlah."
Suasana kembali hening beberapa saat.
Arga lalu berkata, "Kamu mau ke pabrik roti, kan?"
"Iya, Dok."
"Kalau begitu saya antar."
Winarsih langsung menggeleng. "Tidak usah, Dok. Saya bisa pergi sendiri."
"Setelah kejadian semalam, saya khawatir."
"Sekarang sudah pagi, Dok. Tidak apa-apa, jalanan juga sudah mulai ramai."
Arga tersenyum kecil. "Kamu memang keras kepala, ya."
Winarsih ikut tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak semalam. "Saya tidak ingin terus merepotkan Dokter."
Melihat tekad gadis itu, Arga akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, jangan sungkan meminta bantuan."
"Iya, Dok."
Bu Ratna yang memperhatikan percakapan mereka hanya tersenyum kecil. "Sudah sana, nanti terlambat."
"Iya, Bu."
Winarsih tersenyum pada Bu Ratna dan berpamitan. "Saya berangkat dulu."
"Hati-hati," ucap Bu Ratna dan Arga hampir bersamaan.
Winarsih terus berjalan cepat, lalu keluar dari rumah kontrakan.
Arga masih memperhatikan kepergiannya hingga sosok gadis itu menghilang di ujung jalan.
Bu Ratna yang berdiri di sampingnya berdeham pelan. "Dok..."
"Iya, Bu?"
"Ibu belum pernah lihat Dokter memperhatikan seseorang sampai seperti itu."
Arga sedikit tersenyum malu. "Saya hanya memastikan dia baik-baik saja."
Bu Ratna terkekeh pelan. "Semoga saja memang hanya begitu."
Arga tidak menjawab. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari bahwa perhatiannya kepada Winarsih bukan lagi sekadar rasa iba. Ada perasaan lain yang perlahan tumbuh, meski ia tahu gadis itu masih terikat oleh luka dan masalah rumah tangganya.
Kini Winarsih terus berjalan menuju pabrik roti Juragan Warso. Meskipun jarak kontrakan yang baru tidak terlalu dekat dengan pabrik roti. Tapi berjalan kaki sudah biasa untuk gadis desa seperti Winarsih. Udara pagi yang masih sejuk menerpa wajahnya, tetapi pikirannya tetap dipenuhi berbagai persoalan.
Sesekali ia mengusap sudut matanya yang masih terasa sembap. "Aku harus kuat," bisiknya pelan. "Aku tidak boleh kehilangan pekerjaan ini."
Tak lama kemudian, ia tiba di halaman pabrik. Beberapa karyawan sudah mulai sibuk mengangkat tepung dan menyusun roti yang baru keluar dari oven.
"Selamat pagi, Mbak Winarsih!" sapa salah seorang karyawan.
"Pagi."
Winarsih membalas dengan senyum tipis, meski wajahnya masih terlihat murung.
Dari dalam ruang produksi, Juragan Warso keluar sambil mengenakan celemek. "Lho, Winarsih. Kamu sudah datang?"
"Iya, Juragan."
Juragan Warso memperhatikan wajah Winarsih beberapa saat. "Kamu sakit?"
Winarsih buru-buru menggeleng. "Tidak, Juragan."
"Terus kenapa wajahmu pucat begitu?"
Winarsih menundukkan kepala. "Tidak apa-apa."
Juragan Warso menghela napas pelan. Selama beberapa bulan bekerja di pabriknya, ia sudah mengenal sifat Winarsih. Gadis itu selalu menyimpan masalahnya sendiri dan jarang bercerita kepada siapa pun.
"Kalau ada masalah, jangan dipendam sendirian."
Mendengar kalimat itu, pertahanan Winarsih seketika runtuh, air matanya mulai menetes.
Juragan Warso langsung terkejut. "Astaga... Winarsih."
Winarsih buru-buru menghapus air matanya. "Maaf, Juragan."
"Ada apa sebenarnya?"
Dengan suara bergetar, Winarsih akhirnya menceritakan semuanya. Mulai dari dirinya diusir oleh ibu mertuanya, foto surat gugatan cerai yang dikirim Benni, hingga kejadian semalam saat hampir menjadi korban para preman.
Juragan Warso terdiam cukup lama. Raut wajahnya berubah antara sedih dan marah. "Ya Allah... cobaanmu berat sekali."
Winarsih hanya menangis sambil menundukkan kepala.
"Sekarang... kamu tinggal di mana?"
"Di rumah kontrakan Bu Ratna, Juragan."
"Bu Ratna yang dekat rumah dinas puskesmas itu?"
"Iya."
"Syukurlah." Juragan Warso mengangguk pelan. "Siapa yang membantumu sampai bisa tinggal di sana?"
Winarsih mengusap air matanya. "Dokter Arga yang mengantar saya ke sana."
Juragan Warso tersenyum tipis. "Berarti dokter muda itu memang orang baik."
"Iya, Juragan. Kalau semalam beliau tidak datang... mungkin saya...."
Kalimat Winarsih terputus. Ia tidak sanggup melanjutkannya.
Juragan Warso menghela napas panjang. "Sudahlah. Jangan diingat lagi." Ia kemudian menepuk pelan bahu Winarsih. "Mulai hari ini kamu jangan pulang sendirian kalau sudah malam."
"Iya, Juragan."
"Nanti kalau lembur, suruh Rudi atau karyawan lain mengantarkanmu sampai depan kontrakan."
Winarsih langsung menggeleng. "Jangan, Juragan. Nanti merepotkan."
"Bukan merepotkan." Juragan Warso menatapnya dengan serius. "Keselamatanmu jauh lebih penting."
Winarsih akhirnya mengangguk. "Baik, Juragan."
"Dan satu lagi, kalau kamu kesulitan membayar kontrakan atau butuh bantuan apa pun, jangan sungkan bilang sama saya."
Winarsih kembali menitikkan air mata. "Terima kasih, Juragan."
"Anggap saja saya ini orang tuamu."
Mendengar ucapan itu, tangis Winarsih pecah. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian seperti itu.
Di sisi lain...
Di Puskesmas Sekar Sari, Dokter Arga baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya pagi itu. Namun pikirannya beberapa kali melayang kepada Winarsih.
Tanpa sadar, ia membuka laci mejanya. Di dalamnya masih tersimpan sapu tangan putih yang semalam sempat digunakan Winarsih untuk menghapus air mata sebelum dikembalikan kepadanya.
Arga tersenyum kecil. "Semoga hari ini dia baik-baik saja."
Saat itulah Desi masuk ke ruangan sambil membawa beberapa berkas.
"Dok."
"Iya, Des?"
Desi meletakkan berkas di atas meja, lalu memperhatikan ekspresi Arga yang tampak sedang tersenyum sendiri.
"Dari tadi saya perhatikan, Dokter senyum-senyum sendiri terus."
Arga langsung berdeham. "Mana ada."
Desi menyipitkan mata sambil tersenyum jahil. "Jangan-jangan lagi kepikiran Mbak pengantar roti itu ya?"
Arga terdiam beberapa detik, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. "Kamu ini ada-ada saja."
Desi tertawa kecil. "Kalau memang suka, bilang saja, Dok."
Arga hanya menggeleng, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tidak bisa lagi memungkiri bahwa bayangan gadis desa bernama Winarsih itu kini mulai mengisi ruang di dalam pikirannya. Namun ia juga sadar, selama status Winarsih dengan Benni belum benar-benar jelas secara hukum, ia harus menjaga jarak dan menghormati batas yang ada.