NovelToon NovelToon
Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Duda / Tamat
Popularitas:399.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nana Hutabarat

Abimanyu duda beranak tiga yang kesepian, dia butuh seorang wanita untuk mengasuh anaknya dan menghangatkan hatinya. Keseharian ayah dan anak-anaknya hanya diisi oleh pertengkaran, tidak ada kedamaian. Hingga akhirnya Abimanyu memutuskan mendatangkan guru khusus untuk anaknya. Sayangnya, guru itu masih terlalu muda dan punya mempunyai jiwa bebas kontras dengan sifat Abimanyu yang kuno dan posesif. Pertengkaran demi pertengkaran kerap mereka lakukan demi kebaikan tiga anak itu.
Tiba-tiba misteri dalam keluarga Abimanyu mulai terkuak setelah datangnya Anjani. Membuat hubungan mereka semakin dekat, namun sayang, Anjani tidak pernah tertarik untuk menjadi pengganti Lara dalam hidup Abimanyu. Hingga duda itu harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan hati dan cinta wanita itu. Di lain sisi Anjani mempunyai seorang tambatan hati yang selalu menemaninya setiap saat, cinta pertamanya, Devan
Bisakah sang Duda merebut hati wanita muda itu untuk menjadi ibu dari anak-anaknya?
*Ini cerita keluarga yang manis dan romantis abis.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Berlebih

Abimanyu mulai menoleskan krim itu ke luka Anjani dengan lembut. Anjani menahan tubuhnya sendiri atas sentuhan kulit dengan kulit itu. Antara sakit dan geli menjadi satu. Bibirnya digigit keras.

Sedangkan Abimanyu menarik nafasnya panjang. Untuk pertama kalinya semenjak istrinya meninggal dia menyentuh seorang wanita.

"Kenapa kau sampai terluka?" tanya Abimanyu.

Anjani terdiam. Tidak mengatakan apapun. Hanya suara desisan saja yang terdengar ketika salep itu mengenai lukanya.

"Yang membuatku lebih heran adalah keinginanmu untuk selalu membela anakku. Kau hanya sebagai pengajar di rumah ini bukan berarti kau harus mempertaruhkan nyawamu."

"Aku adalah seorang guru, seorang guru akan mengajarkan hal yang baik untuk anak didiknya. Bagi anak didik guru seperti orangtuanya, bagaimana sikap orang tua ketika anaknya dalam keadaan terdesak? Apakah hanya diam melihat itu tanpa berbuat apapun, Bagaimana sikap orang tua ketika tahu anaknya dalam bahaya? Tentu akan melindunginya, itulah yang kulakukan."

"Lalu menjadikan tubuhmu sendiri sebagai perisai?" tanya Abimanyu.

"Kau pun akan melakukan itu jika dalam posisiku," jawab Anjani menegakkan punggungnya dan menarik bajunya ke bawah.

"Aku belum selesai!" ucap Abimanyu.

"Aku kira sudah cukup. Jika boleh aku ingin istirahat, atau kau ingin mengusirku saat ini. Jika begitu aku akan pergi dari kediamanmu saat ini juga," ucap Anjani berdiri.

Tangan Abimanyu menarik tangan Anjani sehingga wanita itu terduduk kembali.

"Tunggu aku belum selesai hanya lima menit saja," pinta Abimanyu lembut membuat Anjani terdiam. "Buka kembali bajumu bagian bawah belum terkena salep sama sekali."

"Tuan Presdir, ini sudah cukup. Terimakasih karena kau sudah berbaik hati untuk memberikan obat padaku."

"Bisakah kau tidak membantahku!" seru Abimanyu mulai kesal. Anjani menatapnya kesal. "Hanya sebentar saja, aku janji. Apakah kau ingin luka ini berbekas di kulit putihmu ini?"

Anjani memutar bola matanya malas.

"Anjani aku tidak suka melihat orang melakukannya!"

"Semua hal tidak kau sukai," gerutu Anjani.

"Buka atau aku yang akan memaksa membuka semuanya!" suara Abimanyu mulai terdengar keras.

Mau tidak mau Anjani menyingkap bagian belakang bajunya dan Abimanyu mulai kembali mengoleskan salep itu ke tubuh Anjani.

Baru saja mengusap sedikit tubuh Anjani membuat gerah Abimanyu. Sesuatu dalam dirinya mulai bergerak naik ke atas membuat hawa sekitar tempat itu terasa gerah untuknya.

"Anjani besok weekend kau bisa pulang mengunjungi keluargamu jika kau mau," kata Abimanyu.

Anjani lalu teringat jika dia punya janji dengan Devan. Anjani menyapukan pandangan ke seluruh tempat ini mencari sebuah jam. Pukul sembilan malam kurang lima belas menit. Dia terlambat.

"Taun Presdir bolehkah saya pergi sekarang saja. Saya ada janji temu dengan seseorang orang," kata Anjani. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban Abimanyu.

Tetapi seketika langkahnya terhenti dan membalikkan tubuhnya. "Anda memecatku atau tidak?"

Abimanyu menggelengkan kepala. Anjani langsung tersenyum lalu berlari pergi dari tempat itu. Sedangkan di balik pohon Marselina terlihat mengepalkan tangannya. Dia sangat berharap jika Abimanyu akan menghajar habis-habisan Anjani nyatanya tadi dia sempat melihat jika pria itu malah bersikap lembut padanya. Sepertinya rencana yang dia susu. sejak lama akan menguap begitu saja.

Sesampainya di kamar dia meraih handphonenya dan mengatakan pada Devan apakah pria itu masih menunggunya di tempat biasa. Devan mengatakan 'Ya'. Secepat kilat Anjani langsung mengganti pakaiannya dan bergerak keluar rumah.

Abimanyu yang sedang berjalan mengitari rumah penasaran dengan sikap Anjani yang terburu-buru. Dalam hatinya bertanya akan bertemu siapa wanita itu? Wanita itu bahkan melupakan rasa sakitnya dan terlihat energik.

Abimanyu lalu kembali lagi ke rumah untuk melihat anak-anaknya. Dirinya terkejut ketika tidak menemukan Bayu dalam kamarnya. Dia lalu menengok kamar Tirta, anak itu masih duduk di tempat tidur sembari memainkan handphonenya. Abimanyu mendekat untuk menyapa anaknya.

Satu usapan lembut mengenai kepala Tirta. Tirta lalu tersenyum cerah melihat ayahnya.

"Apakah ayah marah pada Kakak?'' tanya Tirta.

Abimanyu menggelengkan kepala.

"Pada Ibu Anjani?'' kembali lagi Abimanyu menggelengkan kepalanya.

"Setengah jam lagi kau matikan handphonenya dan pergi tidur," kata Abimanyu mengecup ujung rambut Tirta.

"Baik Ayah," kata anak itu.

"Ayah jangan usir Ibu Anjani, aku menyukainya," kata Tirta sebelum Abimanyu menutup pintu.

Abimanyu lalu pergi ke kamar Bumi. Dia membuka pintu kamar itu dan melihat Bumi sedang tidur dalam pelukan Bayu. Mata Bayu juga terpejam.

Abimanyu lalu mendekati mereka dan mencium kedua anaknya. Sejenak dia melihat ada bekas luka di sudut bibir Bayu yang tadi tidak terlihat. Abimanyu menyentuhnya dan merasakan ada bekas cream kosmetik. Ini pasti perbuatan Anjani yang menutupinya agar dia tidak tahu apa yang telah terjadi.

Netra Abimanyu lalu terpaku melihat Bumi. Anak ini sangat jujur, dia pasti suruh oleh Bayu untuk tidak mengatakannya tetapi sifatnya yang masih sangat polos membuat dirinya mengatakan hal itu walau tidak secara keseluruhan.

"Lara, andai kau ada di posisi Anjani pasti kau juga melakukan hal yang sama. Seorang Ibu akan melindungi anaknya entah itu salah atau benar," batin Abimanyu. ''Ibu, Anjani hanya pengajar bukan ibu anak-anak.''

Abimanyu melihat jam di dinding. Entah mengapa hatinya merasa gelisah sepeninggal Anjani. Dia berkali-kali melihat ke balik jendela kamarnya atau menatap CCTV di laptopnya berharap bisa melihat Anjani pulang.

Hatinya meyakini jika dia hanya khawatir pada Anjani karena pergi dalam keadaan sakit. Ini hampir pukul sebelas malam.

Tangannya terkepal ketika melihat layar di laptop yang memperlihatkan penampakan di luar pagar rumahnya. Anjani turun dari sebuah motor sport lalu berdiri di samping pria berjaket. Berbicara sembari tertawa. Pria itu menyibak rambut Anjani yang tergerai lalu mencium bibir wanita itu.

Hati Abimanyu mencelos melihat pemandangan itu. Tangannya mengepal keras. Entah mengapa dia tidak terima akan perbuatan pria itu pada Anjani. Padahal wanita itu nampak menerimanya. Anjani juga mencium pipi pria itu, baru masuk ke dalam pintu gerbang.

Anjani terus masuk ke dalam rumah yang sudah sepi dan temaram. Dia lalu masuk dengan langkah pelan. Agar tidak menimbulkan suara kegaduhan.

''Aku baru tahu jika seorang pengajar mau berciuman dengan seorang pria dipinggir jalan," ucap Abimanyu yang keluar dari kegelapan malam. Membuat Anjani terkejut.

"Apa kau memata-matai aku?" tanya Anjani menatap curiga.

"Tidak hanya saja tadi tidak sengaja melihat pemandangan itu diluar.

"Apakah ada peraturannya atau perjanjian jika aku tidak boleh punya kekasih?''

"Tidak hanya saja seorang pengajar tidak etis jika melakukan itu ditempat umum karena nanti akan menjadi contoh yang buruk bagi muridnya."

Anjani mendekat ke arah Abimanyu. "Lalu tindakanmu yang mencium paksa diriku di ruang tertutup dianggap etis olehmu? Aku berpikir sudah berapa wanita yang diperlakukan seperti itu olehmu, atau bahkan lebih dari sekedar ciuman semata?"

1
Surati
bagus
Windi Astuti
Lumayan
Windi Astuti
Buruk
carwati
Kecewa
Kkdell Wonda
mff Thor,aku kaya ngk asing dengan ceritanya ,Kaya K-drama yg pernah Aku nonton atau mungkin hanya perasaan Ku sj ya tapi kalo pun mirip ngk apa lh aku tetap suka ko bacanya♥️ tetap semangat Thor ♥️
Nesia2
ceritanya menarik
Diana Budhiarti
akhirnya yg jelek akan terbongkar seiring waktu...thanks thorr,cerita simple tapi menarik
Sri Widjiastuti
bumi anaknya lara kah? dg selingkuhan nya
Sri Widjiastuti
saking panik sampai g bisa mikir tuh... dilecehkan apanya sih... dipanggil jg kabur aja
Sri Widjiastuti
blm ktm aja tuh
Roma Uli Damanik
sangat bagus
Lea_Rouzza
haii otoor sdh kan ak mnyapa maapken keaLpaanku jika sdh ,,
mgkn kmatian istri ny adalah krn marselina itu yachh wahhh ular inii
S Aisyah S
tim gercep sat set wat wet nih si abi ... 😅😅✊✊
Surati
woiiii Anjani... dialah pemilik perusahaan itu😃😃
Surati
wah.... lucu..awal pertemuan udah salah paham😃😃
Surati
yoola dasar iri....
Surati
percaya diri bnget sih si Lina
Surati
wah ada yg mengharapkan jadi istri nih
Surati
anjani kayaknya cocok jadi ibu sambung
Surati
mampir🙏🏻🙏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!