Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Terlarang
“Nay, aku ada rekomendasi cafe baru nih, astetik banget lagi dekorasinya. Milllineal banget deh. Bagus buat foto-foto. Aku kemarin lihat di Instatorynya temen kampus. Kita pergi ke sana pas weekend ya …,” ajak Risma.
“Besok juga udah weekend, Ris. Emang di mana sih tempatnya itu? Kita berdua aja nih?” tanyaku untuk memastikan kepada Risma untuk rencananya itu.
“Eh, iya ya .. hehehe lupa, Nay. Ajak Dito dan Rey kali ya…sekalian kita nge-date. Kan belum pernah nge-date bareng Dito,” ujar Risma. “Itu loh, di simpangan jalan Majapahit sesudah kampus kita,” jelasnya lagi.
“Eh, di sana tempatnya? Serius? Aku pernah lewat sana gak pernah loh lihat ada cafe di sana. Apalagi di persimpangan jalan. Yang ada TPU (tempat pemakaman umum), Ris,” jelasku kepada Risma dengan benar dan jujur.
“Ish, kan baru buka, baru juga dua hari yang lalu, Nay. Kamu gak lihat dengan teliti kali,” ucap Risma meyakinkan aku.
“Iya, aku baru kemarin loh lewat jalan itu. Aku kan kebetulan pergi ke tempat mbah dan jalannya ke situ. Sebelum ke sanan kita melewati jalan yang sepi juga, Ris.” Aku pun tak kalah meyakinkan Risma bahwa tak ada cafe yang beroprasi disimpang jalan itu.
“Dari pada berdebat gak jelas, besok aja kita pastikan ya. Jangan lupa ajak Dito dan Rey juga, Nay,” ujar Risma mengingatkan kembali tentang rencananya itu.
“Ok. Oh iya jam berapa nih? Aku bisanya malam loh, sekitar jam 19.00 WIB, gak kemalaman kan?” ujarku memberitahu kepada Risma.
“Ok deh, sip. Jam segitu pas kok buat anak muda nge-date,” ujarnya menyetujui usulanku. “Ya udah, aku pulang dulu ya, udah sore juga. Nanti dicariin makku. Katanya gadis gak boleh pulang waktu magrib, bisa diculik wewe gombel. Ihh… serem ..,” jelas Risma.
“Ya udah, sana pulang. Sebelum wewe gombel menculikmu dan dijadikan babu kamu dirumahnya. Hahaha ...” ujarku meledek kearah Risma.
Risma pun beranjak dari bangku tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar menuju pintu rumah dan mengucapkan salam. Aku pun menyahutnya seperti biasa. Ibu yang berada di dapur sedang memasak masakan untuk makan malam kami, sedangkan bapakku baru pulang dari sawah setelah tak berapa lama Risma beranjak pergi.
Matahari mulai menyembunyikan sinarnya menandakan hari telah berganti menjadi malam, azan magrib pun berkumandang di masjid yang tak jauh dari rumahku. Kami pun menunaikan ibadah magrib secara berjamaah yang di pimpin oleh bapakku. Setelah selesai menunaikkan ibadah magrib, aku beserta kedua orangtuaku pergi ke ruang makan. Ibuku yang menyiapkan makanan makan malam yang sudah tersaji diatas meja, terlihat begitu menggiurkan lidah. Kami pun menyantap dengan lahap makanan yang ibu masak untuk keluarga kecil kami.
“Pak … Bu …, besok aku izin ya, mau pergi sama Risma ke cafe baru yang ada di simpangan jalan Majapahit itu,” ucapku membuka suara setelah kami selesai menyantap makan malam.
“Apa ada cafe di sana, Nay?” tanya bapakku memastikan.
“Ada, Pak. Kata Risma ada dan baru buka dua hari yang lalu,” jelasku meyakinkan bapak dan ibuku.
“Tapi, ibu gak pernah lihat ada cafe di sana, Nay,” tegas ibuku memberitahuku.
“Tapi Risma baru kasih tau, Bu, dan dia melihat seniornya baru pergi ke sana dan memposting di sosmednya,” ujarku tak mau kalah dengan opini ibuku.
“Jam berapa kamu mau pergi dengan Risma?” tanya bapakku lagi.
“Jam 19.00 WIB malam, Pak. Boleh ya?” pintaku kepada bapakku.
“Tapi …” perkataan ibuku yang belum habis pun terpotong oleh perkataan bapakku.
“Sudah, Bu. Berikan izin saja untuk anak muda ini. Toh dia sama Risma ini,” terang bapakku yang menenangkan kekhawatiran ibuku seketika. Ibu yang terpaksa tenang memilih diam seribu bahasa. Aku pun berterimakasih dan segera pamit menuju ke kamarku.
Ku raih ponsel yang ada diatas nakas dan mengusap layar ponsel, mengetuk dan mencari nama Rey di kontak pertemananku. Aku menemukannya dan tanpa basa-basi aku menekan tombol hijau yang memiliki arti memanggil.
Tuuuttt …. Tuuutt … bunyi itu menandakan tersambungnya panggilan yang aku lakukan. Terdengar suara bariton dari arah seberang telepon itu.
“Halo, assalamualaikum,” sapanya dari ujung telepon.
“Halo, waalaikum salam, Rey … Besok kamu ada acara gak? Aku mau ajak ke cafe baru nih, ada Risma dan Dito juga,” ucapku tanpa basa-basi memberitahu kepada Rey.
“Besok ya? Aku boleh aja. Jam berapa, Nay?” Tanya Rey dari seberang sana.
“Jam 19.00 WIB. Bisa dong?” tanyaku terhadap Rey memastikan bahwa dia akan menyetujuinya.
“Apa gak kemalaman untuk kita yang daerahnya lumayan jauh ke cafe baru itu?” tanyanya lagi.
“Em, gak lah. Cafe baru itu hanya di simpang jalan Majapahit kok, Rey,” jelasku.
“Baiklah kalalu itu mau kalian. By the way, kita berempat kan? Ini bukan acara nge-date bareng kan, Nay?” tanyanya tiba-tiba kepadaku.
Aku terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang pas untuk aku lontarkan terhadapnya agar tak salah dalam berucap. Aku sangat takut kesalahpaham akan terjadi. “Siapa bilang? Aku bahkan tidak pernah mengajakmu untuk nge-date, ya…” ucapku dengan tegas. Sebenarnya aku sangat malu untuk berkilah seperti itu, karena kenyataannya adalah ini sebuah kencan yang sudah direncanakan oleh Risma.
“Baiklah kalau begitu. Padahal aku berharap ini kencan pertama kita.” Kata-kata yang terlontar dari ujung sana membuat jantungku berdegup kencang, tak seperti biasa memompa darah ke jantung, sehingga menimbulkan debaran-debaran yang menggelitik di dadaku.
“Kamu sangat tidak tau diri, Rey,” ucapku sambil tertawa kecil.
“Baiklah, aku hanya mengabarimu itu saja. Besok berkumpul dirumahku,” ucapku lagi untuk mengakhiri obrolan kami waktu itu. Panggilan pun berakhir, aku pun segera meletakkan ponselku di atas nakas dan segera merangkak naik ke kasurku yang terlihat sangat nyaman.
Sementara itu, Risma yang sedang bercengkerama dengan Dito di seberang sana. Tertawa terbahak-bahak dengan obrolan absurd mereka. Yang pastinya Risma sudah memberi tahukan kepada Dito tentang besok malam untuk pergi bersama-sama ke cafe baru yang telah ia rekomendasikan.
...****************...
Sang surya telah menampakkan sinarnya ke bumi yang menandakan bahwa pagi pun menjelang. Naya yang sudah bangun dan membantu ibunya memasak di dapur, perlahan beringsut pergi ke kamar mandi. Pagi ini dia ada jadwal kelas pagi dan mengatur event di sebuah acara pameran kampusnya. Kampus yang sedang ramai-ramai mengadakan festival tahunan, Naya agak disibukkan dengan kegiatan festival ini. ‘Aku harus minta izin, karena aku sudah berjanji terhadap Risma dan Rey,’ batin Naya. Naya pun segera meminta izin kepada pengurus bahwa dia tidak bisa berlama-lama untuk melakukan hal ini. Dan akhirnya dia mendapatkan izin langsung dari pihak pengurus festival.
Risma pun sudah menunggu di depan gerbang kampus untuk menjemput Naya. “Kamu sibuk ya? Lama banget aku nunggunya,” terang Risma saat aku menghampirinya.
“Iya, maaf. Dadakan, Ris. By the way ini udah jam berapa? Sempetkan kita pulang dan bebersih?” tanyaku kepada Risma.
“Baru juga jam 3 sore. Santai aja,” ujarnya menenangkanku dari kepanikan yang aku ciptakan sendiri.
“Ya udah, yuk. Kamu udah kasih tau Dito juga, kan? Soalnya aku juga udah kasih tau Rey untuk rencana kita malam ini,” jelasku memberitahukan. Risma pun mengangguk pertanda mengiyakan tanpa banyak bicara. Kami melajukan motor dengan aku yang posisinya di bonceng oleh Risma.
Sesampainya di rumah, aku dan Risma berpisah walaupun rumah kami hanya berjarak dua rumah antara rumah Risma dan rumahku. Aku pun menuju kamarku dan bergegas untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat Ashar. Kemudian aku menghempaskan tubuhku ke ranjang yang terlihat empuk. Tak terasa jam pun berlalu cukup cepat, ibu yang baru pulang dari sawah pun mengetuk pintu kamarku.
Tok … tok … “Nay … Bangun, Sayang. Kamu tidak ingat kalau kamu punya janji dengan Risma?” tanya ibuku bergegas masuk ke dalam kamar untuk membangunkan dari tidur lelapku.
“Eugh … emang ini jam berapa, Bu?” Masih dengan suara serak khas bangun tidur.
“Sudah jam 6 sore, Sayang. Anak gadis tidak boleh tidur saat magrib. Ayo cepat bangun dan bersiap untuk sholat,” perintah ibuku dengan sedikit memaksaku untuk bangun.
“Benarkah? Aku harus ceku harus cepat-cepat-cepat. Makasih ibu udah ingatkan dan bangunkan, Nay. Cup.”
Aku terperanjat dan segera bangkit dari tidurku dan spontan mencium pipi ibuku. Dan bergegas ke kamar mandi dan menyelesaikan segalanya. Tepat pada waktunya, jam menunjukkan pukul 7 malam, suara Risma, Dito dan Rey sudah terdengar di ruang tamu. Mereka bertiga menjemputku untuk pergi bersama-sama ke tempat tujuan yang telah kami rencanakan sebelumnya. Aku pun keluar dengan pakaian kasual dan tas selempang yang biasa aku pakai.
“Bu, Pak, aku berangkat ya. Assalamualaikum,” pamitku terhadap kedua orangtuaku yang berada di ruang tamu menemai temanku.
“Bu, Pak, kami semua berangkat dulu ya … Assalamualaikum,” ucap ketiga temanku kepada kedua orangtuaku dan tak lupa untuk mencium punggung tangan keduanya.
“Hati-hati, ya, kalian semua. Jangan pulang larut malam. Makin malam makin sepi kalau di daerah kita ini,” ingat ibu dan bapakku. Kami semua mengangguk menandakan bahwa kami mengiyakan ucapan ibu dan bapakku.
...****************...
Kami pun meninggalkan rumah dengan berboncengan untuk dua motor. Risma dan aku, sedangkan Rey dan Dito. Suasana malam itu sunggu sepi, tak biasanya jalanan begitu sepi. Nyatanya malam ini adalah malam minggu. Kemana semua orang? Pikirku yang terbesit sesaat.
“Ris, kamu gak ngerasa apa, jalanan sepi banget nih. Gak biasanya tau sepi kaya gini,” ujarku memecah keheningan kala itu.
“Kenapa? Jangan bilang kamu takut. Bukannya di desa kita emang seperti ini ya suasana. Lebih sepi daripada desa sebelah. Oh iya, bentar lagi kita sampai nih di cafe yang aku maksud,” ujar Risma menenangkan dan mengingatkanku.
“Beneran, Ris. Aku gak nyaman nih. Pulang aja yuk …” ajakku tiba-tiba. Entah kenapa aku merasa tak nyaman seperti ada yang mengikuti kami dari belakang setelah melewati pohon besar yang kami lalui. Lima belas menit berlalu, kami hanya berputar-putar di lokasi itu saja. Tiba-tiba ada seorang nenek tua yang terlihat sedang berjalan menelusuri jalan tersebut. Aku dan teman-teman berpikir sejenak dan mengambil waktu untuk berhenti.
“Kok kita gak sampai-sampai sih? Muter terus nih disini aja. Apa kita tersesat?” ujar Dito dengan celetukannya.
“Heh, jangan sembarangan ngomong kamu, Dit. Kita lagi di jalan besar. Ya emang sih di samping kanan kiri jalanan hutan semua,” ujar Rey mengingatkan.
“Kalian ya, jangan berpikir yang macam-macam. Kita gak boleh berpikiran yang negatif. Apalagi ini udah larut malam. Dingin lagi,” ujarku merasakan hawa yang begitu dingin menusuk seluruh tulangku.
“Iya nih, kalian gak ngerasa apa? Rey dan Dito jangan ngomong yang aneh-aneh,” timpal Risma yang sedikit khawatir.
“Eh, eh, lihat deh, itu kan nenek-nenek. Ngapain dia jalan malam-malam begini di tempat sepi seperti ini?” ucap Rey yang menunjukkan jarinya ke arah depan tepat ke arah nenek itu berjalan.
“Mungkin juga kita salah jalan kali. Kita tanya aja sama nenek itu,” usul Dito yang masih berpikir positif. Sedangkan aku dan Risma sudah sangat ketakutan yang terlihat dari raut wajahnya.
“Udah, kita ngejar nenek itu aja, yuk … biar kita tau kita salah jalan apa gak?” usul Dito lagi memecahkan keheningan yang tercipta antara kami. Kami pun memutuskan untuk mengejar nenek itu sampai depan.
Dipertengahan jalan ketika kami ingin mengejar nenek itu, aku sungguh merasakan ada yang aneh. Sekelebat bayangan hitam yang berada tepat di belakang nenek itu. Apakah itu sejenis jin? Atau makhluk tak kasat mata? Tetapi mataku sungguh tak salah lihat ketika sosok itu mengikuti kemana nenek itu pergi.
Aku yang suka diperlihatkan dengan mahkluk tak kasat mata dan hal-hal yang ganjil membuatku sering ketakutan sendiri. Sedangkan teman-temanku yang tak bisa sepertiku hanya bengong untuk menyaksikan dan menangkap apa yang sering aku ucapkan kepada mereka. Hanya Risma yang sedikit mengerti apa yang sering aku alami.
“Ris, kita putar balik aja, yuk … Aku melihat sosok itu, Ris,” ujarku meminta kepada Risma.
“Tapi mereka udah jalan duluan di depan kita, Nay. Kita gak bisa tinggalin mereka begitu saja, kan?” terang Risma. Aku tak berpikir bahwa benar apa yang dikatakan Risma kepadaku, bahwa kami tak boleh meninggalkan teman kami. Prinsip kami adalah pergi bersama, pulang pun harus bersama. Tiba-tiba aku melihat sekelebat yang mendahuli kami dari arah belakang.
“Ris, nenek itu hilang, Ris! Aku udah gak lihat dia lag. Aku yakin itu sosok yang hanya menggangu perjalanan kita, Ris!” ucapku meyakinkan Risma.
“Aku lihat masih ada kok. Kayanya kamu salah lihat deh. Dan lagi, jangan sembarangan ngomong. Ini kita masih di tengah hutan loh. Udah ah, kita susul Rey dan Dito,” ucap Risma lagi untuk meyakinkanku kembali. Aku hanya tertunduk diam dan hanya bisa mengikuti apa yang diusulkan oleh Risma.
Sedangkan Rey dan Dito yang sudah menungguku dan Risma di sebuah jalan cukup lama terhenti di sana. Setibanya aku dan Risma, Dito langsung meminta izin untuk mengejar nenek renta di depan sana. “Gengs, aku tanya dulu deh, kita ini di mana. Kok bisa kita nyasar. Aku nyusul nenek itu dulu sebentar.”
“Ya udah, hati-hati deh, Dit,” ujar Risma memperingati Dito. Dito hanya menggangguk tanda mengiyakan ucapan Risma. Aku dan Rey saling pandang dan mengizinkan Dito pergi. Dito pun berlarian kecil mengejar nenek itu dan perlahan meninggalkan kami dibelakangnya.
“Permisi, Nek,” ucap Dito yang masih terengah-engah mengejar nenek tua renta itu, namun tak sesuai harapan Dito tercekat melihat tatapan nenek itu. Mata yang merah, melotot, dan seringan yang menyeramkan membuat Dito tak dapat berkutik dalam beberapa saat.
“Iya, Nak …” dengan suara yang menyeramkan menyahut panggilan Dito. Sontak saja Dito yang ketakutan langsung berlari meninggalkan sosok nenek yang masih berdiri termangu di sana. Dito yang berlari dengan tergopoh-gopoh dan sempat terjatuh itu makin ketakutan saat sosok bayangan nenek tua renta itu berada tepat di depannya. “Arrrghhhh…” teriak Dito.
Jarak antara kami dan Dito tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 meter dari kami berdiri menunggu kedatangan Dito. Sontak saja aku terperanjat kaget mendengar jeritan Dito dari kejauhan, “Rey, bantuin Dito. Dito diganggu, Rey,” pintaku terhadap Rey.
Segera Rey berlari menyusul Dito. Tak jauh, Dito terlihat sedang berteriak histeris dan seperti sedang mengusir seseorang yang ada di depannya. Rey yang terdiam sesaat melihat adegan itu, langsung berlarian menggapai Dito. “Dit, kamu kenapa? Gak ada siapa-siapa. Ayo, bangun. Kita pergi dari sini,” ajak Rey yang membantu membopong tubuh lemah Dito. Dito hanya terdiam dan tak dapat berkata-kata. Sementara sosok nenek tua renta itu pun menghilang bersama pekatnya malam.
“Dito kenapa, Rey? Ayo kita putar balik aja, gak usah ke cafe baru itu,” ujarku langsung menyarankan dan mengajak teman-temanku berlalu dari tempat itu.
Jam baru menunjukkan pukul 8.30 malam. Aku, Risma, Rey dan Dito langsung beranjak dari lokasi tersebut berbalik arah menuju rumahku. Dengan jalanan yang tidak seperti biasanya, sepi dan mencekam, kami pun mengendarai motor dengan kecepatan diatas rata-rata. Waktu berlalu begitu cepat, kami semua sampai rumah dengan selamat dan tepat pada pukul 9 malam. Bapak dan ibuku seketika keluar menghampiri ketika ada keributan di depan rumah.
“Kalian kenapa kok pada ribut-ribut malam begini?” tanya bapakku yang menghampiriku.
“Pak, tolong Dito, Pak. Dito, Dito, Pak …” rengekanku yang membuat bapak dan ibuku bingung.
“Ya Allah, Le, kenapa begini, Nay?” ucap ibuku yang terkejut dengan tampilan yang berubah pada Dito.
Dito yang mengalami shock hanya terdiam, terpaku tak berkutik dan tak merespon apa yang telah ditanyakan oleh ibuku. Kami pun membawanya masuk ke dalam rumahku. Sedangkan Risma pamit untuk pulang karena jam sudah menunjukan pukul 9 lewat 5 menit. Tak berani pulang melebihi jam 9.30 malam. Orangtua Risma akan sangat marah apapun alasannya.
“Ya Allah, panggil Khiai Dahlan, cepat!” perintah bapakku dengan tegas meminta aku dan Rey ke rumah khiai Dahlan. Aku dan Rey bergegas beranjak dari tempat kami termangu melihat kondisi Dito yang seperti itu.
“Assalamualaikum, Khiai. Maaf mengganggu malam-malam begini. Khiai tolong, tolong teman saya …” pinta Rey yang mewakili aku berbicara terhadap khiai.
“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa ini? Kelihatannya sangat krusial,” ucap khiai Dahlan.
“Iya, Khiai. Kami sangat memohon pertolongan khiai untuk menolong teman kami.” Aku sudah tak dapat menahan isak tangisku saat itu.
“Baiklah, kita segera ke rumahmu. Insya Allah tak terjadi apa-apa terhadap temanmu itu,” ucap khiai Dahlan. “Bu, aku pamit dulu ya, ada anak Pak Komar yang meminta bantuan,” sambungnya berpamitan terhadap sang istri.
“Baik, Pak. Hati-hati,” pesan sang istri terhadap khiai Dahlan.
Kami pun semua beranjak dari rumah khiai dan langsung menuju rumahku. Seolah-olah khiai sudah tahu apa sebab dan akibat yang telah terjadi terhadap temanku, Dito.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara khiai Dahlan dari luar, bapak dan ibuku bergegas menyambut kedatangan khiai Dahlan dan menyuruh beliau masuk ke dalam rumah untuk mengecek keadaan Dito. Dilihatnya Dito yang diam, mengejang dengan mata melotot sungguh mengenaskan bila dibayangkan.
“Astagfirulllahalazim, ini diganggu sama nenek girah. Nyawanya dibawa ke dunianya. Untung saja kalian cepat memanggilku. Akan kubantu menemukan nyawanya yang hilang,” ucap khiai Dahlan.
Aku yang sudah tahu sedikit cerita tentang nenek girah itu hanya dapat melongo dan terkejut dengan apa yang dialami oleh temanku. Sungguh naas nasibnya malam ini.
Tak berapa lama, Dito pun sadar. “Uhuukk … uhuukk …”
“Alhamdullah, akhirnya Dito, kamu sudah sadar,” ucap Rey dan seluruh keluargaku. Ibuku seketika langsung memberi segelas teh hangat yang sudah disuguhkan untuk Dito. Dan tak lupa segelas teh hangat untuk khiai Dahlan juga.
Nenek Girah adalah sosok hitam yang bersemayam di jalan terlarang. Konon kisah sang nenek sangat tragis. Sehingga beliau di kenal sebagai penunggu jalan terlarang yang di samping kiri dan kanan terdapat hutan lebat yang menghiasi jalanan itu. Sebagai salah satu jalan penghubung antar desa, tak ayal seluruh warga bahkan pendatang yang sedang melewati jalanan itu saat menjelang malam hari akan terjadi hal-hal ganjil yang tak diinginkan. Ada yang mengalami kejang-kejang di tempat, kehilangan arah pulang, bahkan hilang tak dapat ditemukan. Banyak orang yang telah mengabaikan larangan yang telah dibuat oleh warga desa untuk tidak melewati jalan penghubung menjelang malam hari. Inilah akibat dari orang yang mengindahkan larangan itu.
Ibuku langsung memelukku erat sambil mengeluarkan buliran air bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya dan berkata, “Alhamdulliah, Naya. Sayang kamu gak papa. Kalau kamu yang diganggu oleh nenek Girah itu, ibu akan langsung ke jalan penghubung itu.”
“Hiks.. ibu, maafkan Naya, Bu. Naya akan mendengarkan ucapan ibu,” ucapku terisak dikala ibu pun terisak.
“Alhamdulillah, kita semua selamat. Kalian jangan pernah mengabaikan apa yang telah leluhurmu beritahukan kepada kita. Terkadang yang kasat mata itu ada dan suka mengganggu walaupun kita tidak mengganggu mereka,” jelas khiai Dahlan.
“Jangan lagi melewati jalan penghubung yang terlarang di waktu malam hari. Sangat berbahaya bagi kita semua. Dari kejadian ini kita dapat mengambil hikmahnya baik itu bagi Dito sendiri dan bagi kita semua,” jelasnya lagi.
Akhirnya Rey dan Dito berpelukkan, dan menyadari kesalahan mereka yang tahu sejak lama larangan itu ada, tetapi diabaikan oleh masing-masing mereka. Kami pun mengucapkan terimakasih banyak terhadap khiai Dahlan yang sudah bersedia menolong temanku, Dito. Dan kami tidak akan lagi melewati jalan terlarang di malam hari.
Mereka berdua memutuskan untuk menginap di rumahku dan akan pulang keesokan harinya. Sebelum itu, Rey dan Dito mengabari orangtuanya masing-masing, menjelaskan apa yang terjadi beberapa jam lalu, dan memberitahukan bahwa mereka tidak dapat pulang ke rumah mereka. Alhamdulillah orang tua masing-masing dapat memahami dan mengizinkan untuk menginap di rumahku.
...****************...
End
Nikmati saja ya gengs- hihihi
Kalau baca jan lupa Like, komen dan Gift atau Vote gratisan. Oke Bebzku.
Thanks
See you,
vall