Kehidupan kecil Arthur yang penuh kebahagiaan lenyap dalam waktu singkat, saat kedua orang tua dan juga neneknya menghilang dalam sebuah kecelakaan.
Arthur kecil yang tak lagi mendapat kasih sayang, kini tumbuh menjadi sosok Arthur yang tak berperasaan
Dan yang paling menonjol dalam dirinya adalah, sikap Playboynya.
Namun, Pertemuannya dengan seorang murid cewek baru disekolahnya, merubah hampir keseluruhan sikap buruk Arthur, dan membantunya mengungkap masalah yang sudah tertutup rapat selama hampir 6 tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampung mati
"Berhenti di depan gapura ya pak!" ucapnya, pada sopir Taxi tersebut.
"Nggak salah neng," sopir tersebut menoleh kearahnya.
"Nggak pa, bener disana."
"Neng nggak pernah denger apa, kalau tempat itu sudah tidak berpenghuni, bahaya lo neng, apalagi si nengnya sendirian kan."
"Eh, eummz saya berhenti disini cuma mau ketemuan sama temen kok pak." bohongnya.
"Oh yasudah kalau begitu, saya pikir mau masuk kesana."
"Hehe nggak pak." Dara pun menyerahkan selembar uang pada sopir Taxi tersebut.
Dara menoleh kekanan dan kekiri, rasanya sepi dan tidak seramai dulu, mungkin karena sudah tidak ada penduduk sekitar sini batinnya.
Namun, dari jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, terlihat sedikit ramai, karena ada Cafe dan toko kue yang bersebelahan.
Dengan tubuh bergetar ia berusaha meyakinkan diri, bahwa ia akan baik-baik saja, lalu mulai melangkahkan kaki memasuki kampung mati.
Didalam sana ada dua gang pemisah antara gang menuju sebuah pabrik dan rumah-rumah warga, dan pilihan Dara adalah memasuki gang rumah.
Di awal langkahnya semuanya terasa baik-baik saja, namun saat ia telah melewati 5 rumah kosong, perasaan mencekam mulai menyelimutinya.
Namun, meski begitu Dara tak bisa berhenti sampai disini, karena tujuan utamanya adalah memeriksa keseluruhan tempat tersebut, untuk menutupi semua rasa penasarannya selama ini.
Perlahan kakinya mulai melangkah kembali, menerobos rumput yang sudah hampir setinggi lututnya, mata Dara bergerak lincah mengamati sekeliling, khawatir jika ada sesuatu yang berbahaya menghampirinya.
Ia terdiam sejenak, membelalakan matanya lebar-lebar, untuk memperjelas bahwa penglihatannya tidak salah, rumput yang kini ia injak sudah miring-miring berbeda dari rumput yang lainnya, persis seperti sering di injak dan dilewati sebelumnya.
Dara berusaha menenangkan diri sendiri, dengan menarik nafas dan mengeluarkannya berulang-ulang.
Ia tidak boleh berhenti sampai disini, tidak boleh, batinnya terus menguatkan.
Jalan yang sedikit menanjak itu Dara lalui dengan secepat kilat, untuk menghindari ketakutan.
diatas tanjakan, ia kembali menemukan rumah yang lumayan besar, namun sama tak terawatnya seperti rumah-rumah yang lainnya yang ia temui tadi.
Rumah-rumah disana bisa Dara hitung, karena jumlahnya memang tidak terlalu banyak, menurut penglihatan Dara, disana hanya ada 31 rumah berikut Mushola, yang terletak dekat pembatas antara rumah warga dan pabrik.
Dara terus melangkah hingga menuju ke rumah terakhir, rumah itu jauh lebih besar dari yang lainnya, dan di sekeliling rumah itu, rumputnya tidak setinggi di tempat yang lain, bahkan ia bisa melihat teras rumah tersebut terlihat bersih, layaknya di sapu setiap hari.
Dengan di dorong rasa penasaran yang tinggi, Dara pun mendekati rumah itu, namun detik kemudian ia terlonjak kaget, saat mendengar sebuah suara tangisan yang berasal dari dalam rumah tersebut.
Dara hampir menangis saking takutnya, ia pun berjalan mundur menjauhi rumah itu, lalu tanpa sadar memasuki area pabrik melewati pagar pembatas yang telah ambruk, dimakan usia.
Lagi-lagi ia terlonjak kaget saat samar-samar mendengar suara seseorang yang seperti sedang mengobrol, Dara berusaha menghindar, namun ia kembali menghentikan langkahnya kala suara itu semakin jelas terdengar.
Dara berjalan pelan, lalu menempelkan telinga di balik dinding yang tak lagi utuh itu, ia berusaha mati-matian agar tidak menimbulkan suara.
karena Ia yakin, kali ini adalah suara manusia.
"Pa, sebaiknya kita pindahkan saja, khawatir akan ada seseorang yang menemukannya disini."
"Tidak, papa tidak setuju, disini adalah tempat yang paling aman, buktinya sampai saat ini tidak ada satu orang pun yang berani kemari."
"Sampai kapan sih pa, kita terus menahan dia, papa tahu nggak sih, ini semua sangat membosankan, terlebih aku yang selalu mengurusi kebutuhannya."
"Bersabarlah nak,"
"Sampai kapan?"
"Sampai si tua bangka itu mau menandatangi seluruh asetnya atas nama papa."
"Berapa lama lagi?"
"Papa yakin, ia sudah tak sanggup bertahan, pasti dia akan segera melakukannya, percaya pada papa nak!"
Kretekkk...
Dara tak sengaja menginjak botol aqua bekas disamping kakinya.
Ia pun segera berlari secepat mungkin, sambil sesekali menoleh kebelakang, khawatir mereka semua mendengarnya, yang kemudian berakhir dengan mengejarnya.
Dara bernafas lega, karena sejauh ini tidak ada tanda-tanda ada seseorang mengejarnya, ia pun segera melanjutkan belari menuju bahu jalan, dan kembali memesan Taxi online.
..
"Papa denger sesuatu nggak sih tadi?"
"Dimana?"
"Disekitar sini," memanjangkan leher menoleh kekanan dan kekiri.
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaan mu saja!"
...
Dara merogoh ponselnya yang terus bergetar sejak tadi.
"Hallo?"
"Lo dimana Ra,?"
Seketika Dara melihat layar ponselnya, itu bukan nomor Arthur yang biasa.
"Gue abis main dari rumah temen, udah yah gue tutup dulu!"
Dara pun mematikan telponnya secara sepihak, ia tidak ingin berbicara dulu, karena ingatannya masih melekat pada kejadian beberapa menit yang lalu.
Sedangkan di tempat lain, Arthur uring-uringan, karena telponnya di matikan sepihak oleh Dara.
"Sayang,?" ucap Arthur ketika melihat Dara baru saja turun dari Taxi onlinenya.
"Kok elo disini sih?"
"Harusnya gue yang nanya, elo dari mana aja sih Ra, bokap lo tadi nelpon nanyain lo ke gue, katanya lo nggak ada dirumah,"
"Terus sekarang masalahnya apa?" Dara yang merasa masih lemas dengan yang di alaminya tadi, merasa kesal pada Arthur yang terus mengajaknya berdebat.
"Lo ngerti nggak sih Ra, gue itu ngerasa bertanggung jawab karena tadi lo bareng gue!"
"Lo nyesel jalan sama gue tadi?"
Arthur melongo, dengan sikap Dara sore ini.
"Apa sih, Ra?" ia berusaha meraih tangan Dara, namun ditepisnya berulang kali.
"Bukan gitu maksud gue, gue cuma khawatir lo kenapa-napa Ra, dan lihat ini," memegang ujung baju Dara.
"Lo pergi masih pake seragam begini, masih bawa tas juga, berarti begitu gue pergi tadi, lo juga ikut pergi?"
"Ra, sekarang lo punya gue, apa salahnya sih minta gue yang nganter, apa sebegitu susahnya lo nganggap gue ini ada."
"Lo tahu Ra, dengan lo kaya gini, gue ngerasa kalau gue tuh nggak ada gunanya sama sekali buat lo!"
setelah mengucapkan hal tersebut, tanpa pamit Arthur pun meninggalkan Dara yang masih terdiam ditempat nya.
..
Seperti biasa, jika moodnya sedang buruk, Arthur mendatangi Club tempat favoritnya.
Ia berusaha menahan emosi agar tidak menyakiti gadisnya.
Respon Dara tadi membuatnya semakin kesal tak karuan, tanpa gadis itu sadari, Arthur benar-benar ketakutan, saat mengetahui dirinya tak ada dirumah, padahal ia baru saja mengantarnya pulang.
Ia meneguk 1 gelas Vodka yang tadi dipesannya,
kemudian ia bergumam dengan suara lirih.
"Gue sayang banget sama elo Ra, kapan lo balas perasaan gue dengan sungguhan."
.
.
Apapun tq ya thor,aku suka smua karya mu sampai saat ke 3 karya mu yg ku baca ,semua cowok/suami begitu menghargai cewek/istri mereka,, bagus ,aku akan lanjut baca kisah si kembar Satya dan Satria deh setelah ini,,⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻