Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Razia Dadakan
Bel tanda istirahat kedua akhirnya berbunyi, memecah ketegangan yang sempat tersisa di koridor sekolah pasca keributan pagi tadi. Begitu guru mata pelajaran keluar dari kelas, Naira langsung memutar tubuhnya menghadap meja Rama. Matanya yang masih agak sembab dan sedikit merah justru memancarkan binar penuh tuntutan.
"Ram, mana bekalnya? Aku udah lapar banget," tagih Naira tanpa basa-basi, tangannya terulur ke depan meja Rama.
Rama yang baru saja menutup buku catatannya menatap Naira lempeng. "Nafsu makan kamu cepat banget ya pulihnya. Tadi di kantin kayak orang mau pingsan."
Meskipun mulutnya mengomel, tangan kiri Rama bergerak membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kotak mika berisi semur jengkol titipan ibunya.
"Ih, kan tadi butuh tenaga buat marahin orang," sahut Naira jengkel, tapi sedetik kemudian dia langsung menyambar kotak mika itu dengan senyum lebar. "Ayo, makan di taman belakang! Di sini berisik, nanti banyak yang ngeliatin lagi."
Tanpa menunggu persetujuan Rama, Naira sudah melangkah duluan. Rama hanya bisa mengembuskan napas pasrah, lalu berdiri dari bangkunya untuk menyusul sang "putri keraton" yang mendadak hobi makan makanan kampung itu.
Taman belakang sekolah siang itu terasa sangat teduh. Angin sepoi-sepoi menggoyahkan daun-daun pohon mangga, menciptakan suasana sepi yang menenangkan karena sebagian besar murid lebih memilih nongkrong di kantin depan.
Naira duduk lesehan di atas bangku taman semen, langsung membuka tutup kotak mika itu. Aroma magis dari semur jengkol dan pete langsung menguar, memenuhi udara bebas.
Tanpa gengsi sedikit pun, Naira meraih sendok plastik yang sudah disiapkan Ibu Rama, mengambil sesuap nasi hangat yang berlumur bumbu pekat beserta satu potongan jengkol yang empuk.
Nyam.
"Uhhh... beneran enak banget! Masakan Ibu kamu emang juara dunia, Ram!" seru Naira dengan pipi menggembung, matanya berbinar-binar bahagia. Sisa-sisa air mata di wajahnya seolah lenyap tak berbekas, digantikan oleh kepuasan batin yang murni.
Rama duduk di ujung bangku yang sama, hanya memperhatikan Naira yang sedang makan dengan sangat lahap. Sudut bibir Rama diam-diam berkedut, menahan tawa.
‘Anak orang kaya, rumahnya kayak istana, tapi kok doyan banget jengkol,’ batin Rama heran, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat kontrasnya penampilan anggun Naira dengan lauk yang sedang dikunyahnya.
"Pelit banget sih, gak bagi-bagi?" celetuk Naira tiba-tiba, menyodorkan kotak mika itu ke arah Rama karena melihat cowok itu hanya diam memperhatikannya. "Sini, buka mulut kamu. Tangan kanan kamu kan belum bisa dipakai megang sendok dengan bener."
Naira sudah menyendokkan nasi dan jengkol, siap menyuapi Rama. Rama mendadak kaku, wajah lempengnya sedikit memanas karena terkejut dengan inisiatif Naira. "Gak usah, Ra. Aku bisa—"
"Ekhem! Permisi, kalian berdua sedang apa di sini?"
Suara berat dan berwibawa yang tiba-tiba menginterupsi dari arah belakang membuat Naira dan Rama spontan membeku. Sendok di tangan Naira melayang di udara, berjarak hanya beberapa senti dari bibir Rama.
Begitu mereka menoleh, jantung mereka rasanya mau copot. Pak Bambang, kepala guru BK yang terkenal paling killer se-sekolah, sudah berdiri berkacak pinggang dengan kacamata yang diturunkan ke ujung hidung. Tatapan matanya tajam menyelidiki posisi duduk mereka yang cukup dekat, ditambah tangan Naira yang sedang dalam posisi "hendak menyuapi".
"Naira? Rama? Jam istirahat begini malah mojok di taman belakang. Kalian sedang pacaran ya?!" tuduh Pak Bambang dengan nada menginterogasi yang menggelegar.
Naira langsung panik setengah mati.
Wajahnya yang tadi merona merah karena salah tingkah, kini berubah pucat. "E-Eh! Enggak, Pak! Sumpah, kami gak pacaran!" seru Naira terbata-bata, langsung menurunkan sendoknya dengan gerakan patah-patah.
"Gak pacaran bagaimana? Jelas-jelas tadi tangan kamu mau menyuapi Rama. Jangan bohong kalian, ayo ikut ke ruang BK sekarang!" tegas Pak Bambang, siap mengeluarkan buku poin pelanggaran dari saku kemejanya.
Di saat Naira sudah hampir menangis lagi karena ketakutan, Rama dengan super tenang dan lempeng seperti biasa berdiri dari duduknya. Dia membungkuk hormat ke arah Pak Bambang, lalu menunjuk ke arah kotak mika di atas bangku semen.
"Maaf, Pak Bambang. Kami tidak sedang pacaran," ucap Rama dengan suara baritonnya yang datar dan meyakinkan. "Kami sedang war jengkol, Pak."
Pak Bambang mengernyitkan dahi, bingung. "Hah? War jengkol?"
"Iya, Pak," lanjut Rama tanpa berkedip, menunjuk perban di tangan kanannya.
"Tangan saya sedang cedera, jadi Naira berniat membantu saya karena dia mau minta jengkol titipan ibu saya. Kalau Bapak tidak percaya, ini baunya sangat menyengat, Pak.
Masa orang pacaran menunya semur jengkol sama pete? Yang ada malah pingsan duluan sebelum ngobrol."
Naira yang mendengar penjelasan super lempeng dari Rama refleks menggigit bibir dalamnya kuat-kuat, menahan tawa yang hampir meledak di situasi segenting ini.
Pak Bambang terdiam sesaat. Beliau melangkah maju, lalu mengendus udara di sekitar bangku taman. Begitu aroma semur jengkol yang tajam menusuk hidungnya, sang guru BK langsung batuk-batuk kecil sambil menutup hidungnya dengan saputangan.
"Uhuk! Duh... bau banget! Kalian ini ya, anak gadis sama anak karate kok seleranya jengkol siang-siang begini!" omel Pak Bambang, wajah sangarnya mendadak luntur digantikan rasa mual karena aroma masakan Ibu Rama yang terlalu autentik.
"Iya, Pak. Makanya kami makannya di taman belakang, biar gak mengganggu penciuman murid lain di kantin," tambah Rama logis.
Pak Bambang mengibaskan tangannya di depan udara, perlahan berjalan mundur. "Ya sudah, ya sudah! Cepat habiskan, terus langsung balik ke kelas! Dan jangan dekat-dekat begitu duduknya, bikin pusing saja bau jengkolnya!" gertak Pak Bambang yang akhirnya memilih kabur menyelamatkan hidungnya daripada melanjutkan razia.
Begitu sosok Pak Bambang menghilang di balik koridor, keheningan taman itu pecah oleh tawa Naira yang meledak hebat. Dia tertawa sampai memegangi perutnya, bahkan sampai mengeluarkan air mata lagi.
"Hahaha! Rama! Kamu... kamu kok bisa-bisanya kepikiran alasan kayak gitu?! War jengkol?! Hahaha!"
Rama kembali duduk di samping Naira, meraih tisu untuk membersihkan sudut kotak mika yang sedikit tumpah karena kepanikan tadi. Senyuman tipis yang hangat kembali terukir di wajahnya saat melihat tawa lepas gadis di sampingnya.
"Ya emang fakta, kan? Mana ada orang pacaran modalnya semur jengkol," sahut Rama lempeng. "Udah, cepetan dihabisin nasinya. Keburu bel masuk, nanti kita beneran dirazia karena bau mulut."
Naira menyeka air mata tawanya, lalu menatap Rama dengan perasaan yang makin membuncah. Hari Senin yang dia kira akan penuh dengan air mata karena Arga, ternyata ditutup dengan tawa renyah di bawah pohon mangga bersama cowok kaku yang selalu punya cara unik untuk menyelamatkannya.