Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Benang Merah di Balik Kekacauan
"Bantu aku melepaskan benda sialan ini sekarang juga, Dokter!" seru Cala dengan suara melengking.
Wanita itu melangkah keluar dari kamar mandi tamu dengan langkah menghentak. Tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kirinya sendiri. Ia menyodorkan jari manisnya tepat ke depan wajah Ronan yang sedang duduk membaca laporan di atas kursi tunggal.
Ronan menurunkan komputer tabletnya perlahan. Pria itu menatap jari Cala yang disodorkan padanya. Ruas jari manis wanita itu terlihat sangat merah dan sedikit membengkak. Di tengah pembengkakan itu, cincin platina dengan berlian asimetris seharga mobil mewah bertengger sangat kaku.
"Apa yang baru saja kamu lakukan di dalam sana? Kamu mencoba memotong jarimu sendiri?" tanya Ronan datar, tanpa nada simpati sedikit pun.
"Aku mencoba melepaskannya pakai sabun! Tapi benda ini malah tersangkut dan membuat jariku bengkak seperti digigit tawon," keluh Cala penuh rasa frustasi. "Tarik cincin ini. Cepat. Tarik sekuat tenagamu sebelum darah di jariku berhenti mengalir total."
Ronan meletakkan tabletnya ke atas meja. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap jari Cala dari jarak dekat tanpa menyentuhnya sama sekali. Mata tajamnya memindai warna kemerahan di kulit Cala layaknya mesin pemindai rumah sakit.
"Penekanan berlebih memicu vasodilatasi pada pembuluh darah kapilermu," jelas Ronan dengan nada kuliahnya yang menyebalkan. "Tubuhmu merespons gesekan kasar dengan mengirimkan lebih banyak darah ke area tersebut untuk melindungi jaringan kulit. Semakin keras kamu menariknya, semakin besar pembengkakannya."
Cala memutar bola matanya malas. "Aku tidak butuh diagnosis forensik! Aku butuh cincin ini lepas! Kalau berlian mahal ini tergores ujung wastafel, aku tidak sudi menggantinya!"
"Biarkan saja menempel di sana," putus Ronan sangat santai. Pria itu kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. "Cincin itu adalah alibi utama kita. Memakainya setiap saat akan mengurangi risiko kecurigaan jika tiba-tiba kita harus keluar apartemen menghadapi ancaman. Anggap saja itu borgol pelindungmu."
"Borgol yang harganya miliaran? Kamu benar-benar tidak masuk akal," gerutu Cala kesal. Ia menarik tangannya kembali, meniup-niup pelan jari manisnya yang terasa berdenyut nyeri. Ia tahu berdebat dengan manusia es ini tidak akan pernah ada ujungnya.
Sinar matahari terik mulai merambat masuk menembus kaca jendela besar Apartemen Zenith. Siklus dua puluh empat jam telah berputar kembali, menuntut rutinitas dunia luar untuk terus berjalan.
Cala menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kulit. Ia mengabaikan rasa perih di jarinya dan langsung menarik laptop kesayangannya ke atas pangkuan. Layar menyala terang, menampilkan deretan angka dan nama dalam aplikasi pengolah data. Bunyi ketikan jari Cala yang beradu dengan tombol papan ketik mulai memenuhi keheningan ruang tamu.
Ronan melirik sekilas dari balik layar tabletnya. "Kamu masih punya keberanian untuk bekerja? Nyawamu sedang menjadi incaran sindikat pembunuh bayaran, dan kamu masih memikirkan warna pita kursi untuk klien-klien manjamu?"
"Ini tanggung jawab profesionalku, Dokter," balas Cala tajam tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Pesta pernikahan di Hotel Grand Valera kemarin hancur berantakan karena insiden penusukan CEO Valera. Klienku rugi besar. Gedung disegel polisi. Vendor-vendor menuntut pelunasan sisa pembayaran. Aku harus mengaudit ulang seluruh berkas logistik hari itu untuk mencari tahu siapa yang harus menanggung kerugian."
Ronan mendengus pelan, meremehkan dedikasi wanita di depannya. Pria itu bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. "Manusia memang makhluk yang sangat aneh. Menghabiskan energi untuk meributkan tagihan pesta saat nyawa sendiri berada di ujung tanduk."
Cala tidak memedulikan sindiran tersebut. Ia terlalu fokus menyisir ratusan baris data di layar laptopnya. Ia membuka dokumen jadwal induk, sebuah berkas yang mencatat seluruh pergerakan barang dan vendor pada hari kejadian.
Jari Cala menelusuri kolom waktu dengan sangat teliti. Ia mengingat kembali runtutan kejadian nahas itu. Awalnya, ia hanya turun ke lorong servis karena kehilangan sinyal di dalam ruangan pesta. Tapi kenapa ia harus turun sendiri?
Cala menghentikan gerakan jarinya. Matanya menyipit membaca satu baris data yang ditandai dengan warna merah.
"Rina, asistenku, tidak bisa naik ke ruangan membawa bunga lili pesanan karena lift barang penuh," gumam Cala pelan, merekonstruksi ingatan di kepalanya sendiri. "Lift barang penuh karena ada penumpukan logistik di lobi belakang."
Cala membuka dokumen lain yang berisi catatan keluhan dari pihak keamanan hotel. Ia membaca laporan itu dengan dahi berkerut rapat. Sesuatu yang sangat ganjil mulai terlihat jelas di matanya. Sesuatu yang selama ini tertutup oleh kepanikan.
"Tunggu sebentar. Ini benar-benar aneh," ucap Cala dengan suara keras, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Suara langkah kaki Ronan terdengar di dapur. Pria itu sedang mengeluarkan stoples kaca berisi biji kopi hitam pekat. Ronan menyalakan mesin penggiling kopi, membuat suara bising menderu sesaat. Pria itu butuh asupan kafein murni tanpa gula untuk menjaga otaknya tetap tajam menganalisis kasus.
"Ada apa dengan duniamu yang penuh kepalsuan itu?" tanya Ronan dari arah dapur. Suaranya terdengar datar melintasi ruangan.
"Lorong servis," jawab Cala cepat. Ia meletakkan laptopnya ke atas meja dan duduk tegak. Darahnya mendadak berdesir cepat. "Saat aku lari-lari menyelamatkan diri di lorong servis hotel waktu itu, lorongnya kosong melompong. Tidak ada satu pun staf atau petugas logistik di sana. Padahal, tepat sebelum acara inti dimulai, lorong servis adalah urat nadi paling sibuk untuk lalu lintas vendor."
"Pembunuh itu profesional. Dia pasti sudah memilih waktu dan tempat yang paling sepi untuk mengeksekusi targetnya," sahut Ronan rasional. Bunyi air mendidih mulai terdengar dari teko listrik di dapur.
"Bukan itu masalahnya, Dokter!" Cala berseru gemas. Ia meraih laptopnya lagi, menunjuk layar dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Lorong itu kosong bukan karena kebetulan. Lorong itu sengaja dikosongkan!"
Ronan menghentikan gerakannya yang sedang menuang air panas. Pria itu berdiri kaku di depan meja baja dapurnya. "Jelaskan dengan logika, bukan asumsi."
Cala menatap deretan data di layarnya dengan napas memburu. Kepingan teka-teki itu akhirnya tersambung sempurna di kepalanya. Semuanya masuk akal sekarang.
"Satu jam sebelum acara dimulai, vendor katering utama tiba-tiba datang terlambat," jelas Cala dengan suara tegas dan cepat. "Keterlambatan mereka menciptakan efek domino. Mereka memblokir jalur bongkar muat utama di pintu belakang hotel. Petugas keamanan terpaksa mengalihkan seluruh vendor lain, termasuk asistenku, untuk menggunakan lift pengunjung di sayap kiri gedung."
Ronan masih diam mendengarkan di dapur. Tidak ada suara bantahan sama sekali dari pria itu.
"Pengalihan rute secara dadakan itu membuat lorong servis di sayap kanan, tempat kejadian perkara itu berada, menjadi zona mati yang tidak dilewati siapa pun," lanjut Cala menggebu-gebu. "Vendor katering ini sengaja datang terlambat untuk mengacaukan jadwal logistik. Mereka sengaja menciptakan ruang kosong tanpa saksi mata agar si pembunuh berjaket hitam itu bisa mencegat CEO Valera dengan aman!"
Suara denting cangkir keramik terdengar dari arah dapur. Ronan sedang memegang cangkirnya.
Cala menatap nama vendor di layar laptopnya lekat-lekat. Nama yang sama persis dengan klien yang membuatnya marah-marah saat bekerja di kafe beberapa waktu lalu. Nama yang terus-menerus muncul membawa kekacauan dalam hidupnya.
"Zeta Katering," ucap Cala dengan suara keras dan penuh penekanan. "Nama vendor katering sialan itu adalah Zeta Katering. Mereka dalang di balik kekosongan lorong itu!"
Ronan yang sedang menyeduh kopi mendadak berhenti. Pria itu berdiri kaku membelakangi lorong. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, genggaman tangannya mengendur. Gelas keramik di tangannya diletakkan ke atas meja baja dengan sangat keras hingga berbunyi nyaring memekakkan telinga.
berasa nonton adegan action