NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 : Memalukan

Dara benar-benar ingin menghilang dari muka bumi. Wajahnya panas, jantungnya berdebar tidak karuan. Bagaimana bisa ia tanpa sadar mencengkeram lengan bosnya sendiri?

"Maaf, Tuan..." ulangnya pelan.

Alexander hanya mengangguk kecil. "Tidak apa-apa."

Lalu pria itu kembali menatap ke depan seolah tidak terjadi apa-apa. Justru itu yang membuat Dara semakin malu. Sepanjang beberapa menit berikutnya, ia tidak berani menoleh ke samping.

Pesawat akhirnya mulai stabil di ketinggian jelajah. Tanda sabuk pengaman dimatikan, beberapa penumpang mulai santai. Ada yang membaca majalah, membuka laptop., dan ada pula yang langsung tidur.

Dara berusaha mengalihkan pikirannya dengan membuka dokumen yang ada di tablet. Namun karena terlalu gugup, ia malah membuka file yang salah. Lalu menutupnya lagi. Kemudian membuka file yang sama, lalu menutupnya lagi.

Alexander yang memperhatikan dari sudut mata akhirnya angkat bicara. "Kalau kau terus membuka dan menutup file itu, isinya tidak akan berubah."

Dara membeku, pelan-pelan ia menoleh. Alexander sedang membaca dokumen di tangannya. Tanpa melihat ke arahnya.

"Tuan melihat?"

"Aku tidak buta."

Dara langsung menunduk lagi. "Maaf."

Entah kenapa sudut bibir Alexander kembali terangkat tipis.

Sekitar dua puluh menit kemudian...

Pramugari mulai membagikan makanan ringan dan minuman. Dara yang sejak pagi hanya sarapan seadanya mulai merasa lapar. Namun begitu melihat pilihan makanan yang disediakan, ia tampak ragu.

Alexander memperhatikannya. "Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kau terlihat seperti sedang memilih nasib."

Dara hampir tersedak. "Ti-tidak, Tuan."

"Lalu?"

Dara menatap kotak makanan di tangannya. "Saya hanya tidak terlalu suka keju."

Alexander melirik makanan yang diterimanya. Kebetulan miliknya bukan keju. Tanpa berkata apa-apa, ia menukar kotak makanannya dengan milik Dara, begitu saja.

Dara membelalak. "Tuan?"

"Makan."

"Tapi..."

"Makan."

Dara terdiam, lalu menatap kotak makanan di tangannya. Entah kenapa dadanya terasa hangat.

"Terima kasih, Tuan."

Alexander hanya mengangguk, kemudian kembali membaca laporan. Seolah tindakan barusan bukan sesuatu yang penting. Padahal bagi Dara, itu sangat berarti.

Beberapa saat kemudian...

Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Juanda. Dara menghela napas lega begitu roda pesawat benar-benar berhenti.

Satu jam kemudian...

Rombongan PT Dirgantara Group akhirnya tiba di hotel tempat mereka menginap. Hotel bintang lima itu berdiri megah di pusat kota Surabaya. Setelah proses check-in selesai, seluruh tim mendapatkan kartu kamar masing-masing.

Rina langsung melihat nomor kamarnya. "Kita sekamar."

Dara tersenyum lega. "Syukurlah."

Jujur saja, ini pertama kalinya ia menginap untuk perjalanan dinas. Kalau harus sendirian mungkin ia akan sulit tidur.

Mereka pun naik ke lantai dua belas. Namun saat sampai di koridor kamar. Dara baru menyadari sesuatu, kamarnya berada tepat di sebelah kamar Alexander.

Deg.

Rina yang melihat ekspresinya langsung menahan tawa. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Kamu pasti bohong."

"Aku serius."

Rina hanya tersenyum jahil.

Sore menjelang malam, setelah rapat singkat dan makan malam bersama klien, seluruh tim akhirnya kembali ke hotel untuk beristirahat.

Begitu masuk kamar, Dara langsung merebahkan diri di kasur.

"Aku mandi duluan ya?" ucap Rina.

"Silahkan."

Sepuluh menit kemudian...

Rina sudah selesai mandi dan sibuk mengeringkan rambut. Sedangkan Dara mulai masuk kedalam kamar mandi. Setelah beberapa menit, ia sudah berganti pakaian santai berupa kaus lengan panjang berwarna krem dan celana panjang longgar. Rambut panjangnya yang biasanya diikat kini tergerai bebas.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa benar-benar rileks. Dara berjalan ke arah balkon kamar, udara malam Surabaya terasa hangat. Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan.

Dara menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon sambil menikmati pemandangan. Namun beberapa detik kemudian... Tanpa sengaja ia menoleh ke samping, dan langsung membeku.

Balkon kamar sebelah ternyata juga sedang ditempati seseorang. Alexander, pria itu berdiri di sana sambil memegang ponsel di telinganya. Sepertinya sedang menerima panggilan penting.

Mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Dadanya terlihat karena kancingnya di buka sampai dada. Jauh lebih santai dibanding biasanya.

Dara langsung memalingkan wajah. Astaga, kenapa justru ketemu dia di sini? Ia buru-buru berbalik, saat hendak masuk kembali ke kamar. Namun karena terlalu panik...

Bruk!

"Aduh!"

Keningnya langsung menghantam pintu kaca balkon. Suara benturan itu terdengar cukup jelas. Bahkan sampai ke balkon sebelah. Dara memegangi keningnya dengan wajah meringis sakit dan ia merasa malu. Perlahan ia mengangkat kepalanya, lalu membeku untuk kedua kalinya.

Alexander ternyata sudah menoleh ke arahnya. Panggilan teleponnya masih berlangsung. Namun tatapannya jelas melihat kejadian barusan. Dara berharap bumi segera menelannya, saat itu juga.

Alexander terdiam beberapa detik. Dara melihat sesuatu yang sangat langka. Pria itu sedang menahan tawa, sudut bibirnya terangkat cukup jelas. Bahkan matanya terlihat sedikit melembut.

Wajah Dara langsung memerah sampai ke telinga. Tanpa berpikir panjang ia membuka pintu balkon dan buru-buru masuk ke dalam kamar.

Brak.

Pintu tertutup.

Rina yang sedang duduk di kasur langsung menoleh kaget. "Kamu kenapa?"

Dara memegangi keningnya. "Tolong jangan tanya."

"Hah?"

Dara menjatuhkan diri ke atas sofa.

Sedangkan di balkon sebelah, Alexander masih memegang ponselnya. Suara lawan bicaranya terdengar dari sambungan.

"Alex? kamu masih mendengar Mommy?"

Alexander mengalihkan pandangan dari balkon yang kini sudah kosong.

"Iya, Mom."

"Terus kenapa kamu diam?"

Alexander masih memegang ponsel di telinganya. Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada percakapan dengan ibunya. Bayangan Dara yang menabrak pintu kaca barusan terus terlintas di kepalanya. Jujur saja, itu lucu.

"Alexander?" suara sang ibunya kembali terdengar dari sambungan telepon.

"Hm?"

"Kamu benar-benar mendengarkan Mommy?"

Alexander menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke pagar balkon. "Maaf, Mom."

"Astaga." Wanita itu langsung mendecak. "Sudah lama Mommy tidak dengar kamu tertawa."

Alexander terdiam.

"Tadi kamu tertawa."

"Tidak."

"Jangan bohong."

Alexander mengusap pelipisnya pelan.

Di seberang sana, sang ibu justru terdengar semakin penasaran. "Ada apa di Surabaya?"

"Tidak ada."

"Kalau tidak ada, kenapa kamu tertawa sendiri?"

Alexander kembali melirik ke arah balkon kamar sebelah yang kini kosong. Untuk beberapa detik, ia teringat wajah Dara yang merah padam setelah menyadari dirinya sedang diperhatikan. Tanpa sadar sudut bibirnya kembali terangkat.

"Alex."

"Hm?"

"Kamu sedang melihat seseorang ya?"

Alexander langsung memejamkan mata. Kadang-kadang ia lupa bahwa ibunya terlalu mengenalnya.

"Mom, sudah dulu ya. Aku ingin beristirahat."

"Alex..."

Klik.

Panggilan langsung diputus.

Alexander memasukkan ponselnya ke saku celana lalu kembali masuk ke dalam kamar.

Sementara itu...

Di kamar sebelah. Rina masih menatap Dara dengan bingung. "Kamu sebenarnya kenapa?"

Dara memegangi keningnya yang mulai memerah. "Tidak ada."

"Itu kening kamu benjol?"

"Masa sih, Rin."

"Iya itu benjol, Dara"

Dara langsung menjatuhkan wajah ke bantal sofa.

Rina semakin curiga. "Kamu habis ngapain?"

"Aku nggak apa-apa."

"Kamu habis ketemu hantu?"

"Ini lebih serem dari hantu."

Rina terdiam sejenak dan berpikir. Tanpa sadar Rina berkata. "Apa kamu habis ketemu Pak Alexander?"

Dara terdiam sejenak dan terpaku.

Rina langsung menunjuknya. "Nah kan... kamu tiba-tiba diem."

Dara menutup wajahnya dengan bantal. "Astaga."

Rina yang melihat reaksinya langsung tertawa. "Kamu beneran habis ketemu Pak Alexander?"

Dara tidak menjawab, yang terdengar hanya suara rintihan malu dari balik bantal.

Rina tertawa semakin keras. "Astaga Dara. Kamu ini kenapa sih?"

Dara merasa hidupnya sudah berakhir.

Keesokan paginya...

Pukul enam pagi, alarm Dara berbunyi. Ia langsung bangun karena hari ini adalah hari terpenting dari perjalanan mereka. Pertemuan dengan investor akan dimulai pukul sembilan.

Setelah mandi dan bersiap, Dara mengenakan kemeja putih serta blazer hitam yang sudah disiapkan sejak semalam. Saat keluar kamar, pintu kamar sebelah juga terbuka. Dara langsung berhenti.

Alexander keluar pada saat yang hampir bersamaan. Pria itu sudah berpakaian rapi dengan setelan jas gelap seperti biasa. Untuk beberapa detik mereka saling menatap. Lalu, tatapan Alexander turun ke kening Dara. Masih ada sedikit bekas kemerahan.

Sudut bibirnya bergerak tipis. "Sudah membaik?"

Dara langsung tahu beliau sedang membicarakan insiden semalam. Wajahnya memanas seketika. "Su-sudah, Tuan."

Alexander mengangguk pelan. "Syukurlah."

Lalu pria itu berjalan melewatinya menuju lift. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berkata tanpa menoleh,

"Kali ini hati-hati dengan pintu."

Ding.

Pintu lift terbuka.

Alexander masuk dengan tenang.

Sedangkan Dara, membeku di koridor hotel sambil menahan keinginan untuk berteriak malu. Dari dalam kamar, Rina yang baru keluar beberapa detik kemudian hanya melihat Dara berdiri kaku seperti patung.

"Kamu kenapa lagi?"

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!