NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi

"Mama." Lian mengusap kedua matanya dengan tangan. Tangisnya telah berhenti, namun wajah sembab masih terlihat jelas di kedua pipi tembemnya.

"Hem?"

"Mama enggak takut dimalahin nenek kalau bela aku?"

Ailin yang masih menggendong Lian sembari berjalan itu menarik senyuman tipis. "Kenapa mama harus takut? Kan ada papa kamu yang pasti melindungi mama."

"Jadi mama ngelindungi Lili, sedangkan papa ngelindungi mama. Telus papa dilindungi siapa, Mama?"

"Papa dilindungi mama."

"Telus kalau mama lagi tidul?"

"Kalau begitu Lili yang lindungi papa."

"Kalau Lili juga tidul?"

"Dilindungi kakakmu."

"Kalau kakak juga tidul, Mama?"

Ailin tertawa pelan, tanpa sadar ia menunjukkan wajah gemas pada sang putri. "Kalau begitu, papa terpaksa harus melindungi dirinya sendiri."

Lian terkikik saat mendengar jawaban sang ibu. "Kalau kita lagi tidul semua, bibi saja yang lindungi papa."

Ailin ikut tertawa. Namun tawanya perlahan menghilang saat matanya menangkap sosok yang duduk di kursi taman belakang. Kursi yang sama saat ia ketahuan menangis oleh Lili semalam.

Langkahnya yang ringan itu terhenti. Lulu duduk membelakangi mereka. Bahunya bergetar pelan.

Ia menangis.

Tangis yang bahkan lebih keras daripada tangis Lian beberapa menit lalu.

"Bibi kecil juga lagi nangis, Mama," ujar Lian sambil menunjuk.

"Iya."

Tatapan Ailin melembut. "Sepertinya bibi kecilmu sedang butuh seseorang untuk melindunginya juga."

"Kalau begitu ayo kita lindungi bibi kecil, Mama."

Ailin mengangguk, kedua kakinya kembali melangkah hingga sampai tepat di belakang kursi tempat Lulu duduk saat ini. Namun gadis itu tetap menangis, seolah tidak menyadari kehadiran mereka.

Ailin lalu sengaja berdeham pelan. "Ehem."

Mendengar itu, Lulu segera menghapus air matanya. Tidak jauh berbeda dari Ailin semalam, ia juga menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan wajah sembabnya itu.

"Mama, aku mau tulun." Lian berbisik pada sang ibu yang langsung mengangguk. Wanita itu berjongkok pelan, lalu melepaskan pelukannya pada sang putri.

Gadis kecil itu langsung berjalan menghampiri sang bibi, menyentuh tangan Lulu dengan lembut. "Bibi kecil, jangan nangis lama-lama! Nanti matanya bengkak."

Lian lalu menunjuk matanya sendiri. "Lili tadi balu nangis bental saja udah bengkak. Jadi enggak cantik lagi, Bibi."

Sementara Lulu sebenarnya ingin berhenti menangis. Namun entah kenapa, semakin melihat perhatian Lian, air matanya justru semakin sulit dibendung.

"Lili sendiri kenapa menangis?"

"Lili habis dimalahin nenek. Bibi kecil kenapa menangis?"

"Bibi juga dimarahi nenek kamu."

Saat itu tangis Lulu semakin pecah. Sedangkan Lian yang sebelumnya telah berhenti menangis juga ikut-ikutan menangis lagi.

"Kalian?" Ailin menatap tidak percaya.

Lian merentangkan kedua tangan kecilnya. "Bibi kecil mau Lili peluk? Kalau nangis kan halus dipeluk."

"Tapi Lili kan juga lagi nangis."

"Belalti kita nangis sama-sama."

Lulu mengangguk, membiarkan Lian masuk ke dalam pelukannya. Keduanya lalu kembali menangis sampai sesenggukan. Membuat Ailin bingung bagaimana cara menghiburnya. Hingga akhirnya wanita itu membiarkan mereka tenang dengan sendirinya.

Dan benar saja, setelah beberapa waktu, akhirnya tangis mereka mereda. Lian bahkan sudah mulai berusaha mengelus punggung sang bibi seolah menguatkan. Begitu juga Lulu yang sudah lebih tenang, hanya sesekali menarik napas berat karena hidung mampetnya.

"Aduh! Tangan Lili terllalu pendek. Enggak bisa elus-elus sepelti mama."

Saat itu Ailin yang sebelumnya diam langsung tertawa. Membuat Lulu menoleh dengan tatapan kesal.

"Mau aku yang peluk?" tawar wanita itu yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sang adik ipar.

Lulu mendengus. "Enggak! Hubungan kita belum sebaik itu, ya."

"Kalau belum berarti ada kesempatan, dong?"

"Kesempatan apa?"

"Kesempatan agar kamu mau memanggilku kakak ipar."

"Cih, percaya diri sekali."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

Ailin tertawa kecil sembari ikut duduk di sebelah sang adik ipar yang langsung melipir. Namun wanita itu tidak masalah, ia justru duduk dengan nyaman lalu menoleh dan menatap wajah Lulu.

"Mau cerita, nggak?" tanya Ailin sembari menaik-turunkan alisnya.

"Enggak!" balas Lulu tanpa berpikir. Gila saja dirinya mau bercerita pada wanita ini. Memangnya mereka dekat?

Sementara Ailin manggut-manggut saja. "Oke."

Lulu melirik sejenak, sebelum lebih mengeratkan lagi pelukannya pada Lian.

"Aduh, Bibi. Lian kejepit, nanti penyek." Anak itu berusaha melepaskan diri. Lalu pindah ke pangkuan sang ibu yang dengan hangat menyambut.

Setelah itu hanya keheningan yang terjadi. Lulu kembali melirik Ailin, namun yang dilihatnya membuatnya menoleh penuh. Sang kakak ipar ternyata tengah tersenyum, mengelus lembut rambut Lian. Sementara gadis kecil itu menidurkan kepalanya di dada sang ibu dengan manja. tangannya juga tak tinggal diam dengan menggulung-menggulung rambut Ailin sambil sesekali menguap.

Yang paling menarik perhatiannya adalah Ailin sama sekali tidak marah. Tidak juga menegur. Namun malah terlihat menikmati momen manis ini.

Untuk beberapa saat, Lulu hanya terdiam memandang mereka. Ailin yang seperti ini benar-benar belum pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa sadar ia tersenyum tipis hingga tiba-tiba Ailin menoleh.

"Kenapa lihat-lihat?"

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!