NovelToon NovelToon
GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duda / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:8M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.

***

Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?

Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?

originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Bujukan Dean

“Udah beres nih, buruan ...” kata Dean menepuk kertas yang baru saja ditandatanganinya.

“Itu ibu kita gak diminta tanda tangan?” tanya Langit menunjuk Winarsih yang duduk memangku tasnya.

“Iya, bini Dean kayak ibu-ibu jemput anaknya di ruang kepsek ya.” Toni ikut memandang Winarsih.

“Jangan berani-berani bawa bini gue buat bercandaan. Gue bui sekalian semuanya,” jawab Dean.

“Ya udah, ayo. Gue udah ngantuk. Buset, udah jam 3 pagi. Mana gue harus pindah kamar,” sungut Rio sambil memegang kertas yang isinya baru ia cek kembali.

“Gue mau nemuin Wulan dulu sebelum balik. Menurut lo semua gimana?” Toni mengedarkan pandangannya.

“Temui aja. Lo minta maaf lebih dulu. Trus jangan disanggah. Wulan kan, tau kalo lo yang ditonjok duluan. Lo ngalah aja, merendah. Meski lo udah cukup rendah sekarang, lo harus bisa lebih rendah lagi.”

“Saran lo bagus tapi bikin naik darah,” sahut Toni.

“Buruan sana,” usir Dean pada Toni. “Yan, lo urus itu ya. Ke pengacaranya aja. Minta kunci mobil. Gue mau menyelesaikan yang lebih penting dulu.” Dean berdiri tak sabar sambil sesekali menoleh pada istrinya. Ryan lalu mengulurkan kunci mobil.

“Gue dampingi Ryan dulu bareng Langit. Kita kan, saksi. Toni nemuin Wulan. Lo bawa bini lo ke mobil. Udah pagi. Mana lagi hamil ... tadi dibilang jangan ribut, paling semangat lo nyuruh orang ribut. Sampe harus dijemput.” Rio menoleh pada Winarsih.

“Dia ke sini karena khawatir ama suami gantengnya. Khawatir kehilangan gue. Nyari laki-laki kayak gue ini susah lho ....” Dean merendahkan suaranya saat mengatakan hal itu.

“Sebenarnya bukan itu ... anak lo banyak De, yang di luar tiga, yang belom lahir ada. Kalo lo gak pulang, gimana nasib anak-anaknya. Perempuan kalo udah punya anak, lo gak usah sok kecakepan. Lo gak ada harganya ...” Toni yang belum memiliki anak berhasil mematahkan percaya diri Dean.

“Ah, sok tau lo! Lo menangani Wulan aja gak sanggup, sok ngasi ceramah ama gue. Udah sana! Gue ke mobil,” kata Dean keluar dari kerumunan teman-temannya. Ia menuju bangku panjang tempat Winarsih duduk menunggunya dengan wajah cemberut.

“Ayo ke mobil. Makin dingin udah mau pagi,” ajak Dean mengangkat tas istrinya dan memeluk bahu wanita itu.

Winarsih berdiri dan berjalan dalam rangkulan tangan Dean. Setelah Dean menyalakan mobil, ia kembali duduk di jok belakang bersama Winarsih.

“Aduh, Win ... aku ngantuk banget. Ini semua karena Toni maksa ngajak ke sini.” Dean mengalungkan tangannya memeluk tubuh Winarsih dari sebelah wanita itu. Ia membenamkan wajahnya di balik punggung istrinya.

“Alesannya dipaksa ...” kata Winarsih.

“Aku kan, gak enak kalo yang lain ikut tapi aku nggak. Kasian aja ama dia,” jawab Dean masih dari balik punggung istrinya.

“Itu ribut karena apa? Perempuan?” tanya Winarsih masih duduk tegak.

“Wulan—wulan. Mantan istrinya Toni ikut acara ini juga. Wulan bawa pacarnya. Orangnya emosian banget. Ngeselin, kalo ngomong nyebelin. Belagu.” Dean menegakkan tubuhnya. Tangannya masih melingkari sekeliling tubuh Winarsih.

“Itu yang barusan, ngomongin siapa? Yang emosian, ngeselin, kalo ngomong nyebelin. Belagu?” tanya Winarsih. Ia menatap mata Dean dalam gelap mobil.

“Mirip aku ya, Win?” tanya Dean sadar diri.

“Aku nggak ngomong gitu.” Winarsih masih menatap wajah Dean yang terlihat lelah. “Jangan gampang emosi,” kata Winarsih.

“Aku gak emosi. Cuma kesel liat Toni langsung ditonjok. Bukan kita yang mulai.” Dean membela diri.

“Aku udah bilang. Kalo ke mana-mana inget yang ditinggalin. Kita gak tau khilafnya orang gimana. Kalo dia bawa senjata api, atau yang lain? Kita juga gak tau keadaan emosi orang gimana. Dia lagi ada masalah apa. Orang bisa khilaf ...” ucap Winarsih. Meski suaranya pelan, tapi kata-katanya terdengar jelas di kesunyian.

“Aku juga bisa khilaf ... bukan orang aja.”

“Ya makanya jangan sampe!”

PLAKK

Winarsih memukul paha suaminya. Dean langsung diam mengatupkan mulutnya.

“Dikasi tau jawab terus.” Winarsih cemberut.

“Jangan ngomel terus, nanti anak kamu denger bapaknya di marah-marahin. Aku orang paling berjasa atas kehadirannya di dunia ini.”

“Mas gak bisa dilepas. Pasti ada aja masalah,” potong Winarsih.

“Iya, maaf—kamu gak kangen aku apa? Dari tadi aku diomelin terus. Sini cium aku dulu,” kata Dean melepaskan pelukan dan menarik tengkuk istrinya.

“Jangan di sini, sebentar lagi Pak Ryan dateng.” Winarsih sedikit memalingkan wajahnya.

“Emang Ryan siapa? Aku mau nyium istriku gak ada urusannya dengan dia.” Dean menangkup wajah Winarsih dan mencium bibir wanita itu sedikit tergesa.

Winarsih seketika memejamkan mata. Bibir Dean terasa dingin saat menyesap dan menggigit bibirnya. Ciuman dan sentuhan dari Dean memang selalu sulit diabaikan. Tangannya yang tadi hanya diam di pangkuan, kini bergerak mencengkeram paha suaminya. Dua hari saja padahal. Tapi tidur tak diganggu oleh laki-laki yang sudah memberinya hampir empat orang anak, membuatnya kehilangan. Sudah pasti kangen, seperti kata Dean. Tapi untuk mengatakan hal itu, bisa-bisa suami bandelnya semakin besar kepala.

Dean berkali-kali menyibakkan lembaran rambut Winarsih yang jatuh menutupi pipi. Sebenarnya ia juga tak sanggup kalau harus berlama-lama pisah dari istrinya. Sehari saja tak menggoda istrinya yang terkadang sangat polos, hari-harinya terasa kurang sesuatu. Winarsih dengan sikap penurutnya yang kadang membuat Dean bergidik seandainya ia menikah dengan wanita selain Winarsih. Napas Dean semakin kasar dan cepat. Ia tahu bahwa ciuman saja tak cukup. Dengkuran halus sudah keluar dari mulutnya saat memindahkan ciuman ke leher Winarsih.

Winarsih sudah mendongak. Kecupan-kecupan Dean beralih ke lehernya. Ia merasakan tangan suaminya sudah turun mengusap perutnya berkali-kali. Tangan Dean lalu memeluk dan meremas pinggangnya.

“Mas ... udah, nanti pak Ryan masuk ...” lirih Winarsih setengah pasrah. Ia sudah mengingatkan suaminya. Sedangkan untuk melarang atau menolak Dean, Winarsih tak bisa. Suaminya sangat anti penolakan. Sangat egois sebenarnya. Tapi begitulah Dean. Selalu mendominasi. Meski kadang menyebalkan, Winarsih menyukainya.

Dean semakin hanyut. Ciumannya bertubi-tubi di leher Winarsih. Desahannya semakin jelas dan tangannya sudah semakin turun mencari tepian dress istrinya. Membelai betis istrinya dan terus naik.

“Mas ... udah,” gumam Winarsih.

Dean hanya mengerang mendengar perkataan Winarsih. Telapak tangannya sudah merasakan kehangatan paha istrinya.

Dan ....

“Ya am—pun! Maaf—maaf!” pekik Ryan yang baru saja membuka pintu mobil di bagian supir.

“Bisa-bisanya ya dia nyium istrinya sampe begitu di mobil. Bener-bener kayak lagi nebus remaja di kantor polisi.” Ryan mengomel sambil berjalan menuju mobil Toni yang parkir tak jauh dari mobil Dean.

“Napa muka lo?” tanya Toni. Ia melihat Ryan datang dengan wajah sebal.

“Pasti Dean lagi memberi ciuman panas buat bininya,” kata Langit terkekeh.

“Kasi waktu—kasi waktu. Lo di sini dulu.” Rio terkekeh.

“Sabar ... Dean sedang mengamankan masa depannya.” Toni menepuk-nepuk bahu Ryan.

Mesin mobil Toni sudah menyala dan Musdalifah yang sudah terkantuk-kantuk di jok belakang mendengar pembicaraan para laki-laki itu.

Empat orang laki-laki sedang menunggu Dean mencumbui istrinya di mobil untuk menghindari pertikaian di rumah.

Musdalifah mendengus kesal. Si sombong itu pikirnya. Ia sudah sangat mengantuk tapi harus menunggui laki-laki ganteng namun angkuh bermesraan. Musdalifah melipat jok yang berada di depannya. Ia lalu merangkak hingga tubuhnya mencapai kursi pengemudi.

TIIIIN TIIIIN

Dengan seringai jahat, Musdalifah menekan panjang klakson mobil.

“Oh shiit! Ada orang di dalem mobil” pekik Langit terkejut memegang dadanya.

“Si Mus—si Mus,” kata Toni membuka pintu mobil. Ia melongok ke jok belakang di mana Mus bersandar dengan mata terpejam.

Di mobil lainnya, tangan Dean sudah nyaris tiba mencapai pangkal paha Winarsih saat ia terlonjak karena bunyi klakson mobil Toni.

“Siapa sih?! Pengen digebuk pake stik bilyar juga kayaknya.” Dean menoleh sinis ke arah mobil Toni yang diparkir beberapa meter di belakang.

To Be Continued

Yang belum like bab 18, bantu di-like ya sayang2ku :*

1
afri yani
ampun dah ah.. mestinya tadi poles lip balm dulu sebelum cekrak cekrek📸📸
afri yani
Sumpah memang kawan laknat tuh si Toni. emang dia siapa sih poros hidup keempat temen nya berputar ke dia semua.😄😄😄
afri yani
Nemu di mana si Toni sekretaris modelan si Mus 🤭
afri yani
jangan jangan si Mus masih sodaraan sama si Dean. sama sama nyebelin.😁
afri yani
si pria tipis iman tunjuk tangan😄
afri yani
🤭🤭🤭
afri yani
kawan durjana lu de🤭
afri yani
hadirr
afri yani
Mus Mus.. ngeselin aja. anak dukun kamu ya?😁
afri yani
si mus sakti juga ya. tiba tiba nongol tiba tiba ngilang. tapi kenapa yang selalu dihantui si pak de Mulu ya..🤔
Uphe Fenty Agesty💞
ngakaaaaak
Uphe Fenty Agesty💞
ampoooon nyampe keselek ini kelakuan pak De🤣🤣🤣🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
kuda lumping Mus🤣🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
yg ceo nya siape yg ngatur siape...🤣🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
🤣🤣🤣🤣
𝕯𝖍𝖎𝖓𝖆
siapa yg baca genk duda akut di tahun 2026☝🤣...
Uphe Fenty Agesty💞
sanusi DARMAJI...🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
gua getok pala lu pak De🤣🤣🤣🤣
𝕯𝖍𝖎𝖓𝖆
tetap ngakak 🤣🤣🤣 padahal uda berulang" di baca, btwe, siapa yg baca novel ini di tahun 2026 , arti nya kita smaa guys 😄
juskelapa: Novel favorit aku juga ini 😍
total 1 replies
who i am?
2021 ➡️ 2026: Masih setia bolak-balik baca Genk Duda Akut 😂🫡

Buktinya nggak pernah bosen kan? Karena tiap baca ulang nemu aja part lucu baru.

Obat stress paling ampuh = bapak-bapak GDA.
Terima kasih kak penulis udah bikin karya selegendaris ini ❤️

#TimDudaAkut #BacaUlangKeSekianKali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!