Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Satu Tema
Setelah kejadian kunci tua, Erlyn dan Chisen tidak bertengkar.
Itu justru membuat semuanya lebih tidak nyaman.
Mereka tetap sarapan di meja yang sama. Tetap les di ruang belajar. Tetap bertukar kalimat pendek tentang soal dan makanan. Chisen tidak mengungkit loteng. Erlyn juga tidak. Tetapi ada jarak baru di antara mereka, tipis seperti kaca bersih, tidak terlihat jika tidak diperhatikan, tetapi cukup keras ketika disentuh.
Saat les, Chisen tidak lagi berdiri terlalu dekat di belakang kursinya.
Saat memasak, ia meletakkan botol bumbu di meja sebelum Erlyn perlu mengambilnya.
Saat lewat di koridor, ia memberi ruang lebih banyak.
Semua itu sopan.
Semua itu membuat Erlyn kesal.
Ia tahu dirinya yang salah. Ia yang mencoba membuka pintu diam-diam. Ia yang melewati batas. Tetapi bagian lain dari dirinya, bagian yang lebih kecil dan lebih keras kepala, merasa Chisen sedang menghukumnya dengan cara paling menyakitkan: menjadi benar-benar kakak yang menjaga jarak.
Juwanto datang lagi tiga hari kemudian bersama Chuan.
Kali ini bukan untuk makan malam santai. Om Changli baru selesai menerima beberapa rekan bisnis di rumah. Ruang makan masih menyisakan piring kecil, gelas-gelas tinggi, dan botol wine yang sudah hampir kosong. Jing sibuk meminta orang rumah membereskan semuanya. Chisen turun dari loteng karena Juwanto menelepon berkali-kali, katanya ada buku portofolio yang tertinggal di mobil Chuan.
"Kamu kalau mau ambil barang, ambil. Jangan membuat rumah seperti terminal," kata Chisen saat Juwanto masuk.
"Aku rindu keramahanmu, bro."
"Tidak ada."
"Itu yang kurindukan."
Chuan masuk setelahnya, membawa tas kertas. Ia menatap meja makan yang belum sepenuhnya rapi, lalu menatap Juwanto dengan peringatan yang sudah tampak sebelum diucapkan.
"Jangan sentuh apa pun."
Juwanto mengangkat tangan. "Aku terlihat seperti anak kecil?"
"Ya."
Erlyn yang membantu Jing membawa piring hampir tertawa.
Juwanto melihatnya dan langsung menunjuk. "Erlyn tertawa. Artinya aku lucu."
"Artinya kamu mudah ditertawakan," kata Chuan.
Suasana menjadi lebih ringan.
Setidaknya sebentar.
Jing meminta mereka duduk di ruang keluarga sambil menunggu Chisen mengambil barang dari loteng. Erlyn membawa sepiring kue kering. Chuan mengambil satu. Juwanto mengambil tiga.
"Kamu tidak takut dimarahi Chisen?" tanya Erlyn.
"Aku hidup dimarahi Chisen sejak SMP."
"Dan belum belajar," kata Chuan.
Juwanto mengabaikannya. Matanya jatuh pada gelas kecil berisi sisa wine di meja samping, mungkin tertinggal dari tamu dewasa. Sebelum Chuan sempat menahan, ia sudah mengambilnya dan mencium aromanya.
"Jangan," kata Chuan.
"Cuma cium."
"Juwanto."
"Sedikit saja."
Ia meneguk satu kali.
Wajahnya langsung berubah.
Erlyn terkejut. "Itu boleh?"
"Tidak," jawab Chuan dan Chisen bersamaan.
Chisen baru turun dari tangga, membawa buku portofolio hitam. Wajahnya lebih dingin daripada biasa.
Juwanto menaruh gelas cepat-cepat. "Cuma sedikit."
"Kamu bodoh?"
"Tidak usah pakai pertanyaan retoris."
"Duduk."
"Aku sudah duduk."
"Diam."
Juwanto diam selama kira-kira sepuluh detik.
Ternyata satu teguk kecil cukup membuat telinganya merah dan mulutnya lebih sulit dikendalikan. Mungkin bukan mabuk sungguhan. Mungkin hanya efek sok berani yang langsung menabrak rasa bersalah. Apa pun itu, Chuan terlihat ingin menguburnya di halaman.
Jing datang dan segera mengambil gelas itu. "Juwanto, ini bukan untuk kalian."
"Maaf, Tante."
Nada Juwanto benar-benar menyesal, tetapi wajahnya terlalu merah untuk terlihat meyakinkan.
Jing menghela napas. "Minum air putih."
Chuan langsung menuang air dan mendorong gelas ke tangan Juwanto. "Habiskan."
Juwanto minum seperti anak yang baru dihukum.
Erlyn seharusnya merasa situasi itu lucu. Namun sejak Chisen turun, udara kembali tegang. Chisen berdiri di dekat rak buku, buku portofolio di tangan, dan tidak melihat Erlyn sama sekali. Kaca tipis di antara mereka terasa semakin jelas.
Mungkin karena itu, Erlyn bertanya pada Juwanto ketika Chisen pergi sebentar ke teras menerima telepon.
"Kak Juwanto."
Juwanto yang sedang memegang gelas air menoleh. "Panggil Juwanto saja. Aku belum setua itu."
"Kamu benar-benar tahu pameran London?"
Chuan langsung menatapnya.
Juwanto berkedip. "London?"
"Yang kemarin kamu hampir ceritakan."
"Oh." Ia menggosok wajahnya. "Itu."
"Juwanto," kata Chuan pelan.
"Aku tahu, aku tahu. Mulutku harus direm." Juwanto menatap gelas airnya, lalu tertawa kecil tanpa lucu. "Tapi Erlyn tinggal di rumah ini. Cepat atau lambat dia akan tahu Chisen itu seperti apa kalau sudah soal lukisan."
Jantung Erlyn bergerak lebih cepat. "Seperti apa?"
Chuan tidak menghentikan kali ini. Mungkin karena Chisen masih di teras. Mungkin karena ia juga tahu ada hal yang tidak bisa selamanya ditutup.
Juwanto menoleh ke arah tangga loteng.
"Chisen itu..." Ia berhenti, mencari kata. "Orang lain melukis banyak hal. Pemandangan. Tubuh. Kota. Wajah. Apa saja. Dia bisa juga, tentu. Tapi kalau dibiarkan sendiri, dia selalu kembali ke satu hal."
"Satu hal apa?"
Juwanto menatap Erlyn. Matanya yang biasanya ramai tiba-tiba tampak lebih jernih, mungkin justru karena semua bercandanya rontok.
"Entah. Mungkin bukan hal. Mungkin rasa."
Di teras, suara telepon Chisen selesai. Langkahnya terdengar mendekat.
Chuan meletakkan gelasnya. "Cukup."
Namun Juwanto sudah terlanjur berbisik, terlalu pelan untuk ruang keluarga, tetapi cukup jelas bagi Erlyn.
Erlyn menahan napas, seolah satu gerakan kecil saja bisa membuat kalimat itu batal keluar.
Diam.
"Chisen itu, seumur hidupnya, seperti cuma melukis tema yang sama."