Tak selamanya menikah karena dijodohkan orangtua membuat hidup rumah tangga jadi terasa berat dijalani.
Meski sebelumnya telah memiliki pasangan masing-masing, namun nyatanya menikah adalah bukan hanya tentang kita ingin dengan siapa, namun juga orangtua merestui atau tidak.
Via dan Rifal mungkin salah satunya, yang belajar banyak hal setelah menikah karena perjodohan. Yuk ikuti kisah manisnya... ❤️
visual Rifal & Via diambil dari drakor im not a robbot ya.. 🙏
author bucin dengan pasangan Yo Seung Ho dan Chae So Bin, jadilah menulis ini. Love Seung Ho.. ❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Cinta itu Jingga
Bayu baru sampai di rumah lagi, saat Slamet dan Cipto sedang duduk di teras tampak sibuk berbincang sambil menikmati kopi dan rokok mereka.
"Lho, ngga sama Triono to Yu?"
Tanya Slamet begitu melihat Bayu turun dari motornya.
"Lho memangnya Triono belum pulang to?"
Tanya Bayu yang malah jadi heran.
"Perginya kan kalian berdua tadi bareng."
Cipto tak kalah heran.
Bayu lalu ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Coba aku telfon, kita tadi nganterin nya beda arah."
Kata Bayu.
Cowok itu kemudian mengambil hp di saku jaketnya, lalu menekan nomor Triono menghubunginya.
"Yah Yu, kenapa?"
Suara Triono terdengar dari seberang begitu panggilan mereka terhubung.
"Kamu di mana? Kenapa belum balik?"
Tanya Bayu.
"Lho kamu sudah balik rumah Paman Dulah to?"
Triono malah heran.
"Sudah ini baru saja."
Kata Bayu.
"Oh yo wisan, aku ndang balik."
Kata Triono.
Setelah itu panggilan Bayu dan Triono terputus.
"Aku sholat dulu."
Kata Bayu, ia lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Sudah terlambat untuk jamaah sholat maghrib di Mushola, jadi ia memilih sholat di rumah saja.
"Bagaimana Non Via dan Non Mila, Yu?"
Tanya Bi Siti pada Bayu ketika mereka berpapasan saat Bayu akan mengambil air wudhu.
"Via sudah saya antar pulang Bi.".
Jawab Bayu.
"Di mana rumahnya?"
Tanya Bi Siti penasaran. Bayu menyebutkan salah satu komplek perumahan yang cukup elite di Yogyakarta.
"Wah bener, anak orang kaya yah Yu."
Kata Bi Siti.
Bayu mengangguk.
Mendengar Bi Siti bicara begitu, tiba-tiba Bayu jadi ingat wajah Ayah Via sore tadi. Wajah Ayah Via saat menatapnya dengan tajam seolah ia tak suka melihat putrinya bersama laki-laki asing.
Ah Bayu sedikit merasa goyah, keberaniannya untuk berharap lebih atas hubungannya dengan Via rasanya mulai berkurang saat melihat sosok Ayah Via.
Bayu mengambil wudhu, lalu pergi menunaikan sholat maghrib, setelah selesai ia kembali keluar rumah di mana Slamet dan Cipto tadi sedang berbincang.
Triono sudah pulang dan sudah bergabung dengan Slamet dan Cipto.
"Kenapa pulangnya cepet banget Yu?"
Tanya Triono langsung begitu Bayu muncul dan bergabung bersama mereka.
"Ya namanya orang mengantar, kalau orang yang diantar sudah sampai kita kan pulang."
Jawab Bayu santai.
"Hmm... Jangan-jangan orangtua Via galak."
Celetuk Slamet mengundang gelak yang lain. Sementara Bayu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Tak mau mengiyakan, tapi tak mungkin juga menyanggah.
"Oh iya tadi pas pulang aku ketemu Bu Darsih."
Triono bercerita.
Bayu pura-pura tak mendengar, ia menyibukkan diri menatap layar ponselnya.
"Kenapa lagi dia?"
Cipto yang penasaran.
"Nanyain cewek yang sama Bayu ke mushola, katanya siapanya Bayu."
Kata Triono.
"Wah wah... Ada yang panas nih Yu."
Cipto menyenggol lengan Bayu yang duduk di sebelahnya, memaksa Bayu mengalihkan pandangannya sejenak.
"Kamu jawab apa No?"
Tanya Bayu akhirnya.
"Ya aku jawab aja itu calon bini Bayu."
Triono tertawa.
"Wah gila kamu, ngga kebayang wajah Bu Darsih pas kamu jawab begitu."
Slamet menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Bayu tampak diam saja, hanya senyumnya saja yang sedikit tergambar di sudut bibirnya.
Calon bini, ada-ada saja. Batin Bayu.
Diam-diam Bayu jadi teringat saat sore tadi Via mengikutinya ke mushola, lalu saat pulangnya ia antar.
Bayu membuka aplikasi chat nya.
Haruskah ia mengirim pesan malam ini?
**--------**
Rifal duduk di kursi ruang tamu rumah Dewi, menunggu Dewi yang sedang mandi. Tampak Ibunya Dewi muncul dari ruang dalam membawa nampan dengan secangkir teh panas untuk Rifal.
"Monggo Mas Rifal."
Kata Ibunya Dewi ramah.
Rifal mengangguk.
Diperlakukan begitu baik dan hangat oleh Ibunya Dewi membuat Rifal ingat saat Dewi ke rumahnya namun mendapatkan perlakuan yang berbeda dari keluarganya.
Rifal menjadi merasa tidak enak, apalagi mengingat kalimat terakhir yang Ayahnya katakan pada Dewi, rasanya darah Rifal mendadak seperti mendidih.
Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa Ayahnya bicara sekasar itu pada Dewi, apalagi mereka baru pertama kali bertemu, yang itu berarti tidak mungkin Dewi pernah membuat salah pada Ayah.
Rifal menghela nafas, mengambil cangkir tehnya, lalu meniupnya pelan agar tak terlalu panas sebelum kemudian meneguknya.
Aroma wangi dari uap teh terasa begitu menyegarkan, seolah membuat aliran darahnya lebih lancar.
Tak lama kemudian Dewi yang sudah selesai mandi kembali menemui Rifal. Dengan hanya memakain handuk kimono dan rambut yang juga dibungkus handuk.
Dewi duduk di kursi rotan dekat kursi Rifal, membuat aroma uap teh di cangkir yang sedang Rifal nikmati tertutup aroma wangi sabun dan shampo dari tubuh Dewi.
"Ngga ada kue buat teman minum teh to Bu?"
Tanya Dewi yang melihat meja tamu rumahnya kosong melompong.
"Ibu mau ke warung kamu mandinya lama sekali."
Kata Ibunya Dewi sambil berdiri dari duduknya dan bersiap keluar rumah.
Dewi nyengir.
"Ngga usah Bu, ngga usah, ini saja sudah cukup kok."
Kata Rifal tak mau merepotkan Ibunya Dewi.
"Ah tidak repot, hanya ke warung depan sebentar kok."
Ujar Ibunya Dewi sembari tetap keluar rumah.
"Kamu sama orangtua begitu."
Rifal tidak enak. Dewi mengulum senyum. Biar sajalah, toh bukan Ibu kandung. Batin Dewi.
"Fal."
Panggil Dewi.
"Yah, kenapa Wi?"
Rifal meletakkan cangkir tehnya diatas meja lagi.
"Ulang tahun Nela, kamu diundang kan?"
Tanya Dewi.
Rifal mengangguk.
"Datang yah,"
Dewi menatap Rifal dengan tatapan memohon.
"Aku ngga enak kalau ngga datang, kami kan sahabatan sejak semester dua."
Tambah Dewi pula.
"Yah baiklah, aku datang."
Kata Rifal memutuskan, yang tentu saja langsung disambut Dewi dengan senang. Dewi berdiri dari duduknya dan berpindah ke pangkuan Rifal secara tiba-tiba lalu memeluk Rifal.
"Makasih Fal, sudah jadi pacar yang sabar dan baik banget." Bisik Dewi.
Aroma segar sabun dan shampo dari tubuh Dewi yang baru mandi itu menyerbak, membuat pikiran Rifal seolah berlari liar tak tentu arah.
Keduanya kemudian tanpa tahu siapa yang memulai lebih dulu akhirnya berciuman. Tenggelam dalam perasaan yang sama-sama sulit mengendalikan.
Untunglah pedagang bakso keliling tiba-tiba lewat di jalanan depan rumah Dewi. Suara sendok yang diadu dengan mangkuk menyadarkan Rifal yang kemudian melepaskan ciumannya.
Dewi menatap nanar Rifal, yang seperti orang linglung. Cowok itu mencoba berdiri agar Dewi turun dari pangkuannya.
"Sepertinya lebih baik aku pulang sekarang Wi."
Kata Rifal meraih kunci mobilnya.
"Tapi Fal..."
Dewi duduk di kursi rotan dengan bingung. Apa yang salah? Batin Dewi.
"Kita ketemu besok lagi."
Rifal kemudian berjalan keluar rumah, tanpa diantar oleh Dewi yang masih belum sepenuhnya bisa menguasai diri.
**------**
ya jelas to ceritanya masih berhubungan dgn novel mistis yg judulnya Zizi maupun Pandawa
wong emang othor nya sama kok 😅
oh iya Thor di sini banyak bgt foto para tokoh nya
tapi kenapa kok di cerita Pandawa ga ada sh
padahal saya kan pengen liat anaknya Zizi bontot dan kakak nya
pasti unyu unyu banget deh 😅😅😅