Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
debar di sore hari
Pukul tiga sore. Semilir angin berembus pelan. Area sekolah mulai lengang. Beberapa ruang kelas sudah kosong. Hanya tersisa para siswa yang mengikuti latihan bulu tangkis, basket, serta panitia OSIS yang masih berkeliling memeriksa keadaan sekolah.
Azura. Gadis itu mengenakan kaos olahraga yang dipadukan dengan celana training pendek, rambutnya diikat tinggi, seluruh tubuhnya basah oleh keringat, nafasnya memburu. Kakinya bergerak lincah mengejar kok yang tertuju ke arahnya, dan menangkisnya dengan sempurna.
Matanya terus bergerak, namun tubuhnya seolah tak mengenal kata lelah, dia terus melompat, mengejar dan menangkis.
Sesekali berhenti memegangi lututnya dengan nafas tersengal dan dahi menyengrit.
"Udah lah Ra, gue capek" kata Chika ngos-ngosan sambil berjalan ke pinggir lapang dan duduk selonjoran di sana.
Azura mengangguk pelan, ikut ke pinggir dan duduk di sebelah Chika yang tengah minum air.
Dia mencari air mineral di tasnya, tapi kemudian cemberut menyadari airnya sudah habis, dan dia belum sempat membelinya.
"Ck.. air gue abis lagi" ucapnya lesu, mana dia sekarang haus banget.
Nyesss...
"Eh..."
Dia terlonjak kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.
Langsung menadahkan kepalanya dengan mata membulat. "Kak Rafa-el" ucapnya terbata.
Dia langsung berdiri, semangatnya seolah kembali ketika mendapati Rafael menghampiri dan memberikan air padanya.
"Nih.. haus kan?" Rafael menyodorkan sebotol air pada Azura.
Yang langsung diterima dengan senang hati oleh gadis itu.
"Makasih ya kak, aku emang haus banget, aku pikir air aku masih ada. Pas aku liat kosong, aku kira tadi bakalan masuk rumah sakit karna dehidrasi, aku belum sempet beli minum soalnya, Kaka emang penyelamat aku" katanya berlebihan, langsung meneguk air itu sampai setengahnya.
Rafael terkekeh pelan, mengacak rambut Azura gemas.
Azura spontan menyemburkan air yang berada di dalam mulutnya tepat di wajah Rafael, ketika mendapat sentuhan tiba-tiba tersebut.
Azura langsung menutup mulut dengan mata melebar, menatapi wajah Rafael yang sudah basah karna semburan air dari mulutnya.
Sementara Rafael, pemuda itu refleks menutup erat matanya dengan kepala sedikit ke belakang, tangan masih berada di atas kepala Azura.
Chika juga menutup mulut shock, dia yang tadinya mau meledek mereka berubah kaget karna kelakuan Azura. " KOK MALAH DI SEMBUR SIH RA?" Teriak Chika kaget.
Azura langsung tersadar. " YAAMPUN... KAK MAAF!!" pekik Azura heboh, seraya mengambil tisu dari tasnya dan langsung mengelapkan pada wajah Rafael." Aku beneran minta maaf kak, sumpah aku gak sengaja, aku refleks aja tadi aku gak tau aku aku-" katanya cepat, namun perkataannya terhenti oleh telunjuk Rafael yang menempel di bibirnya.
Rafael terkekeh pelan, menatapi Azura yang memasang wajah lucu.
"Gak apa-apa, gak sengaja kan?" Katanya tenang.
Azura mengangguk kecil. "Tapi Kaka pasti jijik, karna itu dari mulut ak-"
"Udah gak apa-apa. sini biar aku yang keringin" Rafael mengambil tisu dari tangan Azura, dan langsung mengelap wajahnya dengan santai seolah tidak merasa jijik sama sekali. sesekali melirik Azura yang menggigit bibirnya dengan mata berembun, bahkan bibirnya terlihat merah.
"Heii, gak papa" ucap Rafael pelan.
Azura menarik kedua sudut bibirnya ke bawah, menatap Rafael dengan mata berkaca-kaca. "Aku beneran gak sengaja sumpah, maaf ya" ucapnya sedikit gemetar.
Rafael memegangi kedua bahu Azura yang kini sudah meneteskan air mata. "Gak apa-apa, udah jangan nangis gitu" Rafael mengusap pipi Azura, Rafael menghela napas kecil. Tanpa berpikir panjang, ia menarik Azura ke dalam pelukannya. Telapak tangannya membelai pelan puncak kepala gadis itu.
Azura yang tadinya ingin menangis mendadak bahagia sampai ingin loncat-loncat ketika Rafael memeluknya, dia sedikit terisak namun dengan bibir tersenyum.
Deg
Deh
'KYAAA... GUE SENENG BANGET!!! SUMPAH DEMI APA RAFAEL PELUK GUE'
Chika yang menyaksikan itu mendecih sinis.
Mendelikan matanya pada Azura yang di balas peletan lidah oleh gadis itu.
Rafael mengurai pelukannya, menatap Azura yang kini matanya memerah, padahal gadis itu tengah menahan senyum setengah mati.
Azura dan Rafael berjalan beriringan menuju parkiran sembari mengobrol santai.
Seperti biasa, Azura akan menjawab setiap pertanyaan Rafael dengan semangat 4G.
"Beneran minta maaf ya kak, sumpah aku gak sengaja tadi."
"Iya... Udah gak usah di inget-inget lagi" ucap Rafael tenang "Kamu yakin gak mau di anter aja?" Tanya Rafael, pria itu berdiri di dekat motor sportnya seraya memasukan kedua tangannya ke saku.
'*MAU BANGET*!!'
Azura menggeleng, senyum lebar tak pernah luntur dari bibirnya. "Iya, aku kan bawa motor, entar siapa yang bawa motor aku kalau ikut Kaka?"
Rafael mengulum bibir. " Aku bisa suruh orang buat anterin motor kamu ke rumah kalo mau" katanya dengan alis terangkat samar.
'*BOLEH KAK BOLEH BANGET*!'
Namun Azura lagi-lagi menggeleng.
"Boleh sih, tapi lain kali aja kayaknya" ucapnya di sertai senyum tipis.
"Kapan?"
"Nanti, kalo ada kesempatan. Hi hi hi"
Rafael mendesah kecewa. Mereka kembali terdiam, Azura memilin jarinya, bingung harus ngomong apa.
"Yaudah, aku duluan kak"
Rafael mengangguk, memperhatikan Azura yang tengah menyalakan motornya.
"Hati-hati!"
"Iya Kak"
Rafael terus menatap punggung Azura yang semakin menjauh, sebelum gadis itu menghilang di balik gerbang sekolah.
Laki-laki itu tersenyum tipis, memegangi sebelah dadanya yang terasa berdetak lebih cepat.
Mengulum senyum seraya menunduk.
Tapi senyumnya perlahan pudar, mengingat pertemuan mereka kemarin. Rafael baru teringat dengan lelaki yang bersama Azura, dia lupa menanyakan siapa pemuda itu.
Rafael sedikit menegakkan tubuhnya, alisnya menukik samar dengan wajah masam.
'*gak mungkin pacarnya kan*?'
Entah kenapa, hanya membayangkan kemungkinan itu saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
Tingg!
Rafael mengambil ponselnya yang berada di saku, melihat notifikasi yang baru saja masuk.
***Shasha : kamu di mana? Aku udah di rumah kamu loh dari tadi***.
***Rafael : di jalan, macet***.
Rafael kembali memasukan ponselnya, menaiki motor dan mulai menghidupkannya.
Setelah memakai helm, dia menarik gas dan meninggalkan parkiran sekolah.
**Bersambung**....