NovelToon NovelToon
Imamku Ajari Aku Mencintaimu

Imamku Ajari Aku Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Cinta setelah menikah / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:524.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: NCY

Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?

Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IAAM-019

Beberapa menit lagi pesawat akan mendarat. Suara announcement pramugari menginstruksikan agar para penumpang menegakkan sandaran kursi dan membuka jendela.

Elis masih asik bergelut dilengan Khafi dengan suara ngorok kecil.

Khafi menegakkan sandaran kursi Elis yang agak direbahkan ke belakang. Ia berusaha seminimal mungkin melakukan gerakan agar wanita yang sedang pulas itu bisa tidur beberapa menit lagi.

“Elis,” panggil Khafi pelan. Namun sang gadis sama sekali tak menghiraukan suara disekelilingnya saat itu.

Bahkan guncangan saat pesawat landing dan suara berisik dari announcement tak membuat Elis membuka matanya. Ia malah makin erat memeluk lengan Khafi.

Saat pesawat berhenti, Khafi terpaksa harus bangunnya. Elis harus bangun dengan cara apapun juga.

“Nur, Nur,” panggil Khafi berulang ulang.

Tak mempan dengan panggilan Nur Khafi memanggilnya sekali lagi.

“Elisabeth Cahaya Petra, kita sudah sampai.” Suaranya agak besar sambil menepuk nepuk pundak Elis.

Elis membuka matanya. Sebuah jaket tengah menyelimuti tubuhnya dan posisi kepalanya sedang bersandar manja dipundak Khafi.

“Ha?” Elis meluruskan kepalanya. Kemudian ia sadar ia tengah memeluk lengan pria itu begitu erat. Lengan yang kemudian didorong menjauh dari dekapannya.

“Maaf, Elis...” Ia sedikit bingung harus menjelaskan apa. Wajahnya seketika memerah. Elis hanya bisa menunduk tak berani menatap pria yang selama dua jam lebih dijadikan bantal dan gulingnya.

Memalukan sekali, kenapa aku sebodoh ini?! Ihhh bodoh bodoh bodoh. Elis mengumpat dalam hatinya.

“Lain kali saat naik pesawat, pakailah jaket atau sweater. Udara di dalam pesawat sangat dingin,” ucap Khafi pada gadis yang masih tertunduk malu. Dalam hatinya ia tertawa melihat tingkah gadis disampingnya yang masih enggan mengangkat kepalanya.

Para penumpang satu persatu keluar dari dalam pesawat. Beberapa orang sibuk mengambil bagasi kabin yang terletak diatas kepala mereka. Abi baru berdiri dari kursinya setelah antrian dikabin pesawat benar benar lancar.

“Jam berapa sekarang? Odah tertidur lumayan lama ya? Begitu sadar tadi pas pesawat akan landing,” ujar Saodah ditengah perjalanan mereka menuju ruang pengambilan bagasi.

Elis membuang mukanya menghindar dari Khafi, seakan bi Odah tengah menyinggung dirinya.

“Enak bibi bisa tidur, Khafi nggak bisa tidur sama sekali,” sahut Khafi sembari memijit mijit punggung kirinya. Punggung yang dijadikan bantal oleh wanita disampingnya.

Cuman segitu doang, ih cerewet. Saat Elis terbang dengan Darian Elis juga biasa tidur di pundaknya. Huffttt...

Wajah Elis berubah menjadi murung. Kenangan indahnya bersama Darian masih sering menyelinap dalam kegiatannya sehari hari. Dan Elis sedikitpun nggak ingin mengingat ataupun membayangkan pria itu lagi.

“Kalau nggak suka kan bisa dibangunkan dari awal. Baiknya di awal aja dan ujung ujung mengeluh.” Gerutu Elis sangat pelan. Wajahnya cemberut dan terus membuang muka dari Khafi.

Khafi sengaja berjalan lebih dekat ke arah Elis. Ia tak bisa mendengar kata kata yang barusan diucapkan wanita itu.

Elis berlari kecil mengejar Saodah menggandeng tangan Saodah. “Bi?” ucap Elis.

“Ya sayang,” sahut Saodah.

Mereka berempat berjalan berbarengan menuju tempat pengambilan bagasi kemudian keluar dari terminal kedatangan bandara megah dan mewah tersebut.

“Syekh Umar?” Sapa seorang pria yang sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.

“Ya.” sahut Umar singkat.

“Pak Abdullah memgirim saya untuk menjemput Syekh dan menemani syekh selama berada di Medan,” ujar pria itu.

“Mari ikut saya. Mobil sudah terparkir didepan,” ajak pria itu kemudian.

Mereka berempat berjalan dibelakang pria yang sengaja datang menjemput mereka.

Sesaat terdengar Umar sedang berbincang dengan seseorang di telponnya. Sambil terus mengikuti pria itu, mereka akhirnya tiba disebuah mobil Nissan Serena berwarna hitam.

Setelah menyerahkan alamatnya pada si pengemudi, Ia pun membawa mereka meluncur meninggalkan bandar udara Kualanamu.

Gerak gerik Elis semakin resah, semakin mendekati ke alamat rumahnya tingkahnya semakin tidak nyaman. Dan ternyata hal itu diperhatikan oleh Saodah dan Khafi.

“Elis, makan ini,” Saodah menyuap sebutir kue kering ke mulut Elis.

“Bi, gimana jika papa tidak setuju?” tanya Elis yang akhirnya mengucapkan uneg dalam dalam hatinya.

“Jika papa mu tidak setuju maka itu urusan kamu dan Khafi untuk membujuk papamu setiap hari hingga hatinya luluh?” ucap Saodah.

“Tapi...” Elis enggan mengutarakan keresahan sebenarnya dalam hatinya. Ia tak mungkin menceritakan keburukan paparnya yang belum tentu terjadi. Ia hanya berdoa, semoga hari ini papanya tidak bersikap kasar.

“Sudah kita coba dulu. Jika Allah berkehendak maka Ia juga yang akan membukakan jalan untuk kalian berdua,” ucapan Saodah sedikit melegakan hati Elis.

Setelah menempuh perjalanan sekitar sejam dari Deli Serdang hingga Medan, mereka pun akhirnya tiba disebuah kompleks perumahan Johor Mas. Sebuah kawasan perumahan yang terletak dijalan karya asih.

“Apa sudah benar ini alamatnya?” tanya pengemudi itu.

“Ya, lorong kedua kiri rumah ke tiga,” ucap Elis.

Memasuki lorong kedua, mobil hitam itu berhenti tepat didepan rumah bercat putih ke abu abuan. Sebuah mobil Honda ridgeline terparkir didepan rumah tersebut.

Elis turun dari mobil kemudian membukakan pintu pagar untuk mereka. Pintu ruangan tamu masih terkunci, membuat Elis harus masuk terlebih dahulu melalui pintu samping.

“Mari masuk syekh, bi,” ajak Elis.

“Apa papamu ada?” tanya syekh.

“Pasti ada karena mobilnya ada. Bentar Elis panggil,” ujar Elis kemudian meninggalkan ketiga tamunya diruangan besar dan mewah tersebut.

Diruangan dapur bi Minah sedang sibuk dengan olahan makanannya dihampiri oleh Elis.

“Bi, papa sudah bangun?” tanya Elis tiba tiba.

“Eh non Elis, kapan tiba non?” tanya bi Minah sambil sibuk mengaduk sayur di wajan. “Papa non dikamarnya, tadi dia sudah sarapan. Mungkin sebentar lagi merek akan jalan.”

“Kemana bi?” tanya Elis lagi.

“Ada undangan pernikahan dari adik sepupu ibu.”

“Jenie dan Fredie ikut?” tanya Elis.

“Ya tentu ikut dong non, ibu sudah wanti wanti dengan mereka jauh jauh hari.

“Oh ya bi, jam berapa acaranya?” tanya Elis lagi.

“Jam dua sih kalau nggak salah dengar.”

Elis menatap jam di dinding yang saat itu telah menunjukkan pukul 10:14.

“Bi, siapkan minuman untuk tamu tamu didepan ya. Elis akan temui papa,” ucap Elis dan langsung beranjak menuju pintu kamar papanya.

“Tok tok tok.”

“Pa,” panggil Elis.

“Tok tok tok.”

“Papa, ini Elis pa.”

Beberapa saat pintu terbuka, papanya keluar dengan sambil memegang buku pada ditangannya.

“Kamu, ada apa?” suara Wiliam datar.

“Ada yang ingin bertemu papa didepan,” ucap Elis dengan ukiran senyum dibibirnya.

“Siapa?” tanya Wiliam penuh selidik.

“Seminggu terakhir Elis selalu menguhubungi ponsel papa tapi nggak pernah diangkat, padahal Elis ingin memberitahukan hal ini,” ucap Elis.

“Hal apa? Kamu membuat masalah lagi?” tanya Wiliam sambil berjalan menuju ruang tamu.

“Pa, papa nggak ganti pakaian papa dengan yang lebih sopan?” cegat Elis melihat piyama yang masih melekat dibadan papanya.

“Ada apa Elis?” tanya Indira yang baru saja keluar dari pintu kamar.

“Bu, ada tamu yang ingin bertemu papa. Tapi..” Indira tak menghiraukan ucapan Elis langsung menyusul suaminya ke ruangan tamu.

Gimana ini?

Elis menjadi panik, entah apa yang akan dilakukan papanya terhadap tamunya didepan.

Elis memyusul dibelakang Indira menuju ruang tamu.

“Ada apa ini?” tanya Wiliam dengan dialeg batak kental. Tamu nya pagi itu adalah seorang pria tua berjubah panjang dengan peci dikepala dan seorang wanita dengan jilbab menjuntai hingga ke panggulnya. Bersama pria muda tampan dan maskulin.

“Assalamualaikum,” sapa Soadah dan Khafi berbarengan.

“Siapa kalian?” tanya Wiliam datar.

“Saya Umar Al-Nawawi. Ini adik saya Saodah dan ini putra saya Khafi. Kami kesini dengan niat baik ingin melamar putri anda Elisabeth.”

“Elis?” teriak Wiliam memenuhi seluruh ruangan padahal Elis hanya berdiri beberapa meter dibalik tembok.

“Papa?” ucap Elis lemah. Ia sedikit takut.

“Siapa mereka?” tanya Wiliam masih dengan suara nyaring.

“Selama seminggu terakhir Elis tinggal dengan mereka dipesantren Al ikhlas di Bogor. Mereka..” ucapan Elis terpotong.

“Pesantren?” seringai Wiliam. “Ada tujuan apa ke sini?” Nada bicara William mulai diturunkan.

“Bapak, ibu silahkan duduk dulu, maaf kami menyambut tanpa persiapan,” ucap Indira ramah.

“Nggak apa apa bu, justru kami yang harus minta maaf, kami ke sini mendadak,” jawab Saodah.

Wiliam mengambil kursi diujung dengan wajah datar tanpa ekspresi. Indira segera berlalu dari ruangan itu menuju dapur dan Elis masih berdiri tak jauh dari keberadaan mereka.

“Elis, ini kali kedua kau membawa pria bersama kedua orangtua mereka ke rumah ini. Jangan bilang mereka akan melamar kau pula?”

Wiliam membuat Elis tertunduk dan malu saat itu.

“Ya kami ke sini ingin melamar anak bapak Elisabeth,” kata Umar langsung pada niat kedatangannya ke situ.

“Haha... Tepat sekali. Anakku Elis, kau baru saja gagal dalam pernikahan dua minggu yang lalu dan kau sudah membawa pria untuk melamar lagi? Hebat kali.”

Elis merasa seperti ditampar saat itu. Ucapan ayahnya membuatnya malu dihadapan Syekh dan keluarganya, namun apa boleh buat memang seperti itulah kenyataannya. Elis hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam.

Ini lah yang paling aku takutkan, setelah mengeluarkan kata kata pedasnya maka papa akan mulai marah marah kemudian mengusir mereka dari sini. Tapi keputusan Elis sudah bulat, Elis nggak pernah dianggap dirumah ini. Apapun keputusan papa, Elis akan tetap menikahi Khafi. Elis akan pergi dari sini selamanya.

*Next **🔜*

1
Juna Dong
luar biasa
eni nuryati
cinua sejati/Heart/
Felycia Fernandez
hai elis...ternyata kita satu kampung Elis...nama kamu juga seperti nama temanku Elisabeth dan Petra...senang bisa mampir di ceritanya kk author...
Fitriyani
hahaa,,,pasti amel n Elis hamil tu,,waah barengan tu..
Fitriyani
bukannya Indira itu istri papanya y,klo iy,bkn nya manggil nya ibu,atau aku yg lupa y....🤔
Fitriyani
mantab bgt naluri Abi ni,Dy sllu tau n paling peka duluan dgn smua hal...
g ky khafi...
Fitriyani
jgn2 Hardian ada hati SM Amel...
Fitriyani
jgn2 Hardian ada hati SM Amel...
Fitriyani
mudah2an Pras menyesal semenyesal2 nya Krn udh lbh minggalkn istri sebaik Amel..
Fitriyani
mudah2an othor nya memberikan hukuman yg berat utk ariqah,kesel bgt aku sm ariqah tu
🫧Alinna 🫧
Nur artinya cahaya, nama Elisabeth cahaya petra
Fitriyani
pasti sedih bgt ,ada d posisi Amel..
Fitriyani
pasti sedih bgt ada d posisi Elis..😭
Fitriyani
lucu,punya rasa bersalah,tp mmperlakukn ank nya ky gt,,,aneh
Fitriyani
knp khafi manggil nur Thor???
Fitriyani
mf y thor,,maaf,,,bgt,sy hanya seseorang yg minim ilmu,cm dr awal sy agak janggal rasa nya setiap mmbaca salam mereka kpd Elis,,
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
Fitriyani
mf thor,dr mn Abi nya Kahfi tau klo cewe itu bukan seorang muslim,,,
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
kelinci lucu
sprtinya seru..
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
kelinci lucu: oh... apa ini nnti si cewek jodohnya orng islam? lnjut bca dh biar gk slah faham, maaf y tor jka tdi slah faham🙏
total 1 replies
Dede Dewi
kak author, aslinya mana sih? Medan ya?

saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁
🫧Alinna 🫧: Saya asli manado
total 1 replies
Try Maryati
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!