NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 : Kecurigaan Clarissa

Dimas membuka map tipis yang sejak tadi berada di tangannya. Meski Clarissa tidak dapat melihatnya karena percakapan hanya melalui telepon, ia tetap membacakan hasil penyelidikannya dengan rinci.

"Namanya Winarsih."

"Winarsih?" ulang Clarissa pelan.

"Iya, Nona."

"Apa pekerjaannya?"

"Dia bekerja di Pabrik Roti milik Juragan Warso. Setiap pagi mengantar roti ke beberapa warung, termasuk ke Puskesmas Sekar Sari."

Clarissa menyipitkan mata. "Teruskan."

"Usianya sekitar dua puluh tahun. Kemarin dia baru saja di usir dan sekarang dia tinggal di rumah kontrakan milik seorang janda bernama Bu Ratna."

"Di usir sama siapa?"

Dimas terdiam sejenak sebelum menjawab, "di usir oleh mertuanya Nona."

Mata Clarissa membulat sedikit. "Jadi dia sudah menikah?"

"Sudah Nona, tapi yang saya dengar wanita itu sudah di talak 3. Karena di fitnah oleh mertuanya dan suaminya sekarang masih menjadi TKI di Jepang."

"Siapa nama suaminya?" tanya penasaran.

"Namanya Benni."

Clarissa terdiam beberapa saat. "Lalu... hubungan perempuan itu dengan Arga, apa?"

"Sejauh yang saya cari, tidak ada hubungan khusus."

"Kamu yakin?"

"Untuk saat ini, iya." Dimas kembali melanjutkan laporannya. "Dokter Arga memang beberapa kali membantu Winarsih."

"Membantu bagaimana?"

"Waktu Winarsih mengalami masalah, Dokter Arga pernah menolongnya. Setelah itu beliau juga sering membeli roti di pabrik tempat Winarsih bekerja."

"Hanya itu saja?"

"Untuk sementara, hanya itu yang saya temukan."

Clarissa tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari sofa hotel, lalu berjalan mendekati jendela kamar yang menghadap ke pusat kota.

Sorot matanya perlahan berubah penuh perhitungan. "Kalau hanya sebatas membantu..." gumamnya pelan.

Dimas masih menunggu di seberang telepon. "Tapi, Nona..."

"Apa?"

"Saya melihat sendiri kemarin Dokter Arga datang langsung ke pabrik roti."

Clarissa langsung memejamkan mata. "Datang sendiri?"

"Iya."

"Untuk apa?"

"Mengambil pesanan roti."

Clarissa tersenyum tipis. "Itu masih wajar."

"Awalnya saya juga berpikir begitu, hanya saja saya mendengar biasanya Dokter Arga memesan roti lewat telepon. Tapi kemarin dokter Arga datang sendiri bersama seorang perawat."

Alis Clarissa kembali berkerut.

"Setelah pesanan selesai dimasukkan ke mobil, saya sempat melihat Dokter Arga beberapa kali memperhatikan Winarsih."

Clarissa menggigit bibir bawahnya. "Jadi..."

"Saya belum berani menyimpulkan apa pun, Nona. Tapi, kalau menurut pengamatan saya... perhatian Dokter Arga kepada perempuan itu sedikit berbeda dibanding kepada orang lain."

Ucapan Dimas membuat rahang Clarissa mengeras. Tangannya mengepal kuat. "Aku sudah menduganya...."

"Nona?"

Clarissa menarik napas panjang. "Cari tahu semuanya."

"Maksud Nona?"

"Aku ingin tahu kehidupan perempuan itu sedetail mungkin."

"Siap, Nona."

Clarissa menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. "Kalau memang Winarsih tidak ada hubungan dengan Arga, aku akan berhenti mencurigainya."

Dimas mengangguk.

"Tapi..." suara Clarissa berubah dingin. "Kalau ternyata dia memang mulai mengisi hati Arga..." Ia terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan dengan nada rendah. "Aku akan memastikan hubungan itu tidak pernah benar-benar dimulai."

Meskipun demikian, hingga saat itu Clarissa belum memiliki bukti bahwa Arga dan Winarsih menjalin hubungan. Yang ia miliki baru berupa kecurigaan dan pengamatannya sendiri.

"Terus awasi mereka," perintah Clarissa.

"Baik, Nona."

Sambungan telepon pun berakhir.

Clarissa meletakkan ponselnya di atas meja dengan pelan. Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.

"Arga..." bisiknya lirih. "Dulu kamu hanya melihatku seorang. Sekarang... kenapa pandanganmu mulai berpindah kepada perempuan lain?"

Di sudut bibirnya tersungging senyum tipis, tetapi sorot matanya dipenuhi tekad. "Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuatmu kembali memilihku... apa pun caranya."

***

Suasana di Puskesmas Sekar Sari semakin ramai. Aula kecil yang telah dihias sederhana dipenuhi warga yang datang untuk berobat. Di salah satu sudut ruangan, meja panjang telah disusun rapi. Tiga ratus bungkus roti tertata berjajar dengan berbagai rasa.

Spanduk bertuliskan "Jumat Berkah Puskesmas Sekar Sari" terbentang di belakang meja.

Beberapa perawat sibuk mengatur antrean. "Pelan-pelan ya, Bapak-Ibu. Semua kebagian," ujar Desi sambil tersenyum.

"Iya, Suster."

Seorang nenek yang baru selesai memeriksakan tekanan darahnya menerima sebungkus roti dengan wajah berbinar.

"Terima kasih, Nak. Semoga rejekinya makin bertambah."

Desi tersenyum ramah. "Bukan saya yang harus nenek doakan."

"Lho, jadi siapa?"

"Itu dari Dokter Arga."

Sang nenek langsung menoleh ke arah Arga yang sedang membantu memindahkan beberapa kardus air mineral.

"Ya Allah... semoga Dokter Arga panjang umur, banyak rezekinya, dan segera dipertemukan dengan jodoh yang baik," Doa sang nenek dengan tulus.

Arga yang mendengar doa itu hanya tersenyum malu. "Aamiin. Terima kasih, Nek."

Tak jauh dari sana, seorang anak kecil memeluk roti cokelat yang baru diterimanya. "Ibu... hari ini dapat roti!"

Ibunya mengusap kepala sang anak. "Iy, Nak. Alhamdulillah."

Suasana hangat itu membuat seluruh petugas puskesmas ikut tersenyum.

Pak Hendra, Kepala Puskesmas, memperhatikan semuanya dengan bangga. "Acara sederhana seperti ini ternyata bisa membuat banyak orang bahagia."

Arga mengangguk. "Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan sesuatu yang mahal, Pak."

"Benar."

"Cukup perhatian kecil yang datang di waktu yang tepat."

Pak Hendra tersenyum bangga melihat dokter muda itu. "Dokter Arga."

"Iya, Pak?"

"Saya tidak salah memilih menempatkan Anda di Puskesmas Sekar Sari."

Arga tersenyum rendah hati. "Saya hanya menjalankan tugas."

Di sisi lain, Desi sedang membagikan roti kepada beberapa pasien ketika seorang ibu hamil menghampirinya. "Suster."

"Iya, Bu."

"Itu semua rotinya dari Dokter Arga?"

"Iya."

"Dokternya baik sekali ya."

Desi terkekeh kecil. "Iya, Dokter Arga memang baik."

Tak jauh dari sana, Arga kembali melayani pasien seperti biasa. "Silahkan duduk, Pak."

Seorang petani berusia sekitar lima puluh tahun duduk di hadapan Arga sambil tersenyum. "Saya cuma mau kontrol tekanan darah, Dok."

"Baik, kita periksa dulu."

Meski acara Jumat Berkah sedang berlangsung, Arga tetap melayani setiap pasien dengan penuh perhatian, tanpa membeda-bedakan siapa pun.

Melihat itu, Desi kembali tersenyum sendiri. "Dokter memang aneh," gumamnya pelan.

Perawat Siska yang berada di sampingnya menoleh. "Aneh kenapa?"

"Orangnya kaya, ganteng, baik hati... tapi sampai sekarang masih jomblo."

Siska tertawa kecil. "Mungkin belum ketemu yang cocok."

Desi tersenyum penuh arti. "Atau..."

"Atau apa?"

"Mungkin sudah ketemu."

Siska mengikuti arah pandangan Desi yang tertuju pada Arga. "Siapa?"

Desi hanya mengangkat bahu sambil terkekeh. "Rahasia."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar suara seseorang memanggil dari depan puskesmas.

"Permisi... ada yang bisa membantu?"

Semua orang spontan menoleh ke arah pintu masuk.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di sana dengan pakaian sederhana. Wajahnya tampak cemas sambil menopang seorang wanita paruh baya yang terlihat lemas.

Arga segera bangkit dari kursinya. "Des, siapkan ruang pemeriksaan."

"Baik, Dok!"

Tanpa menunda waktu, Arga bergegas menghampiri pasien baru itu. Suasana hangat Jumat Berkah seketika berganti menjadi kesibukan pelayanan medis, sementara Arga kembali menunjukkan dedikasinya sebagai seorang dokter yang selalu mengutamakan keselamatan pasien di atas segala urusan lainnya.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!