NovelToon NovelToon
INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan / Horor / Supernatural / Contest / Spiritual / Romansa / Matabatin / Mata Batin
Popularitas:47k
Nilai: 5
Nama Author: Akbar Ferdiyanto

Sebuah kisah horor dari dua sudut pandang berbeda...Akbar dan Ainur... membuat takdir mempertemukan kedua anak "Indigo". Menyusun teka-teki dari potongan misteri seraya mengungkapkan keberadaan makhluk tak kasat mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akbar Ferdiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XIX PERSIAPAN

(Sudut Pandang Akbar)

(Rumah Ainur, Palembang)

Pempek, Tekwan dan sirup Marjan rasa Melon terpampang di depanku, rasa lapar karena ketegangan dan ketakutan melanda. Sebagai orang Palembang sudah sepatutnya ngiler akan makanan khas kota Pempek.

“Makasih ya Nur malah ngerepotin” aku selesai menyantap tekwan satu bungkus

Masih tersisa beragam pempek di depan mata, dengan cuka di sampingnya aku hanya harus menahan diri sebentar saja agar tidak terlihat rakus. Makluk embel-embel orang Palembang makan dua mengaku satu, habis makan sisakan satu.

“Alhamdulillah kenyang, untung sudah shalat kalau tidak malas gerak jadinya” kataku

“Iya, untung aku juga sudah”

“Ngomong-ngomong untuk persiapan nanti malam sudah ada semua kan? Arang, tempat panggangan, bahan makanannya?” tanyaku kepada Ainur

“Nah tidak tahu juga, semuanyakan di Bobi di yang handle”

Langsung saja aku menjadi pesimis mendengar nama Bobi, “Bobi yang handle?”

“Iya, untuk bahannya nanti di beli. Tunggu uang sokongan semua terkumpul”

“Sebagai salah satu teman yang duduk sebangku dengan Bobi, kalo Bobi yang handle tahu kan bagaimana jadinya?”

“Iya sih aku juga sudah mikir hal itu”

“Hemm…itu!” tegas ku

Jarum jam menunjuk kearah jam satu siang, aku membuka handphone untuk melihat kabar bagaimana persiapan di grup kelas. Belum selesai baca, Ainur sudah mengatakan masalah di grup kelas.

“Nah baru di omongi, nggak ada yang siapi arang, bensin sama bahan sampingan”

“Bensin?” aku bertanya pada diri sendiri “Mau bakar rumah apa?”

“Nggak tahu nih si Bobi”

Kipas angin di depan ruangan ku besarkan supaya terasa lebih sejuk, hal ini menandakan hari mulai panas.

“Kalau beli arang dimana ya?”

“Kalo arang, kakekku banyak sih di rumahnya, mau aku ambil?” tanyaku kepada Ainur

“Beneran? Kalau begitu tolong ya”

“Oke tenang, tapi agak sore saja biasanya siang-siang begini kakek dan nenekku sering tidur. Tapi untuk bahan sampingan itu maksudnya apa?"

“Itu…nih” Ainur memperlihatkan foto yang dikirimkan oleh Bunga di grup Whats*** kelas

Bahan dan bumbu-bumbu yang kurang lebih banyak dari yang kuduga, walau memakai uang pribadi tidak akan mencukupi.

Aku sendiri tidak ingin menambahi atau merugikan diri sendiri untuk membeli berbagai perlengkapan yang kurang.

“Kalo ini mah bisa di siapin” Ainur menjawabnya dengan enteng

Tak tahu harga mentega, minyak, gula, dan telur berapa, aku sendiri tersentak.

“Wah banyak sekali Nur, nggak cukup nomboki mereka” kataku menghentikan Ainur

“Enggak, kan Papa sama Mama punya toko di depan tinggal ambil saja sedikit disana. Kalo uang sokongan sudah terkumpul semua baru di bayar”

Ternyata toko di depan adalah milik orang tua Ainur, kalau begitu tidak ada masalah untuk hal kedepan.

Tapi rasa tidak enak tetap menganjal hati, sudah merepotkan tempat ditambah dengan mengambil barang dagangan orang.

“Memang nya boleh sama Tante sama Om?”

“Makanya kita tanya dulu” Ainur keluar menuju ke depan toko, melihat ia pergi tentu saja aku mengikuti

Sehabis keluar dari rumah Ainur, terlihat jelas jalan raya ditengah pasar Plaj* sementara di pinggir jalan terdapat berbagai warung dan pedagang kaki lima berjualan.

Di depan toko, tante Siti duduk di kursi anyaman besar menunggu pembeli bersama teman-temannya.

“Ma” Ainur mendekati seraya merayu tante Siti untuk meluluhkan hati

“Iya Mbak”

“Ma bolehkan mbak ambil barang di toko untuk nanti malam, kalau sudah nanti di bayar kok. Tinggal hitung saja” kata Ainur memelas

“Iya boleh, jangan lupa di catat” tante Siti menyetujui dengan cepat, saat melihatku aku merasa tidak enak

Benar saja, ketika aku datang tante Siti memberikan sebuah tanggung jawab kepada kami berdua.

“Nah kalau begitu bolehkan mbak jaga tokonya sebentar, Mama ada urusan sebentar. Akbar juga boleh bantu ya” aku yang sudah merasakan nikmat dan juga kebaikan dari keluarga Ainur tidak mungkin menolak

Makanan dan tempat diberikan sambil aku menunggu malam tidak mungkin kulupakan, maka dengan cepat aku hanya memiliki satu jawaban.

“Iya tante”

***

(Sudut Pandang Ainur)

(Rumah Ainur, Palembang)

Duduk berdua di depan toko seperti sepasang suami-istri sedang bersantai, malu tentu kurasakan apalagi bersama Akbar.

Padahal selama ini aku tidak suka dengan laki-laki yang mendekati aku, tapi meski begitu aku merasa nyaman berdekatan dengan Akbar.

Tidak ingin riasan wajah luntur aku kembali member bedak pada wajah, “Hemm” di depan kaca kecil itu aku melirik Akbar

Akbar mengipasi diri dengan kipas rajutan dari daun kelapa, tentu karena udara panas dan uap dari kendaraan lalu lalang di depan jalan.

“Lama sekali beriasnya, udah cantik juga” kata Akbar tanpa ada rasa malu

Aku sendiri terkejut mendengarnya, dan berhenti membedaki wajah. Tidak kusangka laki-laki pendiam seperti ia dapat berkata seperti itu tanpa merasakan apa-apa.

Kulihat ia, tapi ia kembali mengipasi diri. Apa Akbar mengatakan itu dengan perasaan tulus kepadaku sebagai seorang wanita atau hanya kebetulan saja.

“Ting..ting…” suara notifikasi handphone berbunyi

Kulihat dan kubaca, rupanya dari grup kelas.

“Bar siapkan saja bahan-bahan untuk acara nanti malam, taruh ke dalam rumah dulu saja”

“Oh oke” Akbar berdiri mengikutiku masuk ke toko

Tepung terigu, minyak, gula dan mentega ku ambil dari tempatnya. Cukup sulit untuk mencari mentega karena banyak tertutup oleh kardus.

“Ini kardusnya di pindahin saja ya”

“Iya Bar boleh minta tolong tidak, kardusnya ditumpuk saja jadi satu. Taruh di belakang saja”

“Siap bu bos” ujar Akbar sambil tertawa kecil

Setelah semua bahan kuambil kutaruh ke dalam rumah dengan ke hati-hatian, meninggalkan Akbar membereskan toko.

Aku berpikir entah apa yang akan terjadi selanjutnya, di sela waktu itu pikiran aneh hinggap di kepala.

“Kenapa aku harus suka dengan laki-laki seperti Akbar, aku lebih hebat daripada dia” terlintas sejenak pikiran seperti itu, hal itu tidak sepadan dengan kelanjutannya dimana mataku melihat bayangan hitam melintas di depan persis seperti sosok di tempat parkir dan kamar

Bulu kudukku merinding cepat padahal hari siang bolong, takut tak pandang waktu dan tempat.

Memang benar kurasakan kehadiran, akan lebih baik segera keluar sebelum ada kejadian menyeramkan datang.

“Ha..ha..ha” nafasku habis karena berlari dari dapur sampai ke depan toko

Akbar yang sebelumnya menyusun kardus telah selesai dan menyapu lantai toko yang penuh dengan debu dan tepung.

Sungguh laki-laki baik dan pengertian, entah kenapa rasa bersalah aku berpikir Akbar sama dengan laki-laki lainnya.

“Lho kenapa Nur?”

“Nggak apa-apa kok” aku kembali duduk

Akbar selesai menyapu, kotorannya masih berada di serok sampah belum di buangnya ke tempat sampah.

“Mang, es puter nya dua” teriak Akbar kepada Mang Ujang salah satu tetanggaku yang berjualan es puter di depan toko

“Oke” Mang Ujang langsung menyiapkan pesanan Akbar

Akbar menghampiri Mang Ujang untuk menunggu pesanannya, hanya beberapa menit ia kembali lagi. Tapi saat ia kembali, es yang dibawa hanya satu cangkir.

“Nah, duluan saja” Akbar memberikan es puter pertama kepadaku

“Eh jangan kan kau beli jadi silakan yang pertama” ujar ku

“Nggak usah silahkan, nanti aku ambil lagi”

Akbar mengambil serokan sampah dan membuang sampah bekas sapuannya ke kotak sampah di depan.

Seraya habis membuang sampah ia juga mengambil es pesanannya di Mang Ujang,

“Dasar…” batinku

BAB XIX PERSIAPAN.... SELESAI

1
Aliyah Rengat
ini mesih ada lanjutannya tak kak
FamilyTime
next kak, lanjut terus upny
FamilyTime
gua suka bagian seling-seling nya aja
나의 햇살
sama kyk aku tapi hanya kadang² yg dimimpiku menjadi kenyataan
나의 햇살: oke 👍🏻
total 2 replies
Teh
up terus kak
vanillaatack
Thor, lanjut!!
Aklycia: thanks kak
total 1 replies
Winda Yunita
hai kam aku mampir ya . jangan lupa mampir di karya ku ya kak
angels_basket
alurnya jelas ceritanya menarik.. semangat buatmu thoor.. 5 star n like buatmu!!!! 
Aklycia: thanks kak
total 1 replies
Cinta Insta
cerita ya bagus tapi harus lebih hati hati dengan tulisanya. jangan sampai salah Dan tertukar.
Aklycia: Makasih kak atas sarannya, terus baca karya saya ya
total 1 replies
skyeandstaghorn
waaah... makin seru aja nih... like for u...
Aklycia: thanks kak, terus baca dan like ya kak
total 1 replies
moonstrucktraveller
plis thorr up yang banyak・コ
pelukis_senja
luar biasa...lanjutkan kakak🥰
pelukis_senja
hai kak...sy mampir Krn penasaran..overall is ok cm sy mau nanya ini brp kata ya,kok panjang bgt?? sekedar saran kak klo bisa per bab min 500 kt aja biar pembaca nda bosan plus bisa kasih like lebih banyak itu jd keuntungan buat kita😁...ok ttp semangat yaa...sy kasih like n rate 5 biar semakin populer...

noted..sy nda minta kunjungan balasan yaa, Krn sebaiknya begitu Krn dukungan sesama author terkadang jd spam ke karya🙏
Aklycia: makasih kak atas sarannya
total 1 replies
Mata Diam
Thor udah ga tahan nih pengen baca bab baru hihi
Hulk
Hai, kak. Aku suka alurnya.. bisa ngebawa aku kayak ada di dalem cerita‾!!
Aklycia: Makasih kak, terus baca cerita nya ya
total 1 replies
꧁༒☬Sa̶d̶B∆Y☬༒꧂
Next thor瀦
Aklycia: thanks kak terus pantangin ceritanya ya
total 1 replies
champagnefabulous
Aku udah mampir nih! Ternyata emang seru ceritanya. Lanjut thoor
Prasetya Wibowo
Keren bingit ceritanya! Lanjut! Pantang mundur!
SugarplumChum
sukses selalu authorr 、歴洟 aku selalu mendukung mu
Widya Pertiwi
thor cepat lanjut lagi donk, udah gk sabar pengen liat lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!