Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Ujung Perbatasan
Malam kembali merengkuh kompleks Kekaisaran Zhengzhou, membawa serta hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membekukan setiap tetes embun di atas genteng-genteng pirus istana. Di dalam ruang kerja pribadi Permaisuri Xianhe di Istana Phoenix, cahaya dari puluhan lentera perunggu berpendar terang, menyinari gulungan peta sutra yang terbentang lebar di atas meja kayu mahoni tua.
Mu Qingran berdiri termenung menatap peta tersebut dengan tatapan yang sangat tajam. Garis-garis tinta hitam di atas kain sutra itu menggambarkan relief pegunungan terjal, lembah-lembah curam, serta bentangan padang rumput luas di wilayah utara kekaisaran—tempat di mana ancaman baru kini tengah bertenun dalam diam. Di samping meja, Jenderal Lu berdiri tegak dengan zirah perangnya yang masih mengkilap, napasnya tertahan menunggu instruksi selanjutnya dari sang penguasa harem.
"Aliansi Serigala Utara bukanlah segerombolan bandit biasa yang hanya mengincar harta jarahan di desa perbatasan," suara Jenderal Lu memecah kesunyian malam, bernada berat dan penuh perhitungan militer yang matang. "Dipimpin oleh sosok khan muda yang dikenal kejam, haus darah, dan sangat licik dalam membaca strategi, mereka berhasil menyatukan suku-suku nomaden yang sebelumnya saling berperang. Dan yang paling berbahaya, dengan bergabungnya sisa-sisa pelarian Klan Mei yang membawa informasi internal, mereka kini memegang peta rahasia jalur logistik serta titik-titik lemah pertahanan pos terdepan kita."
Qingran tidak segera menjawab. Jemarinya yang lentik menyentuh simbol tinta hitam di wilayah perbatasan utara, lalu bergeser perlahan menelusuri jalur sungai sempit yang melintasi lembah pegunungan. Pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada laju kuda tercepat di kekaisaran, merangkai setiap kemungkinan taktik yang akan digunakan oleh musuh.
"Klan Mei benar-benar memilih jalan untuk menghancurkan diri mereka sendiri sampai ke akar-akarnya yang paling dalam," ucap Qingran tenang, suaranya mengandung dingin yang mampu membekukan udara di dalam ruangan. "Mereka rela menggadaikan kedaulatan negeri dan menjual tanah leluhur kepada bangsa asing semata-mata demi membalaskan dendam kesumat mereka yang sempit. Ini bukan lagi sekadar pemberontakan politik internal istana, Jenderal... ini adalah bentuk pengkhianatan tertinggi terhadap darah dan air mata rakyat Kekaisaran Zhengzhou."
"Benar, Yang Mulia," timpal Jenderal Lu dengan nada geram yang tertahan. "Kaisar saat ini sedang memimpin rapat darurat bersama para menteri militer di Aula Utama untuk membahas pengerahan bala tentara besar. Namun, masalah terbesar kita adalah waktu dan medan. Pasukan inti musuh bergerak di bawah naungan badai salju utara yang lebat, membuat mata-mata dan pasukan pengintai kita kesulitan melacak posisi tepat mereka. Jika kita mengerahkan pasukan besar secara terbuka ke padang rumput, mereka akan mundur ke pedalaman yang tidak terjamah dan melakukan taktik gerilya yang melelahkan."
Qingran mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah sang jenderal dengan sorot mata yang menyiratkan kecerdasan luar biasa dan keberanian tanpa batas.
"Itulah sebabnya kita tidak boleh menggunakan cara-cara lama yang konvensional dan mudah terbaca oleh musuh," ujar Qingran tegas, suaranya mengalir penuh wibawa. "Jika mereka menggunakan kegelapan malam dan badai salju untuk menyembunyikan pergerakan mereka, maka kita harus mengirim seseorang yang mampu menembus kegelapan itu tanpa disadari oleh mata-mata mereka."
Jenderal Lu mengerjap bingung, keningnya berkerut dalam. "Maksud Yang Mulia...?"
"Aku sendiri yang akan pergi memimpin misi ke perbatasan utara, Jenderal," jawab Qingran tanpa ragu sedikit pun.
Deg.
Jenderal Lu hampir melompat kaget mendengarnya. Wajah sang panglima perang yang biasanya garang, tenang, dan tidak pernah gentar menghadapi ribuan musuh di medan laga seketika pucat pasi.
"Yang Mulia! Anda adalah Permaisuri kekaisaran! Tidak mungkin seorang ibu negara mempertaruhkan nyawanya untuk turun langsung ke garis depan medan perang yang penuh darah dan kekacauan! Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anda, bagaimana nasib seluruh negeri ini? Kaisar Tang Xuanze tidak akan pernah mengizinkan hal gila seperti ini!"
"Kaisar tidak perlu tahu detail penugasan berbahaya ini sebelum kita berhasil memegang leher pemimpin mereka di ujung belati," potong Qingran dengan otoritas mutlak yang membuat Jenderal Lu langsung terdiam kaku.
Qingran melangkah menjauhi meja peta besar tersebut. Ia berbalik badan, membuka sebuah kotak kayu kecil berukir rumit yang tersimpan di sudut ruangan, lalu mengeluarkan sebuah lencana perak berukir kepala naga yang berkilau dingin—simbol wibawa militer rahasia yang diberikan langsung oleh Tang Xuanze kepadanya sebagai tanda kepercayaan mutlak atas keselamatan negara.
"Dengarkan aku baik-baik, Jenderal Lu," suara Qingran melunak namun tetap mengandung beban perintah yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di negeri ini. "Musuh di luar sana mengira Istana Phoenix adalah tempat di mana seorang wanita hanya duduk berdiam diri, merajut kain, dan menunggu takdirnya ditentukan oleh kaum pria. Mereka salah besar. Aku dibesarkan di tengah badai intrik istana yang mematikan, dan aku tahu persis bagaimana cara mencabut duri hingga ke pangkalnya sebelum ia sempat menancap di jantung negeri."
Qingran mengepalkan lencana perak itu di telapak tangannya. "Siapkan satu unit pasukan bayangan khusus yang bergerak cepat, menyamar sebagai pedagang keliling, tanpa atribut istana agar tidak menarik perhatian mata-mata musuh. Kita berangkat meninggalkan ibu kota malam ini juga, saat gerbang rahasia istana dibuka."
Melihat keteguhan baja dan kilatan kecerdasan yang memancar begitu terang dari mata sang permaisuri, Jenderal Lu akhirnya menelan ludah dengan susah payah. Ia menyadari bahwa menentang keputusan wanita di hadapannya ini sama sia-sianya dengan mencoba menahan arus air terjun dengan tangan kosong.
Jenderal Lu merendahkan tubuhnya dalam-dalam, berlutut satu kaki dengan penuh rasa hormat yang teramat sangat menyelimuti lubuk hatinya.
"Baik, Yang Mulia! Hamba akan mempertaruhkan seluruh nyawa dan sisa darah hamba untuk memastikan misi ini berjalan sempurna dan melindungi keselamatan Anda!"
Di luar jendela kamar kerja, badai salju musim dingin kembali menderu kencang, mengguncang dahan-dahan pohon willow di halaman istana dengan liar. Namun di dalam ruangan yang diterangi cahaya lentera itu, seorang Permaisuri tengah menenun takdir baru—bukan lagi dengan intrik kata-kata di balik tirai sutra aula kekaisaran, melainkan dengan bilah belati dan keberanian mutlak di garis depan medan laga. Perjalanan panjang dan berbahaya menuju perbatasan utara resmi dimulai malam itu, membawa serta badai pembalasan yang akan meruntuhkan musuh-musuh Kekaisaran Zhengzhou untuk selama-lamanya, membuktikan bahwa seorang ratu sejati ditempa bukan di atas kemudahan, melainkan di tengah kobaran api pertempuran.