Semua persiapan telah disusun sedemikian rupa. Namun sang calon suami tidak datang ke acara pernikahan. Untuk menjaga kehormatan, suami pengganti pun di cari.
Kehidupan mereka setelah menikah dibumbui dengan adu argumen dan kekonyolan. Saat cinta itu mulai tumbuh, masa lalu datang.
Akankah mereka bisa bertahan?
Kuy baca aja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Dinda sudah hampir memejamkan matanya namun bunyi notifikasi pesan masuk pada ponsel bermodel buah semangka keluaran terbaru.
"Maaf…"
Mata Dinda terbelalak membaca pesan tersebut. Satu kata mengandung makna yang teramat sangat. Hilang tanpa ada kabar dan kini Bayu secara tiba-tiba mengirim pesan untuknya.
Saat pembatalan pernikahan, Dinda terus saja menghubungi Bayu yang tak ada kabar entah kemana. Tapi sekarang? Bayu muncul kembali dengan sebuah maaf teruntuk Dinda.
Rasa rindunya sudah pasti, namun kekecewaan dan rasa kesalnya pada Bayu sangatlah besar. Dinda tidak membalas pesan tersebut. Ia memilih memblokir nomor orang yang kini telah menjadi sampah masyarakat.
"Apa maksudmu ini Bay? kau permainkan perasaan ku ini…" lirih Dinda menatap layar ponselnya.
Ceklek.
Tiba-tiba saja Deniel masuk ke dalam kamar sambil membawa secarik kertas surat perjanjian.
"Ada apa!" ketus Dinda.
"Surat ini tidak sah. Hanya aku yang bisa membuat perjanjian, bukan kau!" ucap Deniel.
"Lah ngegas, bilang aja kau tidak tahan untuk menyentuh tubuh Dinda anak sholehah kan? secara kau udah lama tidak pernah diberi nutrisi."ucap Dinda dengan senyum remeh.
"Heh aku ini masih kuat iman. Buktinya keperawanan mu masih utuh sampai detik ini kan?" timpal Deniel.
"Sok-sokan kuat iman, tadi siang itu apa heh?" ucap Dinda mengingatkan kembali kala ciumannya dirampas paksa oleh Deniel.
"Nah itu aku padahal masih kuat iman, tapi kau yang suka mancing-mancing. Pria kalau dipancing mah gak bakalan nolak, apalagi yang lebel halal." Ucap Deniel dengan tawa renyahnya.
"Halah,banyak banget alasan. Buat bibit unggul dulu, baru kau bisa enak-enakan sama aku!" ucap Dinda ngasal dan langsung mendorong paksa Deniel untuk keluar dari kamar.
"Wah ternyata kau meremehkan bibit ku ya? apa kau tidak lihat si Gio hasil dari bibit limited editions ku heh?" ucap Deniel mendengus kesal.
"Palingan juga si Gio itu hasil dari bayi tabung gas tiga kilo!" jawab Dinda langsung menutupi pintu rapat-rapat.
Malas sekali berdebat dengan Deniel. Apalagi topik pembicaraan yang dibahas, iih bikin Dinda bergelidik ngeri.
"Dasar si Congek, mau nantangin aku rupanya!" batin Deniel sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur nyamannya sambil menatap langit-langit.
Keesokan Harinya.
Seperti hari-hari yang sama, Deniel disibukan dengan pekerjaan kantor.
Berhubung supir pribadi mereka sedang pulang kampung, Dinda lah yang menjemput anak tirinya. Ia sudah menunggu didepan pagar.
Tidak lama, Gio pun keluar dari area sekolahan dan langsung memeluk ibu sambungnya.
Tiba-tiba saja seseorang langsung menarik Gio dan memeluknya dengan erat dalam dekapannya.
"Gio!" dengan cepat Dinda langsung menarik kembali Gio yang sedang dipeluk oleh orang yang tak dikenal.
Dinda menggenggam dengan erat tangan Gio agar tidak lepas.
"Aku bukan orang jahat Mbak, aku mamanya."Tutur wanita itu dengan senyum.
"Mamanya?" bingung Dinda.
"Bukannya kamu orang yang hampir menjadi rekan bisnis Pak Deniel ya?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, aku Sonya." Jawab wanita itu.
"Wanita ini sudah pasti mantan istri Pak Duda." Batin Dinda.
Dinda memang tidak begitu tahu dengan sosok istri dari Deniel. Dinda hanya disibukkan dengan kuliah hingga tidak terlalu mengenal dengan ibu dari Gio itu.
"Congek ayo masuk!" perintah Deniel.
Tanpa pikir panjang, Gio dan Dinda pun langsung masuk ke dalam mobil. Sekilas Deniel menatap mantan istrinya dengan kebencian yang berapi-api dalam hatinya.
"Berani-beraninya dia menemui anakku!" batin Deniel langsung tancap gas menuju rumah.
Komen dong say, aku merindukannya. Eeeeaaaa🤣.