NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015

Dua Tahun

"Kamu dan Oma waktu muda sama. Tangannya terampil."

Kalimat itu menjadi batu kecil pertama yang Seline pijak di rumah Hartono. Tidak besar, tidak cukup untuk membuatnya aman selamanya, tetapi cukup untuk menahan tubuhnya agar tidak terus tenggelam.

Dua tahun berlalu sejak hari itu.

Jakarta berganti musim hujan dan panas berkali-kali. Pohon kamboja di taman belakang pernah gugur hampir habis, lalu berbunga lagi. Kamar belakang yang dulu terasa seperti tempat sementara perlahan berubah menjadi ruang yang mengenal napas Seline. Di meja kecilnya, buku sekolah Darren sudah berganti dengan buku persiapan SMA. Di lemari, seragam Pelita Harmoni tergantung rapi bersama beberapa kemeja kerja sederhana milik Seline.

Seline berusia dua puluh tahun sekarang.

Ia tidak lagi berjalan di rumah Hartono seperti tamu yang takut menyentuh barang mahal. Ia tahu jam berapa Oma Mei membaca koran, teh mana yang tidak membuat perut Oma perih, obat mana yang harus diminum setelah makan, dan siapa saja yang boleh masuk ruang utama tanpa membuat wanita tua itu mengerutkan kening.

Setiap pagi, Seline menemani Oma selama satu jam. Kadang ia membacakan berita bisnis karena mata Oma cepat lelah. Kadang ia membantu mencatat nama tamu untuk acara keluarga. Kadang ia hanya duduk diam, mengupas jeruk, sementara Oma memeriksa laporan rumah.

"Kamu makin rapi mencatat," kata Oma suatu pagi.

Seline tersenyum. "Karena Oma selalu memeriksa salah koma."

"Koma yang salah bisa mengubah maksud."

"Saya tahu. Oma sudah mengatakannya dua puluh kali."

Oma Mei menatapnya dari balik kacamata. "Berani juga sekarang menghitung perkataan Oma."

Seline menunduk, tetapi senyumnya tidak hilang. Dua tahun lalu ia tidak akan berani menjawab seperti itu. Sekarang ia tahu kapan Oma sedang benar-benar marah dan kapan hanya ingin melihatnya tidak terlalu takut.

Darren juga berubah.

Anak laki-laki yang dulu memeluk ransel pudar di depan gerbang kini hampir setinggi bahu Seline. Bahasa Inggrisnya tidak lagi "jahat", meskipun ia masih menyebut grammar sebagai musuh lama. Nilainya di Pelita Harmoni terus berada di tiga besar. Om Richard beberapa kali memamerkannya pada tamu, seolah lupa dulu ia hanya membantu karena kasihan.

Jason tetap sering menjemput jika jadwalnya cocok. Awalnya karena rute, lalu karena kebiasaan, kemudian karena tidak ada yang mempertanyakan lagi. Darren menyukai Jason. Seline menghargai bantuannya, tetapi menjaga jarak tetap rapi.

Tante Chen tidak lagi mencoba menjebaknya secara terang-terangan setelah kejadian surat. Hubungan mereka berubah menjadi dingin yang terlatih. Di depan Oma, Tante Chen memanggil Seline dengan lembut. Di belakang, ia membiarkan Vivian melakukan tusukan kecil yang cukup untuk mengganggu, tapi tidak cukup untuk dilaporkan.

Vivian masih cantik, masih tersenyum manis, dan masih tidak pernah lupa mengingatkan Seline bahwa posisi di rumah ini bukan miliknya.

Seline belajar tidak selalu menjawab.

Diam, jika tepat waktunya, bisa menjadi dinding.

Sementara itu, Tao tumbuh tanpa diketahui siapa pun selain Darren.

Dengan tablet yang akhirnya bisa ia ganti dari uang komisi, Seline menerima lebih banyak pesanan ilustrasi. Ia menggambar malam hari setelah Darren tidur, mengirim file melalui jaringan galeri online, dan menyimpan penghasilan di rekening yang tidak pernah ia bahas dengan Tante Chen. Beberapa karya Tao mulai dibicarakan di komunitas seni digital. Ada yang memuji warna lampionnya, ada yang menyukai figur perempuan yang selalu tampak seperti sedang mencari jalan pulang.

Kevin tidak pernah menyinggung Tao lagi di depan Seline.

Itu seharusnya membuatnya lega.

Namun beberapa kali, saat melewati koridor belakang, Seline melihat paket dari galeri masuk ke bangunan pribadi Kevin. Beberapa kali pula Anton menatapnya sedikit lebih lama dari yang biasa dilakukan seorang asisten. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tuduhan. Hanya garis tipis yang membuat Seline sadar rahasia itu belum mati.

Pada akhir Juli tahun kedua, rumah Hartono mulai sibuk dengan urusan pernikahan Michelle.

Ci Michelle akan menikah dengan putra keluarga Li, dan seluruh rumah bergerak seperti mesin besar. Bunga dipesan, daftar tamu diperiksa, ruang utama diukur ulang, kotak hantaran dibuka dan ditutup berkali-kali. Tante Chen kembali menjadi nyonya rumah yang sibuk, wajahnya bersinar karena pernikahan putrinya membuat posisi cabang mereka tampak kuat.

Jessica menyeret Seline ke ruang kerja kecil untuk membantu memilih warna undangan.

"Kalau semua merah emas, mataku sakit," keluh Jessica. "Ci Michelle bilang elegan, tapi menurutku seperti toko kue keranjang meledak."

Seline tertawa pelan. "Jangan sampai Tante Chen dengar."

"Makanya aku bilang ke kamu."

Michelle masuk tak lama kemudian, wajahnya lelah tetapi bahagia. Ia tidak terlalu dekat dengan Seline, namun selama dua tahun, jarak mereka menjadi sopan yang nyaman.

"Seline, bisa bantu cek daftar nama keluarga inti?" tanya Michelle. "Oma bilang kamu paling teliti."

"Bisa, Ci."

Seline menerima lembar daftar itu. Nama-nama tersusun rapi: William dan Lilian, Kevin, Jason, Ryan, Om Richard dan Tante Chen, Wilson, Michelle, Jessica, Natalie, lalu cabang keluarga lain.

Di sebelah nama beberapa anggota keluarga, ada kolom pasangan.

Seline memeriksa satu per satu sampai matanya berhenti pada satu baris.

Kevin Hartono.

Kolom di samping namanya kosong.

Dua tahun berlalu. Banyak hal berubah. Darren tumbuh, Seline belajar bertahan, Tao menjadi lebih dikenal, Michelle akan menikah.

Namun di sebelah nama Kevin, ruang itu masih putih bersih.

Dua tahun, dan Kevin Hartono tetap belum menikah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!