NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Hari Pertama Pelayan

Sekarang rumah itu menjadi tempat ia mulai membayar semuanya.

Pagi pertama Rayhan di Villa Teluk dimulai pukul lima.

023 membuat tubuhnya terasa seperti baru keluar dari demam panjang. Lengan dan kakinya berat, napasnya pendek setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Namun kontrak di meja dapur tertulis jelas: sarapan harus siap pukul tujuh, rumah utama harus bersih sebelum Keira turun, dan semua perintah penghuni rumah harus dilakukan tanpa bantahan.

Rayhan berdiri di dapur dengan celemek abu-abu.

Ironis.

Dulu ia bahkan jarang tahu sarapannya dibuat oleh siapa. Ia hanya turun, duduk, makan dua suap, lalu pergi ke kantor. Jika kopi terlalu pahit, ia mengerutkan kening. Jika sup kurang panas, Bu Fenny akan mencari Keira.

Hari ini, tangannya sendiri yang memegang wajan.

Telur pertama gosong.

Roti kedua terlalu kering.

Kopi pertama terlalu encer.

Pelayan Liem yang ditugaskan mengawasi tidak menertawakannya, tetapi tatapan diam mereka lebih tajam daripada tawa.

Rayhan membuang telur gosong dan mulai lagi.

Pukul tujuh kurang lima, Keira turun dari lantai dua. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, rambutnya diikat longgar, tablet kerja di tangan. Bekas cedera kakinya sudah membaik, tetapi langkahnya masih sedikit hati-hati.

Rayhan menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

"Sarapan, Bu Keira," katanya.

Keira duduk.

Ia melihat piring di depannya. Telur mata sapi, roti panggang, buah potong, dan kopi hitam. Tidak sempurna, tetapi bisa dimakan.

"Kopinya terlalu encer," ucap Keira setelah menyesap.

Rayhan menunduk. "Saya buat lagi."

Kata saya terdengar asing dari mulutnya. Keira mengangkat mata sebentar, lalu kembali ke tablet.

"Tidak perlu. Catat untuk besok."

Rayhan mengambil buku kecil yang memang disediakan untuk catatan tugas.

Kopi: lebih pekat.

Tulisan itu membuat dadanya terasa aneh.

Tiga tahun, Keira mungkin menyimpan ribuan catatan seperti ini di kepalanya. Kopi Rayhan tanpa gula. Bu Fenny tidak suka bawang terlalu matang. Sherly minta buah dipotong kecil. Tidak ada yang pernah bertanya apakah Keira lelah.

Setelah sarapan, Rayhan mencuci piring.

Sabun membuat luka lama di telapak tangannya perih. Ia menahan napas, tetapi tidak berhenti. Di ruang tengah, Keira menerima panggilan video dengan Kevin tentang jadwal audit Sutanto Corp. Suaranya tenang, profesional, jauh dari perempuan yang dulu menunggu di ruang makan rumah Sutanto.

Rayhan baru selesai mengeringkan piring ketika bel Villa Teluk berbunyi.

Pak Hendra Sutanto datang dengan dua orang kerabat tua. Wajahnya merah menahan marah. Sebagai kepala keluarga besar Sutanto, ia terbiasa orang menunduk saat ia bicara.

Keira turun ke ruang tamu.

"Pak Hendra," sapanya datar.

Pak Hendra menghentakkan tongkatnya. "Kau sudah melewati batas. Mengambil perusahaan, mempermalukan Fenny dan Sherly, lalu menjadikan Rayhan pelayan. Apa kau tidak punya rasa hormat pada keluarga yang pernah mengangkatmu?"

Rayhan berdiri di sisi ruang tamu dengan seragam layanan rumah.

Pak Hendra melihatnya, lalu wajahnya berubah semakin keras.

"Rayhan, kau mempermalukan nama Sutanto."

Rayhan menunduk sedikit. "Saya menandatangani kontrak dengan sadar."

"Sadar?" Pak Hendra berjalan mendekat. "Kau membiarkan perempuan ini menginjakmu?"

Keira duduk di sofa, tidak menyela.

Pak Hendra mengangkat tangan.

Plak!

Tamparan itu mengenai wajah Rayhan.

Suara tajamnya membuat pelayan di belakang menegang. Wajah Rayhan terdorong ke samping, tetapi ia tidak membalas. Bekas merah muncul di pipinya.

Tangan Keira berhenti di atas tablet.

Pak Hendra hendak menampar lagi.

Kali ini, Keira berdiri.

"Cukup."

Suaranya tidak keras, tetapi seluruh ruangan berhenti.

Pak Hendra menatapnya. "Kau tidak berhak bicara saat aku mendidik anggota keluargaku."

Keira melangkah ke depan Rayhan.

Gerakan itu membuat Rayhan mengangkat mata.

"Selama kontrak ini berjalan," kata Keira, "Rayhan bekerja untukku. Hanya aku yang boleh menghukumnya."

Pak Hendra membelalak. "Kau menganggap dia barang milikmu?"

"Tidak." Keira menatapnya dingin. "Justru karena kalian terlalu sering menganggap manusia sebagai milik keluarga, rumah ini jadi penuh orang rusak."

Salah satu kerabat tua menarik napas tajam.

Pak Hendra menunjuk Keira. "Kau lupa siapa yang memberimu tempat saat kau bukan siapa-siapa."

"Almarhum Kong Kong Sutanto memberiku tempat. Bukan kalian." Keira mencondongkan tubuh sedikit. "Dan jika beliau masih hidup, beliau akan malu melihat keluarganya menyewa preman, memfitnah menantu, dan menampar orang yang sedang berusaha bertanggung jawab."

Wajah Pak Hendra membiru karena marah.

Rayhan menatap punggung Keira.

Tiga tahun lalu, tidak sekali pun ia berdiri di depan Keira saat keluarganya menyerang. Hari ini, Keira berdiri di depannya meski ia punya seribu alasan untuk membiarkannya ditampar.

Rasa sakit di pipinya mendadak tidak seberapa.

"Pergi, Pak Hendra," kata Keira. "Kalau keluarga besar Sutanto ingin bicara saham, kirim pengacara. Kalau ingin bicara moral, bersihkan rumah sendiri dulu."

Pak Hendra gemetar, tetapi akhirnya berbalik pergi. Dua kerabatnya menyusul tanpa berani menatap Keira.

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sepi.

Rayhan berkata pelan, "Terima kasih."

Keira kembali duduk. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak suka orang lain menyentuh barang yang sedang kuberi hukuman."

Kalimat itu dingin.

Namun Rayhan justru menunduk lebih dalam.

"Tetap saja, terima kasih."

Keira tidak menjawab.

Ia menatap tablet, tetapi selama beberapa detik, huruf-huruf di layar tidak benar-benar terbaca.

Menjelang siang, daftar tugas bertambah.

Rayhan harus mengganti seprai kamar tamu, menyiram tanaman balkon, dan menyiapkan makan siang. 023 mulai bekerja lebih jelas saat ia menaiki tangga untuk ketiga kalinya. Pandangannya sempat berkunang-kunang. Keranjang seprai jatuh dari tangannya, menumpahkan kain bersih ke lantai.

Pelayan Liem bergerak hendak membantu.

Keira yang kebetulan lewat menghentikannya dengan satu tatapan.

"Dia bisa mengambil sendiri."

Rayhan berlutut perlahan, memunguti seprai satu per satu. Punggungnya basah oleh keringat dingin.

"Kalau tidak kuat, kau boleh menyerah," kata Keira.

Rayhan mengangkat wajah. "Tidak."

"Jangan pingsan di tanggaku. Itu akan merepotkan."

"Saya akan menyelesaikannya."

Keira menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan botol air mineral di anak tangga paling dekat.

"Minum setelah selesai. Bukan sebelum."

Itu bukan kelembutan.

Setidaknya, Keira mengatakan pada dirinya sendiri begitu.

Sore harinya, Rayhan menulis catatan kedua di buku tugas.

Nasi jangan terlalu lembek. Sup harus panas, tapi bukan mendidih. Bu Keira tidak suka wortel dipotong terlalu besar.

Ia menatap tulisan itu lama. Dulu, Keira mengetahui semua kebiasaannya tanpa pernah diberi buku.

Di dapur, air dari piring yang belum selesai dikeringkan masih menetes pelan. Rayhan menyentuh pipinya yang panas, lalu kembali ke wastafel.

Pergelangan tangannya gemetar pelan, tetapi ia tidak menjatuhkan piring lagi.

Hari pertama belum selesai.

Dan untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti beratnya hidup yang dulu ia anggap remeh.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!