Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026
Tugas Luar Kota
Pagi berikutnya, Kiara terbangun di kamarnya sendiri.
Selimutnya tertata rapi. Segelas air putih ada di meja samping. Ponselnya terisi penuh. Di layar, ada pesan dari Rayhan yang dikirim pukul 23.48.
Rayhan:
Kamu tidur di sofa. Aku pindahkan ke kamar. Jangan panik.
Kiara menatap pesan itu lama sekali, lalu menutup wajah dengan bantal.
Jadi ia benar-benar tidur.
Di sofa.
Setelah berjanji hanya lima belas menit.
Lebih parah lagi, ia tidak ingat dipindahkan.
Ia turun dengan wajah berusaha normal. Di ruang keluarga, Kopi sedang makan pelan di mangkuknya. Rayhan berdiri di dapur dengan kemeja kerja, membuat kopi hitam untuk dirinya sendiri dan susu hangat untuk Kiara.
"Pagi," katanya.
Kiara duduk di kursi makan. "Aku tidak panik."
"Bagus."
"Tapi Kak Rayhan seharusnya membangunkanku."
"Sudah."
"Aku bangun?"
"Kamu bilang lima menit lagi."
Kiara menatap meja. "Itu bukan bukti sah."
"Kamu juga bilang Kopi jangan pulang ke kandang."
Ia langsung mengangkat kepala. "Itu aku sadar?"
"Setengah."
Kopi mengangkat telinga, seolah merasa namanya dipanggil dalam sidang.
Rayhan mendorong gelas susu ke arahnya. "Minum. Kamu ada rapat pagi."
Pesan Bu Ratna semalam kembali membuat perut Kiara menegang.
Rapat di Kota Barat Post dimulai pukul sembilan lewat sepuluh. Bu Ratna berdiri di depan meja redaksi dengan map tipis dan wajah yang selalu membuat orang duduk lebih tegak.
"Reza akan melakukan rangkaian promosi dan kampanye anti-narkoba di Kota Pelangi," kata Bu Ratna. "Karena tulisan Kiara kemarin paling lengkap, kita kirim Kiara untuk follow-up feature. Cici ikut untuk foto dan backup catatan."
Cici yang duduk di sebelah Kiara langsung berbisik, "Kita keluar kota, Ki."
Kiara menahan napas. Keluar kota pertama sebagai reporter magang seharusnya membuatnya bangga. Namun nama Reza membuat ingatan tentang senyumnya yang terlalu dekat kembali muncul.
Bu Ratna membagikan itinerary. "Acara utama di Hotel Grand Hyatt besok siang. Ada sesi media terbatas setelah konferensi pers. Malamnya ada networking yang dikoordinasi pihak sponsor. Kalian boleh datang untuk observasi suasana, tapi jangan masuk area privat tanpa izin redaksi. Jelas?"
"Jelas, Bu," jawab Kiara dan Cici bersamaan.
Galih menambahkan dari meja samping, "Kalau ada yang terasa aneh, kabari saya. Jangan mengejar bahan sendirian."
Cici menyenggol kaki Kiara pelan. "Dengar tuh. Jangan mode detektif sendirian."
"Aku tidak begitu."
"Kamu merekam Brandon di karaoke."
"Itu berbeda."
"Beda lokasinya doang."
Kiara tidak bisa membantah.
Sore itu, setelah tiket kereta dan hotel dikonfirmasi, Kiara mengirim itinerary ke Rayhan. Balasan datang tidak sampai satu menit.
Rayhan:
Reza lagi?
Kiara membaca dua kata itu sambil menunggu lift kantor. Ia bisa membayangkan wajah Rayhan saat mengetiknya. Datar, tetapi rahangnya pasti mengeras.
Kiara:
Tugas kantor. Cici ikut. Galih monitor dari sini.
Rayhan:
Aku jemput.
Kiara:
Aku masih di kantor.
Rayhan:
Aku tahu.
Fortuner hitam sudah menunggu saat Kiara turun. Cici yang melihat dari lobi langsung menyikutnya.
"Tetangga misterius lo punctual banget."
"Cici."
"Gue nggak naik. Takut diinterogasi polisi ganteng yang lagi cemburu."
"Dia tidak cemburu."
Cici melihat ke arah mobil, lalu melihat Kiara. "Ki, kaca mobilnya aja kelihatan cemburu."
Kiara meninggalkannya sebelum wajahnya makin jelas.
Di dalam mobil, Rayhan tidak langsung bicara. Ia mengambil itinerary dari tangan Kiara, membaca setiap baris dengan mata yang terlalu cepat untuk disebut santai.
"Hotel Grand Hyatt," katanya.
"Iya."
"Networking malam di Club Monarch?"
"Katanya untuk media dan sponsor. Bu Ratna bilang boleh observasi, tidak wajib masuk area privat."
"Jangan masuk area privat."
"Aku tahu."
"Jangan berpisah dari Cici."
"Aku tahu."
"Location sharing nyala terus."
"Kak Rayhan."
Rayhan berhenti membaca dan menatapnya. "Apa?"
"Aku butuh tugas ini."
Kalimat itu membuat suasana mobil berubah.
Kiara menggenggam tali tas. "Aku tahu Kak Rayhan khawatir. Aku juga tidak terlalu nyaman dengan Reza. Tapi kalau setiap kali ada risiko aku mundur, sampai kapan aku jadi reporter sungguhan?"
Rayhan menatap jalan di depan. Lampu merah membuat mobil berhenti. Di luar, motor-motor memenuhi garis zebra cross, suara klakson pendek bercampur panas sore.
"Aku tidak menyuruhmu mundur," katanya akhirnya.
Kiara menoleh.
"Aku cuma memastikan kamu punya jalan pulang."
Dadanya menghangat, pelan dan sakit.
"Aku akan hati-hati."
"Hati-hati bukan cuma kalimat."
"Aku nyalakan lokasi. Aku kabari Kak Rayhan tiap pindah tempat. Aku tidak masuk area privat. Aku tidak sendirian. Aku simpan powerbank. Puas?"
"Belum."
"Apa lagi?"
"Nomor hotel, nomor driver lokal, nomor Galih, nomor Cici, jadwal kereta pulang, dan kontak redaksi. Kirim semua ke aku."
Kiara menghela napas panjang. "Kak Rayhan membuat checklist lebih panjang daripada Bu Ratna."
"Bagus. Berarti lengkap."
Malam itu, rumah menjadi stasiun persiapan. Rayhan meletakkan powerbank penuh, kabel cadangan, obat pribadi, plester, dan kartu kecil berisi nomor darurat di atas koper Kiara. Kopi duduk di dekat pintu kamar, menatap koper itu dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
Masih belum cukup, Rayhan mengeluarkan gantungan kunci kecil berwarna hitam.
"Apa itu?"
"Alarm pribadi. Tarik pin-nya kalau kamu butuh menarik perhatian orang."
Kiara mengambil benda itu, menimbang beratnya di telapak tangan. "Kak Rayhan punya persediaan alat seperti ini di rumah?"
"Aku punya istri yang suka menemukan masalah."
"Aku reporter."
"Itu kalimat yang sama."
Kiara ingin protes, tetapi benda kecil itu terasa aman di tangannya. Tidak berat, tidak mencolok, tetapi cukup nyata untuk mengingatkan bahwa Rayhan tidak sedang melarangnya pergi. Ia sedang membekalinya pulang.
"Aku pakai," katanya akhirnya, memasang alarm itu di ritsleting tas selempang.
Rayhan baru terlihat sedikit puas.
"Kopi tahu aku pergi?" tanya Kiara.
"Dia tahu ada perubahan."
Kiara berjongkok di depan Kopi. "Aku cuma dua hari. Jangan bikin Kak Rayhan kesepian, ya."
Rayhan yang sedang memasukkan payung lipat ke sisi koper langsung menoleh. "Siapa yang kesepian?"
"Kopi."
Kopi menggonggong sekali.
"Lihat? Dia setuju."
Rayhan menutup koper. "Besok aku antar ke stasiun."
"Kak Rayhan kerja."
"Aku antar."
Kali ini Kiara tidak menolak.
Ponselnya bergetar tepat ketika ia hendak mengunci koper. Pesan dari Cici masuk dalam huruf kapital.
Cici:
KI. ITINERARY UPDATE. Networking malam pindah jadi wajib buat media terpilih. Lokasinya tetap Club Monarch. Dress code black.
Belum sempat Kiara menjawab, satu pesan lain muncul dari nomor Reza.
Reza:
Mbak Kiara, sampai ketemu di Kota Pelangi. Kali ini jangan kabur duluan, ya?
Kiara merasakan tangan Rayhan berhenti di atas koper.
Rayhan tidak langsung menyuruhnya batal. Justru diamnya lebih berat daripada larangan. Kiara tahu, laki-laki itu sedang menahan semua kalimat yang bisa membuatnya kehilangan keberanian.
Di layar, nama Club Monarch seperti pintu yang menunggu dibuka dari sisi gelap.