Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Sayang aku ke Restaurant dulu ya," kata Andra, yang sudah bersiap-siap memakai baju kerjanya.
"Tapi ini masih pagi sekali" kata Indah, yang masih menutup seluruh tubuhnya di bawah selimut itu
"Udah jam sembilan yang, udah siang ini" kata Andra, merasa aneh pada Istrinya, biasanya Indah subuh-subuh sudah bangun, tapi ini hari sudah siang tapi ia belum bangun juga.
"Kamu mau lanjut tidur atau mau ikut aku?" tanya Andra lagi, karna Istrinya sekarang dalam keadaan hati yang aneh, Indah bisa berubah lembut dan kasar secara bersamaan.
"Engga aku mau tidur lagi" jawab Indah, tanpa berniat membuka selimutnya.
"Ya udah aku berangkat yang" kata Andra lalu mencium kening Istrinya dan berangkat menuju Restaurant.
Setelah kepergian Andra Indah kembali melanjutkan tidurnya, sudah tiga hari ini Indah selalu tidur di pagi hari ia sangat suka sekali tidur dan sangat ia juga mudah mengantuk. Kadang dia sedang duduk santai tiba-tiba ia sudah tertidur nyenyak.
***
"Andra" tiba-tiba Dinda masuk ke ruang kerja Andra.
Andra terkejut karna ia sedang fokus pada pekerjaan yang sedang ia kerjakan, tapi dengan cepat ia menguasai kembali dirinya.
"Kamu Dinda, aku pikir siapa" kata Andra berbasa-basi.
"Hehehe, kamu lagi sibuk ya" kata Dinda ia duduk di depan kursi yang di duduki Andra, kini mereka duduk sambil saling berhadapan dengan meja kerja Andra di tengah-tengah mereka.
Mendengar perkataan Dinda, Andra yang tadinya di sibukan dengan pekerjaan nya yang menumpuk, menghentikan pekerjaan nya dan menatap serius Dinda.
"Buat kamu aku tunda kerjaan aku" kata Andra, dengan senyuman manisnya.
"Waw segitu baiknya ya kamu sama aku," Dinda dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan segitu baiknya aku sama kamu, tapi sebegitunya kamu godain aku" kata Andra sambil tersenyum nakal.
Andra bngun, ia berdiri mendekat Dinda, ia mendudukan dirinya di meja, kerjanya dengan Dinda duduk di kursi, kemudian ia menatap Dinda.
"Ih kamu ngapain dekat-dekat sama aku" kata Dinda berpura-pura bodoh.
"Terus kamu ngapain ke sini" Andra bukan menjawab ia justru bertanya kembali.
Andra yang sedang duduk di meja, menaikan sebelah kakinya ke samping kursi yang di duduki Dinda, lalu ia membelai pipi kanan gadis itu.
"Suami orang engga usah pegang-pegang nanti Istrinya marah" goda Dinda.
"Heheheee Dinda Sayang jangan goda Suami orang nanti Istrinya marah" jawab Andra dengan tangannya menggulung-gulung rambut Dinda.
"Iih Andra, rambut aku rusak" kata Dinda berbicara dengan lembut dan manja karna Andra bisa merusak tata rambutnya.
"Nanti ke Salon lagi, aku transfer kamu tenang aja" kata Andra, dengan santai bagi Andra saat ini uang tidak jadi masalah, karena hidupnya telah berubah drastis sejak menikah dengan Indah.
Mendengar kata-kata transfer tentu saja Dinda sagat bahagia, ia merasa sepertinya Andra bisa ia jadikan Atm berjalan.
"Hanya sedikit lagi Indah" batin Dinda.
Karena sebentar lagi ia yakin akan membuat sepupunya itu hancur karena memang itu tujuannya dari dulu, ia sangat membenci Indah, ia tidak rela bila melihat Indah bahagia.
"Dinda kamu udah makan?" tanya Andra, yang di jawab gelenga oleh Dinda, Andra bangun dari duduknya dan berjalan menuju sofa. Sambil menarik lembut pergelangan tangan Dinda menuju sofa. Andra mendudukan dirinya di sofa itu, lalu Dinda duduk di pangkuan suami sepupunya itu.
"Kamu mau makan apa" tanya Andra sambil memeluk pinggang Dinda, sementara wajahnya ia simpan di tengkuk Dinda.
"Apa aja Ndra" jawab Dinda dengan sedikit mendesah karna Andra sudah mulai, beraksi di tengkuknya.
Keduanya terus bercerita, bahkan sesekali mereka terlihat tertawa bahagia, hanya karna hal sepele yang mereka anggap lucu.
***
"Ibu" Indah pergi kerumah Fatimah, karena merasa sepi dirumahnya maka dari itu ia memutuskan pergi kerumah Ibunya, lagi pula perjalanan kerumah Ibunya hanya mebutuhkan waktu tiga puluh menit saja, jadi Indah tidak masalah bila mengemudi sendiri pulang dan pergi.
"Iya"Fatimah melihat anaknya medekat padanya.
"Kamu sendiri " tanya Fatimah, karena tidak biasanya Indah pergi ke rumah Fatimah sendiri.
"Ya bu" jawab indah.
"Ibu masak apa" Indah bertanya pada Fatimah yang sedang sibuk mengaduk masakan di atas api kompor yang panas.
"Oh, ini Ayah minta di buatkan Soto" kata Fatimah, yang memang Suaminya itu sangat suka makan soto buatan Fatimah.
Indah berjalan ke arah kulkas, mengambil minuman kaleng, kesukaannya ia melihat ada kursi kecil di dekat kulkas, lalu ia duduk di samping kulkas itu tiba-tiba Abdullah datang memeluk Istrinya yang sedang mengaduk masakaan di atas kompor.
"Sayang" Abdullah terus memeluk tubuh Istrinya semakin erat, ia tidak mengetahui ada orang lain selain keduanya di sana.
"Ehem" Indah bedehem mengejutkan Ayahnya, sementara Abdullah dengan cepat melepas pelukannya di pinggang Fatimah, Fatimah menyadari kalau Suaminya itu sedang menahan rasa malunya, karna tertangkap basah berusaha merayu dirinya.
"Kamu masuk salam dulu" kata Abdullah. Abdulah tidak tau kalau Indah sudah lama datang, ia pikir Indah baru saja datang dan menerobos masuk tanpa salam,.
"Indah udah dari tadi di sini" kata Indah, Abdullah hanya diam saja,.
"liat-liat tempat dong Yah, kalau mau mesra-mesraan, sama ingat umur juga" timpal Indah kembali.
"Apa sih engga jelas" balas Abdullah.
"Ayah sama Bbu udah tua tapi seperti pengantin baru terus ya" kata Indah, dirinya merasa bahagia dengan keharmonisan hubungan Ayah dan Ibunya, karena setau dirinya Fatimah dan Abdullah tidak pernah bertengkar, kemarin adalah pertengkaran mereka yang pertama yang ia ketahui.
Mengingat kembali pertengkaran Ayah dan Ibunya, Indah merasa sedih, karna dirinyalah yang membuat keharmonisan orang tuanya sempat hilang, tapi ia bersukur karna kini keluarga mereka kembali seperti dulu lagi.
"Ibu" kata Abdullah sambil memegang dadanya.
"Kenapa Yah" Indah panik melihat Ayahnya yang sesak napas lalu tiba-tiba terjatuh tidak sadarkan diri.
"Ayah" Fatimah dan Indah mengoyang-goyangkan tubuh Abdullah, berusaha membangunkan Abdullah, tapi sepertinya Abdullah tidak bangun-bangun.
"Panggil Pak Ujang Ndah, kita bawa Ayah ke Rumah Sakit " kata Fatimah menyuruh Indah memanggil sopir pribadi Suaminya itu, yang sedang duduk santai bermain catur bersama satpan di halaman rumah mereka itu.
Indah hanya menganguk dan berlari melakukan apa yang di perintahkan Ibunya, dengan panik ia memanggil Pak Ujang.
Pak Ujang yang mendengar majikannya, jatuh pingsan tentu panik dengan segere ia dan satpam berlari menuju dapur di mana tuannya berada dan membawanya ke rumah sakit.
Kini mereka sudah di rumah sakit terdekat di kota itu, Indah dan Fatimah mondar-mandir di depan Ugd menunggu Dokter menangani Abdullah keluar wajah panik dan rasa takut terjadi sesuatu pada Abdullah terlihat jelas di wajah kedua Ibu dan anak itu, karena ini adalah pertama kalinya Abdullah seperti ini.