NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CERITA DI SUDUT KOTA

Kruuuk... kruuuk...

​Sebuah getaran halus mendadak terasa di balik jaket Zaki yang menempel pada tubuh Naya. Suasana magis dan haru biru di antara mereka seketika buyar oleh bunyi alamiah perut yang kelaparan.

​Naya mengerjapkan mata, lalu mendongak. "Kamu... lapar?" tanya Naya blak-blakan, menahan senyum.

​Zaki sempat tertegun sesaat, terkejut karena "rahasia" perutnya terbongkar begitu saja di momen seserius ini. Namun, melihat binar jenaka di mata Naya, ia akhirnya terkekeh pasrah. "Iya, jujur dari tadi belum sempat makan," jawabnya terus terang sembari terus menderu sepeda motornya.

​Naya tertawa kecil, suara tawa renyah yang seketika mencairkan sisa-sisa kecanggungan dan air mata di pipinya. "Gimana kalau kita cari makan dulu sekarang? Aku tahu tempat nasi goreng yang enak banget di bawah."

​"Boleh," sahut Zaki tanggap, langsung menyetujui ide itu demi menuruti cacing di perutnya yang sudah berdemo.

​Ia segera mengemudikan sepeda motornya membelah jalanan kota yang mulai merayap malam. Naya duduk di boncengan, sesekali memajukan tubuhnya untuk menunjuk arah jalan dan menuntunnya melewati kelokan demi kelokan, hingga akhirnya mereka tiba di warung nasi goreng yang Naya maksud.

​Tempatnya ternyata sangat ramai, khas kuliner malam yang digandrungi banyak orang. Beruntung, mereka masih kebagian tempat duduk yang posisinya sangat strategis di pinggir jalan.

​Meja mereka menghadap langsung ke arah jembatan layang yang berbatasan dengan pembatas jalan. Dari titik itu, pemandangan malam kota terhampar memukau. Di balik ramainya hiruk-pikuk kendaraan di bawah sana, lampu-lampu kota dan sorot kendaraan tampak berkerlap-kerlip estetis seperti untaian permata yang berjalan dari ketinggian, menciptakan atmosfer hangat di tengah kesederhanaan warung nasi pinggir jalan tersebut.

​"Dua porsi nasi goreng spesial, Mbak, Mas," ucap sang pedagang ramah sambil menghidangkan dua piring nasi goreng hangat yang mengepulkan aroma gurih, lengkap dengan taburan kerupuk renyah dan segarnya acar di tepinya.

​"Wah, terima kasih, Pak," sahut Naya dengan binar mata bersemangat.

​Begitu pedagang itu berlalu, Naya tanpa ragu langsung melahap sesendok penuh. Rasa gurih yang pas seketika memanjakan lidahnya, membuatnya ketagihan dan langsung menyendok suapan kedua tanpa jeda.

​"Kayaknya yang beneran lapar dari tadi bukan aku, ya?" celetuk Zaki jenaka.

​Suara bariton itu seketika mengejutkan Naya. Gerakan sendoknya mendadak terhenti di udara. Naya menyengir kuda, merasa sedikit tengsin karena tertangkap basah makan dengan begitu lahap. "Iya, aku juga lapar ternyata. Tadi sebelum pergi, sebenarnya sempat ditawari makan sama Bik Retno, tapi aku tolak."

​"Kenapa?" tanya Zaki, kini mulai menyendok makanannya sendiri.

​Naya mengaduk nasi gorengnya perlahan, tatapannya melembut. "Tadi perasaan aku enggak enak aja. Jadi sama sekali enggak selera makan."

​"Enggak enak kenapa?"

​"Karena kamu."

​"Aku?" Zaki menghentikan kunyahannya sesaat, menatap Naya heran.

​Naya mengangguk pelan, beralih menatap lurus ke manik mata Zaki. "Kamu enggak balas lagi chat aku sore tadi."

​Zaki membisu seketika. Rongga dadanya mendadak terasa berdenyut samar. Kalimat Naya melempar ingatannya kembali pada kejadian sore tadi, ketika Mira menyuruhnya pulang dengan panik padahal tidak terjadi apa-apa di rumah. Alih-alih keadaan darurat, kepulangannya justru menjadi awal terbongkarnya hubungan mereka di hadapan Desi, ibunya. Bayang-bayang nasihat dan ganjalan dari sang ibu kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Kenapa diem?" desak Naya, memecah lamunan pria di depannya.

​Zaki tersentak, mencoba menguasai ekspresi wajahnya agar tetap tenang. "O-Oh... itu. Tadi... aku kehabisan kuota di jalan," jawab Zaki asal, menciptakan alasan paling logis yang bisa terpikirkan saat ini. Maafin aku, Naya. Aku enggak mungkin cerita soal Ibu dan Mira sekarang, bisik batin Zaki didera rasa bersalah.

​Mendengar alasan itu, Naya hanya mengangguk polos. Kepercayaan yang begitu tulus terpancar dari wajahnya, membuat dada Zaki kian berdesir hangat.

​Perlahan, Zaki menggeser tangannya di atas meja, merayap mendekati lengan Naya, lalu melingkupinya dengan genggaman hangat yang posesif namun lembut. Sentuhan mendadak itu sontak membuat Naya melepaskan sendoknya. Ia menoleh, menatap Zaki dengan sepasang mata yang melebar pasrah.

​"Kamu sekhawatir itu sama aku?" tanya Zaki, suaranya merendah menjadi begitu intim di antara bisingnya jalanan raya.

​Naya mengangguk lagi, jujur tanpa ada yang disembunyikan.

​"Maafin aku, ya," ucap Zaki tulus.

​Kata maaf itu begitu sederhana, namun gema emosinya menghantam langsung ke lubuk hati Naya yang terdalam. Bola mata Naya berbinar, perlahan berkaca-kaca oleh rasa haru yang membuncah. Sepanjang sejarah hidupnya, ia tidak pernah diperlakukan sepesial dan seberharga ini oleh lelaki mana pun. Tidak oleh Tian, apalagi oleh Randi yang kerap mengabaikannya. ​"Za-Zaki..." bisiknya tertahan.

​"Aku usahakan, aku tidak akan pernah membuatmu khawatir seperti tadi lagi," lirih Zaki, memberikan sebuah janji baru lewat tatapan matanya yang mengunci netra Naya.

​Naya tersenyum, gumpalan sesak di dadanya menguap begitu saja. Namun, rasa penasaran seorang wanita yang ingin divalidasi kembali menggelitik benaknya. "Zaki..." panggilnya lagi, kali ini dengan nada manja yang samar. "Kamu... kenapa mau melakukan semua hal sejauh ini sama aku?"

​Zaki menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman lebar yang sangat menawan. "Ini sudah yang ke sekian kalinya kamu bertanya hal yang sama, Naya. Kamu tahu kan jawabannya? Dan, jawabanku tidak akan pernah berubah."

​"Kamu... cinta sama aku?" celetuk Naya blak-blakan.

​Pertanyaan yang lolos begitu saja dari bibir Naya seketika membuat senyum Zaki membeku. Keheningan mendadak merayap di antara mereka berdua, menyisakan riuh lampu ibu kota yang menjadi saksi bisu atas tanya yang menuntut kepastian itu.

​​Zaki menarik napas panjang, membiarkan keheningan menggantung sejenak di antara mereka seiring dengan tatapannya yang kian mendalam. Genggaman tangannya pada jemari Naya sedikit mengerat, seolah sedang menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki.

​"Setelah aku sukses nanti, aku akan memilikimu sepenuhnya," jawabnya, suaranya berat, tenang, namun sarat akan kesungguhan yang menggetarkan udara malam.

​Naya tertegun. Alih-alih merasa sepenuhnya lega, kalimat itu justru menyisakan sebuah tanya yang mengganjal di hatinya. Menggunakan sisa keberaniannya, Naya balik menatap Zaki dengan sorot mata yang menuntut kejelasan. ​"Nanti?" timpalnya perlahan, suaranya nyaris berbisik di antara bising jalanan. "Apa... apa sekarang kamu merasa belum memiliki aku?"

​Pertanyaan balik dari Naya seketika mengunci lidah Zaki. Dan, ia mendadak membisu. ​Sorot matanya beralih menatap lurus pada hamparan lampu-lampu ibu kota yang berkerlap-kerlip di balik jembatan layang, ia ingin sekali menjawab bahwa ia sudah memiliki hati Naya sekarang. Namun, ego dan logikanya sebagai seorang pria dewasa bergejolak hebat di dalam dada.

​Ia teringat lagi akan restu ibunya yang belum mengalir, status dan usia mereka yang kerap digunjingkan oleh Gani dan Daniel, apalagi jika keluarganya tahu, serta benteng realitas yang masih harus ia taklukkan terlebih dahulu.

Baginya, memiliki Naya saat ini barulah sebuah awal yang rapuh. Sukses dan mapan adalah harga mati yang ingin ia persembahkan, agar ia bisa menggandeng tangan wanita di hadapannya ini dengan kepala tegak di depan siapa pun, tanpa ada satu orang pun yang berhak meremehkan hubungan mereka lagi.

​Keheningan yang mencekam itu mulai merayap, membuat detak jantung Naya berdebar cemas menunggu jawaban yang tertahan di tenggorokan Zaki.

​"Aku sudah memiliki hatimu sekarang, Naya, dan itu adalah hal paling berharga yang aku punya," ucap Zaki kemudian, memecah keheningan dengan suara yang begitu lembut namun sarat akan ketegasan. ​Ia pun membawa tangan Naya yang berada di dalam genggamannya naik, lalu mengecup punggung tangan itu dengan takzim.

Sentuhan bibir Zaki terasa hangat, mengalirkan getaran yang langsung merayap ke dada Naya.

​"Tapi aku tidak mau menjadi pria egois yang hanya bisa memilikimu dalam ketidakpastian," lanjut Zaki kembali menoleh, matanya menatap lurus, mengunci netra Naya yang mulai berkaca-kaca. "Aku ingin memilikimu secara utuh. Memilikimu dengan cara yang terhormat di hadapan dunia, di depan orang-orang yang meremehkan kita sekarang ataupun nanti, dan di hadapan Tuhan."

​Zaki menjeda kalimatnya sejenak, mengusap lembut jemari Naya demi menyalurkan seluruh kesungguhannya. ​"Sukses bagiku bukan cuma soal materi, Naya. Tapi tentang kesiapanku untuk menjadi sandaran yang kokoh buat kamu. Aku sedang berjuang memantaskan diri, membangun fondasi yang kuat, supaya nanti... saat aku meminta kamu mendampingi hidupku selamanya, tidak akan ada satu pun badai atau omongan orang yang bisa menggoyahkan kita. Jadi, tolong genggam tanganku sebentar lagi, ya?"

​Mendengar bait demi bait kesungguhan yang keluar dari bibir Zaki, keraguan yang sempat membayangi pikiran Naya menguap tanpa sisa. Kalimat itu bukan sekadar bualan manis, melainkan sebuah janji sakral dari seorang pemuda dewasa yang benar-benar menghargai masa depannya. Ia pun akhirnya tidak bisa menahan senyumnya yang terbit bersamaan dengan setitik air mata haru yang kembali meluncur di pipinya. Dan seketika itu juga, Zaki, sosok pemuda yang tak pernah ia bayangkan kehadirannya mengusap lembut wajahnya yang basah.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!