Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan
Setelah selesai makan malam. Dominic ke ruang kerja nya untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang tertinggal. Sedangkan istri dan anak nya sedang berada di kamar putranya.
Tapi Damian masih menggunakan kamar tamu karena kamar untuk nya sedang dalam tahap di renovasi.
Setelah selesai, Gegas Dominic menghampiri istri dan anak nya.
Tapi sesaat ia berhenti mendengar percakapan antara Isabella dan Damian.
"Mommy, apakah Mommy masih membenci Daddy?" Tanya Damian. Karena Damian melihat hubungan Daddy dan Mommy nya seperti formalitas saja.
Padahal Damian sangat ber-keinginan mempunyai keluarga harmonis. Tapi Damian tidak mau mengungkapkan isi hati nya.
"Sayang, Damian putra ku. Mommy tidak membenci Daddy. Dan kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya balik Isabella yang tentunya ia merasa heran.
"Hanya bertanya Mom" Jawab Damian apa ada nya.
"Sekarang Mommy yang bertanya sama Dami. Apa Dami senang sudah bertemu dengan Daddy?"
"Senang, Dami jadi bisa merasakan sosok Ayah. Dami juga Senang ada yang melindungi Mommy."
"Damian..." lirih Isabella.
Selama ini memang Damian tidak pernah menanyakan tentang Dominic dan siapa ayah kandung nya. Pernah sekali bertanya tapi ia hanya menjawab bahwa Daddynya bekerja sangat jauh. Terus ada hubungan rumit antara orang Dewasa yang tidak pernah di selesai kan.
"Dami terlalu kecil untuk melindungi Mommy. Apalagi dari Baron si Bos sombong itu."
"Oh putraku" Isabella langsung memeluk Damian dengan erat. Sangat terharu bagaimana pikiran Damian yang begitu Dewasa padahal usianya baru berumur lima tahun.
"Maafkan Mommy Nak." Tangis Isabella pecah. Isabella merasa dirinya adalah ibu yang buruk karena Damian sudah mempunyai pikiran Dewasa padahal belum waktu nya.
"Mom, berbahagialah bersama dengan Daddy. Dami melihat Daddy sangat sayang sama Mommy."
Dominic yang tentu jadi pendengar yang baik merasa ikut terharu bagaimana putranya yang begitu mencintai Isabella.
Dada nya seketika merasa nyeri jika mengingat dirinya yang tidak ada peran dalam kehidupan bagi anak nya selama lima tahun ini.
"Dami, kamu juga harus berbahagia nak. Mommy sangat mencintai kamu. Dami harus tahu bahwa Dami adalah kebagian Mommy."
"Tentu Mom. Kalau Mommy bahagia, Dami juga akan bahagia." Jawab Damian.
Tok...tok..tok...
Dominic mengetuk pintu, ia tidak tahan lagi mendengar percakapan yang hangat itu. Dominic ingin ikut bergabung.
"Kalian sedang apa para kesayangan Daddy?" Tanya Dominic dengan berpura-pura baru datang. Dominic langsung duduk di samping Isabella.
Isabella jadi berada di tengah.
"Tidak ada Dad. Hanya berbicara." Jawab Damian dan Isabella melepaskan pelukan nya.
Dominic tersenyum lalu menakup wajah istrinya.
Cup...
Cup...
Dominic mencium kedua mata istrinya yang telah mengeluarkan air matanya.
"Air mata istriku terlalu berharga." Dengan lembut Dominic menghapus air mata Isabella.
Damian yang melihat nya langsung tersenyum.
Hal itu membuat Isabella merasa bahagia tapi sekaligus merasa malu karena ini namanya kemesraan. Kemesraan di depan sang anak.
Habis itu, Dominic mengangkat Damian. Ia mencium wajah Damian sampai habis sehingga membuat Damian kesal. Tapi Damian juga merasa senang.
"Hentikan Dad, ini sangat geli. Lagi pula aku bukan anak kecil"
"Daddy tidak akan mau" Dominic membaringkan tubuh putranya lalu menggelitik Damian yang membuat Damian tentu saja tertawa terbahak-bahak.
Isabella yang melihat nya tersenyum. Melihat Damian yang tertawa lepas membuat Isabella tersadar bahwa selama ini Damian memang sangat jarang tertawa dengan nya.
Yang ada hanya kedewasaan.
Melihat pemandangan indah ini, Damian memang sangat membutuhkan sosok seorang Ayah.
"Maafkan Mommy Nak..." Batin Isabella.
"Daddy stop, Dami gak kuat lagi. Pleaseee Dad Hahahaha...."
"Hmmm baiklah anak Daddy yang tampan." Dominic berhenti menggelitik Damian. Tapi habis itu Dominic tak lupa mencium kembali wajah anak nya.
"Sudah Dom. Nanti Damian terbawa mimpi." Lerai Isabella.
Dominic benar-benar patuh. Dalam sekejap Dominic langsung menghentikan kegiatan nya.
"Terimakasih sudah menjaga Mommy selama kalian berdua yah Nak. Daddy sangat berterima kasih dengan Damian. Daddy juga sangat, sangat sayang Damian." Dominic mengungkapkan perasaan nya sebagai seorang Ayah.
Di rumah ini, Dominic menjadi pria biasa biasa saja. Pria yang penuh dengan cinta dan kehangatan. Seorang pria yang sudah menjadi seorang Ayah dan suami.
"Tentu saja Daddy harus berterima kasih kepada ku. Sebagai imbalan nya, Dami minta Komputer" Dengan nada sedikit sombong.
"Of course Son. Anything for you. Akan Daddy kabulkan." Gemas Dominic.
"Baiklah, Dami sudah waktunya tidur yah Nak." Ucap Isabella dengan tersenyum. Kehangatan Ayah dan anak itu benar-benar terasa hangat.
"Ok, Mom. Tapi Dami mau di temani Daddy dan Mommy sampai tertidur." Pinta Damian dengan berharap.
"Tentu saja. Daddy dan Mommy mu akan menemani kamu sampai tertidur." Jawab Dominic.
Damian langsung membenarkan dirinya dengan tidur di tengah-tengah. Dominic pun tanpa kata lagi langsung berbaring di samping Damian. Begitu pun dengan Isabella.
"Tidur lah Nak" Dominic pria dingin itu mengelus kepala Damian dengan penuh kasih sayang. Dominic merasa cinta nya semakin besar karena telah melahirkan penerus nya.
"Daddy, kapan aku bisa sekolah?" Tanya Damian tiba-tiba. Rasanya jika berlama-lama di dalam rumah tanpa melakukan apapun membosankan juga.
"Dua hari lagi. Anak buah Daddy sedang mengurus kepindahan kalian."
Isabella yang mendengar nya langsung melihat ke arah sang Suami. Dominic hanya mengedipkan sebelah matanya saat di pandang istrinya.
"Terimakasih Daddy" Ucap Damian yang perlahan mulai memejamkan matanya mengantuk. Apalagi seharian ini Damian bermain membuat nya cepet tertidur.
"Mimpi indah anak Daddy. Dari dulu kamu sangat Daddy nantikan."
Cup...
"Mimpi indah juga anak Mommy. Mommy sayang Damian."
Cup..
"Dia sudah tertidur, ayo kembali ke kamar." Ajak Dominic yang di angguki oleh Isabella. Bergegas Dominic dan Isabella keluar dari kamar Damian dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara.
Saat pintu kamar mereka sudah tertutup, Dominic tanpa aba-aba langsung memeluk Isabella dari arah belakang lalu mencium pucuk kepala wanita nya.
"Bella sayang" bisik Dominic dengan lirih. Seharian bekerja dengan penuh sampai menguras energi kini ia tidak rasakan lagi.
"Maafkan aku yang tidak bisa dengan cepet menemukan kalian." Kemudian Dominic membalikkan tubuh Isabella menghadap nya. " Terimakasih sudah mau melahirkan anakku sayang. Terimakasih sudah menjaga Damian dan mendidik nya dengan baik. Aku janji akan selalu membahagiakan kamu dan Damian. Maafkan aku atas apa yang ku perbuat."
Dominic, pria itu menahan perasaan sejak tadi untuk mengungkapkan kata Terimakasih kepada istrinya Isabella. Yang dimana ia harus berjuang membesarkan Damian sendiri. Tanpa dirinya.
"Damian juga anakku Dom. Seorang ibu akan melakukan apapun yang terbaik untuk anak nya" Jawab Isabella dengan tersenyum.
"Tapi kamu sangat luar biasa sayang" Dominic lalu mencium tangan Isabella dengan penuh cinta.
"Aku tahu itu. Makanya kamu harus membahagiakan ku seperti kata Damian."
"Tentu saja. Bahkan nyawaku pun akan ku berikan kepada mu." Dominic benar-benar menatap Isabella dengan penuh cinta. Seolah dunia ini memang berpusat hanya kepada istrinya saja.