Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama yang Penuh Duri
Malam telah larut merayap di atas kompleks Pesantren Al-Anwar. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dan selawat yang tadi siang bergemuruh di seantero pondok, kini telah berganti dengan keheningan yang mencekam. Di sebuah rumah kayu jati yang megah kediaman milik Abi dan Umi dari Gus Arsalan sebuah kamar pengantin telah disiapkan dengan begitu indah.
Aroma kelopak bunga mawar merah dan melati menyeruak, berbaur dengan wewangian kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan. Kamar itu begitu cantik, dihiasi kain-kain brokat putih dan ranjang besar bertirai marun yang anggun. Namun, bagi Ning Humaira, keindahan kamar ini tak lebih dari sebuah dekorasi sebuah sangkar emas yang siap mengurung kebebasannya.
Humaira duduk membeku di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun putih panjangnya, namun cadar yang tadi siang menutupi wajahnya kini sudah dilepas, diletakkan dengan rapi di atas meja rias. Wajah manisnya yang biasa dihiasi senyum ceria dan tawa lepas di depan sahabat-sahabatnya, malam ini tampak begitu pias. Matanya yang bulat sepasang binar yang biasanya teduh kini meredup, menyiratkan ketakutan, kebingungan, dan rasa lelah yang luar biasa.
Di pondok pesantrennya sendiri, Humaira dikenal sebagai sosok Ning yang mandiri, bahkan cenderung "bar-bar" dan ceplas-ceplos jika sudah berada di lingkaran orang terdekatnya. Namun malam ini, semua ego dan topeng ketangguhannya runtuh. Di kamar ini, dia hanyalah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menyerahkan seluruh sisa hidupnya kepada seorang pria asing melalui selembar kertas akad.
Cklek.
Suara knop pintu yang berputar membuat jantung Humaira mencelos. Tubuhnya menegang seketika.
Gus Arsalan melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan jas beskap pengantinnya, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan dada bidangnya yang tegap. Perawakan tinggi tegap bak model panggung Paris itu bergerak dengan langkah yang teramat santai, namun memancarkan aura dingin yang membekukan atmosfer di dalam kamar. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas menatap lurus ke depan, sama sekali tidak melirik ke arah Humaira yang duduk gemetar di ujung tempat tidur.
Arsalan berjalan menuju meja, meletakkan jam tangan mewahnya dengan ketukan yang terdengar nyaring di tengah kesunyian. Ia menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar penuh beban dan kepasrahan yang dipaksakan.
Humaira meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Sesuai ajaran ummahnya, ia harus menyambut suaminya dengan takzim. Dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dada, Humaira memberanikan diri untuk berbicara.
"Gus... mau kulo bantu lepaskan kemejanya? Atau... Njenengan mau kulo siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Humaira, mencoba menggunakan bahasa krama inggil yang sehalus mungkin, wujud rasa hormatnya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.
Arsalan tidak langsung menjawab. Pria itu membalikkan badannya perlahan. Sepasang mata elang milik Arsalan menatap Humaira. Tatapan itu begitu tajam, namun kosong dari rasa hangat. Tidak ada binar kagum melihat kecantikan Humaira yang malam ini begitu bersinar. Yang ada hanyalah jarak sejauh ribuan mil, seolah ada dinding kaca raksasa yang memisahkan jiwa mereka.
Arsalan melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Humaira yang mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Humaira," suara Arsalan terdengar datar, berat, dan teramat tenang. Namun ketenangan itulah yang justru terasa mencekik. "Pernikahan ini terjadi karena kepatuhan saya pada Abi dan Umi. Dan saya tahu, kamu pun berada di sini karena titah dari Abahmu."
Humaira menahan napasnya. Dadanya mulai terasa sesak.
Arsalan menatap lurus ke dalam manik mata Humaira, sebelum kalimat yang paling ditakuti oleh setiap wanita di malam pertamanya meluncur tanpa belas kasihan dari bibirnya yang dingin.
"Saya akan memenuhi seluruh kebutuhan lahirmu, Humaira. Rumah ini, pakaian, uang, dan segala fasilitas materi yang kamu butuhkan sebagai seorang istri dari seorang Gus, tidak akan pernah saya kurangi sepeser pun. Tugas saya memberi nafkah lahir akan saya tunaikan dengan sempurna sebagai kewajiban saya kepada Allah."
Arsalan mengambil jeda sesaat, menatap lekat wajah pias di depannya dengan kilatan rasa bersalah yang langsung ia tepis dengan ego.
"Tapi tidak dengan batinmu. Jangan pernah meminta hati saya, jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu, dan jangan pernah menuntut kasih sayang seorang suami dari saya. Karena nafkah batin itu... tidak akan pernah bisa saya berikan untukmu. Hati saya sudah mati di London, dan pemiliknya bukan kamu."
Deg.
Bagai dihantam godam tak kasat mata tepat di ulu hatinya, pertahanan Humaira runtuh seketika. Kalimat itu begitu singkat, diucapkan dengan intonasi yang lembut, namun dampaknya sanggup menguliti dan mencabik-cabik harga diri Humaira hingga menjadi serpihan yang tak berbentuk lagi. Sakitnya begitu perih, menyayat tanpa mengeluarkan setetes darah pun.
Humaira merasakan dadanya seperti dihimpit batu besar, membuatnya kesulitan untuk sekadar menarik napas. Air mata yang sejak tadi siang ia tahan mati-matian, kini tumpah tak terbendung, mengalir deras membasahi pipi manisnya. Bibirnya bergetar hebat, ingin membantah, ingin berteriak menanyakan mengapa dia harus menanggung hukuman atas cinta masa lalu suaminya, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Arsalan yang melihat air mata itu menetes, sempat tertegun selama beberapa detik. Ada dorongan naluriah di dalam dirinya untuk menghapus air mata di pipi istrinya, namun bayangan wajah Evelyn—wanita yang menangis di balik cadar hitam di sudut masjid tadi siang—kembali melintas di pikirannya. Rasa bersalah karena telah mengkhianati janji cintanya pada Evelyn di London membuat Arsalan mengeraskan hatinya kembali. Ia menarik mundur jaraknya, berbalik memunggungi Humaira.
"Saya akan tidur di sofa. Kamar mandi silakan kamu pakai duluan," ucap Arsalan dingin, sebelum melangkah pergi menuju sofa panjang yang terletak di sudut kamar, membawa sebiji bantal dan selimut tipis.
Humaira ditinggalkan sendirian di atas ranjang pengantin yang luas dan penuh bunga melati itu. Begitu punggung Arsalan menjauh, Humaira langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia tidak ingin tangisnya terdengar hingga ke luar kamar, ia tidak ingin membuat Umi dan Abi yang mungkin berada di ruang tengah mendengar bahwa malam pertama putra-putri mereka dipenuhi dengan luka.
Tubuh Humaira merosot dari ranjang, terduduk di atas lantai yang dingin bersandarkan pinggiran tempat tidur. Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan membiarkan seluruh rasa sakit, kehinaan, dan penolakan itu tumpah dalam tangis yang terisak-isak tanpa suara.
Malam pertama yang seharusnya menjadi malam paling suci dan penuh berkah dalam hidup seorang wanita, justru menjelma menjadi malam penuh duri yang menyayat hati terdalam Ning Humaira. Di dalam kamarnya sendiri, di bawah atap pesantren yang suci, ia meratapi nasibnya yang kini berstatus sebagai seorang istri yang halal, namun selamanya akan tetap dianggap asing oleh suaminya sendiri.