Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Dira tersenyum tipis. "Maaf mengganggu."
"Untuk kamu, pintuku selalu terbuka." Beri menuangkan dua cangkir kopi, lalu meletakkan salah satunya di depan Dira. "Nah, sekarang ceritakan. Ada apa?"
Dira terdiam beberapa saat. Tatapannya kosong, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat. "Kak..."
"Hm?"
"Menurut Kakak..." Dira menarik napas pelan. "...kalau kita mengetahui sebuah perselingkuhan, apakah kita harus memberitahukannya?"
Beri tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati wajah Dira dengan saksama. "Apakah sekarang kamu melihat aku sebagai konsultan cinta?" Beri mencandai Dira. Saat Dira merajuk, barulah Beri kembali serius. "Itu pertanyaan yang berat."
"Iya."
"Jawabannya tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung apa yang sebenarnya kita ketahui." Dira mengernyit. "Kalau kita hanya melihat sekilas atau mendengar dari orang lain, belum tentu itu perselingkuhan. Bisa saja ada penjelasan yang tidak kita tahu."
Dira terdiam.
Beri melanjutkan, "Tapi kalau kita benar-benar memiliki bukti yang jelas bahwa seseorang sedang dikhianati..." Ia berhenti sejenak. "...menurutku, orang itu berhak mengetahui kebenarannya."
Dira menundukkan pandangan. "Meski itu bisa menghancurkan hubungan mereka?"
Beri mengangguk pelan. "Kejujuran memang bisa menyakitkan. Tapi kebohongan yang dibiarkan biasanya akan melukai lebih dalam ketika akhirnya terbongkar."
Dira menggenggam cangkir kopinya. "Jadi... Kakak akan memberitahukannya?"
Beri tersenyum tipis. "Aku akan memastikan dulu semua faktanya. Aku tidak mau menghancurkan hubungan seseorang hanya karena prasangka."
"Kalau ternyata benar?"
"Kalau benar, aku akan mencari cara yang paling bijaksana untuk menyampaikannya. Bukan karena ingin merusak hubungan mereka, tetapi karena setiap orang berhak mengambil keputusan berdasarkan kebenaran." Ruangan kembali hening. Beri kemudian menatap Dira dengan rasa penasaran. "Memangnya kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?"
Dira tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Tidak apa-apa. Hanya sedang memikirkan sesuatu."
Beri mengangguk, meski ia merasa Dira sedang menyembunyikan sesuatu. Namun ia memilih tidak memaksa. Ia percaya, jika waktunya tiba, Dira akan menceritakan semuanya sendiri.
***
Sore itu, Dira datang ke salon milik Bu Monik untuk meninjau peluncuran produk perawatan terbaru yang akan dipasarkan bersama Dira Skincare.Seperti biasa, salon itu ramai oleh pelanggan.
Beberapa karyawan langsung menyapa Dira dengan ramah. "Selamat sore, Bu Dira."
"Sore." Dira membalas sambil tersenyum, lalu berjalan menuju ruang konsultasi Bu Monik.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang baru saja keluar dari ruang perawatan. Mayang. Perempuan itu juga tampak terkejut melihat Dira. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum ramah dan menghampiri. "Sepertinya kita sering sekali bertemu."
Dira membalas senyum itu dengan sopan. "Ya, sepertinya memang begitu."
Mayang tertawa kecil. "Mungkin ini yang namanya jodoh pertemanan."
Dira hanya tersenyum tipis.
Mayang kemudian berkata, "Oh ya... kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?"
Dira menatapnya.
"Aku ingin mentraktirmu kopi." Ajakan itu terdengar tulus. "Aku perhatikan kamu tak punya teman selain rekan bisnis, barangkali kita bisa jadi teman."
Namun Dira belum siap berbincang santai dengan perempuan yang kini menjadi kekasih Adrian. Ia masih memiliki terlalu banyak pertanyaan di dalam pikirannya. Dira tersenyum sopan. "Maaf."
Mayang menunggu jawabannya.
"Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadwalku cukup padat hari ini."
Raut wajah Mayang sempat menunjukkan sedikit kekecewaan, tetapi ia segera mengangguk. "Tidak apa-apa. Mungkin lain kali."
"Semoga begitu." Dira mengangguk kecil sebagai salam perpisahan. "Permisi." Ia kemudian berjalan memasuki ruang kerja Bu Monik tanpa menoleh lagi.
Mayang memandangi punggung Dira yang semakin menjauh. Entah mengapa, ia merasa perempuan itu sengaja menjaga jarak darinya.
Sementara di sisi lain, Dira memilih menghindari percakapan tersebut. Baginya, sebelum mengetahui siapa sebenarnya Mayang, menjaga batas adalah pilihan yang paling aman.
Mayang terus terngiang di benak Dira. Ia tidak bisa memungkiri satu kenyataan. Mayang bukan perempuan biasa. Ia berasal dari keluarga konglomerat yang telah lama dikenal di kalangan elite. Sejak kecil, Mayang tumbuh dalam lingkungan yang sama dengan Adrian. Ia terbiasa menghadiri jamuan makan resmi, berbicara dengan para pengusaha besar, dan bergaul dengan keluarga-keluarga berpengaruh.
Sementara Dira... Meski kini telah memiliki perusahaan, pabrik, dan apartemen mewah, ia tetap merasa ada jurang yang memisahkan dirinya dengan Mayang. Jurang itu bukan hanya soal uang. Melainkan latar belakang.
Mayang lahir dalam kemewahan. Sedangkan Dira lahir di sebuah gubuk berdinding kardus. Mayang dibesarkan dengan pendidikan terbaik. Sedangkan Dira baru belajar membaca ketika usianya menginjak enam belas tahun.
Dira mengembuskan napas panjang. "Aku masih kalah..." Kalimat itu keluar begitu saja. Ia sadar dirinya telah bekerja keras selama bertahun-tahun. Namun di hadapan keluarga-keluarga konglomerat, ia masih merasa sebagai orang yang baru belajar memasuki dunia mereka.
Meski begitu, Dira tidak membiarkan rasa rendah diri menguasainya. Ia menatap bayangannya di kaca mobil. "Dulu aku bahkan tidak punya kesempatan untuk bermimpi. Sekarang aku sudah berdiri di titik ini." Ia mengepalkan tangannya. "Kalau ada satu hal yang tidak bisa kupilih, itu adalah dari keluarga mana aku dilahirkan. Tapi aku bisa memilih akan menjadi perempuan seperti apa."
Pikiran itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya. Mungkin ia belum memiliki nama keluarga sebesar Mayang. Namun semua yang dimilikinya hari ini dibangun dengan kerja keras, keberanian, dan tekad yang tidak pernah padam. Dan Dira berjanji pada dirinya sendiri. Suatu hari nanti, ketika namanya disebut di dunia bisnis, orang-orang tidak lagi mengenalnya sebagai gadis yang berasal dari kawasan kumuh. Mereka akan mengenalnya karena prestasi yang ia ciptakan dengan kedua tangannya sendiri.
***
Sejak resmi masuk ke lingkaran bisnis Maulana Group, Dira semakin menyadari betapa besarnya jarak yang masih harus ia tempuh. Di sekeliling Adrian berdiri para pengusaha yang sebagian besar merupakan pewaris kerajaan bisnis keluarganya. Sedangkan dirinya, Ia memulai semuanya dari titik nol. Bahkan bukan nol. Melainkan dari kehidupan yang penuh kekurangan.
Karena itulah, Dira memutuskan untuk bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Ia tidak ingin hanya dikenal sebagai pendiri Dira Skincare..Ia ingin membangun sebuah grup usaha yang mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar. Setiap keuntungan perusahaan kembali ia putarkan. Akuisisi menjadi strategi utamanya. Perusahaan-perusahaan kecil yang memiliki produk bagus tetapi kekurangan modal mulai ia dekati. Sebagian ia akuisisi. Sebagian lagi ia suntik modal dengan tetap membiarkan pendirinya mengelola perusahaan tersebut.
Dira percaya, mempertahankan orang-orang yang memahami bisnisnya jauh lebih baik daripada mengganti semuanya. Di saat yang sama, ia juga mulai aktif berinvestasi. Bukan hanya di Maulana Group. Ia menanamkan modal di berbagai perusahaan yang menurutnya memiliki prospek jangka panjang. Mulai dari perusahaan teknologi, makanan dan minuman, logistik, hingga jaringan ritel.
Portofolio investasinya terus bertambah dari tahun ke tahun. Banyak orang mulai menyadari bahwa Dira tidak lagi sekadar membangun satu perusahaan. Ia sedang membangun sebuah kerajaan bisnis. Media menjulukinya sebagai salah satu investor muda paling agresif di Indonesia.