Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Ratih
Wajah Bagus berubah pucat.
Pesan dari Narti itu hanya satu baris, tetapi cukup membuat tangan Bagus dingin sampai pagi. Ia tidak membalas. Ia menghapus notifikasi dari layar depan, lalu memasukkan ponsel ke saku seperti orang menyembunyikan pisau.
Bu Yati melihat wajah anaknya saat sarapan, tetapi ia tidak bertanya. Bagus pandai berbohong. Kalau ia mendesak sekarang, anak itu akan membuat cerita yang rapi. Bu Yati memilih menyimpan kecurigaan di tempat yang sama dengan daftar utang keluarga ini.
Beberapa hari berikutnya, rumah tidak pernah benar-benar tenang.
Tari mulai belajar berani keluar ke warung sendirian, tetapi selalu menoleh setiap mendengar motor berhenti. Melati demamnya turun, namun masih sering memegang kepala kalau suara orang terlalu keras. Ratih justru makin mudah marah. Setiap Melati minta minum, wajahnya seperti diminta membayar utang besar.
"Anak itu sakit sedikit semua orang heboh," gerutunya suatu pagi.
Bu Yati yang sedang menjemur kain menoleh. "Kalau yang sakit anak laki-laki, kamu pasti sudah teriak satu kampung."
Ratih tidak menjawab, hanya membanting gayung.
Seminggu setelah Tari pulang, Ratih mengeluh perutnya sakit. Awalnya ia mengira masuk angin. Lalu kainnya basah oleh darah. Bagus mengangkatnya ke motor dengan wajah tegang, sementara Bu Yati membawa Melati dan Tari menyusul ke RSUD.
Di ruang tunggu, dokter mengatakan kandungan Ratih tidak tertolong.
Bu Yati terdiam. Ia baru tahu Ratih hamil. Bagus pun tampak seperti baru ditampar dari arah yang tidak ia lihat. Ratih menangis keras, tetapi tangis itu segera berubah menjadi tuduhan.
"Ini gara-gara rumah ini!" jeritnya. "Gara-gara semua orang bikin aku stres!"
Bagus menatap lantai.
Bu Yati duduk di dekat Melati, menutup telinga anak itu dengan kedua tangan. Melati tidak mengerti kata kandungan, tetapi ia mengerti nada ibunya. Tubuh kecilnya gemetar.
"Jangan teriak di depan anakmu," kata Bu Yati.
Ratih tertawa pahit. "Anak perempuan itu lagi? Dari dulu semua orang cuma lihat dia."
Bagus akhirnya mengangkat kepala. "Cukup, Tih."
"Kamu juga diam saja. Suami macam apa?"
Bu Parmi, ibu Ratih, datang sore itu dengan wajah penuh air mata yang terlalu cepat berubah menjadi hitungan. Ia memeluk Ratih, lalu menatap Bagus.
"Anak saya sampai keguguran begini. Keluarga kalian harus tanggung jawab."
Bu Yati berdiri. "Kami tanggung biaya rumah sakit sesuai kewajiban. Tapi jangan pakai darah cucu yang belum lahir untuk memeras."
Bu Parmi tersinggung. "Mulutmu tajam sekali, Bu Yati. Anak saya kehilangan bayi."
"Dan cucuku yang hidup masih sering kamu anggap beban."
Melati merapat ke Tari. Tari mengelus punggungnya pelan. Di wajahnya ada rasa takut yang ia kenal dari Desa Karanganyar: perempuan disuruh diam, lalu kesalahannya tetap dicari.
Ratih dirawat beberapa hari. Di sanalah ia bertemu Harjo, laki-laki yang sering datang menjenguk pasien di bangsal sebelah. Harjo tidak tampan mencolok, tetapi pandai bicara. Ia selalu tahu kapan menawarkan air mineral, kapan memuji Ratih kuat, kapan berkata bahwa perempuan cantik seharusnya tidak disia-siakan.
Bu Yati melihat dari jauh sekali. Ia tidak punya bukti. Hanya ada pandangan yang terlalu lama, senyum yang disembunyikan saat Bagus lewat, dan cara Ratih tiba-tiba merapikan jilbab kalau mendengar sandal Harjo di lorong.
Bagus juga melihat.
Malam itu ia berdiri di parkiran RSUD dengan rokok yang tidak dinyalakan. Bu Yati menghampirinya.
"Kamu tahu?"
Bagus tertawa tanpa suara. "Aku tidak buta, Bu."
"Mau kamu apakan?"
"Kalau aku ribut, nama Melati ikut rusak. Orang akan bilang ibunya begitu, anaknya nanti bagaimana."
Bu Yati menatap anak laki-lakinya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kecerdikan Bagus dipakai bukan hanya untuk keuntungan diri sendiri, tetapi juga untuk menahan luka agar tidak menimpa anaknya.
"Kalau kamu ingin cerai, urus baik-baik."
Bagus menunduk. "Belum sekarang."
Bu Yati tidak tahu bahwa di dalam saku Bagus, pesan Narti masih terus masuk seperti tetesan air yang membuat batu retak.
Puncaknya terjadi dua malam kemudian.
Ratih yang seharusnya istirahat di bangsal ditemukan di lorong dekat ruang obat, tubuhnya dipeluk Harjo. Bukan pelukan saudara, bukan orang menolong pasien jatuh. Istri Harjo datang dengan dua kerabat perempuan dan langsung menjerit.
"Perempuan tidak tahu malu!"
Bangsal rumah sakit berubah menjadi pasar. Perawat berusaha melerai. Pasien lain menoleh dari tirai. Bu Parmi berteriak membela anaknya. Ratih menangis, tetapi tangan Harjo masih sempat ia lepaskan dengan panik.
Bagus datang beberapa menit kemudian.
Semua orang menunggu ia meledak.
Ia justru berjalan pelan, melepas jaket, lalu berdiri di samping Ratih.
"Istri saya baru kehilangan kandungan," katanya dengan suara rendah. "Dia lemah. Jangan sembarang tuduh."
Ratih menatapnya, terkejut.
Istri Harjo menunjuk wajah Bagus. "Kamu suami bodoh? Matamu ditaruh di mana?"
Bagus menunduk sebentar, lalu menatap orang-orang di lorong. "Kalau ada yang mau bicara, bicara pakai bukti. Jangan hancurkan nama perempuan di rumah sakit."
Kalimat itu membuat beberapa orang terdiam. Bu Yati mendengar nada lain di bawahnya. Bagus bukan memaafkan. Ia sedang menutup lubang agar Melati tidak jatuh ke dalamnya.
Namun ia tidak diam sepenuhnya.
Keesokan harinya, bisik-bisik menyebar bukan tentang Ratih yang genit, melainkan tentang Bu Parmi yang dulu sering menyuruh anaknya "pintar memanfaatkan wajah" kalau butuh uang. Entah siapa yang memulai, tetapi cerita itu sampai ke warung, parkiran, bahkan telinga keluarga Harjo.
Bu Parmi panik. Ratih marah besar.
"Mas yang sebar?" tanya Ratih dengan mata bengkak.
Bagus duduk di kursi, mengupas jeruk untuk Melati. "Aku tidak sebut namamu."
"Tapi semua orang tahu!"
"Kalau sakit, jangan main api di rumah sakit."
Ratih menamparnya.
Bagus tidak membalas. Ia hanya menatapnya lama, lalu berkata, "Setelah kamu pulih, kita bicara soal rumah ini. Soal Melati."
Ratih tertawa tajam. "Ambil saja anak perempuanmu itu. Aku capek."
Melati yang berdiri di pintu mendengar semuanya.
Tari cepat menutup telinga anak itu, tetapi terlambat. Mata Melati penuh air. Ia tidak menangis keras. Ia hanya memegang ujung baju Tari dan berbisik, "Mak nggak mau Mel?"
Tari memeluknya sampai wajah anak itu tenggelam di dadanya.
Beberapa hari kemudian, Ratih diizinkan pulang. Bu Parmi menjemputnya dengan wajah masam. Bagus tidak ikut masuk ke ruang perawat. Ia menunggu di depan RSUD, menahan rokok di antara jari.
Ratih keluar lebih dulu, berjalan cepat seolah ingin meninggalkan semua orang. Di seberang jalan, istri Harjo muncul bersama bapaknya Harjo. Suasana langsung menegang. Ada teriakan. Ada tuduhan. Ada Ratih yang membalas dengan kata-kata kasar.
Bu Yati yang baru turun dari angkot bersama Tari melihat kerumunan itu dari jauh.
"Ratih!" teriak Bagus.
Ratih menoleh.
Pada saat itulah bapak Harjo bergerak dari belakang. Tidak ada adegan panjang. Hanya satu hentakan kayu, teriakan orang-orang, dan tubuh Ratih jatuh ke aspal.
Waktu seperti berhenti.
Bu Yati menarik Tari agar tidak mendekat. Bagus berlari. Bu Parmi menjerit sampai suaranya pecah. Petugas keamanan RSUD dan warga menahan bapak Harjo sebelum ia bisa pergi. Polisi datang tidak lama kemudian.
Ratih meninggal sebelum ambulans sempat membawanya masuk kembali ke IGD.
Kabar itu jatuh ke keluarga seperti batu besar.
Di kantor polisi, bapak Harjo mengaku emosi karena merasa keluarganya dipermalukan. Ia langsung ditahan. Orang-orang berkata hukuman berat menantinya. Tapi semua kalimat itu tidak bisa mengubah satu kenyataan: Melati pulang ke rumah tanpa ibu.
Saat jenazah Ratih disemayamkan, Bu Parmi duduk di samping kain putih dengan mata merah. Begitu melihat Bagus, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya bukan tentang Melati.
"Uang ganti ruginya nanti berapa?"
Ruangan itu mendadak dingin.
Bu Yati menatap perempuan itu. "Anakmu baru meninggal."
Bu Parmi menangis lagi, tetapi suaranya tetap menyelipkan hitungan. "Saya ini ibunya. Saya yang rugi paling besar."
Bagus berdiri diam. Wajahnya kosong. Melati memegang tangannya, tidak paham kenapa banyak orang menangis tapi tidak ada yang memeluknya.
Bu Yati berjongkok di depan cucunya. "Mel, sini sama Mbah."
Melati menatap kain putih itu. "Mak tidur?"
Tidak ada jawaban yang tidak menyakitkan.
Bu Yati menarik anak itu ke pelukan. Melati akhirnya menangis, kecil, tertahan, seperti takut dimarahi karena terlalu berisik bahkan di hari ibunya pergi.
Bagus melihatnya lama. Bibirnya bergerak beberapa kali sebelum suara keluar.
"Sekarang Melati cuma punya aku."
Bu Yati mengangkat mata. "Kalau begitu jadilah bapak yang benar."
Bagus mengangguk pelan.
Malam sebelum pemakaman, Melati tidak mau tidur di kamar. Ia duduk di dekat pintu, memeluk boneka kain lusuh yang dulu jarang disentuh Ratih. Setiap orang lewat, ia menoleh, seperti masih menunggu ibunya pulang dan memarahi semua orang agar berhenti menangis.
Bagus duduk di lantai di sampingnya.
"Mel," katanya serak, "kalau nanti kamu takut, bilang ke Bapak."
Melati menatapnya lama. "Bapak jangan pergi malam-malam?"
Pertanyaan itu lebih tajam daripada tuduhan orang dewasa. Bagus menunduk, lalu mengangguk.
"Bapak usahakan."
Bu Yati mendengar kata usahakan itu dan tidak puas, tetapi ia membiarkan. Untuk laki-laki seperti Bagus, janji pertama sering masih pincang. Yang penting, mulai hari ini Melati punya hak menagih.
Hari pemakaman berlangsung suram. Hujan tipis turun saat tanah terakhir diratakan. Orang-orang berbisik tentang dosa, malu, karma, dan uang santunan. Bu Yati menutup telinga Melati dari kata-kata yang tidak pantas didengar anak kecil.
Saat semua orang mulai pulang, ponsel Bagus bergetar lagi.
Ia membuka layar di balik pohon kamboja.
Narti: Kapan kamu mau tanggung jawab?
Bagus memasukkan ponsel ke saku.
Di wajahnya, duka dan dosa berdiri berdampingan.