NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Apa yang Akan Dilakukannya Nanti?

Karena Moiro dan Mika ingin pergi ke Taman Hiburan yang jaraknya bisa dibilang cukup lama jika ditempuh dengan berjalan kaki, jadi mereka memutuskan untuk pergi menaiki kereta—dan memang, tempat mereka bertemu dekat dengan stasiunnya.

Mereka akhirnya masuk ke dalam gerbong kereta, lalu duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia. Beruntung, saat itu kereta cukup sepi dan lengang.

Keduanya duduk bersebelahan, meski sedikit berjarak, tapi itu sudah cukup untuk membuat jantung Mika berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

Melihat Mika yang nampak tegang, Moiro pikir dia sedang gugup karena suatu alasan. Jadi, ia memutuskan untuk mengajaknya berbincang-bincang santai sembari menunggu kereta yang ditumpangi sampai di stasiun yang berada dekat dengan Taman Hiburan.

Mereka berdua pun berbincang dan Mika perlahan kembali menjadi lebih santai.

Sementara itu, si penguntit yang juga sudah memulai kisahnya berada tak jauh dari mereka. Matanya terus melirik ke arah mereka yang sedang duduk berduaan.

Ryuji telah memasang topengnya kembali—masker, kacamata hitam, dan topi—agar tidak dicurigai.

Kalo itu... aku ragu sih.

Di sampingnya, Yuka, terlihat kadang curi-curi pandang ke arah Ryuji. Pipinya yang memerah menandakan begitu malu-malunya dirinya.

Tapi, Yuka sama sekali tidak sadar kalau ada Moiro dan Mika di gerbong yang sama dengan mereka.

Selama di perjalanan, kedua pasangan itu tak saling bertemu, sampai akhirnya kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun yang ditentukan.

Mereka turun dari kereta melewati pintu yang berbeda. Ryuji sengaja melakukan itu untuk menghindari bertemu dengan Moiro dan Mika, juga agar keberadaan mereka tidak disadari.

Moiro dan Mika berjalan keluar, berbincang sebentar sebelum keduanya pergi menuju luar stasiun.

Ryuji masih mengikuti mereka, sementara Yuka hanya mengikuti Ryuji dari belakang tanpa mengetahui akan dibawa ke mana.

.........

Akhirnya, Moiro dan Mika pun sampai di Taman Hiburan.

Mereka saling bertatapan dengan senyum halus, lalu segera masuk ke dalam bersama.

Setelah melewati gerbang masuk, mereka semakin terkesima melihat pemandangan di depan mereka. Banyaknya pengunjung berbagai usia dan hal lain yang membuat mata mereka terpaku.

Ada banyak kios kecil yang menjual makanan. Ada juga kios yang khusus untuk bermain. Tak lupa juga, berbagai wahana seperti bianglala, komidi putar, hingga kereta luncur atau yang lebih dikenal dengan roller coaster juga tak kalah menarik.

Tapi, yang membuat Mika penasaran dan ingin datang ke taman hiburan itu adalah wahana baru, yaitu Rumah Hantu.

Katanya, para hantu di tempat itu tak hanya menakut-nakuti pengunjung, tetapi juga bisa mengejar bahkan menangkap mereka. Itulah yang membuat ketegangan semakin membludak, dan Mika tertarik merasakan sensasi ketakutan seperti itu.

Mengetahui Mika sangat terobsesi ingin mencobanya, Moiro seketika merasa cemas. Bagaimana tidak? Meski dirinya tidak terlalu takut dengan hantu, tapi jika dikagetkan lalu dikejar, itu sudah beda cerita.

Perumpamaannya itu sama ketika bertemu kecoak. Jika kecoak itu diam, tidak begitu mengganggu. Tapi kalo sudah terbang? Berakhir sudah ketenangan hakiki.

Apalagi pas terbang malah nyamperin ye kan? Ngerinyoo...

Tapi sebelum mereka pergi ke tempat itu, keduanya menyempatkan diri untuk berkeliling dan mencoba stand-stand toko yang ada.

Ryuji—yang sudah melepas masker tapi membiarkan sisanya—juga mencoba-coba berbagai hal di toko-toko kecil itu bersama Yuka sembari terus memerhatikan keduanya dari jarak yang dirasa aman.

Saat itu, Yuka tidak sadar akan tujuan Ryuji yang sebenarnya. Dia mengira kalau Ryuji datang ke sini memang untuk jalan-jalan, bukan untuk hal lain—meski sebelumnya sempat curiga—dan dia merasa senang karena bisa ikut dengannya.

Saat itu, Moiro mulai merasa aneh. Ia merasa kalau dirinya sedang diperhatikan.

Moiro menoleh dan tak melihat siapa-siapa yang dirasa mencurigakan, karena di sana memang ada beberapa orang yang lalu-lalang dengan beragam jenis pakaian.

"Mungkin cuma perasaanku aja," pikir Moiro.

Melihat Moiro yang menatap ke arah lain membuat Mika bingung.

Dia menoleh—sedikit memiringkan kepalanya—menatap ke arah yang ditatap Moiro dengan ekspresi heran.

"Asahi? Kamu liat apa?" tanyanya kemudian.

Moiro sedikit tersentak, kembali menatap Mika lalu menjawab, "Tidak ada. Maaf."

Mika mengerjap, lalu tersenyum, "Kalo gak ada, ayo kita coba yang lain!"

Moiro tanpa sadar mengangkat ujung bibirnya tipis, kemudian mengangguk.

Mereka pun berjalan ke stand toko yang lain.

Mereka mencoba berbagai hal seperti makanan ringan, minuman segar yang manis, hingga beberapa permainan kecil yang menyenangkan.

Setelah merasa puas, keduanya duduk sejenak di kursi panjang untuk istirahat.

Mika bersenandung kecil saat mereka duduk bersebelahan dan cukup dekat, karena tempat duduknya tak sepanjang kursi di kereta. Suaranya juga terdengar merdu karena dia anggota ekskul musik.

Pipi Mika tampak merona samar dengan senyuman tipis yang manis saat dirinya bersenandung.

Melihat itu, entah kenapa Moiro merasa sedikit deg-degan. Ia baru sadar kalau Mika terlihat cantik dan manis jika diperhatikan lebih jelas.

Mika menoleh tiba-tiba sambil terus tersenyum lalu berucap, "Aku gak sabar mau nyobain Rumah Hantunya. Kalo kamu, Asahi?"

"Eh? Kalau aku..." jawabnya pelan, sempat terkejut karena Mika yang menoleh tiba-tiba.

Moiro sempatkan berpikir sejenak. Dua jarinya memegang dagu saat itu.

Di sampingnya, Mika tampak sangat antusias menunggu jawaban darinya.

Akhirnya, Moiro memutuskan jawabannya. Ia menatap Mika lalu menjawab sambil tersenyum tipis, "Aku menantikannya."

Mata Mika kembali membulat, juga sedikit bercahaya. Senyuman Moiro, itu adalah hal langka yang selalu dinantikannya.

Mika ikut tersenyum lalu membalas, "Ayo kita bersenang-senang!"

Moiro tak membalas lebih. Ia hanya mengangguk pelan, namun itu cukup untuk membuat suasananya semakin hangat dan nyaman.

Sementara itu, tak jauh dari tempat mereka duduk, Ryuji terlihat mengerutkan kening saat menatap mereka yang terlihat sudah sangat dekat.

Ryuji menatap ke samping—melihat Yuka yang sedang membeli sesuatu di salah satu stand—lalu kembali menatap ke arah mereka.

"Aku tak bisa memotret mereka kalo ada Yuka di sampingku..." ujarnya dalam hati.

Beneran menguntit itu namanya!

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di pikirannya.

Ryuji tersenyum, sedikit mengerikan untuk seseorang yang menemukan ide brilian di pikirannya.

"R-Ryuji..." panggil Yuka pelan tiba-tiba. Dia masih belum terbiasa memanggil nama depan, dan masih merasa malu melakukannya.

Ryuji menoleh, dan melihat Yuka menghadap ke arahnya sambil membawa beberapa cemilan yang unik.

Yuka mengarahkan salah satu cemilan yang dibelinya pada Ryuji, ingin memberikannya. Wajahnya tampak merah saat melakukannya.

Yuka memalingkan wajahnya pelan, lalu berkata dengan malu, suaranya terdengar bergetar halus, "A-Aku sebenarnya gak sengaja beli banyak, jadi..."

Yuka menyodorkannya cepat, "Jadi aku kasih ke kamu aja!"

Ryuji tersentak, tersenyum lebar saat mengetahuinya.

"Wih! Beneran?" tanyanya memastikan dengan mata berkilau menatap cemilan di depannya.

"Be-Bener kok... Cepetan ambil!" jawab Yuka cepat.

Ryuji pun mengambilnya lalu tersenyum, "Terima kasih, ya!"

Degup!

Jantung Yuka kembali berdetak kuat. Bibirnya mengerucut seketika itu.

"Ta-Tapi ingat ya! Ini karena aku kelebihan beli, bukan karena pengen ngasih!" sahutnya cepat sambil menunjuk.

Ryuji menatap cemilan itu sambil membalas, "Iya, iya. Pokoknya aku berterima kasih."

"Bentar. Kalo Yuka sebaik ini, aku jadi gak tega ninggalin dia," ucap Ryuji dalam hatinya merasa tak enak, lalu menatap Yuka yang terlihat malu-malu, "Mungkin aku perlu ganti rencana."

Parah! Ternyata rencananya mau gitu.

"Yuka," panggil Ryuji tiba-tiba.

Yuka tersentak saat namanya dipanggil, lalu menoleh cepat.

Ryuji berpose maaf dengan satu tangan di depan sambil menundukkan kepalanya, "Aku minta maaf banget, tapi aku kepengen ke toilet sekarang. Kau tunggu di sini bentar, ya."

"Nah, kalo gini kan gak masalah," lanjutnya dalam hati.

Mendengar itu, Yuka terlihat sedikit sedih karena akan ditinggal sendiri. Tapi yang namanya kebelet tak bisa ditahan-tahan.

Yuka pun mengangguk pelan lalu membalas, "Ya udah. Tapi jangan lama-lama."

Dia memalingkan wajahnya enggan, pipinya sedikit menggembung, "Bukan berarti karena aku khawatir padamu atau apa ya!"

Ryuji hanya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya, "Tentu saja!"

Ryuji mengembalikan jajanan sebelumnya pada Yuka untuk dijaga sebentar, lalu berlari kecil sambil melambai pelan pada Yuka.

Sementara Yuka, dirinya hanya mengangguk pelan karena tangannya cukup penuh dengan jajanan.

Ryuji akhirnya terbebas dari pandangan Yuka. Dia langsung mencari posisi dan sudut yang pas untuk memotret Moiro dan Mika yang masih duduk di kursi panjang itu.

Ryuji bersembunyi di belakang mereka—di rerumputan, cukup jauh.

Kepalanya nonggol dari persembunyiannya, tersenyum jahat, lalu mengangkat ponselnya yang sudah siap memotret.

Dia tersenyum lebar sambil menatap layar ponselnya sambil berucap dalam hati, "Dengan ini, aku bisa jahilin mereka di sekolah ntar...!"

Kelakuan setan.

Ryuji mulai mengarahkan kameranya, lalu segera memotret.

Saat itu, Moiro dan Mika tepat sedang saling menatap dan...

Cekrek.

Sebuah foto berhasil diabadikan.

Foto Moiro yang tersenyum tipis dan Mika yang tersenyum lebih lebar saling bertatapan. Keduanya berada di bawah sinar matahari yang menerangi keduanya seperti disorot lampu di sebuah panggung. Sangat indah.

^^^>Ilustrasi dari AI.^^^

Alamak! Boleh juga.

Ryuji terdiam terpaku menatap hasil jepretannya. Dia tak menyangka hasil fotonya malah sebagus itu.

Tapi, dirinya kembali tersenyum, sudah tak memedulikan hasil fotonya.

"Satu foto sudah kuambil," bisiknya dalam hati, lalu kembali menatap mereka.

Dia ingin mengambil foto yang lain, tapi Moiro malah berbalik.

Ryuki sigap menunduk, bersembunyi dan menyatu dengan rerumputan dan semak.

Moiro tampak bingung saat menatap ke belakang.

Melihat itu Mika seketika bertanya, "Ada apa, Asahi?"

Moiro menatapnya sekilas lalu kembali menatap ke belakang, "Aku merasa kita diperhatikan."

"Benarkah?" tanya Mika. Dia juga ikut menoleh ke arah belakang dirinya, tapi tak melihat apa-apa.

Mika kembali menatap ke arah Moiro lalu berkata, "Mungkin kamu hanya berhalusinasi?"

Moiro perlahan kembali lebih tenang, lalu membalas pelan, "Mungkin."

Mika tiba-tiba mendekatkan wajahnya, membuat Moiro menatapnya dan mundur sedikit.

Mika tersenyum, "Daripada mikirin itu, gimana kalo kita sekarang nyoba wahana Rumah Hantunya?"

Mendengar dan melihat Mika yang tampak bersemangat dan tidak sabar, membuat Moiro tersenyum tipis kemudian mengangguk, "Baiklah. Ayo."

"Baik!" balas Mika tersenyum lembut.

Mereka pun berdiri, lalu berjalan bersama menuju ke arah wahana bermain horor itu.

Sementara itu, Ryuji yang sedang bersembunyi di semak mendengar semuanya.

"Mereka sudah pergi," bisiknya pelan,sambil mengintip di balik rerumputan.

Dia kembali muncul dari dalam semak dan menatap keduanya dari belakang, "Aku cuma bisa dapetin satu foto. Tak apa, itu pun sudah cukup."

Ryuji berdiri lalu membersihkan pakaiannya dari daun yang menempel.

Dua tangannya mengepal kemudian ditumpu di pinggang, "Kalo gak salah, mereka tadi bilang mau pergi ke Rumah Hantu, kan?"

Senyuman mengerikan kembali terlihat di wajahnya, "Ini menarik..."

Rencana apa lagi yang bakal kau lakuin, heh?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!