Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Sisi Lain Helga
Malam beranjak semakin larut, menyelimuti sudut kota dengan udara dingin yang menusuk tulang. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran kontrakan yang sempat menunggak, Damar memutuskan untuk kembali ke kantor agen travel Last Trip Express.
Ada beberapa dokumen tur perdana yang perlu dirapikan, sekaligus ia ingin menyimpan jam saku perak Chrono-Compass miliknya di tempat yang aman.
Langkah kaki Damar bergema pelan di lorong luar yang remang-remang. Kantor agen travel gaib itu tampak sepi dari luar. Papan nama kayu berukir di atas pintu gerbang utama tidak lagi memancarkan pendar keemasan terang seperti saat jam operasional tur berlangsung.
Damar mendorong pintu kaca tebal kantor secara perlahan.
Kring!
Bunyi bel kuningan kecil di atas pintu memecah keheningan. Biasanya, suara bel itu akan disusul oleh teguran sinis Madam Helga yang mempertanyakan keteledorannya. Namun kali ini, tidak ada sahutan. Ruang utama kantor gelap gulita, hanya diterangi oleh pantulan cahaya rembulan yang menerobos dari balik jendela kaca raksasa di sudut ruangan.
Damar mengernyitkan dahi.
"Madam ...?" panggilnya pelan.
Sepi. Hanya ada aroma khas kayu cendana, teh herbal, dan jejak-jejak sihir gaib yang mengendap tenang di udara.
Damar melangkah pelan menembus kegelapan ruangan. Sepatunya yang berdecit halus menapak lantai kayu tua.
Saat ia mendekati area belakang meja kerja Madam Helga, matanya menangkap pendar kebiruan yang sangat redup memancar dari balik pintu gorden beludru hitam—pintu rahasia yang menghubungkan ruang kerja umum dengan area pribadi Madam Helga.
Naluri rasa ingin tahunya mendadak bangkit. Selama ini, Madam Helga adalah sosok yang sangat tertutup, misterius, dan selalu tampil sempurna tanpa cela dengan kemeja sutra, gaun hitam elegan, serta lipstik merah menyalanya.
Wanita itu tampak seperti benteng tak tertembus yang tidak memiliki celah kelemahan sedikit pun.
Dengan napas tertahan, Damar menyibak sedikit tirai beludru hitam tersebut.
Di dalam ruangan pribadi yang dipenuhi oleh rak-rak buku tua berkulit tebal dan botol-botol ramuan gaib, berdiri sosok Madam Helga. Wanita itu tidak lagi mengenakan syal bulu mewahnya. Kipas sutranya tergeletak begitu saja di atas meja kayu tanpa daya.
Madam Helga berdiri mematung di hadapan sebuah cermin berdiri berbingkai perak kuno bermotif ukiran mawar liar. Cermin itu tidak memantulkan bayangan ruangan di sekitarnya. Permukaan kacanya yang tebal dan agak buram memancarkan pusaran kabut keperakan yang bergetar halus.
Damar membelalakkan mata saat melihat ekspresi di wajah wanita itu.
Raut wajah angkuh, judes, dan dominan yang selalu ditunjukkan Madam Helga seketika sirna. Yang tersisa di wajah cantiknya adalah duka yang teramat dalam, kerinduan yang menyayat, dan kesepian yang teramat sangat.
Matanya yang biasanya menatap tajam bagaikan elang kini meredup berkaca-kaca, memancarkan pendar kesedihan yang belum pernah Damar lihat sebelumnya.
Jari-jemari Madam Helga yang dipoles kuku merah gemetaran pelan saat terangkat, mengelus permukaan cermin dingin itu seolah sedang menyentuh pipi seseorang yang berada di balik dimensi lain.
"Sudah berapa ratus tahun ...," bisik Madam Helga dengan suara yang teramat lirih, hampir berupa bisikan yang pecah di udara. "... aku mengarungi kegelapan ini sendirian?"
Di balik pusaran kabut perak di dalam cermin, bayangan samar sesosok pria tinggi berambut ikal perlahan-lahan terbentuk. Pria itu mengenakan pakaian gaya kuno era klasik, berdiri membelakangi cermin.
Setiap kali Madam Helga mencoba memanggilnya, pusaran kabut cermin itu bergolak liar, mengaburkan wujud sang pria sebelum wajahnya sempat terlihat jelas.
"Kenapa ...." Napas Madam Helga terdengar tertahan, dadanya naik turun menahan gumpalan emosi yang membuncah. "Kenapa kamu meninggalkan kutukan ini padaku ... sementara kamu pergi tanpa pernah mengingat siapa aku."
Setetes air mata jernih menetes dari sudut mata Madam Helga, mengalir melewati pipinya yang pucat sebelum jatuh menetes ke lantai kayu.
Tetesan air mata gaib itu mendadak membeku menjadi butiran kristal perak yang berdentang halus saat menyentuh lantai.
Damar yang mengintip dari balik tirai tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak pernah membayangkan bahwa sosok penanggung jawab Last Trip Express yang ditakuti oleh puluhan hantu dan sanggup menumbangkan Hantu Dengki dengan sekali kibasan kipas itu ... ternyata menyimpan luka batin yang begitu kelam dan berdarah.
Siapa pria di balik cermin itu? Kutukan apa yang dimaksud oleh Madam Helga? Dan mengapa wanita sesakti dia harus menjalankan agen travel gaib yang menyeberangkan jiwa-jiwa penyesalan ini?
Secara tak sengaja, ujung sepatu Damar menyenggol sebuah wadah patung perunggu kecil di dekat pintu gorden.
Klak!
Suara benturan halus itu memecah keheningan ruangan pribadi Madam Helga bagaikan ledakan petir.
Seketika, aura di dalam ruangan berubah drastis. Pusaran kabut di dalam cermin raksasa menguap seketika, berganti menjadi pantulan cermin biasa. Pendar kebiruan yang redup berganti menjadi hawa dingin mencekat yang sanggup membekukan napas manusia.
Madam Helga memutar tubuhnya dengan kecepatan luar biasa. Air mata di pipinya mengering dalam sekejap mata, digantikan oleh tatapan membunuh yang sangat dingin dan tajam.
"Siapa di sana?!" bentak Madam Helga, suaranya menggelegar dipenuhi tekanan energi sihir tingkat tinggi yang membuat dinding-dinding kayu di sekeliling Damar berderit hebat.
Tirai beludru hitam terdorong terbuka oleh gelombang angin gaib. Damar terseret maju ke dalam ruangan, hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berdiri kaku dengan wajah pucat pasi.
"M-Madam! Ini saya! Damar!" seru Damar cepat-cepat sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, panik setengah mati melihat mata Madam Helga yang sempat menyalakan pendar merah menyala.
Melihat bahwa sosok penyusup itu adalah pemandu turnya, pendar merah di mata Madam Helga perlahan meredup kembali menjadi warna cokelat gelap yang dingin. Namun, aura permusuhan dan ketegangan di antara mereka sama sekali tidak berkurang.
Madam Helga meraih kipas sutranya dari atas meja, mengatupkannya dengan suara ceklek yang tajam. Ia melangkah mendekati Damar dengan tatapan yang bisa menyayat kulit.
"Sejak kapan kamu belajar mengintip privasi atasanmu, Damar?" tanya Madam Helga dengan nada suara pelan namun berbahaya, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti bilah es. "Apakah gaji sepuluh juta rupiah dan bonus barang antik membuatmu lupa posisi dan batas di kantor ini?"
Damar menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering.
"N-Nggak, Madam. Demi Tuhan, saya gak bermaksud mengintip! Saya cuma mau balikin dokumen tur pertama sama mau naro jam saku. Saya liat ada cahaya dari dalam, jadi saya pikir ada penyusup ...."
"Dan kamu pikir kamu berhak menyibak tirai itu?" potong Madam Helga tajam, memangkas alasan Damar tanpa ampun.
Damar menundukkan kepalanya. Di balik rasa takutnya pada kemarahan Madam Helga, rasa simpati yang dalam justru kembali mekar di dadanya. Wajah sedih wanita itu di depan cermin tadi masih terekam jelas di ingatan Damar.
"Saya minta maaf, Madam," kata Damar pelan, suaranya melunak tulus tanpa ada kepura-puraan. "Saya salah karena udah lancang. Saya gak bakal ngulangin lagi. Tapi ...."
Damar memberanikan diri menatap mata Madam Helga secara langsung.
"Kalau Madam butuh bantuan atau sekadar teman cerita ... Madam bisa bilang ke saya. Madam selalu bantu arwah-arwah di luar sana buat nyelesaiin masalah mereka, tapi Madam sendiri keliatan menanggung beban yang berat banget."
Madam Helga tersentak pelan. Untuk sepersekian detik, kilatan terkejut memercik di mata wanita anggun itu. Ia menatap Damar—meneliti setiap inci wajah pemuda introvert di hadapannya yang kini menatapnya dengan kepedulian yang polos dan jujur.
Namun dengan cepat, Madam Helga memasang kembali topeng keangkuhannya. Ia terkekeh dingin, mengibaskan kipas sutranya seraya berbalik membelakangi Damar.
"Bantuanmu?" ejek Madam Helga dengan nada sarkastik yang kental, walau getaran di suaranya agak sedikit goyah. "Urus saja tugasmu memandu rombongan arwah dengan benar, Damar. Masalahku adalah sesuatu yang bahkan tidak akan sanggup ditampung oleh otak manusiamu yang sempit itu."
Madam Helga berjalan menuju pintu keluar ruang pribadinya, melambaikan tangan mengusir Damar.
"Keluar dari ruanganku. Dan bersihkan dokumen di meja depan. Kalau besok malam ada satu saja keteledoran saat rombongan kedua datang ... aku tidak akan segan-segan memotong gajimu menjadi nol."
Damar menghela napas pasrah, menyadari bahwa benteng pertahanan Madam Helga kembali terkunci rapat-rapat.
"Baik, Madam. Saya permisi."
Damar melangkah keluar dari ruangan pribadi tersebut, membiarkan gorden beludru hitam tertutup kembali.
Saat ia merapikan dokumen di meja depan, matanya sesekali melirik ke arah pintu gorden yang tertutup.
Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan oleh wanita pemilik Last Trip Express itu? Dan siapa sosok pria di dalam cermin tua yang sanggup membuat Madam Helga yang perkasa meneteskan air mata?
Malam terus bergulir, meninggalkan Damar di dalam deretan pertanyaan di benaknya.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt