Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Akhir .
Beberapa minggu berlalu. Setelah semua kejadian yang menggemparkan keluarga Hartono dan Wijaya, kehidupan perlahan kembali berjalan seperti biasa.
Alicia dan Adrian harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Tidak ada lagi tempat bagi Alicia untuk bersembunyi di balik nama keluarganya, sementara Adrian juga tidak bisa menghindari konsekuensi dari keterlibatannya.
Namun bagi Naomi, yang paling sulit bukanlah menghadapi Alicia. Melainkan menerima kenyataan bahwa selama bertahun-tahun, orang-orang yang seharusnya menjadi tempatnya pulang justru pernah membuatnya merasa sendirian.
Sore itu, sebuah mobil berhenti di depan Wijaya Mansion. Naomi yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh ketika seorang pelayan masuk.
"Nyonya, ada Tuan Eric dan Nyonya Merry."
Naomi terdiam. Kedua orang itu sudah beberapa kali menghubunginya sejak kejadian di apartemen Alicia. Namun Naomi selalu membutuhkan waktu untuk mempersiapkan dirinya.
Hari ini akhirnya mereka datang. "Persilakan masuk," jawab Naomi pelan.
Beberapa saat kemudian, Eric dan Merry memasuki ruang keluarga. Tidak ada pakaian mewah atau sikap seperti orang tua yang datang untuk menuntut sesuatu. Keduanya terlihat sederhana dan jauh lebih tua dibanding terakhir kali Naomi melihat mereka.
Merry berhenti beberapa langkah di depan Naomi. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Naomi..."
Naomi berdiri. "Mama."
Satu panggilan sederhana itu membuat air mata Merry jatuh. Ia melangkah mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuh putrinya.
Seolah takut sentuhan itu tidak lagi diterima.
"Maafkan Mama."
Naomi terdiam. Merry mengusap air matanya.
"Mama tahu kata maaf tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi."
"Tapi Mama tetap ingin mengatakannya."
Naomi menundukkan wajah. Ia tak mampu berkata-kata lagi.
"Mama terlalu lama membela Alicia." Suaranya bergetar. "Setiap kali kalian bertengkar, Mama selalu meminta kamu mengalah."
"Setiap kali Alicia membuatmu menangis, Mama selalu berpikir kamu yang lebih kuat."
Merry menarik napas panjang. "Padahal kamu juga anak Mama."
Air mata Naomi mulai menggenang.
"Seharusnya sejak dulu Mama mendengarkanmu."
Eric yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Papa juga."
Naomi mengangkat wajah. Eric menatap putrinya dengan mata penuh penyesalan.
"Kami terlalu sibuk menjaga Alicia sampai lupa bahwa kami memiliki dua anak."
"Papa tidak bisa mengubah masa lalu."
"Tapi kalau kamu masih memberi kami kesempatan..."
Eric menelan ludah. "Papa ingin memperbaiki semuanya."
Ruangan menjadi hening. Naomi tidak langsung menjawab. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menangis tapi di sisi lain ada bagian yang masih menyimpan luka.
Namun untuk kali ini, ia melihat penyesalan yang begitu jelas di mata kedua orang tuanya.
"Aku tidak membenci Mama dan Papa." Suara Naomi pelan.
Merry menatapnya tak berdaya.
"Tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu."
Merry mengangguk cepat. "Tidak apa-apa."
"Kali ini Mama yang akan menunggu."
Naomi tersenyum tipis. Eric menghela napas lega. Sebelum mereka pergi, Merry kembali menatap Naomi.
"Dan satu hal lagi."
Naomi menunggu.
"Kalau suatu hari kamu ingin pulang..."
Merry tersenyum di tengah air matanya. "Jangan datang sebagai adik Alicia."
Naomi membeku. "Datanglah sebagai anak kami."
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Naomi mengangguk.
"Iya, Ma."
Namun menganggu pelan. Setelah sekian lama, sebuah luka di dalam dirinya terasa sedikit lebih ringan.
☘️☘️☘️
Malamnya, Naomi berdiri di balkon kamar. Angin malam bergerak perlahan melewati rambutnya. Ia menatap langit yang dipenuhi bintang. Banyak hal telah berubah dalam beberapa bulan terakhir.
Pernikahan yang awalnya tidak pernah ia inginkan. Keluarga yang sempat membuatnya merasa tidak berharga.
Alicia, Adrian juga ancaman keduanya, ketakutan kerap meluputinya. Semuanya terasa seperti perjalanan panjang yang akhirnya sampai pada ujung.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara Nathan terdengar dari belakang. Naomi menoleh. Pria itu berjalan mendekat.
"Tentang banyak hal."
Nathan berdiri di sampingnya. "Termasuk masa lalu?"
Naomi tersenyum kecil. "Sedikit."
Nathan terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengulurkan sesuatu. Sebuah kotak kecil. Naomi mengerutkan kening.
"Apa ini?"
"Buka."
Naomi menerima kotak tersebut. Perlahan ia membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin. Naomi menatap benda itu dengan bingung.
"Tuan..."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil nama saja," pinta Nathan.
Naomi sedikit gugup lalu kemudian. "Nathan..." suaranya terdengar lirih.
Pria itu menatapnya. "Dulu kita menikah karena keadaan."
Naomi terdiam. "Aku tahu."
Nathan menarik napas. "Dan aku tahu, sejak hari pertama kau datang ke hidupku, kau tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk memilih."
Naomi menundukkan kepala. Nathan melanjutkan. "Tapi hari ini aku ingin memberimu pilihan."
Ia mengambil cincin tersebut. "Tidak ada Alicia."
"Tidak ada pernikahan yang harus digantikan."
"Tidak ada kewajiban."
Nathan mengulurkan tangannya. "Hanya aku."
Tatapan Naomi mulai berkaca-kaca.
"Dan aku ingin tahu..."Nathan tersenyum tipis.
"Kalau sekarang aku memintamu tetap menjadi istriku, apakah kau mau?"
Naomi menatap pria itu cukup lama. Dulu ia datang ke pernikahan itu dengan hati penuh ketakutan. Ia berdiri di samping Nathan karena tidak memiliki pilihan.
Namun malam ini berbeda. Ia benar-benar memiliki pilihan.
Naomi mengangguk perlahan. "Aku mau."
Nathan memasangkan cincin itu di jarinya. Jemari mereka kemudian saling menggenggam.
"Dulu," ujar Nathan pelan, "kau datang sebagai pengantin pengganti."
Naomi menatap mata pria itu dengan lembut, tidak ada tatapan sinis dan kata-kata dingin itu semuanya berubah tanpa sempat ia rencanakan.
"Tapi sekarang..." Nathan menggenggam tangannya lebih erat. "Kau bukan pengganti siapa pun."
Mata Naomi kembali basah. Nathan yang melihat semua itu tersenyum.
"Karena kali ini, akulah yang memilihmu."
Naomi menahan tangisnya. "Kenapa baru sekarang?"
Nathan tertawa kecil. "Mungkin karena aku terlalu keras kepala untuk menyadarinya lebih cepat."
Naomi ikut tertawa di tengah air matanya. Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan.
Tidak ada janji yang berlebihan ataupun kata-kata romantis. Hanya dua orang yang akhirnya menemukan satu sama lain setelah melewati begitu banyak luka.
Dari kejauhan terdengar suara pintu kamar terbuka. Leon muncul sambil menguap.
"Papa?"
Nathan menoleh. "Kenapa belum tidur?"
Leon berjalan mendekat. "Besok aku sekolah."
Naomi tertawa kecil. "Kalau begitu kenapa masih bangun?"
Leon melirik tangan Naomi yang sedang digenggam Nathan. Senyum jahil muncul di wajah remaja itu.
"Kayaknya aku mengganggu."
"Leon."
Nathan menghela napas. Leon tertawa lalu berbalik.
"Ya sudah, aku tidur."
Naomi menatap punggung Leon yang menjauh. Kemudian ia kembali menatap Nathan. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Dulu ia pernah mengira dirinya hanya akan menjadi bagian sementara dari keluarga ini.
Seorang perempuan yang datang menggantikan orang lain. Namun ternyata...
Takdir membawanya ke tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Bukan sebagai pengganti. Bukan sebagai perempuan yang dipaksa keadaan tapi sebagai seseorang yang akhirnya dicintai dan dipilih.
Nathan menggenggam tangannya. Naomi membalas genggaman itu. Di bawah langit malam yang tenang, keduanya berdiri berdampingan. Masa lalu tidak akan pernah bisa diubah.
Namun mereka tidak lagi hidup di dalamnya.
Karena setelah semua luka, pengkhianatan, dan air mata... Naomi akhirnya menemukan rumah. Dan kali ini... ia tidak perlu menggantikan siapa pun untuk menjadi bagian di dalamnya.
TAMAT
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰