Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Dinding Kaca yang Retak
Ketegangan di atas undak-undak tangga kayu jati itu terasa begitu mencekik. Hawa dingin dari pendingin ruangan lantai dua seolah membeku di antara mereka. Kinanti berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetar, tangan kecilnya mencengkeram erat pinggiran daster katunnya, sementara matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata elang Baskara, menuntut sebuah kejujuran yang paling hakiki.
Baskara terpaku selama beberapa detik. Namun, alih-alih memberikan penjelasan yang menenangkan, rahang pria matang itu justru semakin mengeras. Kilat kepanikan di matanya dengan cepat ditutupi oleh topeng arogansi dan ekspresi dingin yang biasa ia gunakan untuk menghadapi musuh-musuh bisnisnya. Ego dan rasa bersalah yang bertumpuk di dalam dadanya membuat pria itu memilih untuk membentengi diri dengan kekerasan kepala.
"Cukup, Kinanti!" potong Baskara dengan nada suara yang berat, rendah, dan sarat akan otoritas mutlak yang tak boleh dibantah. Pria itu memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap mata jernih istrinya yang kini dipenuhi luka. "Kau sedang hamil, dan pikiranmu mulai ke mana-mana. Aroma parfum? Aku seharian ini menghadiri pertemuan dengan belasan investor dan klien dari berbagai kalangan. Wajar jika ada berbagai macam aroma yang menempel di pakaianku saat berdesakan atau bersalaman."
"Lalu bagaimana dengan nota perhiasan gelang berlian mewah itu, Mas?" kejar Kinanti, suaranya bergetar hebat, menolak untuk diintimidasi oleh nada bicara suaminya.
Baskara mendengus pelan, melempar jas kerjanya ke atas sofa koridor dengan kasar. "Itu untuk urusan relasi bisnis perusahaan. Hadiah untuk istri dari salah satu pejabat bank daerah yang membantu kelancaran kredit ekspansi gudang kita di kampung. Kau tidak tahu apa-apa tentang bagaimana cara dunia bisnis kota bekerja, Kinan. Jadi, berhenti menuduhku dengan hal-hal yang tidak masuk akal."
Setelah melontarkan kalimat pembelaan yang dingin dan penuh kebohongan itu, Baskara tidak memberikan kesempatan bagi Kinanti untuk menjawab. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan cepat, melangkah lebar menuruni tangga kembali, lalu berjalan menuju ruang kerja pribadinya di lantai bawah. Pintu ruang kerja itu ditutup dan dikunci dari dalam dengan bunyi klik yang teramat nyaring di kesunyian malam.
Sebenarnya, di dalam dadanya, jantung Baskara berdegup dengan kencang yang menyiksa. Ada rasa tidak tega dan penyesalan yang teramat besar yang menghantam lubuk hatinya yang terdalam saat melihat wajah pucat Kinanti dan air mata yang membasahi pipi istrinya. Dia tahu dia telah membohongi wanita yang telah mempertaruhkan nyawa untuk keluarganya. Namun, karena tidak ingin situasi semakin berlarut-larut dan takut dirinya akan goyah jika terus menatap mata jernih Kinanti, sang tuan pemaksa memilih untuk melarikan diri ke dalam dunianya sendiri, meninggalkan istrinya sendirian di kegelapan malam.
Di atas koridor yang sunyi, Kinanti perlahan-lahan merosot. Kakinya lemas, tak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Dia terduduk di atas lantai kayu yang dingin, memeluk kedua lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di sana.
Tangisan Kinanti pecah, namun tidak ada raungan atau suara keras yang keluar dari bibirnya. Dia menangis tanpa suara—sebuah jenis tangisan yang paling menyakitkan, di mana seluruh sesak dan perihnya tertahan di dalam dada yang terasa seperti dihantam batu besar. Setiap isakan kecil yang tertahan membuat bahunya yang rapuh terguncang hebat. Perubahan sikap Baskara yang teramat dingin malam ini adalah jawaban yang paling nyata dari semua kecurigaannya selama ini.
Setelah beberapa menit menumpahkan kepedihannya, Kinanti perlahan menghapus air matanya dengan ujung jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya demi janin di dalam kandungannya. Tangan kecilnya bergerak turun, mengusap dengan teramat lembut permukaan perutnya yang kini sudah membuncit dengan jelas di balik daster longgarnya. Ada kehangatan dan gerakan halus dari dalam sana, seolah sang calon bayi sedang mencoba menenangkan ibunya.
"Aku yakin... aku sangat yakin ada sesuatu yang besar yang sedang kamu sembunyikan dariku, Mas," bisik Kinanti pada keheningan malam, Tatapan mata Kinanti yang semula rapuh dan basah, perlahan-lahan meredup dan berubah menjadi tatapan yang teramat dingin dan penuh dengan ketegasan yang mutlak. Karakter gadis desa yang polos kini telah terkikis, digantikan oleh naluri seorang ibu yang harus melindungi harga diri anaknya.
"Mama berjanji padamu, Nak..." ucap Kinanti lirih, terus mengusap perutnya dengan gerakan konstan penuh kasih sayang. "Setelah ini... setelah Mama mendapatkan bukti fisik yang nyata tentang kebohongan dan wanita di luar sana yang disembunyikan oleh ayahmu... Mama tidak akan diam saja di rumah ini. Mama tidak akan menjadi wanita bodoh yang bisa diinjak-injak harga dirinya dengan kemewahan kota. Mama berjanji, kita berdua akan pergi dari tempat ini dan tidak akan pernah kembali lagi."
Sebuah sumpah telah diucapkan di dalam kesunyian malam yang mencekam. Dinding kaca keharmonisan kediaman Dirgantara kini telah resmi retak dengan jalur yang teramat dalam. Di dalam kamarnya yang sepi, Kinanti mulai mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, bersiap untuk mengintai dan mengungkap tabir kepalsuan yang dibawa oleh bayang-bayang masa lalu suaminya, demi sebuah langkah besar yang akan mengubah takdir mereka semua untuk selamanya.
Matahari pagi terbit dengan angkuh, membasahi seluruh sudut kediaman Dirgantara dengan cahaya keemasan. Namun, kehangatan yang biasanya tercipta di meja makan lantai bawah seolah lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang tak kasat mata. Retakan di dinding kaca rumah tangga itu tidak lagi berupa retakan halus, melainkan sebuah celah menganga yang mulai merenggangkan jarak antara sepasang suami istri tersebut.
Sejak malam perdebatan di undak-undak tangga itu, ada sesuatu yang mati di dalam diri Kinanti. Rasa minder, kepasrahan, dan sikap manja yang sempat tumbuh karena siraman kasih sayang Baskara setahun terakhir, kini menguap tak berbekas. Rasa sakit yang teramat sangat telah menempa batin gadis desa itu menjadi sekeras baja. Kinanti tidak lagi menangis. Dia telah menutup rapat-rapat pintu hatinya, kembali menjadi Kinanti yang dulu pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini: dingin, berjarak, penuh benteng pertahanan, namun memancarkan harga diri yang teramat tinggi.
Pukul tujuh pagi, Kinanti turun ke dapur dengan langkah kaki yang tenang dan anggun. Perutnya yang membuncit di usia kehamilan empat bulan tidak menghalanginya untuk bergerak cekatan. Dia mengenakan terusan katun berwarna hijau lumut yang longgar, rambut panjangnya disanggul rapi ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih. Wajahnya polos tanpa riasan, namun sepasang mata jernihnya kini sedingin es di puncak gunung.
Bi Asih yang sedang menata piring di meja makan sempat melirik ke arah nyonya mudanya dengan perasaan waswas. Sebagai orang tua, Bi Asih bisa merasakan perubahan aura yang teramat drastis dari Kinanti. Tidak ada lagi senyuman manis atau sapaan ramah yang biasanya menghiasi bibir gadis itu di pagi hari. Kinanti bergerak dalam keheningan yang absolut.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Baskara turun dengan setelan jas kerja lengkap berwarna hitam. Wajah pria matang itu tampak sedikit kusam, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya akibat kurang tidur. Pikirannya semalaman tidak tenang di dalam ruang kerja. Begitu menginjakkan kaki di ruang makan, pandangan mata elangnya langsung tertuju pada Kinanti.
Baskara sengaja berdehem pelan, mencoba memecah keheningan. Dia berjalan mendekati kursi utama, berharap istrinya akan menyambutnya seperti biasa mengambilkan nasi, menuangkan kopi hangat, atau setidaknya menatap matanya dengan binar kerinduan.
Namun, harapan Baskara patah seketika.
Kinanti sama sekali tidak menoleh. Dia meletakkan semangkuk sup ayam di tengah meja, lalu menarik kursi di ujung yang paling jauh dari tempat duduk Baskara. Tanpa sepatah kata pun, Kinanti mulai mengambil porsinya sendiri dengan gerakan yang teramat tenang dan mulai makan secara perlahan. Tidak ada piring yang disiapkan untuk Baskara, tidak ada cangkir kopi yang dituangkan. Kinanti memperlakukan suaminya seolah-olah pria tegap itu hanyalah udara kosong yang kebetulan lewat.
Baskara terpaku di tempat duduknya. Tangannya yang hendak meraih sendok mendadak kaku. Rahangnya mengeras, dan sepasang mata elangnya menyipit tajam, menatap lurus ke arah sang istri yang duduk beberapa meter di hadapannya.
"Kinanti," panggil Baskara, suaranya berat, rendah, dan sarat akan nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk menundukkan orang lain.
Kinanti tidak berhenti mengunyah. Setelah menelan makanannya dengan tenang, dia baru mendongak. Sepasang mata jernihnya menatap langsung ke dalam manik mata tajam Baskara. Tidak ada rasa takut, tidak ada kepanikan, dan tidak ada lagi air mata yang menggantung seperti semalam. Tatapan Kinanti begitu kosong, datar, dan sedingin dinding es.
"Ya, Om?" sahut Kinanti, nadanya teramat formal dan datar. Penggunaan kata 'Om' yang kembali ia ucapkan secara terang-terangan terasa seperti tamparan keras di wajah Baskara. Setelah berbulan-bulan memanggil dengan nada penuh kemesraan, kembalinya panggilan formal itu menegaskan jarak yang terbentang luas.
Baskara menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gejolak emosi dan ego prianya yang terusik. "Di mana kopiku? Dan kenapa kau duduk sejauh itu?"
Kinanti menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Tangan Om tidak sedang terluka, bukan? Bi Asih sudah menyiapkan air panas di dispenser dan bubuk kopi di lemari atas. Om bisa membuatnya sendiri. Dan mengenai tempat duduk... aku hanya ingin mencari posisi yang udaranya lebih segar demi kesehatan anakku. Bau di sekitar sini agak membuatku mual."
Kata-kata Kinanti yang tenang namun menohok itu langsung menusuk ego Baskara. Bau yang dimaksud Kinanti jelas merujuk pada aroma parfum wanita yang menempel di tubuhnya semalam. Baskara merasakan dadanya bergemuruh hebat, namun di sisi lain, ada rasa tidak nyaman dan kebingungan yang mulai merayap di benaknya.
Ini bukan Kinanti yang bisa dia gertak dengan suara beratnya. Ini adalah Kinanti yang memiliki kekuatan batin yang utuh, wanita yang siap berdiri tegak di atas kakinya sendiri tanpa peduli pada kekuasaan Dirgantara. Perubahan radikal ini mulai memicu tanda tanya besar di kepala Baskara. Pria itu mulai merasa gelisah, menyadari bahwa kendali yang selama ini ia pegang dengan mutlak atas diri istrinya perlahan-lahan mulai lolos dari jemarinya.
Tepat pukul delapan, Natasha turun dengan seragam sekolahnya yang rapi. Remaja perempuan itu langsung merasakan atmosfer mencekam yang menyelimuti ruang makan. Dia menatap papanya yang duduk tegang dengan wajah gelap, lalu beralih menatap Kinanti yang sedang mengusap perut buncitnya dengan ekspresi yang teramat tenang namun dingin.
Natasha melangkah mendekati Kinanti, mengabaikan keberadaan papanya. "Tante Kinan... hari ini aku pulang jam tiga sore. Tante tidak usah menjemputku ke sekolah ya, nanti aku langsung minta supir antar ke kafe Tante saja. Aku mau bantu Tante cek laporan keuangan bulanan kafe," ucap Natasha dengan nada manja yang kini dipenuhi rasa hormat.
Kinanti menoleh ke arah Natasha, dan seketika itu juga, benteng es di wajahnya mencair, digantikan oleh senyuman yang teramat tulus dan hangat. Perubahan ekspresi yang begitu cepat itu disaksikan sendiri oleh Baskara, membuat hati pria itu kian terasa seperti diremas. Kinanti bersikap manis pada semua orang, kecuali pada dirinya.
"Iya, Natasha. Hati-hati di sekolah ya. Nanti Tante minta orang dapur kafe untuk siapkan camilan kesukaanmu," jawab Kinanti lembut, mengusap bahu anak tirinya.
Natasha mengangguk senang, lalu melirik papanya dengan tatapan tajam dan mendengus pelan sebelum berpamitan pergi. Keberpihakan Natasha yang kini sepenuhnya berada di sisi Kinanti semakin membuat posisi Baskara tersudut di dalam rumahnya sendiri.
Setelah Natasha pergi, Kinanti berdiri dari kursi makan. Tanpa melirik sedikit pun ke arah Baskara yang masih menatapnya dengan sejuta pertanyaan yang tertahan di tenggorokan, Kinanti melangkah anggun menuju pintu depan, bersiap untuk pergi ke kafenya. Dia tidak lagi meminta izin, tidak lagi mencium tangan suaminya, dan tidak lagi menanti kepulangan pria itu. Kinanti menunjukkan kekuatannya dengan cara mengabaikan keberadaan sang tuan sepenuhnya.
Sepanjang perjalanan menuju kantor pusat Dirgantara Sejahtera, pikiran Baskara tidak pernah benar-benar terfokus pada jalanan di depannya. Pria matang itu bersandar di kursi belakang mobil mewah badannya, menatap kosong ke luar jendela.
Bayangan tatapan mata Kinanti yang sedingin es dan panggilan 'Om' yang kembali diucapkan istrinya terus berputar-putar di dalam kepalanya bak kaset rusak. Ada rasa kehilangan yang teramat besar yang tiba-tiba mencengkeram dadanya. Pria itu mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri,Apakah keputusannya untuk menyembunyikan Valerie adalah langkah yang benar? Mengapa Kinanti bisa berubah menjadi sekuat dan sedingin itu dalam waktu satu malam?
Ponsel di dalam saku jas Baskara bergetar lembut. Pria itu merogohnya dan melihat sebuah pesan singkat masuk dari nomor Valerie.
“Bas... kepalaku agak pusing siang ini. Bisakah kamu mampir ke apartemen setelah makan siang nanti? Aku takut sendirian di sini...”
Baskara menatap pesan itu dengan alis yang bertaut rapat. Biasanya, dia akan merasa iba dan langsung meminta supirnya berbelok arah demi memastikan kondisi wanita masa lalunya itu. Namun siang ini, entah mengapa, pesan dari Valerie terasa hambar dan tidak lagi memicu rasa panik di dalam dadanya. Pikirannya justru tertuju pada ruko dua lantai di sudut jalan protokol tempat di mana Kinanti sedang berdiri dengan anggun, memimpin kafenya dengan kekuatan dan kemandirian yang utuh tanpa membutuhkan sepeser pun bantuannya.