NovelToon NovelToon
Air Mata Di Ujung Penyesalan

Air Mata Di Ujung Penyesalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mabuok Hape

Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.

Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.

Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.

Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.

Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.

Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.

Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fondasi Perusahaan yang Merekah

Suara hujan deras yang menghantam dinding kaca tebal lantai teratas Pratama Group terdengar bagai bisikan ancaman di tengah malam yang kian larut. Di dalam ruang kerja kepresidenan yang remang, Arga berdiri mematung di balik meja mahoninya. Pendar biru pucat dari tiga layar monitor memantulkan pola-pola garis dan angka keuangan yang tajam pada wajahnya yang tirus.

Di hadapannya, Bimo menyerahkan sebuah folder kulit hitam dengan gerakan hati-hati.

"Laporan audit forensik internal untuk kuartal ini sudah rampung, Pak Arga," suara Bimo serak, terbeban oleh bobot rahasia yang dibawanya. "Keretakan pada fondasi Pratama Group bukan lagi sekadar potensi. Retakannya sudah merekah tajam di struktur paling bawah."

Arga tidak langsung membuka folder itu. Jemarinya yang dingin mengusap tepian kayu meja—meja yang sepuluh tahun lalu ia beli dari hasil meminjam uang sana-sini, tempat ia dan Reza dulu sering tertidur lelap karena kelelahan membangun bisnis ini dari nol.

"Sebutkan angkanya, Bimo," ujar Arga pelan. Suaranya datar, tanpa gelombang emosi, namun mengintimidasi dalam keheningannya.

"Dari total 100 miliar suntikan dana tahap kedua yang ditandatangani Bu Nabila sebagai penjamin, lebih dari 60% telah diarsiteki oleh Pak Reza untuk keluar dari jalur operasional proyek," Bimo menelan ludah. "Sebagian besar dialirkan ke rekening entitas cangkang di luar negeri, dan sebagian kecil—sekitar 12 miliar—secara bertahap mengendap di rekening pribadi Bu Nabila dalam bentuk aset berjangka.

Fondasi likuiditas anak perusahaan kita di sektor infrastruktur kini secara teknis rapuh. Jika ada audit eksternal mendadak, fondasi itu akan runtuh seketika."

Arga memejamkan matanya rapat-rapat.

Di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan masa lalu berkelebat seperti piringan hitam yang rusak. Ia ingat bagaimana Reza mempertaruhkan nama baiknya saat pertama kali meyakinkan investor awal untuk Arga. Ia juga ingat bagaimana Nabila memegang tangannya di kamar kontrakan sempit, berjanji akan setia mendampinginya tidak peduli seberapa sulit hidup mereka.

Kini, dua orang yang menjadi pilar utama kehidupan Arga itulah yang sedang menggergaji fondasi usahanya dari dalam. Menggerogoti sedikit demi sedikit, menyuntikkan racun keserakahan hingga perusahaan yang tampak megah dari luar ini sebenarnya sedang berdiri di atas cangkang yang retak dan siap hancur.

Ketika Arga membuka matanya kembali, pendar rasa sakit di iris matanya telah mengkristal menjadi tekad yang dingin dan mutlak.

"Bagus," bisik Arga. Senyum tipis yang tak tersentuh kehangatan terukir di bibirnya. "Biarkan fondasi itu merekah lebih lebar."

Bimo tertegun. "Pak? Jika ini dibiarkan sebulan lagi, dampak reputasinya pada Pratama Group—"

"Aku yang membangun fondasi perusahaan ini dari tanah mentah, Bimo," potong Arga seraya menatap Bimo lurus-lurus. "Maka aku juga yang berhak membiarkannya retak, hanya untuk memastikan saat fondasi itu runtuh total, orang-orang yang berdiri di atasnya tidak akan pernah bisa bangkit lagi."

Di saat yang bersamaan, di sebuah restoran bernuansa remang yang tersembunyi di pinggiran kota, ketegangan lain sedang memuncak.

Nabila memutar-mutar gelas anggurnya dengan jemari yang gemetar halus. Di seberang meja, Reza duduk dengan kemeja yang dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan wajah kusam dan napas yang sedikit tidak teratur. Chemistry manis dan penuh gairah yang biasanya menghiasi pertemuan rahasia mereka kini menguap, digantikan oleh aura saling curiga yang menusuk.

"Za... aku makin enggak tenang," bisik Nabila, matanya bergerak gelisah menatap pintu keluar. "Tadi siang, staf keuangan rumah tangga bilang ada beberapa dokumen aset atas namaku yang dipinta oleh tim legal Mas Arga. Kamu bilang semua transaksi yang pakai namaku aman!"

Reza menghembuskan napas kasar, memijat pangkal hidungnya dengan raut wajah jengkel. "Nabila, bisa tidak kamu jangan panik setiap kali Arga bergerak sedikit? Arga itu cuma lagi sibuk merapikan berkas pajak tahunan! Kamu ini penjamin resmi, wajar kalau tim legal minta salinan data!"

"Tapi reaksimu waktu itu beda, Reza!" Nabila memajukan tubuhnya, menatap Reza dengan sorot mata menuntut. "Waktu transferan 15 miliar itu sempat tertahan di bank, wajahmu pucat! Kamu bentak aku! Sekarang kamu suruh aku tenang? Kalau sampai fondasi bisnis Arga bermasalah dan nama aku terseret karena status Personal Guarantor itu, bagaimana?!"

Reza mengepalkan tangannya di atas meja, menatap Nabila dengan rasa muak yang tak lagi ditutupi. Di bawah tekanan ketakutan akan aksinya yang mulai tercium otoritas, kepura-puraan romantismenya pada Nabila mulai tanggal satu per satu.

"Dengar ya, Nabila," bisik Reza dengan suara rendah yang amat tajam. "Kamu menikmati uangnya, kan? Kamu menikmati gelang perhiasan, tas mewah, dan aliran dana belasan miliar di rekeningmu, kan? Jangan berlagak seperti korban yang suci di sini. Kita ada di perahu yang sama. Kalau perahu ini tenggelam karena ketakutan konyolmu, kamu yang bakal paling pertama terseret karena tanda tanganmu ada di setiap lembar berkas pencairan!"

Nabila tersentak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sosok Reza yang sebenarnya: bukan pria hangat penuh cinta yang selama ini memanjakan egonya, melainkan seorang parasit serakah yang siap mengorbankannya kapan saja demi menyelamatkan kulitnya sendiri.

"Kamu... kamu manfaatin aku dari awal?" suara Nabila bergetar hebat, air mata kekecewaan menetes di pipinya.

"Aku menyelamatkan kita!" tukas Reza dingin, lalu memalingkan wajahnya. "Sekarang pulanglah. Pasang wajah bahagiamu di depan Arga seperti biasa. Jangan sampai si kaku itu curiga hanya karena sikap dramatis instanmu ini."

Nabila berdiri dari kursinya dengan tubuh kaku. Rasa manis dari perselingkuhan yang dulu membuaianya kini berubah menjadi empedu yang sangat pahit. Keretakan dalam fondasi bisnis Arga ternyata berjalan sejajar dengan retaknya hubungan terlarang yang ia bangun bersama Reza.

Malam makin larut ketika Nabila tiba di rumah megah mereka.

Langkah kakinya terseret pelan menaiki tangga menuju kamar utama. Di sana, ia menemukan Arga sedang duduk di tepi ranjang, merapikan beberapa dokumen keuangan kantor. Cahaya lampu kamar yang hangat membiaskan aura Arga yang begitu tenang, begitu mengayomi—sebuah kontras yang amat tajam dibanding aura dingin dan intimidatif yang baru saja diterimanya dari Reza.

Rasa bersalah, ketakutan, dan rasa butuh akan perlindungan mendadak menyeruak hebat di dada Nabila. Ia berjalan mendekati Arga, lalu tanpa bersuara, ia menjatuhkan dirinya di samping Arga dan memeluk pinggang suaminya erat-erat. Wajahnya disembunyikan di lipatan jas Arga.

"Mas Arga..." bisik Nabila, suaranya parau dan terisak pelan.

Arga menghentikan jemarinya yang sedang membalik halaman berkas. Ia merasakan tubuh istrinya bergetar dalam pelukannya. Untuk sekejap, insting lamanya sebagai seorang suami yang protektif berdenyut pelan di relung hatinya. Namun, aroma parfum asing yang samar menempel di pundak Nabila langsung mematikan selidaman empati itu.

Arga melingkarkan tangannya di bahu Nabila, mengusap punggung istrinya dengan kehangatan palsu yang terlatih sempurna.

"Kenapa, Nabila? Ada yang mengganggu pikiranmu, Sayang?" tanya Arga, suaranya mengalun begitu lembut, seperti usapan angin malam.

Nabila mendongak, menatap mata Arga dengan air mata yang membasahi pipinya. "Mas... kalau... kalau suatu hari nanti ada hal buruk terjadi pada perusahaan Mas... Mas bakal tetap lindungi aku, kan? Mas enggak bakal tinggalkan aku, kan?"

Arga menatap dalam-dalam ke pupil mata istrinya. Ia membaca setiap jengkal ketakutan yang kini mulai menggerogoti jiwa Nabila—ketakutan seorang pengkhianat yang mulai menyadari bahwa tanah tempatnya berpijak mulai merekah.

Arga mengulurkan tangannya, menyapu air mata di pipi Nabila dengan ibu jarinya secara perlahan.

"Fondasi perusahaan ini memang sedang merekah, Nabila," bisik Arga tepat di depan bibir Nabila, memberikan senyuman paling manis namun paling dingin yang pernah ada. "Tapi kamu tidak perlu takut. Mas akan memastikan... kamu berdiri di tempat paling depan untuk menyaksikan bagaimana seluruh bangunan ini runtuh."

Nabila tertegun, terpana oleh kelembutan cara Arga berbicara yang entah mengapa terasa begitu mencekam di dasar jiwanya. Ia kembali memeluk Arga erat-erat, mencari kedamaian dalam dekapan sang suami—tanpa menyadari bahwa pelukan hangat Arga malam ini adalah cengkeraman dari takdir yang sebentar lagi akan meremukkan seluruh hidupnya.

1
Pinkan Aritra
sukurin
Pinkan Aritra
kapok
Idefdenko Channel
semogah Arga membalas perbuatan istri nya
Idefdenko Channel
mantap, mendebarkan ...
Idefdenko Channel
mantap
partini
konflik nya masih lama ya Thor
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt
Mabuok Hape: ya KK, maklum lah baru belajar buat novel .. he he he, kadang salah, kadang alur entah kemana perginya, jadi harap maklum 🙏
total 3 replies
partini
cari buktinya susah banget ya ga aihhhh
partini
ayo ga bikin kejutan buat mereka berdua yg sadis yah
partini
Arga kan terzolimi Thor istri selengkong ko ada kata suami kejam ?
partini: oh sperti itu ok ,tapi bukan kejam sih menurut ku harga yg harus di rasakan istri nya karena berani selengkong
jadi ga kejam 🤭
total 2 replies
partini
kumpulan bukti sebanyak"nya cari momen acara yg penting di hadiri kedua keluarga dan tamu play lah tuh bukti like boom
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus aku suka dan udah aku kasih like, yang semangat bikin novelnya 👍👍
Mabuok Hape: makacih😍
total 6 replies
partini
lain ini lelaki yg di selingkuhi,,aihhh jadi suami kejam Dong masa iya balik ke lobang yg sama plus terkontaminasi cairan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!