Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenapa dengan janda?
Reygan menatap Shella yang masih menopang dagu di depannya. Cantik? Harus diakui, dalam jarak sedekat ini, struktur wajah Shella memang menawan. Namun, sifat usil dan lidah tajamnya itu benar-benar sebuah alarm bahaya.
Isi kepala Reygan langsung berputar cepat. Ibunya adalah seorang perfeksionis sejati yang memuja kesempurnaan. Bagaimana mungkin sang Ibu bisa menerima wanita dengan status sekacau Shella? Jangankan dibandingkan dengan standar sang Ibu, jika disejajarkan dengan para staf wanita di lantai bawah yang berpenampilan modis dan glamor, penampilan Shella yang sekarang—dengan kuku-kuku pendek polos dan pakaian sederhana—terlihat kalah jauh.
Terlebih lagi... jika mereka benar-benar menikah, apa Reygan sanggup? Menghadapi kenyataan bahwa wanita super cerewet ini akan menginvasi ruang pribadinya setiap hari?
'Bisa-bisa cara aku menyetir, cara aku mandi, bahkan posisi tidurku pun akan dikomentari dan didebat olehnya seumur hidup,' batin Reygan mendadak merinding ngeri. Kehidupan lajangnya yang tenang dan damai pasti akan runtuh.
"Tidak... tidak akan," gumam Reygan refleks, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah ngeri yang tidak disembunyikan.
Shella mengerjapkan mata, senyum menggoda di bibirnya sedikit menyusut karena bingung melihat reaksi berlebihan sang bos. "Apanya yang tidak, Pak?"
Reygan memperbaiki posisi duduknya, kembali menegakkan benteng arogansinya untuk menutupi kepanikan batin.
"Mana mungkin saya mau memperistri kamu, paham? Mama saya itu seleranya sangat tinggi. Kalau saya mengenalkan kamu ke dia, dengan statusmu yang janda pula, adik dan kakak saya pasti akan menertawakan saya habis-habisan. Sekelas Reygan Aliansyah hanya bisa mendapatkan... bekas orang? Kamu paham tidak tingkat komparasi sosialnya?" Ucap nya tanpa saringan.
JLEB.
Kata "bekas orang" yang keluar dari mulut Reygan menggema di langit-langit ruangan mewah itu.
Seketika itu juga, senyum jenaka yang sejak tadi bertengger di wajah Shella lenyap tanpa sisa. Binar jahil di matanya langsung padam, digantikan oleh kekosongan yang mendalam.
"Apa... bagi Bapak sendiri, status janda seburuk itu?" tanya Shella lirih.
Reygan tersentak. Detik itu juga, ia menyadari gurat penyesalan langsung menyengat dadanya. Pria itu menatap Shella, melihat bagaimana pertahanan wanita itu runtuh dalam satu kedipan mata. Reygan tahu dia salah bicara, kata-katanya terlalu kasar dan tidak pantas.
Ngenes memang. Shella menelan ludahnya yang terasa menyumbat tenggorokan. Sejak dia keluar dari rumah Bramantyo, kenapa semua orang selalu menghakiminya lewat status?
Padahal, Shella tadi murni hanya bercanda. Dia tahu diri. Dia sangat tahu di mana posisinya berada. Menggoda bosnya yang kaku itu hanyalah cara Shella untuk menghibur hatinya.Tapi dia lupa... di mata kaum elit seperti Reygan, dirinya tetaplah sebuah produk cacat sosial.
"Pak Reygan tidak perlu cemas..." ujar Shella lagi, matanya menatap lurus ke arah lantai."Selama lima tahun pernikahan saya yang lalu... kami belum dikaruniai anak satu pun," lanjut Shella.
"Jadi, kalau niat Bapak mencari pasangan adalah untuk mencari pabrik anak sebanyak mungkin demi meneruskan takhta Aliansyah Group... saya takut, tuduhan kejam mantan suami saya malam itu memang benar adanya..."
Shella menarik napasnya yang terasa sesak, membiarkan sebutir air mata lolos melewati pipinya."...saya takut, saya memang mandul."
Melihat bahu Shella yang bergetar pelan di atas sofa, seisi dada Reygan mendadak seperti diremas kuat. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Pria yang biasanya selalu punya kalimat sarkas untuk memotong ucapan lawan bicaranya itu kini mendadak kehilangan kosa kata. Lidahnya kelu.
"Ayolah... saya hanya bercanda," ujar Reygan, suaranya melunak drastis, hampir terdengar seperti sebuah bujukan kaku.
Reygan merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Kenapa dia bisa merasa se-tidak nyaman ini hanya karena melihat kesedihan wanita di depannya? Mengapa air mata tukang cuci piringnya ini terasa jauh lebih berbahaya ketimbang fluktuasi saham Aliansyah Group di papan bursa?
SRET.
Shella mengusap sudut matanya dengan cepat menggunakan punggung tangan. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi mantan wanita sosialita itu untuk menarik kembali seluruh kerapuhannya dalam-dalam, lalu memasang kembali topeng ceria yang biasa ia kenakan.
"Sudahlah, Pak. Lupakan saja. Anggap saja tadi itu radio rusak," ucap Shella sambil mengembus napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa sesak di dadanya.
Shella menegakkan punggungnya di atas sofa, menatap Reygan dengan tatapan profesional yang kembali fokus. "Jadi, mari kita bicara bisnis secara terstruktur. Sebenarnya apa pekerjaan resmi saya di kantor mega-bintang Bapak ini? Sekretaris yang harus cerewet setiap detiknya untuk mengetes mental Bapak? Atau asisten pribadi yang merangkap sebagai pengawal dari kejaran hantu ruko kosong?"
Reygan tertegun menatap perubahan drastis pada raut wajah Shella. Kecepatan wanita ini dalam mengendalikan emosi benar-benar di luar nalar.
"Kamu... ternyata sangat pintar dalam berpura-pura," ucap Reygan tanpa sadar, menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya.
"Saya hanya ingin menjadi kuat di mata orang lain, Pak Reygan. Dan saya punya prinsip untuk tidak menunjukkan kelemahan saya secara berlebihan pada seseorang... yang tidak sepenuhnya saya kenal."
DEG.
Kalimat terakhir Shella telak menghantam ego Reygan. 'Seseorang yang tidak sepenuhnya dikenal, ya?' batin Reygan, mendadak menyunggingkan tawa renyah yang sedikit pahit.
Mungkin benar. Pada akhirnya, status mereka memang hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Reygan menarik napas dalam, menyadari bahwa ia memang harus membatasi diri dan menarik garis batas aman demi kenyamanan dan kedamaian hatinya sendiri.
"Baiklah. Mari kita resmikan posisimu di kantor ini," ujar Reygan dengan nada formal,mencoba berdehem meredakan kecanggungan disana.
"Mulai hari ini, jabatan resmimu adalah Asisten Pribadi Khusus. Secara hierarki, kamu tidak tunduk pada divisi HRD biasa, melainkan langsung di bawah perintah saya."
Shella menaikkan sebelah alisnya. "Terdengar keren. Lalu job desk-nya apa saja, Pak?"
Reygan mengetuk-ngetuk pena mahalnya di atas meja, merinci tugas unik yang sudah ia rancang khusus untuk wanita di depannya ini.
"Tugas utamamu adalah menemani saya di setiap agenda luar kantor, dan memastikan mood saya membaik—atau minimal, tidak memburuk—kalau saya sedang tertekan akibat urusan bisnis atau intervensi dari keluarga."
"Menyiapkan segala kebutuhan pribadi saya di ruangan ini, termasuk memastikan obat inhaler asma saya tidak tertinggal di rumah lagi."
"Menjadi benteng pertahanan saya dari wanita-wanita agresif yang dikirim oleh Mama saya selama enam bulan ke depan."
"Singkatnya, kamu adalah asisten multifungsi," tegas Reygan, menatap Shella lekat-lekat."Gaji bulananmu akan langsung dikirim ke rekeningmu dalam tiga hari ke depan, lengkap dengan anggaran untuk mengubah penampilanmu agar setidaknya terlihat layak berdiri di samping seorang Reygan Aliansyah."
Shella mendengarkan dengan saksama, lalu senyum jenaka yang sempat hilang perlahan mulai terukir kembali di bibirnya.
"Wah, siap, Baginda Raja kapitalis!" sahut Shella, langsung berdiri dan memberikan gestur hormat yang dibuat-buat heboh. "Tugas ini sepertinya jauh lebih mulia daripada mencuci wajan berminyak. Tenang saja, saya akan memastikan mood Bapak selalu naik-turun seperti wahana pasar malam setiap harinya!"