Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu yang Belum Usai
Kuliah pertama semester gasal dimulai. Kampus mulai dipenuhi mahasiswa junior yang terlihat antusias dan mahasiswa senior yang mulai frustasi membuat proyek akhir dan skripsi.
Namun bagi Melodi, kuliah selalu menjadi hal paling menyenangkan, meski sudah semester lima. Dia selalu antusias menanti apa yang akan dia pelajari. Kuliah pertama semester lima hari itu adalah Komposisi Musik Kontemporer dan Aransemen.
"Hari pertama udah ketemu Pak Herman aja," kata Lala sedikit malas. Melodi tersenyum.
"Sensi amat sih, La, sama Pak Herman?" tanya Panji.
"Iya. Tau tuh. Dia pembimbing akademikku lho. Asik sih orangnya," kata Melodi.
"Diiih! Asiknya cuma sama kamu. Sama aku? Nggak!" kata Lala.
"Pasti gara-gara nilai semester dua kamu itu kan?" tanya Panji. Lala hanya mendengus kesal.
"Cuma gara-gara salah nulis dua kunci aja, nilaiku C. Sebel nggak sih?" tanya Lala. Melodi tersenyum.
"Sekarang bayangin aja, kalau ada lagu salah kunci? Lucu kan? Yang tadinya vibesnya sendu malah jadi horor," kata Melodi. Panji mencoba menahan tawa. Lala menghela napas panjang.
"Eh, Pak Herman dateng," kata Panji saat melihat Pak Herman memasuki ruang kelas.
"Pagi,"
"Pagi, Paaak!!!"
Pak Herman tersenyum.
"Seneng ya, ketemu saya lagi semester ini?" tanya Pak Herman sambil menyapukan pandangannya ke seluruh kelas. Melodi dan Panji otomatis melirik ke arah Lala sambil menahan tawa.
"Nggak perlu kenalan lagi ya. Kita langsung ke materi aja, biar cepet kelar, cepet libur," kata Pak Herman. Beberapa mahasiswa tertawa kecil.
"Kalian pikir, cuma kalian yang suka libur? Saya juga," kata Pak Herman sambil menyambungkan laptopnya ke layar proyektor.
"Baik. Untuk hari ini, kita akan mempelajari cara mengubah bunyi non-musikal di sekitar kita menjadi sebuah karya musik terstruktur," kata Pak Herman membuka perkuliahannya.
Mata Melodi berbinar membaca slide show presentasi Pak Herman tentang perkuliahan hari itu. Panji menoleh ke arah Melodi. Sudut bibirnya sedikit terangkat menatap wajah Melodi yang bersinar setiap kali mendapat ilmu baru tentang musik. Panji kembali menatap layar proyektor dengan senyum tipis masih terkembang di wajahnya.
'Dia bener-bener nggak bosen sama musik,'
***
Bara sedang fokus membuat proyek desain yang baru masuk hari itu saat Abas tiba-tiba masuk ke ruangannya.
"Eh, Kak. Mau nyuruh aku ngapain?" tanya Bara sambil sibuk membuat desain di laptopnya.
"Kamu ngerjain apa?" tanya Abas. Bara mendongak, menatap kakaknya.
"Pak Joni ngasih aku proyek sekolah musik," jawab Bara. Abas terdiam sesaat.
"Sekolah musik?" tanya Abas sambil mengerutkan dahi. Bara tersenyum tipis.
"Proyeknya baru aja masuk tadi," kata Bara sambil kembali fokus pada laptopnya.
"Kamu bisa?"
"Bisa, bisa. Tenang aja, Kak,"
Abas menatap Bara yang fokus pada layar laptopnya sesaat sebelum akhirnya membalikkan badannya hendak keluar dari ruang Bara.
"Jadi... kenapa Kakak kesini?" tanya Bara sambil tersenyum menatap Abas. Abas kembali menghadap Bara.
"Cuma mau mastiin, kamu bener-bener kerja atau cuma main-main," jawab Abas lalu berbalik dan keluar dari ruang Bara. Bara yang semula tersenyum sumringah seketika cemberut mendengar kata-kata Abas.
"Dasar, CEO beku!" gerutu Bara sambil kembali menatap layar laptopnya.
Bara menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya. Dia menatap lurus ke arah hasil desainnya. Bara menghela napas panjang.
"Udah bagus sih," gumamnya. Dia memiringkan kepalanya ke kanan.
"Tapi, kayak ada yang kurang," katanya sambil memiringkan kepalanya ke kiri.
"Apa ya?" tanyanya.
Bara memutar bola matanya perlahan. Dia lalu teringat Alto Cafe dan interiornya yang eksentrik dan tak jauh dari musik. Senyum tipis tersungging di bibir Bara.
"Mungkin... lantainya jangan terlalu polos kali yaa," gumam Bara sambil kembali mencondongkan tubuhnya ke arah laptop.
Bara begitu fokus dengan apa yang dikerjakannya hingga tak menyadari Abas tengah memperhatikannya dari ruang Pak Joni di seberang ruangannya.
Entah mengapa saat mendengar kata 'sekolah musik', ada sesuatu yang mengganggu pikiran Abas. Satu wajah lalu muncul begitu saja. Wajah gadis bergitar yang bernyanyi di tepi pantai diterpa cahaya senja.
'Sejak kapan wajahnya selalu muncul begitu saja?'
***
"Bang Alto nggak perlu transfer uang," kata Melodi via sambungan telepon.
"Yakin?" tanya Alto sambil tersenyum.
"Iyaaa. Aku dapet reguleran di kafe deket kampus," kata Melodi.
"Bayarannya lumayan. Mana dibayar tiap kali aku dateng lagi," lanjutnya.
"Seneng dong," kata Alto.
"Jelaaas,"
"Makanya, Bang Alto nggak usah transfer dulu. Bilang Ibuk juga, uang catering ditabung aja buat pegangan Ibuk," kata Melodi. Alto tersenyum.
"Ya udah. Jangan boros-boros," pesan Alto.
"Iya, iyaaa. Ya udah, Bang. Aku mau nugas dulu," pamit Melodi.
Sabrina menatap Alto sambil tersenyum. Alto menaikkan kedua alisnya saat menyadari Sabrina tengah memperhatikannya.
"Hm?"
"Seru ya kayaknya punya adik?" kata Sabrina. Alto tersenyum.
"Seru. Apalagi yang kayak Melodi. Tiap hari dibikin geleng-geleng kepala sama tingkahnya," kata Alto sambil menatap foto keluarga yang terpampang di salah satu dinding kafenya.
Sabrina menatap gadis di foto yang berdiri di antara Alto dan ibunya. Terlihat ceria dan banyak tingkah.
"Tapi," kata Alto masih menatap foto keluarganya. Sabrina menoleh, menatap Alto.
"Sepi kalau nggak ada dia," lanjut Alto sambil tersenyum pada Sabrina. Sabrina ikut tersenyum.
"Kamu anak tunggal?" tanya Alto. Sabrina mengangguk.
"Sepi," kata Sabrina. Alto tersenyum.
"Makanya aku selalu iri sama orang yang punya saudara. Biarpun banyak yang bilang ngrepotin, bikin pusing, bikin sebel, tapi aku ngelihatnya seru," lanjut Sabrina. Alto terkekeh.
"Iya. Bener. Kadang ngrepotin, kadang bikin pusing, tapi seru," kata Alto.
"Kaaan?"
Alto tertawa. Sabrina menarik napas dalam-dalam menatap tawa Alto. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Sudah beberapa hari dia mengenal Alto lebih dalam, masih saja selalu deg-degan hebat tiap kali melihat Alto tertawa.
"Kamu beneran nggak mau pulang?" tanya Alto tiba-tiba.
"Eh?"
"Aku pikir... mungkin ayahmu hanya marah sesaat aja. Dan siapa tahu... sekarang beliau sedang mencemaskanmu," kata Alto.
Sabrina menatap permukaan meja pantri Alto Cafe. Dia tidak mengatakan pada Alto alasan sebenarnya papanya mengusirnya dari rumah. Sabrina hanya mengatakan bahwa papanya marah besar karena Sabrina telah melakukan satu kesalahan.
Dia menatap Alto dalam-dalam. Alto tersenyum. Masih begitu hangat, membuatnya ragu-ragu apakah dia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Aku memang nggak tahu apa masalahmu," kata Alto.
"Tapi... kalau kamu masih butuh waktu buat tenangin diri, nggak masalah aku bantu sebisaku, selama nggak merugikan orang lain," lanjutnya. Sabrina terdiam.
"Semua orang melewati masa-masa seperti itu," tambahnya sambil menatap foto mendiang ayahnya. Sabrina menaikkan kedua alisnya.
"Kamu juga pernah berantem sama ayahmu?" tanya Sabrina. Alto menoleh ke arah Sabrina lalu tersenyum.
"Kalau kamu yang cewek aja bisa, apalagi aku yang sama-sama cowok. Sering," kata Alto lalu kembali menatap foto mendiang ayahnya.
Sabrina menatap Alto dalam-dalam. Pria di sampingnya ini benar-benar tahu bagaimana membuatnya merasa lebih baik. Sabrina tersenyum.
Dering notifikasi di ponselnya membuat Sabrina mengalihkan perhatiannya. Senyum di wajah Sabrina perlahan memudar saat membaca pesan singkat di ponselnya.
Kamu dimana, Sab? Aku butuh bicara soal Kak Abas.
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪