Kirani Wiratma hanya punya satu misi: menggantikan saudari kembarnya, menikah dengan Arga Mahendra, lalu bertahan memainkan peran sebagai istri sempurna sampai ia bisa menghilang dengan uang yang sudah dijanjikan.
Masalahnya adalah Arga.
Dingin, kaya, selalu rapi, dan berbahaya tampannya, pewaris keluarga Mahendra itu seolah diciptakan untuk merusak konsentrasi Kirani. Di luar, Kirani tersenyum seperti perempuan penurut, menyajikan kopi, menundukkan pandangan, dan pura-pura tidak merasakan apa pun.
Namun di dalam kepalanya, ceritanya lain.
Aduh, tidak. Pria itu seharusnya dilengkapi peringatan. Dengan kemeja itu, bahu itu, dan wajah sedingin es begitu, perempuan jujur mana pun bisa kehilangan harga diri.
Yang tidak Kirani ketahui, Arga bisa mendengar setiap isi pikirannya.
Setiap keluhan. Setiap makian. Setiap fantasi memalukan tentang menyentuh dadanya, melepas dasinya, atau melihat pria itu kehilangan kendali karena dirinya.
Awalnya, Arga hanya ingin mencari tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpura-pura tenang itu, sementara pikirannya menyala tanpa henti. Namun semakin lama ia mendengar suara batin Kirani, semakin sulit baginya menjaga jarak. Istri palsu itu mulai terasa terlalu nyata. Pikiran-pikiran nakalnya mulai terlalu ia sukai. Dan pria yang bersumpah tidak akan jatuh cinta akhirnya terobsesi pada satu-satunya perempuan yang tidak bisa berbohong kepadanya di dalam hati.
Namun Kirani menyimpan rahasia yang lebih berbahaya daripada semua keinginannya: ia bukan pengantin yang seharusnya Arga terima di altar.
Saat kebenaran terbongkar, pernikahan palsu, gairah yang disembunyikan, dan semua pikiran yang seharusnya tidak pernah terdengar bisa menghancurkan mereka... atau justru membuat perpisahan menjadi mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin_Kokh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Tanpa Piyama
Koper yang tertukar tidak selesai dalam sepuluh menit.
Tidak juga dalam dua puluh.
Staf Bintang Karibia meminta maaf dengan kesopanan sempurna, begitu halus sampai tampak dilatih di depan cermin. Menurut mereka, ada dua koper putih dengan label yang sangat mirip. Seorang penumpang dari dek lain menerima koper Kirani. Pertukaran sudah diketahui, tetapi perempuan itu sedang mengikuti aktivitas sambutan dan tidak menjawab di kabinnya.
"Kami akan menanganinya dengan sangat rahasia, Pak Arga," janji petugas.
Arga menatap koper renda yang tertutup di samping dinding.
"Saya harap begitu."
Kirani, duduk di sofa dengan kedua tangan bertaut di atas lutut, tersenyum seolah tidak ada koleksi pakaian mustahil dua meter darinya.
"Tidak apa-apa. Tidak terburu-buru."
Terburu-buru. Sikat gigiku di sana. Krimku di sana. Piyama sopanku di sana. Gaun istri anggunku di sana. Di sini cuma ada koper yang berteriak "cabut rasa maluku" dalam tujuh warna.
Arga berdeham.
"Mereka akan membawa barang yang diperlukan sementara kopermu ditemukan."
"Terima kasih."
Yang diperlukan itu kedamaian, pakaian normal, dan suamiku berhenti terlihat sebagus ini dengan lengan kemeja tergulung. Dia tidak mengerti perempuan lemah tidak bisa hidup hanya dari jus jeruk dan kendali diri?
Ia menunduk ke lengan kemejanya sendiri dan, murni karena gengsi, tidak menurunkannya.
Menjelang senja, Vala menelepon dari kabinnya.
"Aku punya solusi sementara," umum Vala lewat telepon. "Datang. Bawa wajah pemberani."
Kirani menatap Arga, yang sedang memeriksa surel di meja makan.
"Aku ke tempat Vala sebentar."
"Jangan lama."
"Aku tidak akan melompat dari kapal."
"Kuharap begitu."
Otoritas yang sia-sia. Kalau dia berbicara begitu sambil menempelkanku ke dinding, mungkin aku akan patuh dengan senang hati.
Arga mengangkat mata dari layar.
Kirani sudah keluar.
Kabin Vala tidak sebesar suite presidensial, tetapi tampak menyimpan lebih banyak rahasia per meter persegi. Di atas ranjang terbentang tiga gaun: hitam dengan punggung terbuka, hijau zamrud ketat sampai lutut, dan perak yang berkilau seolah dilahirkan untuk masuk masalah.
"Tidak," kata Kirani begitu melihatnya.
Vala menutup pintu.
"Kamu bahkan belum bertanya yang mana."
"Semuanya berkata 'lihat aku'."
"Kamu di kapal pesiar mewah, bukan pengajian subuh."
"Aku istri Arga Mahendra."
"Justru itu. Suamimu terlihat seperti iklan jam tangan mahal sepanjang hari. Kamu juga berhak menyebabkan kerusakan sedang."
Kirani menyentuh gaun hitam dengan ujung jari.
"Dia akan menatapku aneh."
"Pria itu memang sudah menatapmu aneh."
"Val."
"Dia menatapmu seperti sedang mencoba memecahkan persamaan, dan persamaan itu punya kaki."
Kirani menutup wajah.
"Jangan bilang begitu."
"Aku meminjamkan pakaian, bukan kebohongan."
Gaun hitam menang berdasarkan suara Vala dan kepasrahan Kirani. Tali bahunya tipis, bagian depan terbuka secukupnya, dan punggungnya membuat kata secukupnya terdengar seperti lelucon. Vala menambahkan syal tipis untuk "mencegah gunung es pingsan sebelum makan malam".
Saat Kirani kembali ke suite, Arga berada di teras. Ia sudah melepas dasi dan beberapa kancing atas kemejanya terbuka. Angin laut menggerakkan ujung rambutnya. Cahaya jingga senja menegaskan lehernya, garis rahang, dan kekokohan bahunya.
Kirani lupa bernapas selama satu detik.
"Di luar dingin," katanya dengan suara lembut.
Arga hanya sedikit menoleh.
"Aku baik-baik saja."
Ah, tentu. Tuan Drama berdiri di balkon, melawan angin, dengan kemeja terbuka, pura-pura menarik dan kedinginan setengah mati. Apa berikutnya? Menatap cakrawala seperti tokoh utama yang terluka? Menyebalkan. Tampan. Ingin sekali memasukkan tangan ke balik kemeja itu untuk "menghangatkannya" demi alasan medis.
Arga mengencangkan jari di pagar.
"Kamu sudah mendapat pakaian?"
"Vala meminjamkan sesuatu untuk makan malam."
Ia berbalik.
Keheningan setelahnya singkat, tetapi berat.
Kirani berhenti di pintu teras. Gaun hitam itu tidak skandal; justru itu yang terburuk. Ia elegan, melekat tanpa berusaha, dan punggung terbukanya memperlihatkan kulit yang Arga tidak ingat pernah ia tatap sedemikian saksama di bawah cahaya mana pun.
"Jelek?" tanya Kirani, meluruskan bahu.
"Tidak."
Dia bilang tidak seperti menandatangani vonis. Aku seburuk itu? Atau sebagus itu? Tolong seseorang beri aku panduan menafsirkan kulkas bermata ini.
Arga mengalihkan pandangan ke laut.
"Pakai syalnya. Ada angin."
Kirani patuh.
Waspadalah, dunia. Suamiku baru saja memiliki emosi dan menyamarkannya sebagai prakiraan cuaca.
Makan malam berlangsung tanpa insiden besar, jika tidak menghitung Raka yang mencoba menebak mengapa Arga tampak ingin memecahkan gelas setiap kali pelayan menatap sedikit terlalu lama. Renata memuji gaun itu tiga kali. Vala memesan ikan, mengajukan dua pertanyaan santai kepada pasangan di meja sebelah, dan memperoleh lebih banyak informasi daripada yang bisa didapat orang normal dalam satu jam.
Arga mengamati semuanya dalam diam.
Kirani berperilaku sangat benar. Tersenyum, mengobrol, tidak minum berlebihan, dan menghindari topik koper. Satu-satunya area yang tetap di luar kendali adalah pikirannya.
Gaun Vala cantik. Tapi fantasi sebenarnya adalah Arga memakai sesuatu yang seberani ini. Bukan gaun, tentu. Walaupun... tidak. Konsentrasi. Kemeja hitam terbuka, celana rendah, mungkin rantai tipis. Ya Tuhan. Aku sedang menghukum diriku sendiri di tengah laut.
Arga meletakkan alat makan dengan hati-hati.
"Kamu baik-baik saja?"
"Sangat baik."
Bohong. Aku sedang membayangkan perhiasan di dadanya. Itu bukan kesehatan mental.
"Kamu makan sedikit."
"Aku lelah."
"Kita kembali."
Raka mengangkat alis.
"Secepat ini?"
Arga sudah berdiri.
"Besok ada kegiatan."
Renata tersenyum di balik gelasnya.
"Tentu. Kegiatan."
Kirani melemparkan tatapan minta tolong yang ditafsir Renata sebagai hiburan.
Kembali di suite, petugas bagasi meninggalkan catatan: penumpang dengan koper yang benar belum kembali. Pertukaran akan diselesaikan pagi-pagi.
Kirani membaca catatan itu dua kali.
"Aku tidak punya piyama."
Arga, yang sedang melepas jam tangan, membeku.
"Minta satu ke layanan."
"Mereka membawakan jubah."
"Pakai jubah."
"Itu jubah mandi."
"Menutup."
"Bukan untuk tidur."
Aku juga bisa tidur tanpa apa-apa. Toh kita sudah selamat dari lima kali dan aku masih hidup. Kalau seprai tergelincir tanpa sengaja, mungkin Tuan Es ingat dia suami, bukan auditor moralku.
Arga membuka kopernya dengan kecepatan mencurigakan.
"Pakai ini."
Ia mengeluarkan kemeja putih, katun tebal, tersetrika sempurna. Ia meletakkannya di ranjang sebelum Kirani selesai menyusun rencana di kepala.
Kirani menatap kemeja itu.
"Punyamu?"
"Ya."
"Aku tidak mau membuatnya kusut."
"Aku punya lagi."
Tentu dia punya lagi. Dia punya kemeja, setelan, uang, tangan indah, dan kekurangan inisiatif yang kriminal saat seorang perempuan sedang mempertimbangkan tidur telanjang karena kebutuhan logistik.
Arga tidak menjawab. Tidak bisa. Jika ia membuka mulut, mungkin ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik.
Kirani mengambil kemeja dan masuk ke kamar mandi. Ia lebih lama daripada perlu. Arga menuang air, memeriksa pesan yang sama tiga kali, dan tidak memahami satu kata pun.
Saat pintu terbuka, udara suite seperti habis.
Kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Lengan bajunya menutupi sebagian tangan. Kerah terbuka memperlihatkan garis halus tulang selangka. Itu bukan lingerie dari koper tertukar; itu lebih buruk. Itu miliknya di tubuh Kirani.
Kirani menunduk, malu.
"Kelihatan konyol?"
Bilang iya. Bilang aku seperti anak kecil mencuri baju. Jangan menatapku seperti sedang memikirkan sesuatu, karena kalau kamu memikirkan sesuatu, aku akan memikirkan yang lebih parah, dan kapal ini tidak punya laut cukup untuk memadamkanku.
Arga menelan ludah.
"Kelihatan bagus."
Kirani mengangkat wajah.
"Bagus?"
"Kamu bisa tidur begitu."
Aku bisa tidur, bisa tidak tidur, bisa memanjat pria itu dan berterima kasih atas kemejanya dengan sopan. Kesopanan itu penting.
Arga mematikan satu lampu.
"Ranjangnya besar. Tetap di sisimu."
"Tentu."
Kirani naik ke ranjang dengan martabat yang dikelola hati-hati. Ia berbaring menyamping, membelakangi Arga, lalu menarik seprai sampai pinggang.
Arga berbaring di sisi lain, kaku seolah kasur adalah wilayah musuh.
Sepuluh detik berlalu.
Lalu dua puluh.
Kemejanya beraroma dia. Bersih, mahal, dingin. Tidak, bukan dingin. Di balik wajah itu ada panas. Banyak. Aku sudah membuktikannya. Aku ingin membuktikannya lagi demi alasan ilmiah.
Arga membuka mata dalam gelap.
Laut memukul lambung kapal dengan lembut.
Napas Kirani makin pelan, atau ia pura-pura begitu.
Arga menatap langit-langit dan menerima, dengan kejujuran yang tak akan pernah ia ucapkan, bahwa memberinya kemeja adalah ide yang sangat buruk.
Karena sekarang ia tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana rupa Kirani jika hanya itu yang ia kenakan.