Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17: Leng Yan’s Uninvited Visit
"Hantu peony?" Leng Yan terkekeh merdu, mengibaskan kipas emasnya hingga menghembuskan angin beraroma kelopak bunga segar ke arah Mu Xuanyuan. Ia melangkah mendekat dengan gaya berjalan yang amat anggun, mata indahnya mengerling penuh godaan. "Aduh, Pangeranku yang tampan... mana ada hantu seindah dan seharum ini? Jika aku memang hantu, aku adalah hantu yang ditakdirkan untuk menghantui mimpimu setiap malam~"
Xuanyuan melompat ke belakang ranjang kayunya, berpura-pura ketakutan seraya menjadikan burung kayu kesayangannya sebagai perisai. "Pergi! Pergi! Burung kayuku punya paruh tajam! Nanti dia patuk baju merahmu sampai bolong-bolong!"
Leng Yan justru tertawa semakin gembira. Ia merendahkan tubuhnya, bersandar pada tiang ranjang dengan senyuman flamboyan yang tiada tanding. "Oho~ Bahkan saat berpura-pura takut pun, wajah ketampanan milikmu ini tetap membuat hatiku berdebar tak menentu. Katakan padaku, Pangeran, bagaimana bisa ada pria di dunia fana ini yang memiliki mata selincah ini dan aura seluar biasa ini?"
Di balik topeng konyol dan mata polosnya, Xuanyuan sebenarnya sedang memutar otaknya untuk menahan rasa geli sekaligus jengkel. Pemilik Paviliun Redup ini adalah salah satu pakar puncak di benua, seorang pria yang sangat kuat dan ditakuti di dunia bawah, tetapi jika sudah berhadapan dengannya, kelakuannya berubah seratus seratus delapan puluh derajat menjadi sosok penggoda yang tak tahu malu.
"Orang cantik baju merah banyak bicara!" jerit Xuanyuan cempreng. "Aku mau makan buah! Mana buahku?!"
Xuanyuan berpura-pura mengaduk-aduk kantong jubahnya dengan kasar, lalu dengan gerakan tak kasat mata, ia menarik keluar sebuah Buah Esensi Langit berwarna ungu keemasan buah ajaib yang baru saja ia petik dari Ruang Dimensi Portabelnya beberapa menit lalu. Tanpa ragu, ia menggigit buah itu hingga airnya yang harum manis menetes di dagunya.
Aroma buah spiritual jutaan tahun itu langsung menyeruak di dalam kamar, menembus penghalang bau peony milik Leng Yan.
Bahkan Leng Yan, yang biasanya selalu bersikap santai dan penuh godaan, mendadak membeku. Mata indahnya membelalak lebar, mengamati buah ungu di tangan Xuanyuan dengan keterkejutan yang nyata. Sebagai pemimpin jaringan informasi paling luas di benua, ia sangat mengenali fluktuasi Qi murni tersebut.
"Ini... Buah Esensi Langit?!" bisik Leng Yan dengan suara yang kehilangan nada mendayu-dayunya untuk sejenak. "Buah legendaris yang dikabarkan hanya tumbuh di wilayah terlarang ranah Kaisar Kuno... bagaimana bisa kau memakannya seperti memakan apel biasa?!"
"Ini bukan apel!" protes Xuanyuan sambil mengunyah dengan pipi menggembung polos. "Ini ubi manis warna ungu dari kebun belakang! Rasanya enak! Kau mau?"
Xuanyuan dengan sengaja menyodorkan sisa buah yang sudah tergigit itu tepat ke depan wajah Leng Yan.
Leng Yan tertegun sejenak. Tatapannya beralih dari buah ajaib berharga fantastis itu ke bibir Xuanyuan yang basah oleh sari buah. Seringai flamboyannya kembali mengembang, jauh lebih nakal dari sebelumnya.
"Jika Pangeran yang menyodorkannya... jangankan sisa gigitan, racun mematikan pun akan kuselap dengan gembira," bisik Leng Yan seraya memajukan wajahnya, berpura-pura hendak menggigit sisa buah tersebut tepat dari tangan Xuanyuan.
Namun—
DUAAAK!
Pintu kamar kayu yang tebal mendadak jebol akibat tendangan brutal dari luar.
"LENG YAN! BERHENTI MEN Penyamaran DAN MENGGODA PANGERAN IDIOT ITU!" teriak sebuah suara wanita yang sangat nyaring dan penuh amarah.
Leng Shuang melangkah masuk dengan langkah lebar. Pakaian tempur ringannya tampak sedikit berdebu, dan wajah kembarnya yang tegas memerah padam menahan malu dan amarah atas kelakuan absurd kakaknya.
Sebelum Leng Yan sempat menyentuh buah di tangan Xuanyuan, Leng Shuang sudah melayangkan pukulan tinju spiritualnya tepat ke arah rusuk Leng Yan.
Wusss!
Dengan refleks tingkat tinggi, Leng Yan melompat mundur secara anggun, melayang mengudara bagaikan helai bulu merah sebelum mendarat mulus di atas meja teh.
"Shuang'er!" keluh Leng Yan seraya menepuk-nepuk jubah merahnya, berpura-pura terkejut. "Mengapa kau selalu muncul di saat-saat paling romantis dalam hidupku?! Kau merusak momen suci antara aku dan sang Pangeran!"
"Momen suci kepala gundulmu!" semprot Leng Shuang tanpa ampun. Ia menarik pedang pendek di pinggangnya setengah inci, memancarkan aura dingin. "Kau meninggalkanku di markas Paviliun Redup untuk mengurus lusinan laporan mata-mata, sementara kau malah terbang ke sini hanya untuk bertindak seperti pria mesum?!"
Xuanyuan melompat keluar dari balik ranjang, bertepuk tangan riang seraya berteriak cempreng. "Horeee! Kakak galak datang memukul Orang Cantik! Pukul lagi! Pukul lagi!"
Leng Shuang menatap Xuanyuan dengan helaan napas berat. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat—meski ia tahu di balik wajah konyol itu bersemayam entitas Immortal Emperor Puncak yang sangat menakutkan.
"Maafkan kelakuan kakak hamba yang tidak tahu sopan santun ini, Yang Mulia Pangeran Ke-14," ujar Leng Shuang dengan nada resmi, berusaha mengabaikan tatapan memprotes dari Leng Yan. "Hamba datang membawa kabar darurat dari batas kota."
Mendengar kata 'kabar darurat', Leng Yan menghentikan pose anggunnya di atas meja. Ia melompat turun, kibasan kipasnya langsung membentuk formasi peredam suara di sekeliling kamar untuk memblokir pendengaran pihak luar.
"Kabar darurat apa?" tanya Leng Yan, nadanya berubah serius.
"Pasukan Po Jun baru saja mencegat sekelompok pembunuh bayaran dari Lembah Racun Seribu di gerbang timur ibu kota," jawab Leng Shuang tegas. "Mereka membawa racun Pemakan Jiwa tingkat enam. Target utama mereka bukan Balai Lelang Xingzhou... melainkan Kediaman Pangeran Ke-14 ini."
Di balik raut polosnya, mata Mu Xuanyuan berkilat dingin secara tak kasat mata.
"Lembah Racun Seribu?" gumam Gu Juechen yang melangkah masuk dari balik pintu bersama Feng Wuchen. "Siapa yang menyewa pembunuh dari lembaga racun untuk mengincar pangeran yang dianggap gila dan tidak berdaya?"
"Siapa lagi kalau bukan Pangeran Ke-3, Lu Cangqiong?" dengus Leng Shuang sinis. "Setelah kejadian perjamuan semalam—saat Yang Mulia mengeluarkan Ginseng Darah Surgawi Lu Cangqiong merasa terancam dan menduga Pangeran Ke-14 menyembunyikan harta pusaka lain dari kebun kekaisaran. Ia ingin menghabisi Pangeran Ke-14 secara diam-diam sebelum lelang akbar dimulai."
Leng Yan menyunggingkan senyum dingin yang sangat berani, dipenuhi kejamnya penguasa dunia bawah. "Pangeran Ke-3 rupanya sudah bosan hidup. Berani-beraninya ia mengirim racun murahan untuk merusak wajah tampan pujakan hatiku."
Xuanyuan menyapu sisa buah spiritual di tangannya, lalu terkekeh pelan. Nada suaranya mendadak berubah menjadi tenang dan dipenuhi keagungan seorang kaisar abadi.
"Lu Cangqiong memang selalu tidak sabaran," tutur Xuanyuan santai. "Tetapi membiarkannya bermain-main sedikit lagi akan membuat lelang minggu depan menjadi jauh lebih menarik."
Xuanyuan menatap Leng Shuang dan Leng Yan secara bergantian. "Biarkan Pasukan Po Jun membereskan para pembunuh bayaran itu tanpa meninggalkan jejak. Jangan sentuh Lu Cangqiong sekarang. Aku ingin dia membawa seluruh tabungannya ke Balai Lelang Xingzhou... sebelum aku menghancurkan semua harapannya di depan seluruh benua."
Leng Yan mengatupkan kipas emasnya, matanya kembali berbinar memuja. "Rencana yang sangat anggun dan kejam! Seperti yang diharapkan dari pria idaman saya!"
Leng Shuang hanya bisa menepuk dahinya pasrah, bersiap-siap memukul kakaknya lagi jika Leng Yan bertindak lebih jauh.