NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Menara Langit Milik Raka

"Anak magang lewat pintu servis. Lobby utama untuk tamu."

Pak Gunawan, manajer properti Menara Langit, berdiri di depan meja resepsionis dengan senyum yang membuat resepsionis ikut menunduk malu. Ia memandang Raka, Fajar, dan Bayu seperti melihat tiga orang tersesat dari halte bus.

Bayu menoleh kepada Raka. "Saya boleh menghina balik atau kita masih sopan?"

"Masih sopan. Lima menit."

Fajar menahan senyum.

Raka melangkah ke meja resepsionis. "Saya punya janji terkait pembelian Menara Langit."

Pak Gunawan tertawa pelan. "Pembelian unit kantor? Lantai kecil? Untuk startup?"

"Seluruh gedung."

Resepsionis mengangkat wajah. Dua security saling pandang. Di lobby tinggi itu, dinding kaca memantulkan jas sederhana Raka yang tidak berlogo besar. Di belakangnya, orang-orang keluar masuk membawa kartu akses, kopi mahal, dan wajah sibuk.

Pak Gunawan menepuk meja.

"Mas, Menara Langit empat puluh dua lantai. Nilainya triliunan. Kalau mau konten prank, izin dulu ke manajemen."

Bayu membuka map. "Kami sudah bicara dengan pemilik lama dan bank kustodian. Ini letter of intent, ini jadwal pelunasan, ini kuasa pemeriksaan dokumen. Anda hanya diminta membuka akses due diligence fisik."

Pak Gunawan mengambil satu halaman, membacanya setengah, lalu wajahnya berubah. Ia cepat menutupi dengan suara keras.

"Dokumen bisa dipalsukan. Saya tidak bisa biarkan siapa saja naik."

Raka mengangguk. "Benar. Hubungi pemilik lama. Sekarang. Pakai speaker."

Keberanian orang sombong sering habis ketika diminta memverifikasi.

Pak Gunawan menelepon. Saat suara direktur perusahaan pemilik lama terdengar, ia masih memasang nada percaya diri.

"Pak, ada tiga orang mengaku ingin membeli Menara Langit."

Suara di speaker langsung meninggi. "Itu Pak Raka Surya Pratama? Perlakukan beliau dengan hormat. Tim kami sudah menerima pembayaran penuh dan bank sedang memproses release. Jangan buat masalah."

Lobby senyap.

Pak Gunawan menelan ludah. "Pembayaran penuh, Pak?"

"Anda tuli? Buka akses rooftop dan semua ruang mekanikal."

Telepon ditutup.

Bayu tersenyum tanpa belas kasihan. "Lima menit sopannya habis. Pak Gunawan, lain kali kalau ingin meremehkan orang, pastikan dulu gedung yang Anda jaga belum dibeli orang itu."

Wajah Pak Gunawan pucat sampai garis kumisnya terlihat makin tebal.

[Mimpi: transaksi Menara Langit siap diselesaikan. Konfirmasi pembayaran Rp25.000?]

Raka menekan konfirmasi.

Notifikasi bank masuk berturut-turut. Bayu menerima email dari pihak penjual. Hendra, yang terhubung melalui panggilan video, mengangkat ibu jari.

"Selamat, Pak Raka. Secara pembayaran, Menara Langit milik Anda. Formalitas balik nama dan pajak saya kawal bersama Pak Bayu."

Resepsionis berdiri lebih tegak. Security yang tadi memandang curiga kini membungkuk.

Pak Gunawan berkata pelan, "Pak Raka, saya..."

"Naikkan kami ke rooftop."

"Baik, Pak."

Lift khusus membawa mereka naik. Angka lantai berubah cepat. Di ruang sempit itu, Pak Gunawan berdiri dengan punggung kaku seperti terdakwa. Bayu membolak-balik dokumen sambil sesekali mendengus melihat catatan perawatan gedung.

"Ada tunggakan vendor AC tiga bulan," katanya.

Pak Gunawan cepat menjawab, "Itu karena pemilik lama menunda pembayaran. Operasional tetap berjalan."

Raka menatapnya dari pantulan pintu lift. "Mulai hari ini semua vendor yang benar dibayar tepat waktu. Tapi saya minta audit. Kalau ada mark-up, orangnya keluar dan berhadapan dengan Pak Bayu."

Bayu mengangkat tangan. "Saya senang sekali kalau ada yang mencoba."

Fajar berbicara untuk pertama kali sejak masuk. "Akses keamanan gedung lemah di loading dock. Kamera lantai parkir B mati. Daftar tenant perlu dicek ulang."

Pak Gunawan semakin berkeringat. "Kami perbaiki, Pak."

Rooftop terbuka dengan angin sore yang keras. Kota N membentang di bawah: jalan padat, mall, hotel, gedung kantor, dan daerah yang dulu hanya bisa Raka lihat dari balik jendela bus. Kini salah satu puncaknya berada di bawah telapak kakinya.

Hendra muncul dari lift berikutnya, datang langsung setelah rapat bank. Ia berdiri di samping Raka.

"Dari sini, PT Langit Sembilan terlihat seperti perusahaan sungguhan bahkan sebelum papan namanya dipasang."

"Bukan terlihat," kata Raka. "Memang sungguhan."

Hendra tersenyum. "Saya suka koreksi itu."

[Misi Bangun Kerajaan Fase 1 selesai.]

[Hadiah: 5.000 poin sistem. Ramuan Karisma Dasar diperoleh. Efek aktif 24 jam setelah konsumsi: peningkatan daya tarik sosial, otoritas verbal, dan tekanan kehadiran.]

Raka menggenggam botol kecil yang muncul di Pocket Space. Belum ia minum. Benda ini lebih tepat digunakan saat harus mengubah pandangan banyak orang sekaligus.

"Pak Gunawan," kata Raka.

Manajer itu menunduk. "Ya, Pak."

"Anda tetap bekerja sementara. Saya ingat cara Anda menyambut saya. Gedung ini tetap butuh orang yang tahu sistemnya. Dalam tujuh hari, beri saya laporan jujur. Kalau laporan itu bersih, Anda tetap. Kalau Anda menutup satu masalah, Anda keluar."

Pak Gunawan mengangguk cepat. "Saya mengerti, Pak."

Bayu berbisik, "Terlalu baik."

"Tidak. Saya membeli gedung. Kebencian hanya saya pakai kalau menghasilkan."

Fajar memandang Raka dengan hormat baru. Hendra pun diam sebentar, seakan sedang mengukur pemuda yang bisa menampar Herman tetapi menahan tangan terhadap Gunawan.

Saat mereka turun ke lobby, beberapa tenant sudah mendengar kabar. Bisik-bisik mengikuti Raka. Bukan hinaan. Bukan tawa. Pertanyaan.

Siapa dia?

Dari mana uangnya?

Apa langkah berikutnya?

Raka berhenti di depan pintu kaca. Di seberang jalan, papan besar Mal Permata Timur menyala. Di dalamnya ada butik mewah, jam tangan, restoran, dan orang-orang yang mengira harga diri bisa dibaca dari merek pakaian.

Mimpi menampilkan peluang baru.

[Ramuan Karisma Dasar disarankan untuk interaksi sosial kelas atas.]

Raka memasukkan botol itu ke saku.

"Fajar, Bayu. Kita ke Mal Permata Timur."

Bayu menutup map. "Belanja atau akuisisi?"

Raka tersenyum.

Sebelum keluar, Raka memerintahkan satu hal lagi kepada Pak Gunawan: audit akses semua kartu tenant lama. Ia tidak ingin ada mantan pemilik, vendor, atau orang luar yang masih bisa naik ke lantai penting dengan alasan lupa menonaktifkan kartu. Fajar langsung meminta daftar master key dan jadwal petugas malam.

Gunawan menyerahkan data dengan tangan yang sudah tidak berani lambat. Di lobby, resepsionis yang tadi diam kini menyapa dengan suara jelas, "Selamat sore, Pak Raka." Sapaan itu menyebar ke security lain. Bukan karena mereka tiba-tiba setia. Karena gedung punya pemilik baru, dan pemilik itu memperhatikan hal kecil.

Raka menyimpan perubahan itu. Kekuasaan sering dimulai dari cara orang menyebut nama.

Di lantai parkir, Fajar sempat menghentikan satu petugas yang membiarkan mobil vendor masuk tanpa mencatat nomor identitas. Ia tidak memarahi panjang. Ia hanya meminta buku tamu, memotret halaman kosong, lalu berkata, "Mulai malam ini, celah kecil seperti ini dianggap laporan langsung ke pemilik." Petugas itu mengangguk berkali-kali.

"Kita lihat siapa yang cukup bodoh meremehkan pembeli hari ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!