NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin

Langkah kaki itu akhirnya membawa ia pergi dari batas halaman rumah.

Meninggalkan ketenangan desa yang selama ini menjadi tempatnya untuk bertumbuh.

Sepatu bot usang itu melangkah. Terus melangkah menaiki anak tangga logam kereta.

Ia menapakkan kakinya ke atas permukaan logam yang berkilau bersih dari kereta spiritual.

Sebuah kontras yang nyata antara kesederhanaan desa dengan kemajuan teknologi kota.

Yang Chan melangkah masuk ke dalam gerbong yang mulai dipadati oleh penumpang.

Ia ingin sepi. Hanya ingin sudut sepi yang jauh dari keriuhan orang-orang.

Sambil bersandar, ia menatap ke arah luar melalui jendela kaca besar di sampingnya.

Tangannya perlahan bergerak meraba ke balik lipatan pakaian hangat yang ia kenakan.

Benda itu masih ada. Aman tersimpan dalam jiwanya. Gerakan sebelumnya hanya akting agar orang-orang yang kebetulan lihat tidak mencurigai sesuatu.

Ia menghela napas.

Alat Serbagunanya. Setidaknya Taman Poket dan Alat Serbaguna ini tetap berada di tangannya. Rutinitas bertaninya akan tetap berlanjut.

Ia membawa masuk bola hitam itu ke dalam pakaiannya.

Di luar sana, mesin kereta mulai menderu halus sebelum melaju dengan kecepatan tinggi.

Yang Chan terus mengarahkan pandangannya ke luar jendela kaca yang tampak jernih itu.

Pemandangan sawah hijau yang luas perlahan-lahan mulai memudar dan menjauh dari pandangan.

Tergantikan oleh barisan menara logam raksasa yang menjulang tinggi membelah langit biru.

Kabel-kabel energi Qi yang membentang di angkasa juga mulai terlihat mendominasi pemandangan.

Seorang kondektur berjalan dengan cepat melintasi lorong gerbong yang mulai terasa agak bising.

Ia berulang kali mengetuk-ngetuk papan giok di genggaman tangannya untuk menarik perhatian orang.

"Tujuan akhir Kota Angin!" teriak kondektur itu dengan suara lantang ke arah para penumpang. "Siapkan token identitas dan segel Qi kalian!"

Yang Chan menatap pantulan wajahnya sendiri. Rambut hitam yang sudah mulai panjang, terhambur, dan pakaian yang masih ada bekas lipatan di kerahnya.

Juga, wajah sawo matang seorang pemuda desa yang sangat biasa dan tidak memiliki daya tarik tersendiri.

Ia bergumam dengan suara yang sangat pelan di tengah kebisingan suara mesin kereta.

"Tidak mungkin orang sejelek ini akan menarik perhatian."

Dari jendela tempat ia bersandar, pemandangan luar kini bergerak dengan semakin cepat.

Kereta melesat membelah jalur pegunungan menuju hamparan kota luas di ujung cakrawala.

Siluet megah dari Kota Angin yang berkilau mulai terlihat dengan sangat jelas di kejauhan.

Ketenangan pedesaan kini berganti dengan rasa antisipasi yang mengalir tenang di dalam dadanya.

Ia siap menghadapi peradaban baru yang sudah menunggunya di depan sana dengan sabar.

Suara peluit kereta spiritual pun melengking dengan sangat panjang, memecah kesunyian udara siang.

Gerbong besar itu akhirnya melambat dan memasuki area peron stasiun utama kota.

Kota Angin langsung menyambutnya dengan gemuruh yang luar biasa riuh dari segala penjuru.

Stasiun utama tersebut berdiri kokoh di tengah lanskap vertikal metropolis yang sangat megah.

Menara pencakar langit tampak saling berhimpitan di bawah formasi pelindung bercahaya neon spiritual.

Di jalur udara tingkat atas, beberapa kultivator tampak melesat gagah mengendarai pedang terbang mereka.

Sementara di tingkat bawah, kendaraan melayang berdesakan membelah jalanan beton yang sangat padat.

Yang Chan melangkah turun dari pintu gerbong dengan tas kulit tebal yang tersampir di pundak.

Ia berjalan dengan santai, mencoba berbaur dengan arus manusia yang bergerak dengan cepat.

Orang-orang di sekitarnya tampak mengenakan pakaian dari bahan katun dan sutra mewah yang berkilau indah.

Layar hologram raksasa di sepanjang koridor memancarkan iklan obat-obatan dan pil alkimia mutakhir.

Yang Chan terus mengamati keadaan sekelilingnya tanpa memperlihatkan raut wajah yang heran.

Ia mencoba menganalisis aliran energi Qi di kota ini yang terasa sangat padat sekaligus kacau.

Meski begitu, ia sengaja membungkukkan sedikit pundaknya saat berjalan melewati lorong stasiun.

Ia mengatur gestur tubuhnya agar terlihat seperti seorang pemuda yang canggung dan udik.

Peran sebagai pemuda desa biasa harus ia mainkan dengan sangat sempurna di depan umum.

Brukk.

Bahunya tiba-tiba tersenggol dengan cukup keras oleh seorang pria paruh baya dari arah belakang.

Pria itu mengenakan jubah sutra mahal yang tampak bersih tanpa ada noda sedikit pun.

Ia mendengus dengan pandangan yang penuh rasa jijik saat melihat pakaian sederhana Yang Chan.

"Minggir, dasar anak kampungan! Jangan menghalangi jalan dengan bau tanahmu," bentak pria itu dengan nada ketus.

Yang Chan menghentikan langkah kakinya sejenak untuk menyeimbangkan posisi tubuhnya kembali.

Ia tidak merasa marah ataupun terintimidasi oleh ucapan kasar yang baru saja ia dengar.

Ia hanya tersenyum tipis, lalu menepuk-nepuk debu imajiner yang menempel di lengan bajunya.

"Maaf, Tuan. Tapi tanah adalah fondasi dari semua gedung tinggi ini," jawab Yang Chan ramah.

Suaranya terdengar sangat tenang dan tidak mengandung nada sindiran atau kemarahan sedikit pun.

Mendengar jawaban itu, pria tersebut hanya mendengus kesal sebelum akhirnya berjalan pergi menjauh.

Yang Chan berdiri dengan rileks di tengah lautan manusia yang terus mengalir tanpa henti.

Sebuah kontras yang sangat jelas terlihat di antara dirinya dengan orang-orang kota itu.

Masyarakat kota bergerak dengan terburu-buru, dipenuhi oleh rasa cemas dan ambisi yang besar.

Sedangkan ia memiliki ketenangan mental yang tidak mudah tergoyahkan oleh kesombongan di sekelilingnya.

Ia menghela napas pendek, lalu kembali melangkah menuju area luar stasiun yang sangat ramai.

Waktu berjalan dengan cepat hingga matahari sore mulai condong ke arah barat yang indah.

Riuh rendah suara dari ribuan remaja memenuhi area depan gerbang akademi yang sangat luas.

Mereka semua berkumpul dengan harapan besar agar bisa diterima di tempat yang bergengsi itu.

Gerbang Utama Akademi Qinglong menjulang dengan megah, dihiasi oleh ukiran batu giok yang indah.

Tiba-tiba saja, sebuah auman yang sangat keras terdengar membelah langit sore yang kemerahan.

Graarrr!

Sesosok naga Azure raksasa dalam bentuk proyeksi spiritual muncul melayang di atas gerbang utama.

Aumannya mengirimkan gelombang tekanan spiritual yang cukup kuat ke arah kerumunan di bawah.

Angin kencang langsung berembus, menerbangkan debu dan dedaunan kering di sekitar mereka semua.

Banyak calon murid yang langsung bersorak dengan kagum melihat keagungan dari naga spiritual itu.

Namun, tidak sedikit pula dari mereka yang tampak gemetar menahan tekanan energi yang datang.

Di tengah kepanikan kecil itu, Yang Chan hanya menyipitkan kedua matanya dengan ekspresi santai.

Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari kepulan debu kasar yang berterbangan ditiup angin.

Tangannya kemudian bergerak merogoh saku pakaian untuk memastikan selembar kertas penting di sana.

Surat rekomendasi usang pemberian dari ayahnya masih tersimpan aman tanpa ada kerusakan sedikit pun.

Sambil memegang kertas itu, ia menarik napas secara perlahan untuk menenangkan pikirannya kembali.

Ia mulai mengaktifkan teknik Cermin Ilusi di dalam pusat energi tubuhnya secara sangat hati-hati.

Ia sengaja mengunci fluktuasi Qi di dalam dirinya, seminim mungkin.

Dengan langkah kaki yang terasa ringan, ia mulai berjalan masuk ke dalam antrean pendaftaran murid.

Ia menatap ke arah gerbang batu giok raksasa di depannya dengan pandangan yang sangat tenang.

'Dengan ini... Cukup untuk masuk, cukup rendah untuk diperhatikan. Rencana rutinitas santai dimulai,' batin Yang Chan dengan senyum tipis.

Rencana untuk menjalani kehidupan yang tenang dan tidak mencolok sudah tersusun rapi di kepalanya.

Pandangannya kemudian beralih ke arah sebuah pilar kristal raksasa di bagian paling depan antrean.

Pilar itu berdiri tegak, siap memindai kekuatan yang dimiliki oleh setiap calon murid baru.

Cahaya berwarna merah mulai berkedip dari permukaan pilar saat mendeteksi kehadiran peserta pertama.

Denggg.

Suara dengung yang cukup keras tiba-tiba terdengar bergema dari arah pilar kristal pemindai tersebut.

Menandakan bahwa babak awal dari ujian masuk akademi ini telah resmi dimulai.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!