NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Kedua

 Ruang makan rumah keluarga Pradipta malam itu dipenuhi suara percakapan.

 Beberapa kerabat yang baru datang tampak menikmati hidangan khas Wonosobo yang tersaji di atas meja panjang. Aroma sop buntut, tempe kemul, dan teh hangat memenuhi ruangan.

 Niken keluar dari kamarnya dengan gaun sederhana berwarna krem. Rambutnya yang digelung rapi, semakin menambah keanggunan dalam penampilannya tanpa berlebihan.

 "Masya Allah, menantunya Pradipta cantik sekali," puji salah seorang tante.

 "Dan kelihatan sopan," timpal yang lainnya.

 Niken menundukkan kepala. "Terima kasih, tante."

 Ratih yang duduk di ujung meja hanya tersenyum tipis. "Silahkan duduk," ucapnya.

 Beberapa saat kemudian, Danendra pun pulang. Ia baru selesai menemui klien di Agrowisata Lereng Mahitala. Manik hitamnya sempat bertemu pandang dengan mata Niken, namun hanya sesaat, bahkan tanpa senyum, tanpa sapaan. Ia langsung duduk di kursi sebelah ayahnya.

 "Maaf terlambat," ucap Danendra singkat.

 "Tak apa," jawab Pradipta.

 Kemudian makan malam pun dimulai. Awalnya percakapan mereka berlangsung ringan. Mereka membahas perkembangan Lereng Mahitala, jumlah wisatawan yang meningkat saat musim liburan, hingga rencana membuat glamping baru.

 Namun suasana berubah ketika salah seorang bibi Danendra tersenyum jahil. "Danen...."

 "Iya, Bi?"

 "Sudah siap kasih cucu, kan?"

 Semua orang tertawa kecil, sementara Niken hanya tersenyum malu.

 Danendra mengangguk singkat. "Doakan saja."

 "Nah, biasanya pengantin baru itu paling mesra." Bibi itu kembali menggoda, "semalam pasti tidak tidur, ya?"

 Gelak tawa kembali pecah di meja panjang itu, hanya Niken yang merasa tubuhnya menegang, sementara Danendra terdiam.

 Kemudian Ratih meletakan sendoknya pelan. "Kalau memang berjodoh, cucu pasti datang."

 Nada suaranya terdengar biasa, namun tatapannya mengarah lurus ke arah Niken.

 "Tapi perempuan juga harus membawa kehormatan untuk keluarga suaminya." Lanjutnya.

 Susana mendadak hening.

 Pradipta menoleh ke arah istrinya. "Ratih...."

 "Aku hanya mengingatkan." Balas Ratih cepat.

 Di bawah meja, Niken meremas ujung gaunnya. Ia tahu, kalimat itu bukan sekedar nasihat, tetapi sebuah sindiran, dan hanya Danendra yang mengerti maksud sebenarnya. Namun sayangnya, lelaki itu lebih memilih diam.

 Malam semakin larut.

 Setelah semua tamu pulang, Niken membereskan cangkir-cangkir di ruang makan.

 Lalu Ratih menghampirinya. "Apa kamu capek?" tanyanya.

 "Tidak, Bu."

 "Besok tidak usah mengajar." Kata Ratih yang membuat Niken menoleh bingung.

 "Kenapa, Bu?"

 "Ikut Ibu ke rumah Bu Rini."

 "Untuk apa?"

 "Ada kenalan dokter kandungan di sana."

 Jantung Niken seolah berhenti berdetak. Sementara Ratih melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun merasa bersalah."

 "Ibu ingin memastikan sesuatu."

 Wajah Niken mulai memucat. "Maksud Ibu?"

 "Kamu mengerti maksud Ibu."

 Air mata yang mengenang hampir tumpah. "Tapi, Bu... saya sehat."

 "Kalau memang sehat kenapa takut diperiksa?"

 Suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu, Danendra baru saja masuk yang membuat Ratih langsung menoleh.

 "Danen."

 "Iya, Bu."

 "Besok temani istrimu ke dokter."

 Danendra mengeryit. "Dokter?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Ratih.

 "Ibu ingin memastikan, apakah yang dikatakan Niken benar."

 Ruangan kembali terasa sunyi. Niken menatap suaminya penuh harap, ia berharap Danendra akan membelanya.

 "Mas..." ucapnya dengan suara lirih, "Aku tidak mau."

 Danendra memandang Niken, lalu menghela napas kecil, "kalau memang itu bisa menyelesaikan semuanya, ikut saja."

 Kalimat itu tak kalah menyakitkan dari tuduhan semalam. Niken merasa, Danendra masih belum pecaya kepadanya.

 Ia menundukan kepala, menjatuhkan air matanya tanpa suara. Saat itu juga Niken menyadari satu hal, yang paling sulit bukanlah membuktikan dirinya suci, tetapi membuat percaya seseorang yang sejak awal sudah dipenuhi prasangka.

 * *

 Malam kembali menyelimuti Wonosobo. Udara dingin merambat masuk melalui celah jendela kamar, membuat Niken menarik selimut hingga ke dada.

 Sejak makan malam usai, tak ada satu pun percakapan diantara dirinya dan Danendra. Suaminya entah masih sibuk apa di ruang kerja, sementara Niken memilih menenangkan diri dengan membaca buku di kamar.

 Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas ketika pintu kamar terbuka. Danendra masuk dengan wajah lelah, ia lalu mengenakan pakaian tebal tanpa menoleh sedikit pun ke arah Niken.

 "Mas..." sapa Niken sambil menutup bukunya perlahan.

 Danendra hanya berdehem kecil sebagai jawaban.

 "Aku buatkan teh hangat—" tawar Niken yang langsung dipotong oleh suaminya.

 "Tidak usah."

 Jawaban singkat itu terasa menusuk hatinya, lalu Danendra mengambil bantal dari atas ranjang, dan selimut yang tersimpan dilemari.

 Melihat itu Niken langsung turun dari tempat tidurnya. "Mas, mau kemana?"

 "Aku tidur di sofa."

 "Tapi kenapa?"

 Danendra berhenti melangkah namun tidak berbalik. "Aku butuh waktu untuk berpikir."

 Niken menatap punggung pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Kalau memang aku melakukan kesalahan, katakan padaku," katanya lembut.

 "Kamu tahu betul apa yang aku pikirkan."

 "Tapi aku sudah menjelaskan."

 "Tapi aku belum bisa menerimanya." Kata Danendra dengan suara sedikit meninggi sambil berbalik arah.

 Niken mengusap pelan air matanya yang mulai menggenang. "Mas..." suaranya mulai bergetar. "Kalau aku benar-benar perempuan yang tidak menjaga diri, apakah aku masih sanggup menatap mata Mas seperti sekarang?"

 Danendra menatapnya dalam, hatinya sempat goyah melihat mata istrinya yang dipenuhi luka, tetapi bayangan tentang malam pertama kembali memenuhi pikirannya.

 Ia menghembuskan napas panjang. "Aku tidak ingin membahasnya lagi malam ini."

 Danendra berjalan menuju sofa di dekat jendela, ia membaringkan tubuhnya di sana. Sementara Niken masih berdiri di sisi ranjang dengan dada yang terasa sesak. Sofa itu memang tidak terlalu jauh, tetapi jarak di antara mereka terasa semakin sulit dijangkau.

 Niken lalu mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang menyala redup. Di tengah keheningan itu, terdengar suara isak yang berusaha ia tahan.

 Matanya terpejam, namun Danendra masih bisa mendengarnya. Bahkan setiap tangisan itu terdengar jelas di telinganya yang membuat dadanya terasa berat.

 Sejujurnya, Danendra ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ingin meminta Niken berhenti menangis, namun gengsi menahan setiap kata yang hendak keluar.

 Di atas ranjang, Niken menatap langit-langit kamar dengan mata basah.

 Dalam hati ia berdoa, "Ya Allah... jika ujian rumah tanggaku dimulai dengan air mata, jangan biarkan aku kehilangan kesabaran. Lembutkan hati suamiku, dan kuatkan hatiku untuk tetap menghormatinya."

 Di balik sofa, Danendra kembali membuka mata. Tanpa disadari, doa lirih istrinya sampai di telinganya. Ia pejamkan matanya kembali, malam kedua itu berlalu tanpa pelukan atau pun sekedar ucapan selamat malam.

 Namun, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam hati Danendra. "Bagaimana jika Niken memang berkata jujur?"

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!