Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pewaris yang Gugur
Balai Takdir tenggelam dalam keheningan yang sangat mencekam setelah kemunculan sosok pria misterius dari dasar lorong.
Aura hitam yang pekat masih memenuhi jalan menuju Lantai Kedua, membuat setiap helaan napas terasa semakin berat.
Lin Yuan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pria berjubah compang-camping yang berdiri di hadapan mereka.
Naluri Tempurnya terus memberikan peringatan bahaya, namun anehnya pria itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menyerang.
Dia hanya memandang Lin Yuan dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlihat orang lain.
Beberapa saat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti misterius di balik wajah pucatnya.
"Sangat menarik... sudah lama sekali Gerbang tidak memilih pewaris dengan potensi sepertimu," ucapnya dengan nada serak.
Lin Yuan tetap menggenggam pedang besinya dengan erat. "Apa maksud dari perkataanmu yang aneh itu?" tanyanya.
Pria itu tidak segera menjawab, tatapannya justru beralih menatap lurus ke arah Komandan Bayangan Takdir.
"Aku tidak menyangka kau masih setia menjaga tempat yang sudah lama ditinggalkan ini," ucapnya dengan nada sinis.
Komandan Bayangan Takdir segera mengangkat pedangnya dengan tatapan tajam. "Dan aku pun tidak menyangka kau masih bertahan hidup sekarang."
Pria itu tertawa pelan. "Apa menurutmu aku masih memiliki tubuh manusia yang lemah seperti dulu lagi?"
Kabut hitam di rongga dadanya kembali berdenyut hebat. DUM... DUM... Setiap denyutannya membuat ruang di sekitar tubuhnya bergetar hebat.
Udara menjadi terasa sangat berat, sementara lantai batu di aula mulai retak sedikit demi sedikit akibat tekanan aura gelapnya.
Lin Yuan segera mengedarkan energi spiritualnya untuk menahan tekanan tersebut, meski begitu dadanya tetap terasa sesak dan berat.
Baru kali ini dia merasakan tekanan sebesar ini padahal lawannya sama sekali belum melancarkan serangan fisik apa pun.
Penjaga Makam melangkah maju dengan tatapan yang berubah menjadi sangat tajam. "Lepaskan tekananmu, tempat ini bukan lagi milikmu sekarang."
Pria berjubah compang-camping itu tersenyum tipis menanggapi gertakan tersebut. "Bukan milikku lagi? Kalau begitu, menurutmu ini milik siapa sekarang?"
Penjaga Makam tidak memberikan jawaban, suasana di dalam aula pun kembali menjadi sangat sunyi dan juga sangat menegangkan.
Tiba-tiba, lelaki tua itu membuka mulutnya dan mengucapkan dua kata dengan suara berat yang dipenuhi rasa penyesalan mendalam.
"Pewaris Ketujuh."
Mata Lin Yuan langsung membelalak lebar karena terkejut mendengar gelar yang baru saja disebutkan oleh Penjaga Makam.
"Pria ini adalah salah satu pewaris Gerbang Pemakan Takdir di masa lalu?" tanya Lin Yuan di dalam hati kecilnya.
Pria berjubah compang-camping itu menganggukkan kepalanya perlahan seolah mengakui identitas aslinya yang telah lama terlupakan oleh dunia luar.
"Sudah lama sekali tidak ada seorang pun yang memanggilku dengan gelar yang sangat terhormat itu," ucapnya sambil menatap tangannya.
Retakan hitam di lengannya perlahan bergerak seperti akar yang hidup, sementara tatapannya kembali tertuju lurus ke arah Lin Yuan.
"Dahulu, aku juga pernah berdiri di tempatmu sekarang, penuh dengan keyakinan, harapan, dan percaya bahwa Gerbang adalah sang penyelamat."
Lin Yuan mengernyitkan dahinya. "Lalu apa yang terjadi hingga kau berubah menjadi sosok yang mengerikan seperti sekarang?"
Senyum di wajah Pewaris Ketujuh perlahan menghilang. "Semakin jauh aku melangkah, semakin banyak pula kebenaran pahit yang aku lihat."
"Kebenaran itu telah menghancurkan semua keyakinan yang selama ini aku pegang teguh dengan sangat kuat di dalam hatiku sendiri."
Komandan Bayangan Takdir segera menyela ucapan tersebut dengan tegas. "Cukup! Ucapanmu tidak lebih dari sekadar kebohongan besar untuk menghasutnya saja."
Pewaris Ketujuh tertawa kecil mendengar tuduhan tersebut. "Kalau memang ini bohong, kenapa kalian tidak pernah berani menceritakan semuanya kepada pewaris?"
Keheningan kembali memenuhi Balai Takdir, sementara Lin Yuan memperhatikan perubahan raut wajah Penjaga Makam yang tampak sedikit ragu-ragu sekarang.
Meskipun hanya berlangsung sesaat, Lin Yuan melihat adanya keraguan yang melintas di mata jernih milik lelaki tua tersebut.
Pewaris Ketujuh kembali berbicara dengan nada suara yang tenang. "Aku pernah sepertimu, percaya bahwa menjadi kuat bisa mengubah dunia ini."
"Tetapi akhirnya aku mengerti bahwa yang berubah sebenarnya bukan dunia luar, melainkan diriku sendiri yang telah berubah menjadi sangat berbeda."
Lin Yuan bertanya dengan suara yang terdengar sangat tenang. "Kalau memang begitu, kenapa kau memilih untuk kembali ke tempat ini?"
Tatapan merah milik Pewaris Ketujuh perlahan berubah menjadi sangat dingin. "Aku kembali hanya untuk melihat satu hal yang sangat penting."
"Apakah Gerbang akhirnya berhasil memilih seseorang yang mampu menghancurkan takdir itu sendiri tanpa harus menjadi budak dari takdir tersebut sekarang."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, dia perlahan mengangkat telunjuk kanannya ke depan tanpa menggunakan teknik ataupun senjata apa pun juga.
Namun, ruang di depan jarinya mulai bergetar hebat dan udara berputar membentuk sebuah pusaran hitam yang sangat pekat dan menakutkan.
Wajah Komandan Bayangan Takdir langsung berubah drastis melihat fenomena tersebut.
"Lin Yuan, segera mundur dari posisimu sekarang juga!"
Nada suaranya tidak lagi setenang biasanya, melainkan penuh dengan kewaspadaan tinggi yang membuat Lin Yuan segera bergerak mundur.
Lin Yuan tanpa ragu mundur beberapa langkah sambil tetap menatap lurus ke arah telunjuk milik Pewaris Ketujuh dengan penuh waspada.
Perasaannya mengatakan bahwa serangan berikutnya akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa dan belum pernah dia saksikan sepanjang hidupnya.
Lin Yuan menahan napasnya, seluruh perhatiannya kini tertuju sepenuhnya pada gerakan telunjuk milik sosok Pewaris Ketujuh yang sangat misterius itu.
Tidak ada ledakan energi ataupun cahaya yang menyilaukan, namun justru ketenangan yang sangat sunyi itulah yang terasa jauh lebih mengerikan.
Perlahan, Pewaris Ketujuh menekan telunjuknya ke arah ruang kosong di depannya.
TIK...
Suara itu terdengar sangat pelan seperti tetesan air.
Namun detik berikutnya,
KRAAAK!
Ruang di depan jarinya mendadak retak seperti kaca yang pecah akibat tekanan kekuatan yang sangat dahsyat.
Retakan hitam menjalar ke segala arah, sementara angin dahsyat langsung menyapu seluruh penjuru Balai Takdir dengan kekuatan yang sangat besar.
Jubah Lin Yuan berkibar sangat keras, dia segera menancapkan pedang besinya ke lantai agar tubuhnya tidak terhempas oleh kekuatan angin.
Komandan Bayangan Takdir segera mengayunkan pedangnya, menciptakan kilatan merah yang membentuk sebuah dinding cahaya pelindung di depan mereka.
BOOOM!
Benturan dahsyat mengguncang seluruh aula, sementara gelombang kejut yang besar menyapu setiap sudut ruangan dengan kekuatan yang menghancurkan.
Beberapa saat kemudian, gelombang energi itu akhirnya mereda, dan Lin Yuan perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat hasil benturan tersebut.
Matanya membelalak lebar saat melihat dinding cahaya milik Komandan Bayangan Takdir dipenuhi oleh retakan-retakan tipis yang sangat banyak.
PRANG!
Seluruh pertahanan cahaya itu akhirnya hancur berkeping-keping, membuat Komandan Bayangan Takdir harus mundur sebanyak tiga langkah ke belakang.
Untuk pertama kalinya, setetes darah merah segar mengalir dari sudut bibirnya, menunjukkan bahwa dia baru saja menerima luka.
Lin Yuan mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, tidak percaya bahwa hanya satu gerakan sederhana mampu melukai sosok sekuat Komandan.
Pewaris Ketujuh menurunkan tangannya dengan ekspresi yang tetap tenang. "Kau masih sekuat dulu, hanya saja dunia saat ini sudah berubah."
Komandan Bayangan Takdir segera menghapus noda darah di bibirnya dengan tatapan mata yang tetap dingin dan penuh tekad kuat.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuh pewaris baru ini sedikit pun!" serunya dengan nada penuh ancaman.
Pewaris Ketujuh menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku datang bukan untuk membunuh, aku hanya ingin memberinya sebuah pilihan yang adil."
Tatapannya kembali tertuju lurus kepada Lin Yuan. "Selama ini kau hanya mendengar satu sisi cerita saja dari pihak Gerbang ini."
"Semua yang kau lihat dan pelajari berasal dari Gerbang, lalu bagaimana kalau sebenarnya ada kebenaran lain yang sedang disembunyikan darimu?"
Penjaga Makam segera menghentakkan tongkat batunya ke lantai.
DUUM!
Gelombang cahaya keemasan menyebar untuk menenangkan suasana yang mulai panas.
"Cukup! Jangan biarkan setiap kata-katanya mengguncang keteguhan hatimu sekarang, jalan seorang pewaris sejati tidak boleh dipenuhi oleh rasa keraguan."
Pewaris Ketujuh hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Penjaga Makam. "Kalian semua selalu merasa takut jika seorang pewaris mulai bertanya."
Ucapan itu membuat suasana di dalam aula kembali menjadi sangat sunyi, sementara Lin Yuan terdiam merenungkan semua yang telah dia alami.
Pengkhianatan dan percobaan pembunuhan telah mengajarkannya untuk tidak pernah mempercayai satu sisi cerita saja tanpa penyelidikan lebih lanjut.
Lin Yuan akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. "Aku tidak akan begitu saja mempercayai ucapanmu yang penuh dengan misteri ini."
Pewaris Ketujuh tersenyum tipis. "Pilihan yang sangat bijak bagi seorang pemula sepertimu untuk tetap waspada terhadap segala informasi baru."
Lin Yuan melanjutkan ucapannya dengan nada tegas. "Tetapi aku juga tidak akan menolak untuk mencari sendiri jawaban atas semua kebenaran."
Senyum di wajah Pewaris Ketujuh perlahan melebar mendengar jawaban tersebut. "Itulah jawaban yang memang ingin aku dengar dari mulutmu."
Dia mengangkat tangan kanannya, dan kabut hitam di rongga dadanya perlahan berkumpul membentuk sebuah lentera batu berwarna hitam keabu-abuan yang misterius.
Di bagian tengah lentera tersebut terdapat sebuah api kecil berwarna putih kebiruan yang bergetar pelan seolah memiliki nyawa di dalamnya.
Pewaris Ketujuh melemparkan lentera itu ke arah Lin Yuan, dan Lin Yuan pun segera menangkapnya dengan penuh rasa waspada.
"Itu adalah Lentera Jiwa, selama apinya tetap berwarna putih, itu berarti hatimu masih tetap menjadi milikmu sendiri tanpa pengaruh luar."
"Tetapi jika suatu saat nanti api di dalamnya berubah menjadi hitam pekat, maka segeralah lari sejauh mungkin dari tempat ini."
Lin Yuan menatap lentera misterius di tangannya dengan penuh tanda tanya. "Apa maksud dari peringatan yang baru saja kau berikan?"
Pewaris Ketujuh tidak memberikan jawaban, tubuhnya perlahan mulai berubah kembali menjadi kabut hitam yang pekat dan mulai menghilang.
Sebelum benar-benar lenyap, suaranya kembali bergema dari dalam lorong. "Turunlah ke Lantai Kedua jika kau ingin mengetahui siapa pemangsa Takdir sebenarnya."
Kabut hitam itu pun akhirnya lenyap sepenuhnya, meninggalkan Balai Takdir dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Penjaga Makam memandang lentera di tangan Lin Yuan dengan tatapan yang sangat rumit, seolah sedang menyimpan sebuah rahasia besar yang mendalam.
........
Bersambung...